Hubungan yang Bahagia Membutuhkan Kesedihan

Brooklyn_Museum_-_Jesus_Wept_(Jésus_pleura)_-_James_Tissot

Jesus Wept, James Tissot.

 

Artikel ini ditulis oleh Alice von Hildebrand

***

Anthony yang terkasih,

Dari caramu berbicara tentang pernikahan, aku pikir aku dapat berkata bahwa aku tak pernah melihatnya dalam pernikahan orang lain, setidaknya dari pernikahan orangtuaku. Semua pernikahan keluargaku adalah pernikahan yang buruk dan tidak bahagia. Jadi, bagaimana aku berharap untuk dapat merasa bahagia? Dan tolong jangan bawa-bawa Allah!

Kesedihan adalah kunci untuk sungguh menjadi bahagia. Saya kira kamu tak mengharapkan aku untuk berkata demikian. Aku pun berpikir aku tak akan mengatakannya hingga beberapa waktu belakangan ini. Aku tidak berkata bahwa pernikahan yang baik sama dengan menjadi tidak bahagia. Justru sebaliknya. Ijinkan aku membagikan sesuatu yang baru saja aku temukan dan masih tetap aku renungkan. Mungkin hal ini akan membantumu (Aku tidak berjanji untuk tidak berbicara tentang Allah, tetapi mari kita lihat nanti)

Kesedihan adalah sarana menuju kebahagiaan. Aku mempelajari hal ini dari sahabatku yang baik, Dr. Peter Damgaard-Hansen. Kami sedang menikmati kue dan kopi di Cheesecake Factory, sambil berbicara tentang apa artinya menjadi bahagia, dan mengapa ada banyak orang yang melajang merasa mereka tidak akan bahagia kecuali mereka bertemu seseorang dan menikahinya.

Menarik sekali melihat apa yang dilakukan cheesecake kepada pikiran yang cemerlang. Dt. Peter, yang adalah pakar psikologi, berkata “Anthony, taukah kau bahwa kunci untuk menjadi bahagia adalah dengan mengijinkan diri merasakan kesedihan.” Kami berdua berhenti memakan cheesecake dan saling memandang satu sama lain. Lalu aku berkata, “Ya Tuhan, itu benar!”

Kami berdua menyadari betapa mendalam kebenaran ini, tetapi kami tidak yakin ke mana kami harus berjalan bersamanya.

Selagi kami membahasnya, jelaslah bagiku apa maksudnya. Karena kami sedang memutuskan apa yang hendak ia katakan di pelayaran mendatang di bulan Januari ini, aku memberitahunya bahwa hal ini harus menjadi bagian dari topik tersebut. Jadi aku tidak akan berusaha dan berpura-pura bahwa aku tahu secara definitif tentang hal ini.

Tetapi inilah renungan awalku tentang gagasan bahwa kesedihan adalah kunci menuju kebahagiaan. Secara spesifik, diijinkan untuk merasa sedih adalah kuncinya. Betapa menyedihkan bila kita tidak diijinkan untuk merasa sedih. Betapa menyakitkannya bila sesuatu yang terjadi secara alami pada kita, malahan dianggap sebagai hal yang negatif dan harus diatasi.

Kita mungkin tak dapat membayangkan rasa sakit yang ditekan, yang kita simpan ketika kita merasa bersalah karena kita kecewa terhadap sesuatu, dan seseorang membuat kita merasa bahwa tidak seharusnya kita sedih.

Aku pikir inilah alasannya mengapa kamu memintaku untuk tidak membawa Allah dalam hal ini. Kamu mungkin pernah mendengar hal seperti “Allah tidak ingin kamu menjadi sedih,” atau, “Semuanya baik dan Allah pun baik, jadi berbahagialah” atau bahkan mungkin kamu mendengar perkataan “kesedihanmu membuat Allah menjadi sedih.”

Sangat mudah berkata “jangan khawatir, bergembiralah,” tetapi ini bukan hal yang alami. Ketika kita terluka, kita merasa sedih. Dan kita perlu diberi waktu untuk menangis atau berjalan melalui kesedihan ini. Seseorang yang mengijinkan kamu melakukan ini adalah orang yang membuatmu bahagia. Kita tidak menyadari hal ini, tetapi bila kamu memikirkannya, hal ini benar.

Seorang wanita kecewa dan sedih dan hanya ingin kekasihnya memeluknya, menggenggam tangannya, dan membiarkan ia keluar dari kesedihannya, tanpa perlu berusaha memperbaikinya. Seorang pria yang kecewa dan sedih hanya ingin kekasihnya memberikan ia waktu untuk mengolahnya tanpa perlu diberitahu untuk “jadilah pria sejati” atau mengabaikan kebutuhannya dengan mengutamakan kebutuhan kekasihnya, memaksanya untuk “siap” ketika ia membutuhkan sedikit waktu untuk “berdiam diri.”

Pernikahan yang tidak bahagia dalam keluargamu itu seperti hubungan yang terinfeksi dengan kurangnya dukungan, ketika dua orang tidak melewati kesedihan bersama, tetapi malah menjalaninya seorang diri, tanpa membiarkannya pergi. Kesedihan yang tak terungkapkan menciptakan ketidakbahagiaan. Dapat dikatakan bahwa kasih dalam pernikahan adalah ikatan yang terjadi melalui pengalaman kesedihan yang membuat kalian semakin dekat dalam solidaritas, dan menciptakan kebahagiaan mendalam. Barangkali musuh dari kasih dalam pernikahan ialah kebahagiaan berdasarkan-permintaan, ketika kesedihan dipandang sebagai halangan dan bukannya sarana menuju kebahagiaan.

Ketika rasa tidak bahagia masuk, dan tidak ada kenyamanan atau kepercayaan kepada kekasihmu untuk mendukungmu dalam semua emosimu, maka kamu memiliki semua jenis permasalahan.

Ada sebuah lagu dari Meatloaf ketika ia bernyanyi: “Akankah kamu mencintaiku selamanya… akankah kamu membuatku bahagia seumur hidupku?” Ini adalah pengharapan dalam pacaran mdoern, dan ini tidak lain dari delusi dan sangat tidak proporsional.

“Akankah kamu mengijinkan aku merasa sedih ketika aku hanya perlu untuk merasakan kesedihan atau menangis?” Bila kamu melakukan ini bagi seseorang yang kamu kasihi, kamu adalah sarana yang membantunya merasa bahagia. Sebaliknya, kamu pun turut berbahagia.

Pelajarannya adalah ini: seseorang yang bahagia ialah ia yang diijinkan merasakan kesedihan. Orang yang kamu kasihi memberikanmu ruang dan waktu untuk membiarkanmu berjalan melintasi kesedihanmu. Kita tidak harus membuat orang yang kita kasihi merasa gembira dan senang agar mereka kembali menjadi dirinya sendiri. Justru dalam kesedihan mereka, mereka sungguh menjadi diri sendiri.

Ijinkanlah orang yang kamu kasihi untuk merasakan kesedihan secara terbuka. Kesedihan dan air mata mereka di hadapanmu adalah bentuk kepercayaan yang besar. Berikan mereka waktu dan rawatlha kebahagiaan. Berikan ijinmu supaya ia merasa sedih, dan hadirlah bersama mereka, tanpa menghakimi. Nyamankanlah dirimu dengan kesedihan.

Tampaknya tidak mungkin untuk menjadi bahagia kecuali kita memiliki seseorang yang kita cintai untuk melalui kesedihan bersama. Allah mengetahui sesuatu tentang kesedihan yang adalah kunci menuju kebahagiaan.

Kristus merasa sedih. Ia mendesah dan menangis. Ia meratapi Yerusalem, Ia menangis atas kematian sahabat-Nya yang baik, Lazarus, sebelum membangkitkannya dari mati. Ia mengalami kesengsaraan di taman. St. Thomas More menulis panjang lebar tentang hal ini dalam sebuah buku berjuul Kesedihan Kristus.

Kita selalu dapat mengungkapkan kesedihan di hadapan Kristus. Dan Ia selalu menjadi sumber kebahagiaan yang dialami ketika kita berada dalam persekutuan dengan-Nya, secara khusus bersama-sama dengan-Nya berbagi sengsara-Nya. Kita harus mencari penghiburan dalam hal itu dan meneladani Kristus ketika seseorang kita kasihi perlu merasakan kesedihan.


Artikel ini diterjemahkan dari “A happy relationship need sadness“.


alice_von_hildebrand_cns_photoAlice von Hildebrand adalah seorang Teolog dan Filsuf Katolik di Amerika Serikat, ia adalah istri dari Dietrich von Hildebrand, seorang Teolog dan Filsuf Katolik awam dari Jerman yang ternama yang dipuji Paus Pius XII sebagai “Doktor Gereja Abad 20” yang bahkan begitu dihormati oleh tokoh-tokoh seperti Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI. Karyanya antara lain The Privilege of Being a Woman (2002) and The Soul of a Lion: The Life of Dietrich von Hildebrand (2000), sebuah biografi suaminya. 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: