Takhta St. Petrus: Simbol Kehadiran St. Petrus dalam Magisterium

5467740556_b7a4d4ecbb_z

Simbol takhta uskup yang istimewa ialah Takhta St. Petrus yang terdapat di Basilika St. Petrus di Roma. Gereja selalu memperingati hari raya Takhta Petrus yang jatuh setiap tanggal 22 Februari. Berikut ini merupakan homili Paus Benediktus XVI yang memberikan renungan tentang Takhta St. Petrus.

***

Inijl hari ini menghadirkan Petrus, di bawah inspirasi ilahi, yang mengungkapkan imannya yang kokoh dalam Yesus sebagai Putra Allah dan Mesias yang dijanjikan. Menanggapi pengakuan iman yang jelas ini, yang Petrus lakukan dalam nama Rasul yang lain juga, Kristus mewahyukan kepadanya misi yang ia maksudkan untuk dipercayakan kepadanya, yaitu menjadi “batu karang”, fondasi kasat mata yang diatasnya pembangunan Gereja didirikan (bdk. Mat 16:16-19). Nama baru ini, “batu karang”, bukanlah acuan kepada karakter pribadi Petrus, tetapi dapat dipahami atas dasar aspek yang lebih mendalam, sebuah misteri: melalui jabatan yang Yesus berikan padanya, Simon Petrus akan menjadi sesuatu, yang dalam “daging dan darah”, bukanlah dirinya. Ahli tafsir Joachim Jeremias telah menunjukkan  apa yang dihadirkan melalui bahasa simbolis “batu karang yang suci”. Berkenaan dengan ini, akan sangat membantu bila kita menimbang teks rabini yang menyatakan: “Tuhan berkata, ‘Bagaimana aku bisa menciptakan dunia, ketika manusia tak bertuhan ini bangkit memberontak menentang Aku?’ Tetapi ketika Allah melihat Abraham yang hendak dilahirkan, ia berkata, ‘Lihat, Aku telah menemukan batu karang yang di atasnya aku bisa membangun dan mendirikan dunia.’ Oleh karena itu ia menyebut Abraham sebagai batu karang.” Nabi Yesaya mengacu kepada hal ini ketika ia memanggil jemaat untuk “melihat kepada batu karang yang darinya kamu terpahat… pandanglah Abraham bapamu ” (Yesaya 51:1-2). Atas dasar iman ini, Abraham, bapa kaum beriman, dipandang sebagai batu karang yang menopang ciptaan. Simon, yang pertama mengakui iman dalam Yesus sebagai Kristus dan saksi pertama kebangkitan, sekarang, atas dasar imannya yang telah diperbarui, menjadi batu karang yang menang terhadap kekuatan jahat yang destruktif.

Saudara-saudari terkasih, cerita Injil yang telah diwartakan pada kita dijelaskan lebih jauh dan dalam cara yang lebih indah melalui salah satu harta karun artistik yang paling terkenal dari Basilika Vatikan: Altar Takhta St. Petrus. Setelah melewati pusat nave yang indah, dan bila dilanjutkan hingga melewati transepts,para peziarah tiba di apse dan melihat di hadapan mereka, sebuah takhta perunggu yang sangat besar, yang kelihatannya melayang di udara, tetapi kenyataanya takhta tersebut ditopang oleh empat patung Bapa Gereja agung dari Timur dan Barat. Dan di atas takhta, yang dikelilingi oleh malaikat yang jaya di udara, kemuliaan Roh Kudus bersinar melalui jendela oval. Apa yang hendak dikatakan oleh komposisi pahatan ini, buah karya kejeniusan Bernini tersebut? [Takhta St. Petrus] mewakili sebuah visi akan esensi Gereja dan tempat di dalam Gereja Magisterium Petrus.

1103809343_a0d7817470_oJendela apse membuka Gereja keluar, menuju seluruh ciptaan, sementara gambar Roh Kudus dalam bentuk merpati menunjukkan Allah sebagai sumber terang. Tetapi ada juga aspek lain yang menunjuk keluar: Gereja sendiri bagaikan sebuah jendela, tempat Allah mendekat pada kita, di mana Ia datang menuju dunia kita. Gereja tidak ada demi dirinya sendiri, ia bukanlah titik kedatangan, tetapi ia harus menunjuk ke atas, melampaui dirinya, menuju area yang ada di atas. Gereja sungguh menjadi dirinya sejauh ia mengijinkan yang Lain (the Other, maksudnya ialah Allah), dengan huruf kapital “O” (yang mengacu kepada the Other – editor), bersinar melaluinya – Ia yang darinya Gereja berasal dan kepada-Nya Gereja menuntun manusia. Gereja adalah tempat di mana Allah “menjangkau” kita dan di mana kita “berangkat” menuju Dia: Gereja memiliki tugas untuk membuka, melampui dirinya, membuka dunia yang cenderung menjadi tertutup di dalam dirinya, tugas membawa terang yang berasal dari atas ke dunia, yang tanpanya dunia menjadi tidak dapat didiami.

5467740334_c588ca5aa7_zTakhta perunggu yang besar mengelilingi kursi kayu dari abad ke-19, yang telah lama dianggap sebagai kursi St. Petrus, ditempatkan di atas altar yang besar ini karena nilai simbolisnya yang agung. Ia mengungkapkan kekekalan kehadiran Sang Rasul dalam Magisterium para penerusnya. Kursi St. Petrus, dapat kita katakan, merupakan takhta kebenaran yang berasal dari perintah Kristus setelah  pengakuan Petrus di Caesarea Filipi. Kursi magisterial ini juga mengingatkan kita akan perkataan yang diucapkan Tuhan kepada Petrus salama Perjamuan Terakhir: “Aku telah berdoa untukmu agar imanmu tidak gugur’ dan ketika kamu telah kembali, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Luk 22:32).

Kursi Petrus membangkitkan ingatan lain: ungkapan terkenal dari surat St. Ignatius Antiokia kepada jemaat di Roma, di mana ia berkata bahwa tentang Gereja Roma yang “memimpin dalam kasih” (Salutation, PG 5, 801). Kenyataannya, memimpi dalam iman tidak terpisahkan dengan memimpin dalam kasih. Iman tanpa kasih tidak lagi menjadi iman Kristen yang autentik. Tetapi perkataan St. Ignatius memiliki implikasi konkret yang lain: kata “kasih”, sesungguhnya, juga digunakan oleh Gereja awal untuk menandakan Ekaristi. Ekaristi adalah Sacramentum caritatis Christi, yang melaluinya Kristus terus menarik kita smeua menuju diri-Nya, seperti yang Ia lakukan ketika diangkat di Salib (bdk. Yoh 12:32). Oleh karena itu, “memimpin dalam kasih” berarti menarik pria dan wanita menuju pelukan Ekaristi – pelukan Kristus – yang melampui setiap penghalang dan perpecahan, yang menciptakan persekutuan dari semua cara perbedaan. Pelayanan petrus karenanya merupakan sebuah primasi kasih dalam arti Ekaristis, yaitu kepedulian bagi persekutuan universal Gereja dalam Kristus. Dan Ekaristi adalah bentuk dan ukuran dari persekutuan ini, sebuah jaminan yang tetap setia bagi kriteria tradisi iman.

8496426691_6b099fa7ff_z

Kursi besar ini ditopang oleh Bapa Gereja. Dua Bapa Gereja timur, St. Yohanes Krisostomus dan St. Athanasius, bersama dengan Bapa Gereja Latin, St. Ambrosius dan St. Agustinus, mewakili seluruh tradisi, dan karenanya mewakili pula kekayaaan ungkapan iman sejati Gereja yang satu dan kudus. Aspek altar ini mengajarkan kita bahwa kasih bersandar pada iman. Kasih hancur bila manusia tidak lagi percaya kepada Allah dan tidak menaati Dia. Segala sesuatu di dalam Gereja bersandar pada iman: sakramen, Liturgi, evangelisasi, kasih. Demikian pula hukum dan otoritas Gereja bersandar pada kasih. Gereja tidak mengatur-dirinya sendiri, ia tidak menentukan strukturnya sendiri tetapi menerimanya dari sabda Allah, yang ia dengar dalam iman, serta ia cari untuk memahami dan menghidupinya. Di dalam komunitas gerejawi, Bapa Gereja memenuhi perannya sebagai penjaga kesetiaan terhadap Kitab Suci. Mereka memastikan bahwa Gereja menerima eksegesis yang kokoh dan terpercaya, yang mampu membentuk keseluruhan yang stabil dan konsisten bersama dengan Kursi Petrus. Kitab Suci, yang ditafsirkan secara otoritatif oleh Magisterium dalam terang Bapa Gereja, menerangi perjalanan Gereja sepanjang waktu, memberikan ia fondasi yang pasti di tengah ketidakpastian sejarah.

Setelah menimbang berbagai unsur dari altar Kursi petrus, mari kita melihatnya secara menyeluruh. Kita melihat bahwa ia ditandai oleh dua pergerakan: mendaki dan menuruni. Ini merupakan relasi timbal balik antara iman dan kasih. Kursi ditempatkan pada posisi yang menonjol (prominent) di tempat ini, karena di sinilah lokasi makam St. Petrus, tetapi hal ini juga mengarah kepada kasih akan Allah. Memang, iman diarahkan menuju kasih. Iman yang egois bukanlah iman yang nyata. Siapapun yang percaya dalam Yesus Kristus dan masuk ke dalam dinamika kasih yang bersumber dalam Ekaristi, ia menemukan sukacita sejati dan mampu menjalani hidup seturut logika karunia ini. Iman sejati diterangi oleh kasih dan mengarah kepada kasih, menuntun ke atas, seperti altar Kursi St. Petrus yang menunjuk ke atas menuju jendela yang bercahaya, kemuliaan Roh Kudus, yang mendasari fokus sejati pandangan para peziarah selagi mereka menyebrangi ambang Basilika Vatikan. Jendela itu diberikan keunggulan yang agung melalui malaikat yang jaya, dan pancaran emas yang berkilau, dengan kesadaran akan berlimpahnya kepenuhan yang mengungkapkan kekayaan persekutuan dengan Allah. Allah tidak terisolasi,tetapi Ia mulia dan kasih yang bersukacita, yang menyebar keluar dan bermandikan terang.

—Paus Benediktus XVI, Homili pada Misa Hari Raya Takhta St. Petrus, 19 Februari 2012

Semua gambar diambil dari flickr Fr. Lawrence Lew, O.P.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: