Masa Prapaskah adalah Peperangan Rohani Melawan Dosa

1658588_598275960248546_63291924_o

HOMILI RABU ABU PAUS BENEDIKTUS XVI
1 MARET 2006

Prosesi pertobatan yang mengawali perayaan hari ini membantu kita memasuki atmosfir khas masa Prapaskah, yang merupakan peziarahan pertobatan dan pembaruan rohani secara pribadi dan komunitas.

Tradisi Romawi Kuno: Mengenang Para Martir

Seturut tradisi Romawi kuno stationes Prapaskah, selama masa ini umat beriman, bersama dengan para peziarah, berkumpul setiap hati dan membuat perhentian—statio—di salah satu dari banyak tempat “peringatan” Para Martir yang di atasnya Gereja Roma didirikan.

Di dalam Basilika tempat relikui mereka diperlihatkan, Misa Kudus dirayakan, didahului oleh sebuah prosesi yang menyanyikan Litani Para Kudus. Dalam cara ini, semua yang menjadi saksi Kristus dengan darah mereka diperingati, dan mengenang mereka menjadi sebuah insentif bagi setiap orang Kristen untuk membarui ketaatan mereka kepada Injil.

Ritus ini mempertahankan nilainya, sekalipun ratusan tahun telah berlalu, karena mereka mengingat betapa penting dalam masa kini untuk menerima perkataan Yesus tanpa kompromi: “Siapapun yang mau mengikuti aku, hendaklah ia menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti aku” (Luk 9:23).

Makna Pemberian Abu: Kembali kepada Allah dengan Hati Penuh Sesal

Ritus simbolis lainnya, sebuah gestur eksklusif lain yang pantas pada hari pertama Prapaskah, adalah pemberian abu. Apa maknanya?

Tentu hal ini bukan sekedar hal yang bersifat ritualistik, tetapi sesuatu yang sangat mendalam yang menyentuh hati kita. Ia membuat kita memahami kekekalan nasihat Nabi Yoel yang bergema dalam Bacaan pertama, nasihat yang masih mempertahankam nilainya yang baik bagi kita: gestur lahiriah harus selalu diselaraskan dengan hati yang tulus dan perilaku yang konsisten.

Sungguh, para penulis Kitab Suci bertanya, apa gunanya mengoyak pakaian kita bila hati kita tetap jauh dari Tuhan, yaitu jauh dari kebaikan dan keadilan? Inilah yang sungguh penting: kembali kepada Allah dengan hati yang penuh sesal untuk memperoleh rahmat-Nya (lih. Yl 2:12-18).

Hati dan roh yang baru: kita memohon hal ini dengan Mazmur Pertobatan par excellence, yakni Mazmur Miserere, yang kita nyanyikan hari ini dengan tanggapan “Berbelas kasihlah, ya Tuhan, karena kami telah berdosa” (Missale Minggu).

Umat beriman sejati, menyadari bahwa dirinya pendosa, menginginkan pertobatan ilahi dengan segenap dirinya—roh, hati dan tubuh—karena hanya ciptaan baru yang dapat memulihkan sukacita dan pengharapan kepadanya (Mzm 51[50]: 3, 5, 12, 14).

Pertobatan dan Peperangan Rohani sebagai Spiritualitas Prapaskah

Aspek lain dari spiritualitas Prapaskah adalah apa yang dapat disebut sebagai aspek “pertobatan”, sebagaimana yang muncul dalam Kolekta (Doa Pembuka) hari ini, yang mana “senjata” silih dan “pertempuran” melawan yang jahat disebutkan.

Setiap hari, tetapi secara khusus dalam masa Prapaskah, orang Kristen harus berjuang, seperti yang dialami Kristus di padang gurun Yudea, selama 40 hari Ia digoda iblis, lalu di Getsemani, ketika Ia menolak godaan paling serius, dan menerima kehendak Bapa hingga akhir.

Ini adalah peperangan rohani melawan dosa, dan akhirnya, melawan Setan. Ini adalah perjuangan yang melibatkan seluruh pribadi kita dan menutut perhatian serta sikap berjaga-jaga tiada henti.

Dosa Berat dan Ringan Harus Dihapuskan

St. Agustinus berkomentar bahwa mereka yang ingin berjalan dalam kasih Allah dan dalam belas kasih-Nya, tidak bisa berpuas diri hanya dengan menyingkirkan dosa berat dan serius, tetapi “harus melakukan kebenaran, juga mengakui dosa-dosa ringan … dan datang kepada terang dengan melakukan perbuatan yang layak. Bahkan dosa yang kurang serius, bila ia diabaikan, dapat berkembang dan menghasilkan kematian” (In Io. evang. 12, 13, 35).

Tiga Senjata dalam Peperangan Rohani: Doa, Puasa, Silih

Masa Prapaskah mengingatkan kita, oleh karena itu, agar kehidupan Kristiani adalah peperangan tanpa akhir yang mana “senjata” doa, puasa dan silih digunakan. Berperang melawan yang jahat, melawan setiap bentuk keegoisan dan kebencian, dan mati bagi diri sendiri untuk hidup dalam Allah merupakan perjalanan asketis yang harus dilakukan setiap murid Yesus dengan kerendahan hati dan kesabaran, dengan kemurahan hati dan ketekunan.

Memeluk Salib: Tanggapan Kristiani terhadap Kekerasan

Mengikuti Guru ilahi dalam kepatuhan menjadikan orang Kristen sebagai saksi dan rasul perdamaian. Kita dapat berkata bahwa sikap batin ini jgua membantu kita menekankan lebih jelas tanggapan orang Kristen terhadap kekerasan yang mengancam perdamaian di dunia.

Tentunya ini bukan balas dendam, bukan kebencian atau pelarian diri ke dalam spiritualisme palsu. Tanggapan mereka yang mengikuti Kristus ialah mengambil jalan yang dipilih Dia yang, dalam menghadapi segala kejahatan di masanya dan di sepanjang masa, memilih memeluk Salib dengan tekad, mengikuti jalan kasih yang lebih lama namun lebih efektif.

Kasih sebagai Pertobatan Pribadi dan Gerejawi

Dengan menapaki jejak langkah-Nya dan disatukan dengan-Nya, kita semua harus berjuang melawan kejahatan dengan kebaikan, kesesatan dilawan dengan kebenaran dan kebencian dilawan dengan kasih.

Dalam Ensiklik Deus Caritas Est, saya ingin menekankan kasih ini sebagai pertobatan pribadi dan gerejawi kita. Dengan mengacu pada perkataan St. Paulus kepada jemaat di Korintus, “kasih Kristus menguasai kami”, saya menekankan bahwa “kesadaran bahwa dalam Kristus, Allah telah memberikan diri-Nya bagi kita, bahkan sampai mati, harus mengilhami kita untuk hidup bukan untuk diri kita, melainkan hidup bagi-Nya, dan bersama Dia, hidup bagi orang lain” (no. 33).

Kasih Diwujudkan dalam Perbuatan Nyata

Lebih lanjut, kasih, seperti yang dikatakan Yesus dalam Injil hari ini, harus diungkapkan dalam perbuatan nyata bagi sesama kita, dan secara khusus bagi orang miskin dan membutuhkan, selalu menundukkan nilai “perbuatan baik” kepada ketulusan relasi dengan “Bapa yang ada di Surga”, yang “melihat di tempat tersembunyi” dan “akan memberikan upah” bagi semua perbuatan baik yang rendah hati dan tulus (lih. Mt 6: 1, 4, 6, 18).

Perwujudan kasih ini adalah salah satu unsur hakiki dalam kehidupan orang Kristen yang didorong oleh Yesus untuk menjadi terang dunia, sehingga dengan melihat “perbuatan baik” mereka, orang-orang memuliakan Allah (lih Mat 5:16).

Rekomendasi ini bagi kita sungguh layak diberikan pada permulaan masa Prapaskah, sehingga kita dapat mengerti dengan lebih baik bahwa “bagi Gereja, kasih bukan semacam aktivitas yang mendukung kesejahteraan… melainkan adalah bagian kodratnya, ungkapan yang tak terpisahkan dari inti keberadaannya” (Deus Caritas Est, no. 25).

Kasih Menolong Semua Orang

Kasih sejati diungkapkan dalam perbuatan yang tak mengecualikan siapapun, yang meneladani orang Samaria yang baik hati, yang degnan keterbukaan hatinya membantu orang asing yang berada dalam kesulitan, yang ia temui “secara kebetulan” di tengah jalan (lih. Lk 10: 31).

Yang mulia, saudara-saudara sekeuskupan dan dalam imamat, pria dan wanita hidup bakti serta umat beriman awam, semua yang saya sambut dengan keramahan yang hangat, semoga kita memasuki atmosfir masa liturgis dengan sentimen ini, sambil mengijinkan Sabda Allah menerangi dan membimbing kita.

Prapaskah Mengundang Kita untuk Bertobat dan Terbuka bagi Rahmat

Dalam masa Prapaskah ini kita sering mendengar undangan untuk bertobat dan percaya kepada Injil, dan kita akan terus menerus didorong untuk membuka jiwa kita bagi kuasa rahmat ilahi. Marilah kita menjaga keberlimpahan pengajaran yang diberikan Gereja pada kita selama minggu-minggu ini.

Dihidupi oleh komitmen yang kuat bagi doa, dengan tekad berusaha lebih keras melakukan silih, berpuasa, dan memperhatikan dengan penuh kasih saudara-saudari kita, marilah kita memulai perjalanan menuju Paskah dengan ditemani oleh Perawan Maria, Bunda Gereja dan telada semua murid Kristus yang otentik.

Sumber: Homili Paus Benediktus XVI pada Rabu Abu 1 Maret 2006

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: