Cinta akan Sabda dan Kerinduan akan Allah: Mengenai Teologi Monastik dan Skolastik

An interesting but complex allegorical 18th-century fresco adorns the choir of the Dominican church of San Esteban in Salamanca. In this detail, we see a personification of the Mother Church carrying the Eucharist, the Cross, the Gospel of Matthew, and the book of the Elect. She is robed, as usual, in pontifical vesture, and crowned with the papal tiara. Next to her is St Thomas Aquinas, the Universal Doctor of the Church.

An interesting but complex allegorical 18th-century fresco adorns the choir of the Dominican church of San Esteban in Salamanca. In this detail, we see a personification of the Mother Church carrying the Eucharist, the Cross, the Gospel of Matthew, and the book of the Elect. She is robed, as usual, in pontifical vesture, and crowned with the papal tiara. Next to her is St Thomas Aquinas, the Universal Doctor of the Church.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini saya merenung tentang halaman sejarah yang menarik, berkenaan dengan berkembangnya teologi Latin di abad ke-12 yang terjadi melalui serangkaian peristiwa di bawah penyelenggaraan ilahi. Damai bernaung di negara-negara Eropa Barat pada waktu itu, yang menjamin perkembangan ekonomi dan konsolidasi sturuktur politik dalam masyarakat, mendorong aktivitas budaya yang hidup dan juga melalui persentuhannya dengan dunia Timur. Keuntungan dari tindakan yang luas ini, yang dikenal sebagai “Reformasi Gregorian”, sudah dirasakan di dalam Gereja. Dengan penuh semangat Reformasi Gregorian didukung dalam abad-abad sebelumnya, mereka menghasilkan kemurnian evangelis yang lebih besar bagi kehidupan komunitas gerejawi, secara khusus bagi para klerus, dan telah memulihkan Gereja dan Kepausan ke dalam kebebasan bertindaknya yang otentik.

Lebih lanjut, pembaruan rohani berskala luas ditopang oleh perkembangan hidup bakti yang menyebar luas; ordo religius baru bermunculan dan berkembang, sementara ordo yang sudah ada mengalami kebangkitan rohani yang menjanjikan.

Teologi juga berkembang secara baru, memperoleh kesadaran lebih besar akan hakikatnya; ia mempertajam metodenya; menghadapi persoalan baru; berkembang dalam kontemplasi misteri-misteri Allah, menghasilkan karya-karya fundamental; mengilhami inisiatif kultural yang penting dari bidang seni hingga sasta; dan mempersiapkan karya agung yang bertahan selama ratusan tahun ke dapan, inilah masa Thomas Aquinas dan Bonaventura dari Bagnoregio.

Aktivitas teologi yang intens terjadi dalam dua suasana: biara dan Sekolah-sekolah urban, scholae, beberapa di antaranya adalah perintis universitas, salah satu dari ciri “penemuan” Kekristenan Abad Pertengahan.

Atas dasar dua suasana inilah, biara dan scholae, kita menjadi mampu berbicara tentang dua contoh teologi yang berbeda: “teologi monastik” dan “teologi skolastik”. Perwakilan teologi monastik adalah para rahib, biasanya abbot, yang diberkahi dengan hikmat dan semangat evangelis, yang membaktikan diri secara hakiki untuk mengilhami dan memperkaya rancangan Allah yang penuh kasih. Perwakilan teologi skolastik adalah kaum terpelajar, yang sangat bersemangat dalam penelitian; mereka adalah magistri (guru) yang gelisah untuk menampilkan rasionalitas Misteri Allah dan manusia, yang dipercaya dengan iman, tentu saja, tetapi juga dipahami oleh akal budi. Tujuan akhir mereka menjelaskan perbedaan dalam metode dan cara mereka dalam berteologi.

Dalam biara abad ke-12 metode teologis memerlukan penjelasan Kitab Suci, sacra pagina, dalam istilah para penulis pada periode itu; teologi biblis secara khusus diterapkan. Para rahib, dengan kata lain, adalah pendengar yang saleh dan pembaca Kitab Suci serta salah satu pekerjaan utama mereka terdiri dari lectio divina, yaitu, membaca Kitab Suci dalam suasana doa. Bagi mereka pembacaan Teks Suci belaka tidaklah memadai untuk memahami kedalaman maknanya, kesatuan batinnya dan pesannya yang transenden. Oleh karena itu, perlulah melakukan teologi biblis, dalam kepatuhan kepada Roh Kudus. Jadi, dalam sekolah Bapa Gereja, Kitab Suci ditafsirkan secara alegoris untuk menemukan apa yang dikatakan tentang Kristus dan karya keselamatan-Nya dalam setiap halaman Perjanjian Lama dan Baru.

Tahun lalu, Sinode Para Uskup yang membahas tentang “Sabda Allah dalam hidup dan misi Gereja”, mengingatkan kita tentang pentingnya pendekatan rohani terhadap Kitab Suci. Ia bermanfaat dalam menjelaskan teologi monastik, eksegesis biblis yang tak terputus, juga karya yang ditulis para penafsirnya, komentar-komentar asketis yang berharga mengenai kitab-kitab dalam Kitab Suci.

Dengan demikian teologi monastik menyatukan aspek rohani ke dalam formasi susastra. Ia menyadari bahwa penafsiran yang murni teoritis tidaklah memadai: untuk masuk ke dalam inti Kitab Suci, ia harus dibaca dalam semangat yang mana ia ditulis dan diciptakan. Pengetahuan susastra diperlukan untuk memahami makna yang tepat dari kata-katanya dan untuk memahami makna teks, yang mempertajam kepekaan gramatika dan filologis. Oleh sebab itulah, Jean leclercq, seorang cendekiawan Benediktin, dalam esainya yang menjelaskan karakteristik teologi monastik, memberikan judul ini untuk karyanya: L’amour des lettres et le désir de Dieu (Cinta akan sabda (kata-kata) dan kerinduan akan Allah). Sesungguhnya, kerinduan untuk mengenal dan mengasihi Allah yang datang untuk bertemu kita melalui perkataan-Nya haruslah diterima, direnungkan dan diterapkan, yang menuntun kita untuk memperdalam pengetahuan teks biblis dalam semua dimensinya. Lalu terdapat sikap lainnya yang selalu ditekankan mereka yang menerapkan teologi monastik: yaitu disposisi yang intim dan penuh doa yang harus mendahului, menemani, dan melengkapi studi Kitab Sci. Karena, pada akhirnya, teologi monastik adalah mendengarkan Sabda Allah, maka tidaklah mungkin bila kita tidak memurnikan hati kita untuk menerimanya dan secara khusus, tidaklah mungkin juga bagi kita untuk menyalakan di dalamnya kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhan.

Dengan demikian, teologi menjadi meditasi, doa, kidung pujian dan mendorong kita dalam pertobatan yang tulus. Di jalan ini, banyak penafsir teologi monastik mencapai tujuan tertinggi pengalaman mistik dan membentangkan undangan kepada kita juga untuk memperkaya hidup kita dengan sabda Allah, misalnya, dengan mendengarkan dengan penuh perhatian kepada bacaan Kitab Suci dan Injil, khususnya selama Misa Minggu. Penting juga untuk meluangkan waktu khusus setiap hari untuk melakukan meditasi tentang Kitab Suci, sehingga sabda Allah dapat menjadi terang yang menerangi peziarahan sehari-hari kita di bumi.

Teologi skolastik, di sisi lain—seperti yang saya katakan—dilakukan discholae yang muncul di sebalah katedral besar di waktu itu bagi formasi para klerus, atau disekeliling guru teologi dan para muridnya, untuk melatih seorang profesional yang terpelajar di masa itu, yang mana apresiasi terhadap pengetahuan bertumbuh secara konstan.

Pusat bagi metode Skolastik adalah quaestio, yaitu, masalah yang dihadapi pembaca dalam mendekati perkataan Kitab Suci dan Tradisi. Dalam menghadapi masalah yang diajukan teks otoritatif ini, pertanyaan bermunculan dan debat antara guru dan murid terjadi. Dalam diskusi ini, di sisi lain, argumen dari otoritas tampil bersama dengan argumen akal budi, dan diskusi selanjutnya berusaha mencari sintesis antara otoritas dan akal budi untuk mencapai pemahaman mendalam tentang Sabda Allah. Berkenaan dengan hal ini St. Bonaventura berkata bahwa teologi adalah “per additionem” (cf. Commentaria in quatuor libros sententiarum, I, proem., q. 1, concl.), yaitu, teologi menambahkan dimensi akal budi kepada Sabda Allah dan dengan demikian menciptakan iman yang lebih dalam, lebih personal, dan juga lebih konkret dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini berbagai solusi ditemukan dan kesimpulan dicapai, yang kemudian mulai membangun sebuah sistem teologi.

Pengaturan quastiones mengarah pada kompilasi sintesis yang lebih luas, yaitu, quaestiones yang berbeda disusun berdampingan dengan jawaban yang muncul, dan karenanya menciptakan sintensis, suatu summae yang kenyataannya adalah risalah dogmatis dan teologis yang luas, yang lahir dari konfrontasi akal budi manusia dengan sabda Allah. Teologi skolastik bertujuan untuk menghadirkan kesatuan dan harmoni Wahyu Kristiani dengan sebuah metode, yang secara persis disebut “Skolastik”—dari sekolah—yang menempatkan kepercayaan pada akal budi manusia. Gramatika dan filologi itu melayani pengetahuan teologis, bahkan logika pun demikian, yaitu ilmu yang mempelajari “fungsi” penalaran manusia, dalam cara yang sedemikian rupa sehingga kebenaran sebuah proposisi menjadi jelas. Hingga kini, ketika membaca summae skolastik, seseorang tersentuh dengan keteraturan, kejernihan dan kontinuitas argumen-argumen yang logis dan oleh kedalaman tilikan tertentu. Dengan bahasa yang teknis, sebuah makna yang akurat diatributkan kepada setiap kata, dan, diantara percaya dan memahami, sebuah gerakan klarifikasi yang bersifat timbal balik ditetapkan.

Saudara-saudari terkasih, dalam menggemakan undangan Surat Pertama St. Petrus, teologi skolastik merangsang kita untuk selalu siap mempertanggungjawabkan pengharapan yang ada pada kita (bdk 1 Pet 3:15), mendengarkan pertanyaan-pertanyaan sebagai milik kita dan karenanya mampu memberikan jawaban. Ia mengingatkan kita bahwa ada persahabatan alami antara iman dan akal budi, yang didirikan dalam tatanan Ciptaan itu sendiri. Dalam incipit Ensiklik Fides et Ratio, Hamba Allah Yohanes Paulus II menulis: “Iman dan akal budi bagaikan dua sayap yang mengangkat jiwa manusia pada kontemplasi akan kebearan”. Iman terbuka bagi upaya memahami dengan bantuan akal budi; akal budi, sebaliknya, mengakui bahwa iman tidak melemahkannya tetapi mendorongnya menuju cakrawala yang lebih luas dan mulia.

Pelajaran yang kekal dari teologi monastik pantas dalam hal ini. Iman dan akal budi, dalam dialog timbal balik, bergairah dengan sukacita ketika mereka berdua diilhami oleh pencarian akan persatuan intim dengan Allah. Ketika kasih menghidupkan dimensi doa dari teologi, pengetahuan yang diperoleh dari akal budi diperluas. Kebenaran dicari dengan kerendahan hati, diterima dengan kekaguman dan syukur: dengan kata lain, pengetahuan hanya bertumbuh bila seseorang mengasihi kebenaran. Kasih menjadi inteligensi dan teologi otentik menjadi hikmat hati, yang mengarahkan dan menopang iman dan kehidupan umat beriman. Marilah kita berdoa agar perjalanan pengetahuan dan pendalaman akan misteri-misteri Allah dapat selalu diterangi oleh kasih ilahi.

28 Oktober 2009


Sumber: General Audience of Pope Benedict XVI on Monastic and Scholastic Theology

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: