Berdoa Berarti Menggerakkan Hati Allah dan Menyentuh Hati Sesama

1795708_752291071450341_1778598532_n

PERTEMUAN DENGAN IMAM DAN DIAKON PERMANEN BAVARIA
HOMILI BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI

Katedra St. Mary dan St. Corbisian, Freising
Kamis, 14 September 2006

 

Saudara-saudara dalam keuskupan dan pelayanan imamat yang terkasih,

Saudara-saudari terkasih,

Momen ini memenuhi hati saya dengan sukacita dan rasa syukur—syukur atas semua yang telah saya alami dan terima selama kunjungan pastoral ke Bavaria. Saya telah merasakan kehangatan, iman, dan sukacita dalam Allah yang demikian besar. Semua ini mempengaruhi saya secara mendalam dan akan tinggal bersama saya sebagai sumber kekuatan yang diperbarui. Saya juga berterima kasih karena mampu kembali ke Katedral Freising dan melihatnya dalam kecemerlangan yang baru. Saya berterima kasih pada Kardinal Wetter, kepada dua Uskup Bavaria yang lain, kepada semua yang bekerja sama dalam tugas ini, dan terakhir kepada Penyelenggaraan Ilahi yang memungkinkan dilakukannya restorasi yang mengagumkan ini. Kini saya kembali di Katedral ini, dan banyak kenangan yang muncul kembali selagi saya melihat diri saya di hadapan teman-teman lama, dan juga para imam muda yang meneruskan pesan, obor iman. Kenangan akan tahbisan saya, yang telah dibicarakan Kardinal Metter, juga muncul lagi. Di sini saya berbaring telungkup di tanah, diselubungi oleh litani para kudus, dan oleh perantaraaan semua orang kudus. Saya menyadari bahwa kita tidak sendirian berada di jalan ini, sejumlah besar orang kudus berjalan bersama kita, dan orang kudus yang hidup, umat beriman hari ini dan esok, menopang kita dan berjalan bersama kita. Lalu tibalah saat penumpangan tangan, dan akhirnya Kardinal Faulhaber mewartakan kepada kami: “Iam non dico vos servos sed amicos”—“Aku tidak memanggil kamu hamba, tetapi sahabat”; saat itu, saya mengalami tahbisan imamat saya sebagai inisiasi ke dalam komunitas sahabat Yesus, dipanggil untuk bersama dengan-Nya dan mewartakan pesan-Nya.

Menapaki Jejak Langkah Kristus=Masuk ke dalam Terang

Saya juga teringat akan imam dan diakon yang saya tahbiskan sendiri di sini. Kini mereka dipersembahkan bagi pelayanan Injil dan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, mereka tetap meneruskan pesan, dan mereka terus melakukannya. Secara alami, saya juga mengingat prosesi St. Korbinian. Saat itu, tradisinya adalah membuka reliquary. Karena tempat Uskup ada di belakang jambang, saya dapat melihat tulang sang santo secara langsung. Saya melihat diri saya turut ambil bagian dalam prosesi berusia ratusan tahun, menapaki jalan iman. Dalam “prosesi waktu” yang agung ini, saya dapat melihat bahwa kita juga berjalan bersama menuju masa depan. Ini menjadi jelas selagi prosesi itu melewati biara terdekat tempat ada banyak anak-anak berkumpul, dan saya akan memberikan tanda salib di dahi mereka. Hari ini kita masih menghidupi pengalaman yang sama; kita berada dalam prosesi agung, dalam peziarahan Injil. Kita dapat menjadi peziarah dan pemandu. Dengan mengikuti mereka yang telah menapaki jejak langkah Kristus, kita juga mengikuti Dia, dan dengan demikian kita masuk ke dalam terang.

Manusia Menantikan Allah di Lubuk Hatinya

Mari kita masuk ke dalam homili, yang mana saya hanya ingin menyampaikan dua hal. Pertama berkenaan denan Injil yang baru saja kita dengar, sebuah perikop yang sering kita dengar, yang kita tafsirkan dan renungkan dalam hati kita. “Tuaian memang banyak” kata Tuhan. Dengan berkata “banyak”, Tuhan tidak mengacu pada momen tertentu dan pada jalan Palestina tempat Dia melakukan perjalanan selama kehidupan di bumi: perkataan Tuhan tetap berlaku di masa kini. Perkataan itu berarti bahwa dalam hati banyak orang, tuaian sedang bertumbuh, artinya, jauh di lubuk hatinya, mereka menantikan Allah, menunggu sebuah arahan yang dipenuhi terang, yang menunjukkan jalan, mereka menunggu pesan yang lebih dari sekedar kata, berharap, menanti akan kasih yang menyambut dan menopang kita selamanya, melampaui masa kini yang fana. Tuaian memang banyak, dan pekerja dibutuhkan dalam setiap generasi. Kutipan lainnya “tetapi pekerja sedikit” juga benar bagi setiap generasi dalam arti yang berbeda.

Panggilan Imamat Berasal dari Allah

“Berdoalah kepada Tuhan yang empunya tuaian untuk mengirimkan para pakerja.” Ini berarti bahwa tuaian telah siap, tetapi Allah ingin mendapatkan penolong untuk membawanya ke tempat penyimpanan. Allah membutuhkan mereka. Ia memerlukan orang-orang yang berkata: ya, saya siap menjadi pekerja bagi tuaian Engkau; saya siap memberikan pertolongan sehingga tuaian yang matang dalam hati banyak orang dapat sungguh dibawa ke tempat penyimpanan yang kekal dan menjadi persekutuan sukacita dan kasih yang kekal dan bertahan. “Berdoalah kepada Tuhan yang empunya tuaian” juga berarti bahwa kita tidak bisa “menghasilkan” panggilan; mereka harus berasal dari Allah. Ini tidak seperti profesi lainnya, kita tidak bisa sekedar merekrut orang dengan menggunakan jenis publisitas yang tepat atau semacam strategi yang benar. Panggilan yang berasal dari hati Allah harus selalu menemukan jalan ke dalam hati manusia. Dan persis agar hal itu dapat mencapai ke dalam hati, kerja sama kita dibutuhkan. Berdoa kepada Tuhan yang empunya tuaian berarti meminta Dia untuk hal ini, untuk menggerakkan hati kita dan berkata: “Tolong lakukanlah ini! Munculkan para pekerja! Nyalakan antusiasme dan sukacita Injil dalam diri mereka! Buatlah mereka mengerti bahwa ini adalah harta karun yang lebih besar dari apapun, dan siapapun yang telah menemukannya, harus meneruskannya pada orang lain!”

Berdoa Berarti Menggerakkan Hati Allah

Kita menggerakkan hati Allah. Tetapi doa kita kepada Allah tidak hanya perkataan belaka; perkataan harus mengarah pada tindakan sehingga dari doa kita hati memancarkan sukacita dalam Allah dan dalam Injil dapat muncul, mengobarkan kesiapan dalam hati orang lain untuk berkata “ya”. Sebagai orang-orang yang berdoa, yang dipenuhi dengan terang-Nya, kita menjangkau orang lain dan membawa mereka dalam doa kita dan dalam kehadiran Allah, yang tidak akan gagal dalam melakukan bagian-Nya. Dalam pengertian ini kita harus terus berdoa kepada Tuhan yang empunya tuaian, untuk menggerakkan hati-Nya, dan bersama dengan Allah menyentuh hati yang lain melalui doa kita. Dan Ia, seturut tujuan-Nya, akan mematangkan “ya” mereka, kesiapan mereka untuk menanggapi; konsistensi, dengan kata lain, konsistensi untuk melalui semua kekacauan dunia ini, melalui panasnya hari dan kegelapan malam, konsistensi untuk bertekun dengan setia dalam pelayanan-Nya. Dengan demikian mereka akan mengetahui bahwa upaya mereka, betapapun sukarnya, adalah mulia dan pantas karena mereka menuntun kepada apa yang hakiki, mereka memastikan bahwa orang-orang menerima apa yang mereka harapkan: terang Allah dan kasih Allah.

Berkurangnya Jumlah Imam

Hal kedua yang ingin saya katakan bersifat praktis. Jumlah imam berkurang bahkan ketika di masa kini kita mampu mengatasinya, karena kita memiliki imam muda dan tua, dan ada orang muda yang sedang menempuh perjalanan menuju imamat. Namun beban mereka bertambah. Mengelola dua, tiga, atau empat paroki pada waktu yang sama, dan semua tugas tambahan baru yang muncul, dapat mengecilkan hati kita. Kerap kali saya bertanya, atau bahkan kita semua bertanya: bagaimana kita akan mengatasinya? Bukankah hal ini adalah profesi yang menyita diri kita, yang tidak lagi membawa sukacita karena kita melihat apapun yang kita lakukan tak pernah cukup? Beban kita terlampau berat!

Sehati dan Sejiwa Bersama Kristus

Apa tanggapan yang dapat kita berikan? Jelas sekali saya tidak bisa memberikan solusi yang tak dapat salah: meskipun demikian saya ingin menyarankan beberapa arahan mendasar. Saya ambil dari Surat Paulus kepada umat di Filipi (2:5-8), ketika St. Paulus berkata kepada semua orang, secara khusus kepada mereka yang bekerja di ladang Tuhan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Pikiran-Nya sedemikian rupa, sehingga ketika berhadapan dengan takdir manusia, Ia hampir tak dapat bertahan dalam kemuliaan, tetapi harus turun dan melakukan yang luar biasa, memikul di atas diri-Nya kemiskinan hidup manusia bahkan sampai menderita di Salib. Inilah pikiran Yesus Kristus: merasa terdorong membawa manusia kepada terang Bapa, membantu kita dengan membentu Kerajaan Allah bersama kita dan dalam kita. Dan pikiran Yesus Kristus juga berakar secara mendalam dalam persekutuan-Nya dengan Bapa. Petunjuk lahiriah tentang ini, ialah bahwa Para Penginjil berulang kali menceritakan bahwa Ia menarik diri sendirian ke gunung untuk berdoa. Aktivitasnya mengalir dari persatuan-Nya yang mendalam dengan Bapa, dan persis karena hal ini, Ia harus keluar dan mengunjungi semua kota dan desa untuk mewartakan Kerajaan Allah, menyatakan bahwa Kerajaan Allah hadir di tengah kita. Ia harus meresmikan Kerajaan itu di antara kita sehingga, melalui kita, ia dapat mengubah dunia; Ia harus memastikan bahwa kehendak Allah dilakukan di bumi seperti di Surga dan bahwa Surga turun ke atas bumi. Dua aspek ini adalah bagian dari pikiran Kristus Yesus. Di sisi lain, kita harus mengenal Allah dari dalam, mengenal Kristus dari dalam, dan bersama dengan-Nya; hanya dengan cara ini kita akan menemukan “harta karun”. Di sisi lain kita juga harus keluar bertemu orang lain. Kita tidak dapat hanya “menyimpan harta” untuk diri kita, kita harus meneruskannya.

Semangat Harus Dipadukan dengan Kerendahan Hati

Saya ingin berbicara lebih spesifik berkenaan dengan petunjuk dasar ini, yang berhubungan dengan dua hal. Penting sekali memadukan semangat dan kerendahan hati, dengan kesadaran akan keterbatasan kita. Di sisi lain, semangat harus ada: bila kita sungguh berjumpa lagi dan lagi dengan Kristus, kita tidak bisa menyimpan-Nya untuk diri kita. Kita merasa terdorong untuk pergi keluar bertemu orang miskin, orang tua, orang lemah, kepada anak-anak dan kaum muda, kepada mereka yang berada dalam kondisi terbaiknya. Kita merasa terdorong untuk menjadi “pelopor”, menjadi rasul-rasul Kristus. Namun semangat kita, kalau-kalau ia menjadi kosong dan membebani kita, harus dipadukan dengan kerendahan hati, dengan moderasi, dengan penerimaan akan keterbatasan kita. Begitu banyak hal yang harus dilakukan, namun saya melihat bahwa saya tidak mampu melakukan semuanya. Saya membayangkan hal ini sungguh benar, bagi para pastor, dan hal ini juga benar bagi Paus, yang harus melakukan begitu banyak hal! Kekuatan saya tidaklah memadai. Dalam cara ini saya belajar melakukan apa yang bisa saya lakukan, dan saya serahkan semuanya kepada Allah dan rekan saya, dengan berkata: “Pada akhirnya, Engkau harus melakukan pekerjaan ini, Tuhan, karena Gereja adalah milik-Mu. Engkau memberikan aku kekuatan sebesar yang aku miliki. Aku kembalikan kepada-Mu, karena ia berasal dari-Mu; segala sesuatu yang lain aku tempatkan ke dalam tangan-Mu.” Saya percaya bahwa kerendahan hati yang mendorong kita berkata “kekuatanku tidak cukup, aku serahkan kepada-Mu, Tuhan, untuk melakukan sisanya” sangatlah penting. Selanjutnya, kepercayaan diperlukan: Ia akan memberikan aku rekan kerja yang aku perlukan, dan mereka akan melakukan apa yang tak bisa kulakukan.

Pelayanan Kita Harus Dipadukan dengan Kehidupan Rohani Kita

Untuk mendalami gagasan ini, perpaduan antara semangat dan kerendahan hati juga berarti memadukan semua aspek pelayanan kita dengan kehidupan batin atau rohani kita. Kita dapat melayani orang lain dan memberikan kepada mereka hanya jika kita secara pribadi juga menerima, bila kita tidak mengosongkan diri kita. Itulah alasannya mengapa Gereja memberikan kita ruang yang bebas, yang di satu sisi memampukan kita “menghirup” dan “menghembuskan” secara baru, dan di sisi lain menjadi sumber dan pusat kehidupan kita. Pada tempat pertama, terdapat perayaan Misa Kudus harian. Kita tidak seharusnya melakukan ini hanya karena rutinitas, atau sebagai “sesuatu yang harus saya lakukan”, tetapi harus dilakukan “dari dalam”! Hendaklah kita mengidentifikasi diri dengan perkataan dan perbuatan, dengan peristiwa yang sungguh hadir dalam Misa Kudus! Bila kita merayakan Misa dengan sikap doa, bila perkataan “inilah tubuhku” lahir dari persekutuan kita dengan Yesus Kristus yang meletakkan tangan-Nya atas diri kita dan memberi kita ijin untuk berbicara dengan “Aku”-Nya, bila kita merayakan Ekaristi dengan partisipasi yang intim dalam iman dan doa, maka ini bukan sekedar kewajiban lahiriah belaka; lalu ars celebrandi (seni merayakan Misa) pun akan datang secara alami, karena ia terdiri dari merayakan Misa dari sudut padang Tuhan dan dalam persekutuan dengan-Nya, dan dengan demikian Misa dirayakan dalam cara terbaik untuk melayani umat. Lalu kita sendiri juga terus menerus diperkaya dan pada saat yang sama, kita meneruskan kepada orang lain sesuatu yang lebih dari miliki kita, yaitu: kehadiran Tuhan.

Berdoa adalah Prioritas Pastoral

Ruang bebas lainnya yang mana Gereja mewajibkan kita, dan dengan demikian membebaskan kita, adalah Ibadat Harian atau Brevir. Hendaklah kita berniat untuk mendaraskannya sebagai doa sejati, doa dalam persekutuan dengan Israel Perjanjian Lama dan Baru, doa dalam persekutuan dengan semua yang berdoa di sepanjang sejarah, doa dalam persekutuan dengan Yesus Kristus, doa yang timbul dari “aku” yang terdalam, dari subjek terdalam doa-doa ini. Dalam cara ini kita menarik orang lain dalam doa kita, menarik mereka yang kekurangan waktu atau tenaga atau kemampuan dalam berdoa. Sebagai umat yang berdoa, kita mewakili orang lain ketika kita berdoa dan dengan melakukannya, kita memenuhi pelayanan  pastoral dalam tatanan pertama. Ini tidak sama dengan menarik diri ke dalam area pribadi, ini adalah prioritas pastoral, ini adalah aktivitas pastoral yang mana imamat kita diperbarui, dan kita sekali lagi dipenuhi oleh Kristus. Kita memasukkan orang lain dalam persekutuan dengan Gereja yang berdoa, dan pada saat yang sama, kita mengijinkan kuasa doa, kehadiran Yesus Kristus, untuk mengalir ke dalam dunia ini.

Allah Selalu Hadir Bersama Para Imam

Motto selama hari-hari ini adalah “mereka yang percaya, tak pernah sendirian”. Perkataan ini berlaku dan juga harus berlaku secara khusus bagi para imam, bagi setiap kita semua. Mereka berlaku dalam dua arti: seorang imam tidak pernah sendirian karena Yesus Kristus selalu bersama-Nya. Ia ada bersama kita, mari kita juga ada bersama Dia! Tetapi perkataan ini juga harus berlaku dalam arti yang lain juga. Ia yang menjadi imam masuk ke dalam imamat, sebuah komunitas para imam bersama Uskup mereka. Ia adalah imam dalam persekutuan dengan rekan sesama imamnya. Mari kita mempercayakan diri kita untuk menghidupi hal ini, bukan hanya sebagai aturan teologis dan yuridis, tetapi sebagai pengalaman praktis bagi kita semua. Mari kita mempersembahkan persekutuan ini kepada satu sama lain, marilah kita mempersembahkannya secara khusus bagi mereka yang kita tahu sedang menderita karena kesendirian, bagi mereka yang kita tahu sedang terganggu oleh berbagai pertanyaan dan persoalan, dan barangkali juga karena keraguan dan ketidakpasstian! Marilah kita mempersembahkan persekutuan ini satu sama lain, dan dengan demikian pengalaman persekutuan kita dengan Yesus Kristus selalu baru, lebih penuh dan lebih bersukacita, melalui kebersamaan dengan Allah, melalui kebersamaan dengan orang lain! Amin.

Diterjemahkan dari Homili Paus Benediktus XVI, saat mengadakan Perjalanan Apostolik ke München, Altötting dan Regensburg.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: