5 Alasan Untuk Berdevosi Jalan Salib

abegg-triptych

“Abegg Triptych”, Rogier van der Weyden

Devosi Jalan Salib merupakan salah satu devosi tradisional Gereja. Pada umumnya, Jalan Salib dilakukan setiap hari Jumat selama masa Prapaskah. Mereka yang dulu pernah bersekolah di sekolah Katolik, dan seandainya terdapat gereja di dekat sekolah itu, biasanya ada tradisi untuk mengajak para murid dan guru berdevosi Jalan Salib bersama. Sayangnya, berdasarkan pengalaman saya pribadi, kita hanya diajak untuk mengikuti devosi ini tanpa memahami lebih dalam makna rohaninya bagi diri kita.

Yerusalem merupakan kota historis terjadinya Jalan Salib Kristus. Pada abad pertengahan, muncul ketertarikan untuk mengunjungi atau berziarah ke kota-kota suci. Ketertarikan inilah yang menimbulkan keinginan untuk “menciptakan” Jalan Salib secara lokal. Namun dasar perkembangan devosi ini telah dipersiapkan oleh tiga orang santo, yaitu St. Bernardus dari Clairvaux, St. Fransiskus dari Assisi dan St. Bonaventura. Penjelasan lebih lanjut bisa dibaca di sini: The Way of the Cross by Piero Marini.

Berikut ini adalah 5 alasan mengapa kita harus berdevosi Jalan Salib:

#1. Menumbuhkan Kesadaran akan Dosa

Devosi Jalan Salib adalah sarana yang efektif dalam memulihkan kesadaran akan dosa.

Pandanglah Ia yang memikul salib, maka anda menemukan bahwa rupa Kristus telah menjadi buruk rupa: buruk rupa karena dosa-dosa manusia, karena dosa anda dan saya!. “Tidak ada yang menarik dalam rupanya, tak ada keindahan, tak ada keagungan. Ia dihina dan ditolak orang, seorang penuh duka yang biasa menderita, terhadapnya orang menyembunyikan muka, dihina, dan dianggap tidak masuk hitungan” (Yes 53:2-3). “Namun sesungguhnya duka kita ditanggungnya, derita kita yang dipikulnya, meskipun kita menganggap dia sebagai orang yang disiksa Allah, dipukul dan direndahkan. Karena dosa-dosa kita dia ditinggalkan, karena kejahatan kita dia diremukkan. Oleh siksa yang dideritanya kita disembuhkan, oleh luka-lukanya kita dipulihkan” (Yes 53:4-6).

Kehidupan Yesus Kristus adalah kisah cinta terindah yang kita miliki. Kisah ini adalah cerita cinta Allah bagi umat ciptaan-Nya, manusia. Namun anehnya (dan misteriusnya), keindahan cinta ini juga melibatkan aspek penderitaan. Keindahan cinta ini juga mencakup realita dosa manusia. Bukan untuk menakut-nakuti atau membuat kita merasa ngeri, melainkan realita dosa inilah yang hendak ditebus oleh Sang Juru selamat. Sang Penebus dunia, dengan turun ke dunia menjadi manusia dan tinggal di antara kita, ingin membebaskan kita dari realitas dosa yang memperbudak kita.

“Yesus masuk ke dalam sejarah manusia yang dirusak oleh dosa, dan memikul beban dan kejamnya dosa ke atas diri-Nya. Ketika kita memandang Yesus, kita melihat dengan jelas kuasa dosa yang menghancurkan, dan kita melihat penyakit keluarga manusia kita Ya, penyakit kita! Penyakit saya dan anda!” – Uskup Agung Angelo Comastri

#2. Menumbuhkan Rasa Cinta kepada Ekaristi

Kesadaran akan dosa, yang kita peroleh dari Jalan Salib, semestinya mengarahkan kita pada cinta akan Ekaristi. Dalam Ekaristi kita mendengar perkataan “Inilah tubuh-Ku yang dipersembahkan bagimu … Inilah darahku yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa”. Perkataan Yesus ini mencapai pemenuhannya ketika Ia wafat di Salib, setelah Ia menempuh Jalan Salib yang penuh kesengsaraan. Ekaristi adalah persembahan diri Kristus di salib kepada Bapa.

Dengan mengurbankan diri di Salib, Yesus “membuka pintu surga bagi manusia di dunia” (Thomas Aquinas, Verbum Supernum Prodiens). Dan untuk membantu kita mencapai kehidupan kekal, Yesus turun ke dunia menjadi roti kehidupan, menjadi makanan rohani bagi peziarahan kita menuju rumah Bapa. Tidak akan ada Ekaristi bila Yesus tidak menempuh Jalan Salib dan wafat di Salib. Perkataan Yesus kepada para murid tentang pemberian Tubuh dan Darah-Nya yang mulia, akan menjadi sia-sia tanpa Jalan Salib, tanpa wafat-Nya. Misteri Ekaristi, dengan kata lain, terkait erat dengan Jalan Salib Kristus.

Jalan Salib mengingatkan kita akan besarnya kasih Allah kepada manusia, kasih yang tak berkesudahan, yang berujung pada wafat dan kebangkitan-Nya. Dan kenangan akan kasih Allah kepada kita, akan mendorong kita untuk mengasihi Tuhan, mengasihi Dia yang hadir dalam Ekaristi.

Nah, konsekuensi dari cinta akan Ekaristi ialah tumbuhnya keinginan untuk mengaku dosa, terutama dosa berat, sebelum menyambut Komuni Suci. Karena Ekaristi yang disambut secara tidak layak (dalam keadaan dosa berat) merupakan dosa sakrilegi (dan ini dosa berat), dan justru akan membawa “hukuman dan kutukan” (Thomas Aquinas, Doa Sesudah Komuni) bagi kita. Kalau Ekaristi disambut dengan tidak layak, itu artinya kita menggabungkan diri dengan mereka yang mendera dan menghina Yesus di sepanjang Jalan Salib.

Jalan Salib membantu menumbuhkan kasih dalam diri kita, kasih seperti yang dimiliki Bunda Maria dan St. Yohanes, yakni kasih yang setia untuk menemani Tuhan dalam penderitaan, kasih yang tidak ikut serta dalam penyiksaan Yesus. Tidak semua orang bisa menemani Tuhan dalam sengara-Nya dengan penuh kasih, hanya mereka yang layak, yang dapat dengan setia berada di Kalvari.

Jadi, Jalan Salib, dapat menumbuhkan cinta kepada Ekaristi, dan cinta ini mendorong kita untuk memantaskan diri kita, untuk membersihkan jiwa kita dari dosa sebelum menyambut-Nya.

“Sabda yang Kekal—kuasa yang menciptakan kehidupan—turun dari Surga sebagai manna sejati, roti yang diberikan kepada manusia dalam iman dan sakramen. Jalan Salib, dengan demikian, adalah jalan yang menuntun pada inti misteri Ekaristi: kesalehan populer dan kesalehan sakramental melebur bersama menjadi satu. Doa Jalan Salib adalah jalan yang mengarah pada persekutuan rohani yang mendalam dengan Yesus; bila kita kekurangan hal ini, komuni sakramental kita akan menjadi kosong. Jalan Salib, oleh karena itu, adalah jalan “mistagogis.”” – Kardinal Ratzinger

#3. Membina Perasaan Kita

Secara umum, seseorang akan mencari devosi yang paling cocok dengan diri mereka, yang dapat membuat mereka merasa “terhubung” sehingga devosi ini dapat dilakukan dari dalam hati. Dengan kata lain, ada anggapan bahwa kita harus bisa jatuh cinta dulu dengan devosi ini, harus merasa cocok terlebih dahulu, baru lah kita memutuskan untuk mendoakannya.

Nah, hal yang sebaliknya lah yang terjadi melalui devosi Jalan Salib ini. Jalan Salib adalah jalan kesengsaraan Tuhan, di dalamnya kita merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus yang dicibir, dicambuk, dihina, dicaci-maki, dipukul, dst. Dalam devosi Jalan Salib ini, sebaiknya kita perlu membina perasaan kita, menumbuhkan rasa cinta dan keterhubungan dengan devosi ini dengan melakukannya terlebih dahulu (bukan jatuh cinta dulu terhadapnya). Kita perlu menapaki Jalan Salib Kristus untuk menumbuhkan keterhubungan kita dengan devosi ini. Dan saya rasa, ini bukanlah hal yang berat untuk dilakukan, toh devosi ini dilakukan setiap hari Jumat selama masa Prapaskah. Sekalipun ini tidak wajib, namun kita akan memperoleh manfaat rohani dengan menjalankannya.

Ingatlah bahwa apa yang dilakukan Yesus dalam Jalan Salib ini, semuanya dilakukan Yesus bagi kita, bagi masing-masing diri kita. Tiap kesengsaraan dan derita Kristus selama Jalan Salib itu, ada peran dosa-dosa pribadi kita pula. Namun, Yesus rela menderita dan memikul Salib untuk menebus dan menyelamatkan dosa manusia. Apakah kita harus menunggu untuk bisa ‘terhubung’ dengan devosi ini, merasa cocok dahulu, baru kemudian kita berdoa, dan kalau tidak demikian, maka kita tidak mendoakannya?

Ingatlah bahwa kasih itu bukan sekedar perasaan atau sentimen semu yang datang dan pergi. Saya yakin, bila kita berusaha, setidaknya untuk setia dalam berdevosi Jalan Salib selama masa Prapaskah, dan setia pula dalam merenungkan setiap perhentiannya, maka perasaan kita dapat dimurnikan, dan dengan demikian iman kita pun dikuatkan. Devosi ini adalah salah satu cara membina perasaan dan menempa iman kita, iman yang bekerja melalui kasih.

Sentimen belaka tidak pernah cukup; Jalan Salib harus menjadi sekolah iman, iman yang dari hakikatnya “bekerja melalui kasih” (Gal 5:6). – Kardinal Ratzinger

#4. Menguatkan Kehendak untuk Setia

Devosi Jalan Salib merupakan devosi yang memakan waktu cukup lama. Kerap kali, godaan yang muncul ketika kita berdoa terlalu lama adalah rasa lelah, mengantuk, atau bosan, sehingga timbul kecenderungan untuk cepat-cepat menyelesaikan devosi ini. Hal-hal ini pada umumnya merupakan hambatan dalam berdoa, dan bila kita mampu mengatasinya, maka kehendak kita dapat semakin dikuatkan.

“Aku tidak lagi memanggil kamu hamba, melainkan sahabat”. Perkataan Yesus ini menunjukkan bahwa Yesus ingin bersahabat dengan kita. Kepada para rasul, Ia berjanji bahwa Ia selalu menemani mereka hingga akhir zaman. Mengenai persahabatan sejati, St. Thomas Aquinas pernah berkata demikian:

“Kita harus bertekun dalam mengasihi sesama kita, sama seperti kita tekun dalam mengasihi diri kita: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Ams 17:17.); yaitu, ia mengasihi dalam masa-masa sulit sama seperti pada masa-masa yang baik. Terlebih, seorang sahabat sungguh terbukti di waktu susah.” – St. Thomas Aquinas

Karakteristik persahabatan yang sejati ialah setia dalam kesukaran. Kristus sendiri telah membuktikan bahwa Ia setia dalam memikul salib, Ia setia dalam melaksanakan kehendak Bapa, Ia setia di Jalan Salib-Nya, yang mana ia memikul beban dosa manusia.

Devosi Jalan Salib merupakan sebuah perjalanan rohani bersama Yesus, yang sungguh mengasihi kita. Bila kita sungguh mengasihi Yesus, bila kita sungguh ingin menjadi sahabat Yesus, bukankah kita pun juga harus setia dalam saat-saat yang sulit, tidak hanya dalam kehidupan kita, tetapi juga setia dalam devosi Jalan Salib ini? Bukankah berbagai kesulitan yang muncul ketika mendoakan devosi ini, dapat melatih kehendak kita untuk tetap setia, untuk tetap berusaha merenungkan kisah sengsara Yesus, tanpa merasa tergesa-gesa atau ingin cepat menyelesaikannya? Ataukah kita mau menjadi seperti para murid, yang mana ketika Yesus berdoa, malah jatuh tertidur dan tidak berjaga dalam doa?

“Dalam Jalan Salib kita melihat Allah yang berbagi dalam penderitaan manusia, Allah yang kasih-Nya tidaklah asing dan berjarak, tetapi datang di tengah kita, bahkan hingga menanggung kematian di Salib (bdk Flp 2:8). Allah yang berbagi penderitaan kita, Allah yang menjadi manusia untuk memikul salib kita, ingin mengubah hati kita yang membatu; Ia mengundang kita untuk berbagi dalam penderitaan orang lain.” – Kardinal Ratzinger

#5. Melatih Kesabaran

Pada umumnya, manusia cenderung ingin melarikan diri dari kesulitan, dari penderitaan. Terkadang kita merasa tidak kuat menanggung kesusahan, apapun bentuknya.

Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, dalam berdevosi Jalan Salib, ada berbagai kesulitan-kesulitan kecil yang kita temui: rasa lelah, mengantuk, dan bosan. Bisa juga lutut kita merasa sakit karena kita harus terus menerus berdiri dan berlutut. Namun persis berbagai kesulitan kecil inilah yang menjadi ujian kita untuk bersabar.

Ya, kita harus bersabar dalam menemani Yesus selama Jalan Salib ini, di tengah rasa lelah, ngantuk, atau pun bosan. Ya, kita harus bersabar, mengingat dibutuhkannya waktu yang lama untuk mendoakan devosi Jalan Salib ini dengan penuh permenungan. Konsekuensi dari kuatnya kehendak kita ialah, kita pun semakin dikuatkan untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan. Hendaklah kita tidak mengeluh, melainkan menerima kesulitan ini dengan penuh rasa syukur, karena inilah salah satu cara untuk melatih kesabaran kita.

Yesus sendiri telah memberikan teladan kesabaran paling sempurna: Ia menanggung penderitaan yang demikian besar dengan penuh kesabaran, padahal Ia dapat menghindari penderitaan ini, tetapi Ia tidak melakukannya karena kasih-Nya bagi kita. St. Thomas Aquinas menjelaskan kesabaran Kristus dengan indah:

“Bila kamu mencari teladan kesabaran, kamu akan menemukannya dalam tingkat tertinggi di atas Salib. Kesabaran yang besar diwujudkan dalam dua cara: entah ketika seseorang menanggung secara intens dengan segenap kesabaran, atau ketika seseorang menanggung apa yang dapat dihindarinya bila ia menghendakinya. Kristus sangat menderita di atas Salib: “Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan TUHAN kepadaku” (Rat 1:12). Dan penderitaan itu ditanggung dengan segenap kesabaran, karena, “ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam” (1 Pet 2:23). Dan lagi: “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yes 53:7). Ia dapat menghindari penderitaan ini, tetapi Ia tidak melakukannya: “Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?”( Mat 26:23.). Kesabaran Kristus di atas salib, oleh sebab itu, adalah kesabaran pada tingkat tertinggi: “Marilah kita berlomba dengan sabar dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang mengabaikan kehinaan” (Ibr 12:1-2.)”. – St. Thomas Aquinas

Peluklah Salib Kristus

“Jika Engkau adalah Putra Allah, turunlah dari Salib dan selamatkanlah diri-Mu!” Seruan ini bukanlah seruan yang berasal dari murid Tuhan, melainkan seruan ini adalah seruan iblis. Dalam seruan ini, terkandung usaha dan muslihat untuk memisahkan Yesus dan Salib.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menyangkal diri dan memikul salib kita. Namun terkadang salib kita terasa berat, kita merasa tidak mampu memikulnya, kita sulit mengasihinya dan terkadang kita ingin meninggalkannya. Namun kita tahu bahwa Tuhan menghendaki kita memikul salib demi keselamatan jiwa kita. Hendaklah kita sadari bahwa setiap dorongan untuk membuang salib berasal dari iblis.

Jalan Salib adalah jalan cinta. Cintailah Salib, karena ia adalah sumber keselamatan. Peluklah salib, karena ini tanda kesetiaan anda kepada Tuhan. Hanya dengan berpegang pada Salib Kristus, dan setia dengan salib kita, maka kita akan dimampukan untuk mencapai rumah kita yang sejati, tanah air kita, yakni kehidupan kekal.

“Bila seseorang memandang  tanah airnya dari jauh, yang dipisahkan dari laut, ia akan melihat tujuannya tetapi ia kekurangan sarana untuk mencapainya. Demikian pula dengan kita … Kita memandang sekilas tujuan kita di seberang lautan masa kini … Tetapi agar mampu pergi ke sana, Ia yang adalah tujuan kita, datang pada kita … Ia membawakan kita papan yang olehnya kita dapat melakukan perjalanan. Tak seorangpun dapat menyebrangi lautan masa kini, kecuali ia dibawa oleh salib Kristus … Jadi jangan tinggalkan salib, dan salib tersebut akan membawa kamu.” – St Agustinus dari Hippo

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: