Homili Misa Requiem bagi Antonin Scalia

29906170001_4765722837001_video-still-for-video-4765617901001

Catatan Lux Veritatis 7: Antonin Scalia merupakan seorang Supreme Court Justice yang baru saja meninggal beberapa hari yang lalu. Ia juga seorang Katolik yang setia, bahkan dikatakan ia sering menghadiri Misa Latin Tradisional. Ia adalah seorang raksasa intelektual di bidang hukum di Amerika, dan kita di Indonesia mungkin tidak mengenalnya. Namun saya memutuskan untuk menerjemahkan homili Rm. Paul Scalia, putra Antonin Scalia, karena homili ini sungguh merupakan homili yang sangat bagus, sangat indah, karena isinya berbicara tentang dosa, pertobatan, belas kasih, pengharapan, kebaikan Allah dan kehidupan kekal. Kerap kali ada kecenderungan dalam homili, para imam malah memuji atau menyebutkan hal-hal baik dalam diri orang yang meninggal, tetapi sedikit sekali menyebutkan kebaikan Allah bagi yang meninggal. Homili ini saya terjemahkan agar menjadi contoh, supaya para imam dapat mempersiapkan homili untuk Misa Requiem. Bagian-bagian yang ditebalkan (berasal dari saya) adalah bagian penting yang terkadang dilupakan atau diabaikan

***

Yang Utama Kardinal Wuerl, Yang Mulia Uskup Agung Vigano, Uskup Loverde, Uskup Higgins, saudaraku para imam, diakon, para tamu pemangku otoritas, serta para sahabat dan umat beriman yang berkumpul di sini:

Mewakili ibu kami dan seluruh keluarga Scalia, saya ingin berterima kasih atas kehadiran anda semua di sini, atas banyaknya penghiburan, dan terlebih banyaknya doa dan Misa yang kalian telah persembahkan untuk kematian ayah kami, Antonin Scalia.

Secara khusus, saya berterima kasih kepada Kardinal Wuerl, pertama karena ia menghubungi ibu kami dengan segera dan dengan murah hati memberikan penghiburan kepadanya. Hal itu merupakan penghiburan baginya dan juga bagi kami semua. Saya juga berterima kasih karena telah mengijinkan kami menggunakan paroki ini untuk Misa Requiem, di basilika yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Merupakan perlakuan khusus dan penghiburan bahwa kami mampu membawa ayah kami melalui pintu suci dan memperolehkan indulgensi baginya, indulgensi yang dijanjikan bagi mereka yang masuk ke dalam iman.

Saya berterima kasih kepada Uskup Loverde, uskup keuskupan Arlington, uskup yang disukai dan dihormati ayah kami. Terima kasih, Uskup Loverde, atas kunjungan anda menemui ibu kami, juga atas penghiburan dan doa anda.

Keluarga kami akan berangkat untuk mengadakan pemakaman pribadi segera setelah Misa dan kami tidak memiliki waktu untuk berkunjung, jadi saya ingin mengungkapkan terima kasih kami pada Misa ini, sehingga anda semua mengetahui apreasiasi dan ungkapan terima kasih kami dari lubuk hati yang terdalam. Perlu saya sampaikan kepada anda bahwa acara memorial akan diadakan pada 1 Maret. Kami berharap untuk bertemu anda semua di sana. Kami berharap Tuhan akan membayar kebaikan anda yang besar kepada kami.

Kita berkumpul di sini karena seorang manusia. Seorang manusia yang dikenal secara pribadi oleh sebagian besar dari kita, dikenal oleh reputasinya, bahkan lebih dari itu. Seorang manusia yang dikasihi banyak orang, dicerca oleh yang lain. Seorang manusia yang dikenal karena kontroversi yang besar, dan atas bela rasanya yang besar juga. Manusia itu, tentu, adalah Yesus dari Nazareth.

Yesuslah yang kita wartakan. Yesus Kristus, Putra Bapa, lahir dari Perawan Maria, disalibkan, dimakamkan, bangkit, duduk di sisi kanan Bapa. Semua karena Dia. Karena hidup-Nya, wafat dan kebangkitan-Nya lah kita tidak berkabung seperti orang yang tidak memiliki pengharapan, tetapi dengan penuh keyakinan kami menyerahkan Antonin Scalia ke dalam belas kasih Allah.

Kitab Suci berkata bahwa Yesus Kristus itu tetap sama kemarin, kini, dan selamanya. Dan hal ini memberikan arah yang baik bagi permenungan dan doa kita hari ini. Dampaknya, kita memandang dalam tiga arah. Kepada hari kemarin, dalam ungkapan syukur. Kepada hari ini, dalam permohonan. Dan kepada keabadian, dengan pengharapan.

Kita memandang Yesus kemarin, yaitu, kepada masa lalu, dalam ungkapan syukur atas berkat yang Allah berikan kepada ayah. Seminggu terakhir ini, banyak yang menceritakan apa yang telah ayah lakukan bagi mereka. Tetapi di sini, hari ini, kami menceritakan apa yang Allah lakukan bagi ayah, bagaimana Ia memberkatinya.

Kita bersyukur terutama atas kematian Tuhan yang menebus kita, dan atas kebangkitan Yesus Kristus yang memberikan hidup. Tuhan kita mati dan bangkit tidak hanya bagi kita semua, tetapi juga bagi diri kita masing-masing. Dan pada momen ini, kita memandang pada hari kemarin, pada wafat dan kebangkitan-Nya, dan kami bersyukur bahwa Ia mati dan bangkit bagi ayah.

Kami bersyukur karena Yesus membawanya dalam kehidupan baru dalam baptisan, dikuatkan dengan Ekaristi, disembuhkan dalam pengakuan dosa.

Kami bersyukur karena Yesus memberikan dia usia pernikahan selama 55 tahun, dengan wanita yang ia cintai, seorang wanita yang dapat menyamai dirinya di setiap langkah, dan menganggapnya pribadi yang bertanggung jawab.

Allah memberkati ayah dengan iman Katolik yang mendalam: keyakinan bahwa kehadiran Kristus dan kuasa-Nya terus bekerja di dunia hari ini melalui tubuh-Nya, Gereja. Ia mencintai kejelasan dan koherensi ajaran-ajaran Gereja. Ia menghargai perayaan-perayaan gereja, secara khusus keindahan ibadah lampaunya. Ia percaya pada kuasa sakramen-sakramennya sebagai sarana keselamatan, sebagaimana Kristus yang bekerja di dalam dirinya bagi keselamatannya.

Sekalipun, suatu ketika, pada hari Sabtu, siang harinya, ia mengomeli saya karena mendengar pengakuan dosa siang itu, pada hari yang sama. Dan saya harap ini adalah suatu sumber penghiburan, andaikan ada beberapa pengacara yang hadir, bahwa kollar Romawi bukanlah tameng terhadap kritikannya.

Persoalannya siang itu bukan karena saya mendengar pengakuan dosa, tetapi bahwa ia mengantri di antrian pengakuan dosa saya, dan ia segera beranjak pergi. Seperti yang ia katakan selanjutnya: “Yang benar saja, masa mengaku dosa denganmu!”

Perasaan saya juga sama.

Allah memberkati ayah, seperti yang telah dikenal, dengan kasih bagi bangsanya. Ia tahu dengan baik apa yang menjalankan negara kita. Dan ia melihat dalam pendirian itu, sebagaimana para pendiri itu melihatnya, ia melihat berkat, berkat yang cepat menghilang ketika iman disingkirkan dari ruang publik, atau ketika kita menolak membawanya ke sana. Jadi ia memahami bahwa tidak ada konflik antara mengasihi Allah dan mengasihi negara, antara iman seseorang dan pelayanan publiknya. Ayah memahami bahwa semakin ia mendalami iman Katoliknya, ia kian menjadi warga negara dan pelayan publik yang lebih baik. Allah memberkatinya dengan hasrat untuk menjadi pelayan negara yang baik karena, pertama-tama, ia adalah pelayan Allah yang baik.

Kami, keluarga Scalia, bersyukur secara khusus atas berkat yang Allah berikan. Allah memberkati ayah dengan cintanya atas keluarga. Hati kami bergetar karena membaca dan mendengar banyaknya pujian dan penghormatan baginya, bagi kecerdasannya, bagi tulisannya, bagi pidatonya, pengaruhnya, dst.

Tetapi, yang lebih penting bagi kami—dan baginya—ialah bahwa ia adalah seorang ayah. Ia adalah ayah yang Allah berikan bagi petualangan kehidupan keluarga yang besar. Tentu, terkadang ia lupa nama kami, atau mencampur-aduknya, tetapi kami ini ada sembilan orang.

Ia mengasihi kami, dan berusaha menunjukkan kasih itu. Dan ia berupaya untuk membagi berkat iman yang ia hargai. Dan ia memberikan kami satu sama lain, mendukung kami satu per satu. Itulah kekayaan terbesar yang dapat diberikan orang tua, dan kini kami secara khusus berterima kasih atas hal tersebut.

Jadi, kita melihat ke masa lalu, kepada Yesus Kristus kemarin. Kita mengingat semua berkat ini, dan kita memberikan penghormatan dan kemuliaan kepada Tuhan atas semua berkat itu, karena itulah hasil karya-Nya. Kita memandang Yesus hari ini, dalam permohonan, memandang ke masa kini, selagi kita berduka bagi orang yang kita kasihi dan hormati, seseorang yang ketiadaannya menyakitkan kita. Hari ini kita berdoa untuknya. Kita berdoa bagi peristirahatan jiwanya. Kita bersyukur kepada Allah atas kebaikannya kepada ayah yang sungguh layak dan sepantasnya. Tetapi kita juga tahu bahwa sekalipun ayah beriman, ia melakukannya dengan tidak sempurna, seperti kita semua. Ia berusaha mengasihi Allah dan sesama, tetapi sama seperti kita semua, ia melakukannya dengan tidak sempurna.

Ia adalah Katolik yang menghidupi imannya, “menghidupi” dalam arti bahwa ia belum menyempurnakannya. Atau, Kristuslah yang belum disempurnakan di dalam dirinya. Dan hanya dalam diri mereka yang mana Kristus disempurnakan, hanya mereka yang dapat memasuki surga. Kita ada di sini, untuk memberikan doa kita bagi penyempurnaan itu, bagi karya rahmat Allah yang terakhir, dalam membebaskan ayah dari setiap beban dosa.

Tetapi jangan dengarkan perkatan saya. Ayah sendiri pernah berkata tentang hal itu. Ketika ia menulis surat beberapa tahun lalu kepada seorang pendeta Presbiterian, yang mana ibadat pemakamannya ia hormati, ia merangkum dengan baik kelemahan pemakaman dan mengapa ia tidak menyukai eulogi.

Ia menulis:

“Bahkan ketika orang yang meninggal adalah orang yang dikagumi, bahkan secara khusus ketika orang yang meninggal adalah orang yang dihormati, pujian bagi keutamaannya dapat menyebabkan kita lupa bahwa kita berdoa baginya dan bersyukur atas belas kasih Allah yang tak terhingga bagi seorang pendosa.”

Nah, ayah tentu tidak akan mengecualikan dirinya dari hal ini. Kita ada disini, seperti yang ia inginkan, untuk berdoa bagi belas kasih Allah  yang tak terpahami atas seorang pendosa. Bagi pendosa ini, Antonin Scalia. Marilah kita tidak menunjukkan kepadanya cinta yang palsu, dan malah memberikan penghormatan kita tetapi tidak mendoakannya. Kita terus memperlihatkan afeksi baginya dan melakukan kebaikan baginya dengan mendoakan dia: agar semua noda dosa dibasuh, agar semua luka disembuhkan, agar ia dimurnikan dari semua yang bukan Kristus. Agar ia beristirahat dalam damai.

Terakhir, kita memandang kepada Yesus selamanya, ke dalam keabadian. Atau lebih baik lagi bila kita merenungkan tempat kita dalam keabadian dan apakah kita akan berada bersama Tuhan. Bahkan selagi kita berdoa bagi ayah agar ia dengan cepat masuk ke dalam kemuliaan kekal, kita harus ingat akan diri kita. Setiap pemakaman mengingatkan kita betapa tipisnya selubung antara dunia ini dan dunia yang akan datang, antara waktu dan keabadian, antara kesempatan untuk bertobat dan momen penghakiman.

Jadi kita tidak bisa pergi dari sini tanpa mengalami perubahan. Tidak masuk akal kalau kita merayakan kebaikan dan belas kasih Allah bagi ayah, namun kita tidak memperhatikan dan menanggapi realita yang ada dalam kehidupan kita. Kita harus membiarkan perjumpaan dengan keabadian mengubah kita, untuk menjauhkan kita dari dosa dan mengarahkan kita kepada Tuhan.

Seorang Dominikan Inggris, Romo Bede Jarret, mendaraskan dengan indah ketika ia berdoa,

“Ya Putra Allah yang kuat, selagi Engkau mempersiapkan tempat bagi kami, persiapkan kami juga bagi tempat yang membahagiakan itu, agar kami dapat bersama Engkau dan bersama mereka yang kami kasihi selamanya.”

Yesus Kristus tetap sama, kemarin, kini dan selamanya.

Para sahabatku terkasih, ini juga merupakan struktur Misa, doa teragung yang dapat kita persembahkan bagi ayah, karena ini bukan doa kita, tetapi doa Tuhan. Misa memandang kepada Yesus kemarin. Ia menjangkau ke masa lalu—mencapai Perjamuan Terakhir, Penyaliban, Kebangkitan—dan ia menghadirkan misteri-misteri itu dan kuasanya di altar ini.

Yesus sendiri hadir di sini dalam rupa roti dan anggur sehingga kita dapat menyatukan semua doa yang dipenuhi dengan syukur, kesedihan, dan permohonan bersama Kristus sendiri sebagai persembahan kepada Bapa. Dan semua ini, dengan tatapan menuju keabadian, membentang menuju surga, tempat kita berharap suatu hari nanti untuk menikmati persatuan sempurna dengan Allah sendiri, dan untuk melihat ayah lagi, dan bersamanya, bersukacita dalam persekutuan para kudus.

Romo Paul Scalia adalah imam Katolik Roma di Keuskupan Arlington, Virginia, dan salah seorang putra Supreme Court Justice, Antonin Scalia.

Diterjemahkan dari USA Today.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: