Apakah Ini Hari-Hari Terakhir? – Mencermati perikop dari Surat St. Paulus

Eclipse_FAKE_PIC_3239175b

oleh: Msgr. Charles Pope
Imam paroki Holy Comforter – St. Cyprian, Keuskupan Washington

Apakah ini hari-hari terakhir? Di satu sisi, nampaknya kita memang mulai melihat adanya tanda-tanda akhir zaman. Tapi tunggu dulu, mari kita membicarakannya dengan lebih hati-hati.

Secara khusus saya ingin meninjau sebuah perikop penting dari 2 Tesalonika, yang memberikan beberapa prinsip penting bagi kita tentang akhir zaman, yang menyeimbangkan antara kewaspadaan dan ajaran tentang tanda-tanda kedatangan-Nya yang kedua (walau bukan tanggal pastinya).

Perikop dari 2 Tesalonika dalam bold italic; sedangkan komentar saya mengikuti.

I. Berhati-hati Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! (2Tes 2:1-3)

Kita harus memulai dengan sikap yang berhati-hati. St. Paulus mengajarkan bahwa kita hendaknya tidak terburu-buru dalam menilai hal ini, lantas menyimpulkan bahwa Hari Kedatangan Tuhan sudah dekat. Dan prinsip ini tetap berlaku bahkan 2000 tahun kemudian. St. Paulus mengajarkan bahwa dalam hal-hal ini kita dapat tertipu dengan mudah.

Kalau kita terbawa dalam kesimpulan yang terburu-buru kemudian memegang teguh suatu tanggal atau waktu Hari Penghakiman, kita melanggar prinsip paling dasar dari eskatologi.

“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri. Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada har Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

(Mat 25:36-44)

Meskipun demikian, memang ada tanda-tanda yang diberikan Tuhan mengenai akhir zaman. St. Paulus memberikan tanda-tanda tersebut dalam 2 Tesalonika. Katekismus membuatnya menjadi daftar sebagai berikut:

  1. Penyebaran Injil hingga ke ujung-ujung bumi
  2. Pertobatan luas dari kaum Yahudi
  3. Pencobaan dan penganiayaan besar atas Gereja
  4. Pemberontakan atau pemurtadan besar dan luas
  5. Bangkitnya “si pendurhaka”, yang akan memperdaya bangsa-bangsa dan menyesatkan banyak orang, termasuk banyak orang Kristen yang akan menyangkal imannya (murtad)
  6. Dilepaskannya sebuah kejahatan besar untuk yang terakhir kalinya, untuk waktu yang singkat

II. PemberontakanSebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad… (2Tes 2:3)

St. Paulus berbicara tentang pemberontakan atau pemurtadan secara luas yang harus datang terlebih dahulu. Ini artinya, iman telah diterima, namun kini disangkal. Mereka yang memberontak yaitu mereka yang tadinya memeluk hukum [Allah], namun kini membuangnya.

Tak diragukan lagi, kita saat ini hidup dalam masa-masa kemerosotan iman yang dapat disebut sebagai pemurtadan besar. Sekali lagi, kemerosotan iman berarti, dulunya, orang memeluk iman dengan teguh namun kemudian iman itu disangkal.

Pada masa kini, kemerosotan iman ini berlaku baik bagi individu maupun budaya secara umum. Banyak dari kita mengeluh akan kurangnya jumlah kehadiran umat dalam Misa Kudus. Kita juga khawatir bahwa banyak orang yang dibesarkan secara Katolik tidak hanya telah meninggalkan hidup Katoliknya namun juga hidup jauh dari ajaran moral dan doktrinalnya, yang telah diwariskan turun-temurun dari zaman kuno. Ini bukan hanya perhitungan statistik; hal ini mengenai banyak orang dengan cara pribadi yang mendalam. Banyak orangtua meratapi kepergian anak mereka dari iman, padahal mereka telah berkorban begitu banyak agar anak mereka dapat bersekolah di sekolah Katolik, dan telah berharap agar nantinya anak tersebut akan meneruskan iman yang telah mereka terima.

Sungguh, masa-masa ini adalah masa yang sulit, masa penyangkalan besar-besaran dari iman yang telah membentuk kebudayaan itu sendiri. Banyak orang kini harus hidup mengais-ngais dari reruntuhan budaya yang dahulu dibangun dengan pandangan Kristiani yaitu pengorbanan, disiplin, keluarga, kemurahan hati, dan pertanggungjawaban kepada Allah.

Tapi apakah pemberontakan ini yang dimaksud oleh St. Paulus? Kita belum mengetahuinya, namun tak diragukan lagi bahwa sebuah pemberontakan luas dan dalam sedang terjadi di belahan bumi barat yang dulunya Kristen. Bisa dibilang pemberontakan ini juga menyebar di luas batas-batas dunia Barat, hingga mencapai Timur Jauh dan bahkan belahan bumi selatan. Kemudahan komunikasi internasional saat ini turut membantu meluasnya pemberontakan tersebut.

III. PernyataanHaruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah. … Pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya… Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat… (2 Tes 2:3-4, 8, 9-10)

Dan setelah atau barangkali di tengah pemberontakan ini, si pendurhaka akan dinyatakan. Siapapun dia, dia akan memiliki daya pikat yang luas dan mendunia, juga kemampuan untuk memperdaya banyak orang, kalau bukan memperdaya mayoritas orang.

Di sini pula kita melihat fakta yang tidak menyenangkan bahwa zaman modern membuat amat mungkin kemunculan pemimpin yang mendunia seperti itu.

Tapi ini bukan berarti bahwa si pendurhaka sudah datang saat ini, atau bahwa ia akan datang segera. Hanya saja, komunikasi global yang instan telah membuat hal ini sangat mungkin terjadi. Sementara beberapa orang ingin menunjuk orang-orang tertentu sebagai si pendurhaka (yang kadang disebut antikristus), misalnya Hitler, atau pimpinan PBB, atau presiden Amerika Serikat tertentu, kelihatannya orang-orang ini belum memenuhi syarat. Tidak satupun dari mereka menyesatkan seluruh dunia. Pengaruh mereka masih terbatas oleh waktu dan ruang geografis. Contohnya, Hitler memang memperdaya banyak orang dan berkuasa atas wilayah yang luas di Eropa, tetapi bangsa-bangsa akhirnya bangkit melawannya. Mereka tidak terperdaya oleh Hitler, yang kini sudah terbaring mati di kuburnya.

Jadi, tampaknya si pendurhaka yang dimaksud masih belum datang.

Namun perlu dikatakan juga bahwa dengan kebangkitan sekularisme, atheisme, dan anti-theisme di mana-mana, segalanya telah mulai dipersiapkan untuk seseorang yang nantinya akan begitu mudah melawan semua yang berhubungan dengan Allah, menentang penyembahan akan Allah, dan yang akan mampu meninggikan dirinya menggantikan Allah. Mungkin saja ia adalah seorang ilmuwan besar yang mengklaim dapat menciptakan kehidupan dan mampu menjelaskan segala sesuatu yang kita anggap berasal dari Allah.

Dengan melakukan hal demikian, ia tentu akan memperdaya banyak orang. Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan apa dan bagaimana, tetapi tak mampu menjelaskan kenapa. Dan tidak peduli seberapa maju ilmu atau industri, ia tidak akan pernah dapat menciptakan sesuatu dari yang ketiadaan. Tetapi banyak orang mudah terperdaya oleh mereka yang memanfaatkan sesuatu yang sudah ada dan mengklaim bahwa mereka telah “mencipta”.

Apapun bentuk tipu daya yang akan datang, jelas bahwa sebagian besar fondasi telah tersusun bagi figur si pendurhaka tersebut: komunikasi global secara instan, sekularisme dan atheisme yang merajalela, dan antroposentrisme yang angkuh.

IV. IngatlahTidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu, ketika aku masih bersama-sama dengan kamu? (2Tes 2:5)

St. Paulus secara sederhana meminta kita untuk mengingat, untuk mengizinkan ajaran-ajaran ini senantiasa hadir dalam pikiran dan hati kita, sehingga kelak ketika hal-hal tersebut mulai muncul, niscaya kita tidak akan ikut terperdaya. Yesus juga mengajar murid-murid-Nya tentang apa yang akan datang sehingga ketika hal tersebut sungguh-sungguh datang, mereka tidak akan disesatkan: Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku (Yoh 16:1).

V. Sesuatu yang menahan si pendurhakaDan sekarang kamu tahu apa yang menahan dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan baginya.Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya (2Tes 2:6-8).

Di sini St. Paulus mengajarkan bahwa ada sesuatu yang saat ini masih menahan kemunculan si pendurhaka. Kalau ia bisa, Iblis tentu akan mengusahakan kemunculannya sekarang juga, tetapi masih ada sesuatu yang menahannya. Apakah itu? Tentu, yang menahannya adalah Allah sendiri. Dan alat yang dipakai Allah untuk mengerjakan hal ini kemungkinan besar adalah Gereja. Melalui rahmat, kekuatan Sakramen-Sakramen, pewartaan Injil, dan liturgi, kuasa Iblis ditahan sedemikian rupa.

Tetapi ada saatnya nanti, yang hanya diketahui oleh Allah, ketika kekuatan yang menahan ini pun tidak lagi cukup, dan waktu si pendurhaka akan tiba, dan ia akan muncul.

Apakah ini artinya Gereja akan melemah? Mungkin saja, tetapi tidak dalam arti yang absolut, sebab Tuhan telah berfirman: Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20). Namun bisa dibilang, apabila sejumlah besar orang Katolik menyangkal imannya, maka doa-doa yang dipanjatkan akan semakin sedikit, rahmat yang dianugerahkan akan kian menurun pula, dan cahaya di tengah kegelapan akan makin meredup. Yesus juga menanyakan dengan tajam: Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? (Luk 18:8) Tetapi meskipun jumlah kita akan menyusut secara angka, Gereja tetap tak terkalahkan; Gereja akan tetap ada hingga akhir nanti.

Jadi penjelasan terbaik nampaknya adalah bahwa akan ada satu waktu kelak ketika Tuhan tidak lagi menahan kedatangan si jahat untuk melancarkan serangan terakhirnya.

Mengapa Allah mengizinkan hal ini terjadi, adalah pertanyaan yang penuh misteri; kelihatannya hal ini berhubungan juga dengan kehendak bebas kita, dan dengan semacam pemurnian atas Gereja yang diizinkan oleh Allah, seperti halnya pemurnian Ayub. Dan inilah yang membawa kita kepada alasan atas kedatangan si pendurhaka, menurut St. Paulus.

VI. Alasan[Si pendurhaka ini akan datang] terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan (2Tes 2:10-12).

Perikop ini berbicara tentang Allah yang mengirimkan sebuah kesesatan besar atas banyak orang sehingga mereka mempercayai apa yang salah. Kita mesti berhati-hati menafsirkan bagian ini. Teks ini memang merujuk kepada Allah sebagai kausa primer dari segala yang terjadi. Sebagai penopang dari segalanya, Allah senantiasa adalah penyebab pertama dari semua yang terjadi.

Akan tetapi, perikop ini tidak boleh dipandang dengan makna bahwa Allah memaksa manusia untuk mempercayai kesesatan. Melainkan, Ia mengizinkan agar apa yang sudah sesat di dalam kehendak dan pikiran para pembangkang itu menjadi jelas dan terang. Sebelum kesesatan yang diizinkan Allah itu, para pembangkang sudah menikmati hidup dalam ketidakkudusan dan tidak percaya akan kebenaran. Kesesatan yang diizinkan Allah berarti Allah semata-mata membuat menjadi jelas kesesatan yang sudah bekerja di dalam kehendak manusia.

VII. Hasil akhirTuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali (2Tes 2:8).

Pada akhirnya, Allah menang. Allah selalu menang; kebenaran selalu berjaya. Banyak orang masa kini begitu mudah bingung akan kejahatan yang tampaknya merajalela di dunia, tetapi hal ini hanyalah sementara; hal ini seperti satu giliran jaga malam sebelum fajar menyingsing. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yoh 1:5). Salah satu Mazmur berkata, Aku melihat seorang fasik yang gagah sombong, yang tumbuh mekar seperti pohon aras Libanon; ketka aku lewat, lenyaplah ia, aku mencarinya, tetapi tidak ditemui (Mzm 37:35-36). Mazmur yang lain lagi berkata, Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai (Mzm 30:5).

Jangan khawatir, saudara-saudaraku, akan kegelapan yang saat ini melanda kita. Apakah ini sungguh hari-hari terakhir, atau hanyalah satu riak kecil dalam samudra sejarah manusia yang penuh badai, kita tidak akan tahu. Tetapi inilah yang kita tahu dengan kelas: bahwa kegelapan tidak bertahan, sebab fajar akan datang dan ia tak dapat dicegah. Salib selalu menang, Iblis selalu kalah. Iblis memegang momen-momen tertentu miliknya, tetapi Allah menguasai seluruh hari. Iblis mungkin adalah penguasa dunia ini, tetapi Yesus adalah Tuhan atas segala ciptaan dan sejarah. Kemenangan sudah menjadi milik-Nya. Hanya saja fakta ini mungkin belum disadari oleh musuh-musuh-Nya, yang jelas sedang bermain untuk kekalahan mereka sendiri.

Perikop ini jelas: bagaimanapun hebatnya pesona kejahatan, Yesus, oleh kedatangan-Nya yang mulia, akan membinasakan Iblis dan pekerjaan tangannya.

***

Diterjemahkan dari “Are These the Last Days? Pondering a text of St. Paul’s” oleh Msgr. Charles Pope, di blog Archdiocese of Washington.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: