Makna Keheningan dalam Liturgi oleh Kardinal Sarah

Artikel ini aslinya diterbitkan dalam bahasa Perancis di website berikut (silakan klik), sedangkan di L’Osservatore Romano (hal. 7), tampaknya artikel ini diterbitkan dalam bahasa Italia, dalam versi yang lebih pendek. Versi berbahasa Perancis lebih panjang dan lengkap. Oleh karena penerjemah tidak bisa berbahasa Italia atau Perancis, maka terjemahan ini dilakukan dengan bantuan google translate ke dalam teks Inggris, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Ketidakakuratan terjemahan dalam teks berikut adalah tanggung jawab penerjemah. Bilamana ada pembaca yang dapat berbahasa Italia atau Perancis dan bersedia memperbaiki terjemahan berikut, maka dapat menghubungi kami. Kami akan sangat menghargai upaya tersebut. Update: Terjemahan teks Inggris dapat dibaca di link berikut: Silence in the Liturgy.

***

Cardinal_Robert_Sarah_Prefect_of_the_Congregation_for_Divine_Worship_and_the_Discipline_of_the_Sacraments_at_the_Vatican_Feb_10_2015_Credit_Bohumil_Petrik_CNA_2_CNA_2_10_15

Banyak umat beriman mengeluhkan kurangnya keheningan dalam beberapa bentuk perayaan Liturgi Romawi. Oleh karena itu, tampaknya penting dalam studi singkat ini untuk mengingat makna keheningan sebagai nilai asketis Kristiani dan karenanya merupakan kondisi yang perlu bagi doa yang mendalam dan kontemplatif, tanpa melupakan bahwa saat-saat hening, secara resmi, perlu ada dalam perayaan Ekaristi Suci, untuk menekankan pentingnya keheningan bagi kualitas pembaruan liturgi.

1.Keheningan sebagai Nilai Asketis Kristiani

Dalam makna negatif, keheningan adalah tidak adanya kegaduhan. Ia dapat bersifat lahiriah atau batiniah. Keheningan lahiriah berkenaan dengan tidak adanya kegaduhan dalam perkataan dan perbuatan (bunyi pintu, suara kendaraan, bor, dan pesawat terbang, suara kamera dengan cahaya flash kamera yang silau, dan “hutan” handphone yang mengerikan selama perayaan Liturgi, yang mana orang mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil memegang handphone). Keheningan yang saleh—bahkan mistik—harus dengan jelas dibedakan dari keheningan yang salah, yaitu penolakan untuk berbicara, diamnya seorang pengecut, keegoisan dan kerasnya hati.

Tentu, keheningan lahiriah adalah praktik asketis, bentuk pengendalian diri dalam berbicara. Terutama, penting sekali bagi kita untuk mengingat arti asketisisme, yang mana dalam masyarakat yang konsumeris, asketisisme tidak mendapat pujian, dan harus diakui bahwa asketisisme itu menakutkan orang-orang di zaman kita, termasuk orang Kristen yang dipengaruhi oleh semangat dunia. Jadi, apakah asketisisme itu? Asketisisme adalah cara hakiki yang membantu kita menghapuskan segala hal dalam hidup kita yang menghalangi kehidupan rohani kita, dan karenanya menjadi sebuah rintangan bagi doa. Ya, dalam doa Allah menyampaikan hidup-Nya, mewujudkan kehadiran-Nya dalam jiwa kita, mengairi jiwa kita dengan kasih Tritunggal-Nya: Bapa melalui Putra dan dalam Roh Kudus. Dan pada hakikatnya, doa adalah keheningan. Bergosip, kecenderungan untuk mengungkapkan semua yang disimpan dalam jiwa kita, sangatlah membahayakan kehidupan rohani kita. Terbawa oleh kebutuhan untuk berbicara dengan semua orang, orang yang suka berbicara itu jauh dari Allah, menjadi dangkal, dan tidak mampu melakukan aktivitas yang mendalam.

Kitab Kebijaksanaan dari Perjanjian Lama (Keb 10:8, 11, 13, 14, 18-21, 31-32; 15: 1-7; Sir 19: 7-12; 20:1-2, 5-8 atau 23:7-15; 28:13-26)  memiliki nasihat yang berlimpah untuk menghindari dosa dalam berbicara (terutama fitnah dan umpatan). Kitab Para Nabi (Rat 3:26; Zef 1:7; Hab 2: 20; Yes 41: 1-2; Za 17) berbicara tentang keheningan sebagai ungkapan rasa takut penuh hormat kepada Allah; maka hal ini adalah persiapan bagi Teofani (penampakan) Allah, yaitu, wahyu akan kehadiran-Nya di dunia. Perjanjian Baru juga mengandung hal serupa. Sungguh, surat St. Yakobus tetap menjadi teks klasik tentang pengendalian kata-kata (Yak 3:1-10). Meskipun demikian, kita tahu bahwa Yesus sendiri memperingatkan kita tentang perkataan yang jahat, yang merupakan ungkapan hati yang busuk (Mat 15:19) dan bahkan terhadap perkataan yang sia-sia yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan (Mat 12:36). Sebaliknya, seseorang dapat tetap terkesan dengan keheningan Yesus di hadapan Sanhedrin, Gubernur Romawi Pilatus dan Raja Herodes. Jesus autem tacebat: Tetapi Yesus tetap diam (Mt 26:63). Herodes meminta Dia melakukan mukjizat baginya supaya para pembantunya terhibur. Tetapi Yesus Kristus, yang diikat dengan rantai, Allah yang mahakuasa, Ia tidak setuju untuk menjadi pelawak Raja Herodes, dan tidak melakukannya di hadapan seorang yang sombong dengan rasa ingin tahu yang tidak sehat ini, Ia tidak mau melakukan mukjizat yang Ia lakukan dengan murah hati kepada orang yang rendah hati dan tak terpelajar.

Sesungguhnya, keheningan yang baik dan benar tetap menjadi bagian dari Dia yang meninggalkan tempat-Nya bagi orang lain, dan secara khusus, Dia Yang Sungguh Lain, yakni Allah. Namun, kegaduhan lahiriah menjadi ciri seseorang yang ingin menempati tempat yang terlalu penting baginya, yang ingin pamer atau memenuhi kekosongan batinnya, sebagaimana halnya di banyak toko dan tempat publik dan secara khusus dalam ruang tunggu dokter gigi, penata rambut… ketika ia memaksakan kita mendengar musik.

Keheningan batin, dapat dicapai dengan ketiadaan ingatan, rencana, percakapan dalam hati, kegelisahan … Namun lebih penting bila keheningan ini, karena perbuatan kehendak, berasal dari tidak adanya afeksi yang tidak teratur atau hasrat yang berlebihan. Para Bapa Gereja memberikan tempat utama bagi keheningan dalam hidup monastik, misalnya St. Ambrosius ) (In Psalm 37, 12-15.), St. Agustinus, St. Gregorius Agung (Moralia II, 48; XXII, 16, XXX, 16). Tidak lupa pula Bab IV Regula St. Benediktus dari Nursia tentang “taciturnity” atau bab 62, mengenai malam yang hening, yang mana Benediktus mengadopsi pengajaran Cassian. Dari para guru ini, semua pendiri ordo religius abad pertangahan, diikuti oleh mistikus kontra-reformasi a la Katolik, menuntut pentingnya keheningan yang asketis dan mistik.

2.Keheningan sebagai Syarat Doa Kontemplatif

Dalam Injil, dikatakan bahwa Sang Penyelamat itu sendiri berdoa dalam keheningan, khususnya di waktu malam (Luk 6:12), atau dengan menarik diri ke tempat sunyi (Luk 5:16, Mark 1:35). Keheningan ini adalah ciri dari meditasi akan Sabda Allah; ia ditemukan secara khusus dalam sikap Maria di hadapan misteri Putra-Nya (Luk 2:19, 51). Orang yang paling hening dalam Kitab Suci tentulah St. Yoseph, karena Perjanjian Baru tidak memberitahu kita satupun perkataannya. St. Basil merenungkan keheningan tidak hanya sebagai kebutuhan asketis hidup monastik, tetapi sebagai syarat untuk berjumpa dengan Allah (Letter 2, 2-6: PG 32, 224-232). Keheningan mengawali dan mempersiapkan waktu khusus ketika kita memiliki jalan masuk kepada Allah, sehingga kita dapat berbicara dari muka ke muka seperti berbicara dengan seorang sahabat (cf. Ex 33,11; Num 12.8; Deut 34.10) .

Hendaklah kita ingat bahwa kita memasuki pengetahuan akan Allah dengan cara kausalitas, analogi, keutamaan, tetapi juga negasi: bila kita menegaskan atribut ilahi, yang hanya diketahui oleh akal budi kodrati (ini adalah cara kataphatic), kita harus menyangkal perwujudan terbatas yang kita ketahui di sini (cara apophatic). Keheningan adalah bagian dari jalan apophatic kepada Allah, yang begitu berharga bagi Bapa Yunani khususnya, yang menyatakan permohonan mereka dengan percakapan hening di hadapan misteri Allah (Clement of Alexandria, Gregory of Nazianzus, Gregory of Nyssa).

Benar bahwa keheningan adalah sikap positif seseorang yang mempersiapkan diri untuk menerima Allah dengan mendengarkan-Nya. Ya, Allah bekerja dalam keheningan. Oleh karena itu, pengamatan dari St. Yohanes dari Salib ini menjadi penting: “Bapa berkata dalam satu sabda: yaitu Sabda-Nya, Putra-Nya, dan dalam keheningan kekal Ia selalu mengatakannya: jiwa pun juga perlu mendengarkan dalam keheningan” [1]. Kitab Kebijaksanaan (18:14) telah mencatat hal ini, yaitu bagaimana Allah campur tangan dalam membebaskan umat pilihan-Nya dari tawanan Mesir, dan tindakan yang tak dapat terlupakan ini terjadi di waktu malam: “Sebab sementara sunyi senyap meliputi segala sesuatu dan malam dalam peredarannya yang cepat sudah mencapai separuhnya, maka firman-Mu yang mahakuasa laksana pejuang yang garang melompat dari dalam sorga, dari atas takhta kerajaan ke tengah tanah yang celaka”. Selanjutnya, ayat ini dipahami dalam tradisi liturgis Kristen sebagai pertanda akan Inkarnasi Sabda Kekal yang hening di kandang Bethlehem. Beata Elizabeth Trinitas bersikukuh tentang perlunya keheningan sebagai syarat untuk kontemplasi Allah Tritunggal.

Jadi, seseorang harus hening: ini sungguh merupakan aktivitas, dan bukan tidak melakukan apapun. Bila “mobile phone batiniah” kita selalu sibuk, karena kita “sedang bercakap-cakap” dengan ciptaan lain, bagaimana sang Pencipta dapat masuk ke dalam diri kita, bagaimana Ia dapat “memanggil” kita? Kita harus memurnikan akal budi kita dari rasa ingin tahunya, kehendak kita dari rencananya, untuk membuka diri secara total bagi terang rahmat dan kekuatan yang Allah ingin berikan secara berlimpah kepada kita, “Bapa, bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu”. “Sikap lepas bebas” Ignasian juga merupakan bentuk keheningan.

3.Keheningan dalam Norma-Norma Liturgis

Doa adalah percakapan, dialog dengan Allah Tritunggal, bila terkadang kita berbicara dengan Allah, maka di waktu lain kita hening untuk mendengarkan Dia. Jadi, tidaklah mengejutkan bila kita menganggap keheningan sebagai komponen penting dalam Liturgi. Tentu, Ritus Timur (yang bukan kompetensi dari kongregasi saya) tidak memberikan saat hening selama Liturgi Ilahi. Sungguh, ketika imam tidak bernyanyi sendiri, yaitu, ketika ia berdoa dalam hening (atau “secret” yang berasal dari kata Latinsecreto), khususnya selama anafora, yaitu Doa Syukur Agung, kecuali untuk kata-kata konsekrasi, yang dinyanyikan dengan lantang, seseorang dapat menyadari bahwa diakon, paduan suara, atau umat beriman tetap bernyanyi. Meskipun demikian, mereka menyadari secara intens dimensi doaapophatic, yang terungkapkan oleh semua jenis kata sifat dan kata keterangan yang menggambarkan Tuhan alam semesta yang Berdaulat, Penyelamat jiwa kita. Misalnya, “Prefasi” dalam Ritus Byzantine berkata demikian: “Engkau adalah Allah yang tak terperikan (ineffable), tak terpahami (incomprehensible), tak terlihat (invincible) dan sukar dipahami (elusive) …”. Sebagai tambahan,  Liturgi Ilahi kadang menyelam ke dalam “Misteri”, yaitu, secara konkret, ia dirayakan di balik ikonostasis, dan imam yang berdiri di altar Kurban, kerap kali berdoa dalam keheningan.

Di Barat, dalam semua ritusnya (Romawi, Roman-Lyon, Carthusian, Dominikan, Ambrosian, dst), doa hening imam tidak selalu ditemani dengan nyanyian paduan suara atau umat beriman. Misa Latin selalu mencakup keheningan multak. Sampai pada reformasi Beato Paulus VI, keheningan mutlak ini secara khusus terdapat saat mendoakan Kanon Romawi atau Doa Syukur Agung, yang diucapkan oleh selebran dalam diam (secreto), kecuali dalam kasus langka seperti konselebrasi sakramental. Benar bahwa di beberapa tempat, kita ingin memenuhi kekosongan saat hening selama beberapa menit (5-8 menit), yang sebenarnya dilakukan secara lahiriah saja, dengan suara organ, atau nyanyian polifoni, tetapi saya harus mengakui bahwa praktik ini tidak selaras dengan semangat ritus-ritus ini.

Konsili Vatikan II tetap mempertahankan saat hening selama Kurban Ekaristi. Oleh karena itu, Konsitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, § 30, menetapkan bahwa “untuk mendukung partisipasi aktif, hendaklah diadakan juga saat hening yang khidmat”. Pedoman Umum Missale Romawi Paus Paulus VI, yang diterbitkan kembali di tahun 2002 oleh Yohanes Paulus II, merinci bagian-bagian Misa yang memerlukan keheningan. Pertama, terdapat peringatan umum, yang menjelaskan SC 30 yang dikutip di atas:

“Keheningan yang suci juga merupakan bagian dari perayaan, dan haruus diadakan pada saat yang ditentukan (Sacrosanctum Concilium, art. 30; Instruction Musicam sacram, n. 17).[2]. Hakikatnya, bergantung pada tempatnya dalam setiap perayaan. Dalam ritus pertobatan dan setelah undangan untuk berdoa, semua orang melakukan rekoleksi; bacaan selesai atau homili, secara singkat merenungkan apa yang didengar; setelah Komuni, umat memuji dan berdoa dalam hati. Bahkan sebelum perayaan Ekaristi itu sendiri, baik sekali untuk menjaga keheningan di dalam Gereja, di sakristi dan lingkungan di sekitarnya, sehingga semua orang bersiap-siap untuk merayakan misteri suci dengan penuh kesalehan dan dalam cara yang benar” (PUMR no. 45).

Betapa menyedihkan, dan hampir sebagai suatu sakrilegi, bila mendengar iman dan uskup terus berbicara di sakristi, dan bahkan selama perarakan masuk, dan bukannya merenung dan berkontemplasi dalam keheningan  tentang misteri kematian Kristus di Salib yang hendak mereka rayakan, dan yang seharusnya mengilhami mereka dengan rasa takut dan gentar!

Momen khusus pertama ketika keheningan dibutuhkan, ialah saat ritus pertobatan: “Ketika imam mengundang umat yang hadir untuk ambil bagian dalam tindakan pertobatan, yang mana, setelah saat hening yang singkat, seluruh komunitas mengucapkan rumusan absolusi umum” (PUMR 51), lalu saat doa pembuka: “imam mengundang umat untuk berdoa. Iman dan umat bersama-sama hening sejenak sehingga mereka menyadari kehadiran Allah dan dapat merumuskan permohonan mereka di dalam hati” (PUMR 54). Lalu, “Liturgi Sabda harus dirayakan sedemikian rupa untuk mendukung meditasi, sehingga ketergesaan yang menghalangi rekoleksi harus dihindari.” Selama Liturgi Sabda, pantas juga memasukkan saat hening sejenak, untuk membantu umat beriman, supaya, atas dorongan Roh Kudus, sabda Allah dapat dipahami dalam hati dan tanggapan terhadap doa dapat dipersiapkan. Pantas sekali mengadakan saat hening tersebut, misalnya sebelum Liturgi Sabda dimulai, setelah bacaan pertama dan kedua, dan terakhir saat homili berakhir. (PUMR 56). PUMR No 128 juga menyarakan rekomendasi yang sama untuk bacaan pertama, dan PUMR 130 untuk bacaan kedua. Nasihat ini juga berlaku bagi homili, yang harus diterima dan diucapkan dalam suasana doa (PUMR 66, 136). Terakhir, dalam Doa Syukur Agung, hanya imam yang mendaraskannya, sementara “umat beriman bersatu bersama imam dalam iman dan keheningan” (PUMR 147).

Saat hening lainnya ialah setelah Komuni Suci (PUMR 164), untuk mempersiapkan diri mendengar doa setelah Komuni (PUMR 165). Saat Misa yang dirayakan tanpa umat, saat hening hendaklah diadakan “setelah pembersihan cawan, pantaslah bagi imam untuk mengadakan saat hening” (PUMR 271).

Keheningan, oleh sebab itu, tetaplah ada dalam ordinary form Ritus Romawi (Misa Novus Ordo), setidaknya bila kita mengikuti norma-normanya, dan merayakannya berdasarkan semangat dari rekomendasi tersebut. Sayangnya, sering “kita lupa bahwa Konsili juga menempatkan keheningan dalam partisipasi aktif, yang mendukung keterlibatan yang sangat mendalam dan personal, yang memampukan kita mendengar sabda Tuhan dalam hati. Tetapi keheningan ini tidak ada jejaknya dalam ritus-ritus tertentu” [3]. Sebagai tambahan, di luar homili, kita harus menyingkirkan setiap pidato atau presentasi umat selama perayaan Misa. Sesungguhnya, kita harus menghindari upaya mengubah Gereja, yang adalah rumah Allah untuk ditetapkan untuk beribadah, menjadi ruang pertunjukkan atau teater ketika kita bertepuk tangan atas “kemampuan aktor dalam berkomunikasi”, seturut ungkapan yang sering kita dengar di media. Tetapi kini, kadang kita merasa bahwa

“Ibadah Katolik … telah berpindah dari menyembah Allah, menuju kepada penampilan para imam, pelayannya, dan umat beriman.” Kesalehan dilenyapkan, termasuk sabda itu sendiri. Ia telah dihancurkan oleh pakar liturgi sebagai devosionalisme, pakar liturgi ini menyiapkan orang-orang untuk melakukan eksperimen liturgis umat, dan menolak berbagai bentuk devosi dan kesalehan yang bersifat spontan. Mereka memaksakan adanya tepuk tangan dalam pemakaman, menggantikan sikap berkabung dan menangis dalam pemakaman dengan tepuk tangan: Bukankah Kristus menangis ketika Lazarus mati? “Ketika tepuk tangan membahana dalam liturgi, ini adalah tanda yang pasti bahwa kita telah kehilangan hakikat liturgi” [4]

4.Pentingnya Keheningan demi Kualitas Liturgi

Terakhir, kita harus berusaha memahami alasan adanya disiplin liturgis mengenai keheningan, dan meresapinya. Dua penulis handal dapat membantu kita dalam hal ini, dan karenanya dapat meyakinkan kita tentang perlunya keheningan dalam liturgi. Pertama, Mgr. Guido Marini, Master of Liturgical Pontifical Ceremonies, mengungkapkan prinsip umumnya dalam perkataan berikut:

“Liturgi yang dirayakan dengan baik dalam tiap bagiannya, memberikan tempat bagi perselang-selingan antara sabda dan keheningan, ketika keheningan menjadi jiwa sabda, memampukannya beresonansi dengan kedalamannya yang luar biasa, dan menjaga setiap ungkapan verbal dalam suasana rekoleksi. Keheningan tidak seharusnya dianggap sebagai putusnya waktu perayaan yang satu dan yang selanjutnya. Melainkan ia harus sungguh menjadi momen ritual sejati, yang melengkapi doa vokal, nyanyian, dan bahasa tubuh” [5].

Kardinal Joseph Ratzinger, dalam karyanya yang terkenal, The Spirit of Liturgy, telah mengamati bahwa

“Keheningan adalah bagian dari Liturgi … misteri yang lebih agung, yang melampaui semua kata, mengundang kita dalam keheningan. Keheningan ini haruslah keheningan yang penuh, yang bukan sekedar ketiadaan ungkapan verbal dan bahasa tubuh. Apa yang seharusnya kita harapkan dalam liturgi ialah agar liturgi memberikan kita keheningan yang hakiki, yang positif, yang memulihkan kita. Keheningan yang bukan jeda belaka, yang mana ribuan pikiran dan keinginan menyerang kita, tetapi momen rekoleksi, yang menghasilkan kedamaian batin, membiarkan kita bernafas dan menemukan satu  hal yang perlu … ” [6].

Dengan demikian, ini adalah keheningan ketika kita hanya memandang Allah, ketika kita membiarkan Allah memandang kita dan menyelubungi kita dalam misteri keagungan-Nya dan kasih-Nya.

Kardinal Ratzinger juga menyebutkan saat hening yang khusus, seperti berikut:

“Di Beberapa tempat, Persiapan persembahan dimaksudkan sebagai saat hening. Hal ini sungguh masuk akal dan berbuah, bila kita melihat Persiapan ini, bukan hanya sebagai tindakan pragmatis lahiriah belaka, tetapi sebagai proses yang pada hakikatnya bersifat rohani … Kita sendiri, atau seharusnya, harus menjadi persembahan sejati … melalui partisipasi dalam tindakan persembahan diri Yesus kepada Bapa” [7].

Sungguh disesalkan, di sini, proses persembahan membutuhkan waktu lama dan dilakukan dengan suara lantang, dengan tarian tiada akhir dalam beberapa negara Afrika. Mereka memberikan kesan bahwa mereka sedang melakukan pertunjukkan, yang mendistorsi kurban berdarah Kristus di Salib dan menjauhkan kita dari misteri Ekaristi; misteri Ekaristi harus dirayakan dalam meditasi karena kita juga dibenamkan dalam kematian dan persembahan Yesus kepada Bapa. Jadi, penting sekali menekankan keheningan yang perlu dilakukan umat beriman selama Doa Syukur Agung, sebagaimana dinyatakan Mgr. Guido Marini:

“Keheningan ini tidak berarti tidak berbuat apa-apa atau kurangnya partisipasi. Keheningan ini bertujuan untuk membawa semua umat beriman dalam tindakan kasih, yang mana Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa di salib demi keselamatan dunia. Keheningan yang sungguh sakral ini adalah momen liturgis ketika kita harus berkata “Ya” dengan seluruh diri kita, berkata “Ya” pada tindakan Kristus, sehingga hal ini menjadi tindakan kita dalam hidup sehari-hari” [8].

Terakhir, menurut Kardinal Ratzinger, selanjutnya, doa hening imam mengundang dirinya untuk menjadikan tugasnya sungguh personal, sehingga ia dapat memberikan seluruh dirinya kepada Tuhan … doa imam ini … ada—dan harus ada, seperti sebelumnya” [9]. Terakhir, bagi semua, “keheningan setelah menerima Ekaristi … adalah momen khusus bagi percakapan batin dengan Tuhan yang telah memberikan diri kepada kita, momen persekutuan yang intim dengan-Nya, yang membawa kita ke dalam pertukaran kasih ini, yang tanpanya penerimaan sakramen secara lahiriah akan menjadi gestur yang bersifat ritualistik belaka, dan karenanya tak menghasilkan buah” [10].

Catatan Kaki

[1] Saint John of the Cross, Maximes, 147, edited by Fr. Lucien-Marie de Saint-Joseph, O.C.D. (Bruges: DDB, 1949), 1314.

[2] Recall incidentally this passage from Musicam sacram: “17. Sacrum quoque silentium suo tempore servetur; per illud enim fideles non modo non sunt habendi tamquam extranei vel muti spectatores actionis liturgicae, sed arctius in mysterium inseruntur, quod celebratur, per dispositiones internas, quae e verbo Dei audito, e cantibus et precibus prolatis, atque ex spirituali coniunctione cum sacerdote, suas partes proferente, dimanant.”  “At the proper times, all should observe a reverent silence. Through it the faithful are not only not considered as extraneous or dumb spectators at the liturgical service, but are associated more intimately in the mystery that is being celebrated, thanks to that interior disposition which derives from the word of God that they have heard, from the songs and prayers that have been uttered, and from spiritual union with the priest in the parts that he says or sings himself.” From Austin P. Flannery, ed., Documents of Vatican II (Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Co., 1975), 80-97 at 85.

[3] Joseph Cardinal Ratzinger, with Vittorio Messori, The Ratzinger Report: An Exclusive Interview on the State of the Church (San Francisco: Ignatius Press, 1985), 127.

[4] Nicola Bux, Benedict XVI’s Reform: The Liturgy Between Innovation and Tradition, translated by Joseph Trabbic (San Francisco: Ignatius Press, 2012), 120 [English translation slightly emended]. The author cites Cdl. Ratzinger.

[5] Monsignor Guido Marini, La Liturgie: Gloire de Dieu, sanctification de l’homme(Perpignan: Artège, 2013), 71-72.

[6] Joseph Cardinal Ratzinger, The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), 209.

[7] Joseph Cardinal Ratzinger, The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), 210-211.

[8] Monsignor Guido Marini, La Liturgie: Gloire de Dieu, sanctification de l’homme(Perpignan: Artège, 2013), 71-72.

[9] Joseph Cardinal Ratzinger, The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), 213. See also 213-214.

[10] Joseph Cardinal Ratzinger, The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), 210.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: