Pertobatan dengan Hati Tulus Sungguh Bernilai di Mata Allah

20130213_ash-wednesday-mass1_33

HOMILI PAUS BENEDIKTUS XVI
RABU ABU, 18 FEBRUARI 2010

***

“Tuhan, Engkau berbelas kasih kepada semua orang, dan tidak membenci apa yang telah Kau ciptakan. Kau abaikan dosa manusia untuk membawa mereka menuju pertobatan. Engkaulah Tuhan Allah kami” (antifon pembuka)

Saudara-saudaraku dalam Keuskupan,
Saudara-saudari terkasih,

Dengan panggilan yang menyentuh hati dari Kitab Kebijaksanaan (11:23-26), Liturgi mengawali perayaan Ekaristi Rabu Abu. Dalam cara tertentu, perkataan ini mengenalkan kita pada seluruh perjalanan Prapaskah; mereka menetapkan kemahakuasaan kasih Allah sebagai dasar, kuasa-Nya yang mutlak atas setiap ciptaan yang diungkapkan dalam pengampunan yang tak terhingga dan yang digerakkan oleh hasrat bagi kehidupan yang universal dan berkesinambungan. Sungguh, mengampuni seseorang sama dengan berkata demikian kepadanya: Aku tidak ingin kamu mati, tetapi hidup; aku selalu dan hanya menginginkan yang terbaik bagimu.

Makna Berpuasa 40 Hari: Penyerahan Diri kepada Allah

Kepastian mutlak ini menopang Yesus selama 40 hari yang ia habiskan di padang gurun Yudea, setelah Ia menerima baptisan dari Yohanes di Yordan. Baginya, periode berpuasa dan hening yang panjang ini adalah penyerahan diri total kepada Bapa dan rencana kasih-Nya. Periode ini adalah “baptisan” itu sendiri, yaitu, sebuah “penceburan” dalam kehendak Allah dan dalam pengertian ini, juga merupakan cecapan awal Penderitaan dan Salib.

Makna Pergi ke Padang Gurun: Terlibat dalam Pertempuran Rohani

Pergi ke padang gurun sendirian untuk tinggal di sana dalam waktu lama berarti membiarkan diri dengan rela untuk terbuka pada serangan musuh, sang penggoda yang membawa kejatuhan Adam dan yang rasa irinya menyebabkan kematian masuk ke dunia (Keb 2:24). Ini berarti terlibat pertempuran dengannya, dengan senjatanya yang adalah iman yang tak terukur, untuk menantang dia, dalam kasih mahakuasa Bapa. Kasihmu cukup bagiku, makananku ialah melakukan kehendak-Mu (lih Yoh 4:34): keyakinan ini memenuhi pikiran dan hati Yesus selama masa “Prapaskah”-Nya. Ini bukan sebuah kesombongan atau tindakan yang … melainkan pilihan yang rendah hati, selaras dengan Inkarnasi dan Baptisan di Yordan, dalam ketaatan kepada kasih Bapa yang penuh kerahiman, yang “mengasihi dunia hingga memberikan Putra Tunggal-Nya” (Yoh 3:16).

Makna Prapaskah: Membarui Komitmen Kita untuk Mengikuti Kristus

Tuhan kita Yesus melakukan semua ini bagi kita. Ia melakukannya untuk menyelamatkan kita, dan pada saat yang sama, untuk menunjukkan kita jalan untuk mengikuti-Nya. Keselamatan sesungguhnya adalah karunia; rahmat Allah, tetapi agar rahmat ini berdampak dalam hidupku, ia membutuhkan persetujuanku, penerimaan yang digambarkan dalam perbuatanku, dengan kata lain, dalam kehendak untuk hidup seperti Yesus, mengikuti Dia. Mengikuti Yesus ke padang gurun Prapaskah, oleh karena itu, adalah prasyarat untuk berpartisipasi dalam Paskah-Nya, dalam “eksodus”-Nya. Adam diusir dari Firdaus duniawi, simbol persekutuan dengan Allah. Nah, untuk kembali dalam persekutuan ini, dan karenanya kembali pada kehidupan sejati, kehidupan kekal, perlu sekali melintasi padang gurun, ujian iman, namun tidak sendirian, tetapi bersama Yesus! Ia telah mendahului kita, selalu begitu, dan telah memenangkan pertemuran melawan roh jahat. Inilah makna Prapaskah, masa liturgis yang setiap tahun mengundang kita untuk membarui keputusan kita untuk mengikuti Kristus di jalan kerendahan hati, untuk ambil bagian dalam kemenangan-Nya atas dosa dan kematian.

Makna Abu di Dahi: Simbol Pertobatan dan Kerendahan Hati

Dalam perspektif ini, seseorang dapat memahami abu sebagai simbol pertobatan, yang ditempatkan di dahi semua orang yang mengawali perjalanan Prapaskah dengan kehendak baik. Ia pada hakikatnya adalah tindakan kerendahan hati yang berarti: aku mengakui diriku sebagaimana adanya, suatu ciptaan yang rapuh, diciptakan dari abu dan ditakdirkan kembali menjadi abu, tetapi aku juga diciptakan dalam citra Allah dan ditakdirkan bagi-Nya. Aku adalah debu, ya, tetapi juga dikasihi, dibentuk oleh kasih-Nya, dihidupkan oleh nafas-Nya, dan mampu mengenali suara-Nya dan menanggapi Dia. Aku bebas dan karenanya mampu untuk tidak taat pada-Nya, aku mampu menyerah pada godaan kesombongan dan kecukupan-diri. Inilah dosa itu, sebuah penyakit mematikan yang melanda manusia seketika untuk merusak abu yang terberkati, yang adalah manusia. Diciptakan dalam citra yang Kudus dan Adil, manusia kehilangan ketidakberdosaannya. Kini ia hanya dapat kembali menjadi orang benar melalui rahmat keadilan Allah, keadilan kasih yang sebagaimana dikatakan St. Paulus, “telah diwujudnyatakan … melalui iman dalam Yesus Kristus” (lih Rm 3: 21-22). Perkataan Sang Rasul ini memberikan inspirasi bagi pesan yang saya tujukan pada semua umat beriman selama masa Prapaskah ini, yang merupakan renungan tentang tema keadilan dalam terang Kitab Suci dan pemenuhannya dalam Kristus.

Mengakui Diri sebagai Pendosa Harus Dilakukan dengan Tulus

Tema keadilan juga hadir dalam bacaan Kitab Suci Rabu Abu. Pertama, kutipan Nabi Yoel dan Mazmur Pertobatan Miserere membentuk sebuah diptych pertobatan. Hal ini menekankan apa yang disebut Kitab Suci sebagai “iniquitatis”, yaitu, dosa, yang pada hakikatnya terdiri dari tidak menaati Allah, yang berarti kurangnya kasih sebagai asal usul setiap ketidakadilan material dan sosial. “Sebab aku mengetahui kesalahan-kesalahanku”, kata Pemazmur, “dan dosa-dosaku selalu kuingat. / Hanya kepada-Mu aku telah berdosa,/ aku telah melakukan apa yang jahat di hadapan-Mu” (Mzm 51:5-6). Tindakan keadilan yang pertama, oleh sebab itu, adalah mengakui keberdosaan seseorang dan menyadari bahwa dosa ini berakar dalam “hati”, di inti pribadi manusia. “Berpuasa”, “menangis”, “berkabung” (lih. Yl 2:12), dan setiap ungkapan pertobatan lainnya hanya memiliki nilai di mata Allah bila semua ini adalah tanda hati yang bertobat dengan tulus.

Upah dari Berdoa, Beramal dan Berpuasa: Rahmat dan Persahabatan dengan Allah

Injil juga diambil dari “Khotbah di Bukit”, menekankan perlunya melakukan perbuatan “keadilan” seperti beramal, berdoa dan berpuasa, tidak untuk dilihat manusia tetapi hanya dilihat oleh mata Allah, yang “melihat yang tersembunyi” (lih. Mat 6:1-6). “Upah” sejati bukanlah pujian orang lain, melainkan persahabatan dengan Allah dan rahmat yang berasal dari persahabatan ini, rahmat yang memberikan damai dan kekuatan untuk berbuat baik, untuk mengasihi bahkan mereka yang tidak layak dikasihi, untuk mengampuni mereka yang telah menghina kita.

Rencana Keselamatan Allah: Mengasihi Kita Hingga Wafat di Salib

Bacaan kedua, seruan Paulus untuk didamaikan dengan Allah (2 Kor 5:20), mengandung paradoks Paulus, yang mengarah pada seluruh renungan tentang keadilan dalam misteri Kristus. St. Paulus menulis, “Ia tidak berbuat dosa, tetapi Allah membuat Dia memikul dosa kita” yaitu, Putra-Nya yang menjadi manusia “agar di dalam Dia kita dapat memperoleh bagian dalam kekudusan Allah” (2 Kor 5:21). Dalam hati Kristus, dengan kata lain, dalam inti pribadi ilahi dan manusiawi-Nya, seluruh drama kebebasan diperankan dalam peran yang menentukan dan definitif. Allah menjalankan rencana keselamatan-Nya sampai pada konsekuensi yang ekstrim, tetap setia dalam kasih-Nya bahkan dengan harga mengutus Putra-Nya untuk mati, mati di Salib. Seperti yang saya tulis dalam Pesan Prapaskah: “Di sini kita menemukan keadilan ilahi, yang begitu berbeda secara mendalam dari sisi manusiawinya … syukur karena tindakan Kristus, kita dapat masuk ke dalam keadilan ‘teragung’, yang adalah kasih” (lih. Rm 13:8-10).

Masa Prapaskah Mengarahkan Kita pada Kehidupan Kekal

Saudara-saudari terkasih, Prapaskah memperluas cakrawala kita; ia mengarahkan kita pada kehidupan kekal. Di atas bumi ini kita sedang berziarah: “Sebab di sini kita tidak mempunyai kota kediaman yang tetap dan kita menantikan kota kediaman yang akan datang” (Ibr 13:14). Masa Prapaskah menunjukkan kita relativitas benda-benda dunia ini, dan karenanya menyebabkan kita mampu membuat pengorbanan yang perlu dan bebas untuk berbuat baik. Marilah kita membuka dunia kita kepada terang Surgawi, bagi kehadiran Allah di antara kita. Amin.

Sumber: Homili Paus Benediktus XVI pada Rabu Abu 18 Februari 2010

One comment

  1. Mariana Yosephina Gultom · · Balas

    Iyaaa saya pernah merasakannyaa dan hati yang damai sebagai sanksi atas tulusnya pertobatan… Sungguh Luar Biasa Kasih-Mu Bapa O:)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: