Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Katarina dari Siena

5668258671_420ba5fc1d_b

In this detail from a chapel in Santa Sabina, Rome, St Catherine receives the heart of Christ, a sign of divine love and mercy. 29 April is usually the feast of St Catherine of Siena, the Dominican saint and mystic. – photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini saya ingin berbicara tentang seorang wanita yang memainkan peran utama dalam sejarah Gereja: St. Katarina dari Siena. Abad ke-14 pada masa itu merupakan periode yang mengguncang kehidupan Gereja dan di seluruh konteks sosial Italia dan Eropa. Namun, bahkan dalam masa-masa tersulit sekalipun, Tuhan tak berhenti untuk memberkati umat-Nya, ia memunculkan orang-orang kudus yang menghentak pikiran dan hati, menggugah pertobatan dan pembaruan.

Katarina merupakan salah satunya dan hari ini ia masih berbicara pada kita dan mendorong kita untuk berjalan dengan berani menuju kekudusan, untuk menjadi murid Tuhan yang lebih utuh.

Lahir di Siena tahun 1347 dalam keluarga yang sangat besar, ia meninggal di Roma tahun 1380. Ketika Katarina berusia 16 tahun, ia termotivasi oleh penglihatannya akan St. Dominikus, ia masuk ke dalam Ordo Ketiga Dominikan cabang wanita yang dikenal dengan nama Mantellate. Ketika tinggal di rumah, ia menegaskan kaul keperawanan yang ia nyatakan secara pribadi ketika ia masih remaja dan membaktikan dirinya bagi doa, silih dan karya kasih, khususnya demi keuntungan orang-orang sakit.

Ketika ketenaran kekudusannya menyebar, ia menjadi tokoh utama dalam aktivitas bimbingan rohani yang intens bagi banyak orang dari segala kalangan: bangsawan dan politisi, seniman dan orang biasa, pria dan wanita hidup bakti serta kaum religius, termasuk Paus Gregoris XI yang tinggal di Avignon pada masa itu, dan yang kepadanya ia dengan penuh semangat dan efektif mendesak sang paus kembali ke Roma.

Ia mengadakan perjalanan secara luas demi pembaruan internal Gereja dan mendukung perdamaian di antara negara-negara. Untuk alasan ini juga Paus Yohanes Paulus II yang terhormat memutuskan untuk menyatakan dirinya sebagai Rekan Pelindung Eropa: semoga Benua Lama tak pernah melupakan akar Kristennya, yang merupakan asal usul perkembangannya dan terus menimba nilai-nilai hakiki dari Injil yang menjamin keadilan dan harmoni.

Seperti banyak orang kudus, Katarina mengalami penderitaan besar. Beberapa orang berpikir bahwa mereka tidak seharusnya percaya padanya, sampai pada tahun 1374, enam tahun sebelum kematiannya, Kapitel Umum Dominikan memanggilnya ke Florence untuk menginterogasi dia. Mereka menunjuk Raymond dari Capua, seorang Saudara yang terpelajar dan rendah hati, serta Master Jendral Ordo masa depan, sebagai pembimbing rohaninya. Ia menjadi bapa pengakuan Katarina dan juga “putra rohani”nya, ia juga menulis biografinya yang lengkap. Katarina dikanonisasi pada tahun 1461.

Pengajaran Katarina—ia belajar membaca dengan kesusahan dan belajar menulis saat dewasa—terkandung dalam buku Dialogue of Divine Providence (Dialog Penyelenggaraan Ilahi) atau Libero della Divina Dottrina,sebuah karya agung dalam sastra rohani, dan dalam Epistolario nya dan juga dalam kumpulan Doa nya.

Pengajarannya diberkahi dengan keunggulan yang sedemikian rupa sehingga pada tahun 1970 Hamba Allah Paulus VI menyatakan ia sebagai Doktor Gereja, sebuah gelar yang ditambahkan padanya selain gelar Rekan Pelindung Kota Roma—atas keinginan Beato Pius IX—dan Pelindung Italia—seturut keputusan Pius XII yang terhormat.

This painting of the saint is from St Dominic’s church in Caleruega, Spain. - photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

This painting of the saint is from St Dominic’s church in Caleruega, Spain. – photo by Fr. Lawrence Lew, O.P.

Dalam sebuah penglihatan yang selalu ada di hati dan pikiran Katarina, Bunda Maria mempersembahkan ia kepada Yesus, yang memberikannya cincin yang indah, dan berkata kepadanya: “Saya, Pencipta dan Penyelamatmu, mengawini engkau dalam iman, agar kamu selalu murni hingga pernikahan abadi denganku di Surga” (Bl. Raimondo da Capua, S. Caterina da Siena, Legenda maior, n. 115, Siena 1998). Cincin ini hanya dapat dilihat oleh Katarina saja. Dalam peristiwa luar biasa ini kita melihat pusat kehidupan kesadaran religius Katarina, dan terutama spiritualitas otentik: Kristosentrisme. Baginya Kristus seperti seorang mempelai yang memiliki hubungan yang intim, persekutuan dan kesetiaan ada di dalamnya; Ia adalah kekasih terbaiknya yang ia kasihi melampui kebaikan yang lain. Persatuan yang mendalam dengan Tuhan ini digambarkan dalam peristiwa lain dalam hidup sang mistikus yang luar biasa ini: pertukaran hati. Menurut Raymond dari Capua yang meneruskan rahasia yang diterima Katarina, Tuhan Yesus menampakkan diri padanya sambil “memegang di tangan-Nya yang suci sebuah hati manusia yang merah cemerlang dan bersinar.” Ia membuka lambungnya dan menaruh hati itu di dalam dirinya dan berkata: “Putriku yang terkasih, sama seperti aku mengambil hatimu darimu, kini, kau lihat, aku memberikan kamu hatiku, sehingga kamu dapat terus hidup dengannya selamanya” (ibid). Katarina sungguh menghidupi perkataan St. Paulus: “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristuslah yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

Seperti orang kudus dari Siena, setiap umat beriman merasakan kebutuhan untuk menyelaraskan diri dengan sentimen hati Kristus untuk mengasihi Allah dan sesamanya seperti Kristus sendiri mengasihi manusia. Dan kita bisa membiarkan hati kita diubah dan belajar mengasihi seperti Kristus dalam keserupaan dengan Dia yang diperkaya melalui doa, melalui meditasi Sabda Allah dan sakramen-sakramen, terutama melalui penerimaan Komuni Suci dengan lebih sering dan dengan devosi. Katarina juga termasuk di antara orang kudus yang memiliki devosi kepada Ekaristi, yang dengannya saya menutup Anjuran Apostolik Sacramentum Caritatis (cf. n. 94). Saudara-saudari terkasih, Ekaristi adalah karunia kasih luar biasa yang terus menerus Allah perbarui untuk memelihara perjalanan iman kita, untuk menguatkan harapan kita dan untuk mengobarkan kasih kita, untuk menjadikan kita kian serupa dengan-Nya.

Keluarga rohani yang otentik dan sejati dibangun di sekitar pribadi yang asli dan kuat, orang-orang terpesona oleh otoritas moral wanita muda ini dengan gaya hidupnya yang mulia, dan juga terkesan dengan fenomena mistik yang mereka saksikan, seperti ekstasi yang acap kali terjadi. Banyak yang menempatkan diri mereka demi melayani Katarina, dan terutama menganggap penerimaan bimbingan rohani darinya sebagai hak istimewa. Mereka memanggilnya “ibu” karena, sebagai anak-anak rohaninya, mereka menimba makanan rohani darinya. Hari ini juga Gereja menerima keuntungan besar dari pelaksanaan keibuan rohani dari begitu banyak wanita, awam dan wanita hidup bakti, yang memperkaya jiwa dengan pikiran tentang Allah, yang menguatkan iman banyak orang dan mengarahkan hidup Kristiani kepada puncak-puncaknya yang mulia. “Putraku, aku berkata kepadamu dan memanggilmu” tulis Katarina pada salah satu putra rohaninya, Giovanni Sabbatini, seorang Karthusian, “sama seperti aku melahirkan kamu dalam doa berkelanjutan dan hasrat dalam kehadiran Allah, demikian pula seorang ibu melahirkan putranya” (EpistolarioLettera n. 141: To Fr Giovanni de’ Sabbatini). Ia biasanya berbicara dengan imam Dominikan Rm. Bartolomeo de Dominici dengan perkataan ini: “Saudaraku yang paling kusayangi dan yang terkasih serta putra dalam Kristus Yesus yang manis.”

Karakteristik lain dari spiritualitas Katarina terkait dengan karunia air mata. Karunia ini mengungkapkan sensitivitas mendalam yang teramat elok, sebuah kapasitas untuk merasa tergerak dan mengungkapkan kelembutan. Banyak orang kudus memiliki karunia air mata, yang membarui emosi Yesus sendiri yang tidak menahan atau menyembunyikan air matanya di makam sahabatnya Lazarus dan yang turut berduka bersama Maria dan Martha atau pada saat memandang Yerusalem selama hari-hari terakhirnya di bumi. Menurut Katarina, air mata orang kudus bercampur dengan darah Kristus, yang tentangnya ia katakan dalam nada yang bersemangat dan dengan gambaran simbolis yang sangat efektif: “Ingatlah Kristus yang tersalib, Allah dan manusia … Jadikanlah Kristus tersalib sebagai tujuanmu, bersembunyilah di dalam luka-luka Kristus yang tersalib, dan tenggelamlah di dalam darah Kristus yang tersalib” (EpistolarioLettera n. 21: Ad uno il cui nome si tace [to one who remains anonymous]. Di sini kita dapat memahami mengapa, sekalipun ia menyadari kelemahan manusiawi para imam, Katarina selalu merasakan rasa hormat yang besar bagi mereka: melalui sakramen-sakramen dan sabda mereka membagikan kuasa darah Kristus yang menyelamatkan. Santo dari Siena ini selalu mengundang pelayan suci, termasuk paus yang ia sebut “Kristus yang manis di atas bumi”, untuk setia pada tanggung jawab mereka, termovitasi selalu dan hanya oleh kasih kepada Gereja yang bertahan dan mendalam. Ia berkata sebelum ia wafat: “ketika meninggalkan tubuhku, sungguh aku telah menghabiskan dan memberikan hidupku dalam Gereja dan bagi Gereja Kudus, yang bagiku merupakan rahmat yang unik” (Raimondo da CapuaS. Caterina da SienaLegenda maior, n. 363). Dengan demikian kita belajar dari Katarina suatu ilmu pengetahuan yang paling dalam: mengenal dan mengasihi Yesus Kristus dan Gereja-Nya. Dalam Dialog Penyelenggaraan Ilahi, ia menggambarkan Kristus, dengan gambaran yang tak biasa, sebagai jembatan antara Surga dan bumi. Jembatan ini terdiri dari tiga tangga besar terdiri dari kaki, lambung dan mulut Yesus. Dengan menaiki tangga ini jiwa melintasi tiga tahap dari setiap jalan kekudusan: kelepasan dari dosa, praktik keutamaan dan kasih, dan persatuan dengan Allah yang manis dan penuh kasih.

Saudara-saudari terkasih, mari kita belajar dari St. Katarina untuk mengasihi Kristus dan Gereja dengan keberanian, secara intens dan tulus. Jadi, hendaklah kita menjadikan perkataan Katarina sebagai milik kita, perkataan yang kita baca dalam Dialog Penyelenggaraan Ilahi di akhir bab yang membahas tentang Kristus sebagai jembatan: “Karena belas kasih-Mu Engkau membasuh kami dalam darah-Nya, karena belas kasih-Mu Engkau ingin bercakap-cakap dengan ciptaan. Betapa keranjingannya Engkau karena cinta! Tidaklah memadai bagimu dengan menjadi manusia, tetapi Engkau juga ingin mati!… Ya belas kasih! Hatiku tenggelam dalam permenungan tentangmu: karena tak peduli kemanapun aku berpikir, aku hanya menemukan belas kasih”  (chapter 30, pp. 79-80). Terima kasih.

—24 November 2010


Sumber: General Audience of Pope Benedict XVI on St. Catherine of Siena

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: