Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Thomas Aquinas (Bagian III – Selesai)

Doctor Angelicus

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini saya ingin menyelesaikan katekese tentang St. Thomas Aquinas. Bahkan lebih dari 700 tahun setelah kematiannya kita dapat belajar banyak darinya. Pendahulu saya, Paus Paulus VI, juga mengatakan hal ini, dalam Diskursus yang ia berikan di Fossanova pada 14 September 1974 dalam rangka memperingati 700 tahun kematian St. Thomas. Ia bertanya pada dirinya: “Thomas, Guru kami, pelajaran apa yang dapat kau berikan pada kami?” Dan ia menjawab dengan perkataan: “Percayalah dalam kebenaran pemikiran religius Katolik, sebagaimana yang dibela, dijelaskan, dan dipersembahkan olehnya bagi kapasitas pikiran manusia” (Address in honour of St Thomas Aquinas in the Basilica, 14 September 1974; L’Osservatore Romano English edition, [ore], 26 September 1974, p. 4). Pada hari yang sama, dengan mengacu pada St. Thomas, Paulus VI berkata “kita semua putra dan putri Gereja yang setia, dapat dan harus menjadi muridnya, setidaknya sampai tahap tertentu” (Address to people in the Square at Aquino, 14 September 1974; ORE, p. 5).

Marilah kita juga belajar dari pengajaran St. Thomas, dan dari karya agungnya, Summa Theologiae. Karya ini tidak selesai, namun ini adalah karya yang luar biasa: di dalamnya terdapat 512 pertanyaan dan 2.669 artikel. Ia terdiri dari penalaran terpusat yang mana pikiran manusia diterapkan bagi misteri iman, dengan kejernihan dan kedalaman bagi misteri iman, pertanyaan dan jawaban saling berganti yang mana St. Thomas mendalami pengajaran yang berasal dari Kitab Suci dan Bapa Gereja, secara khusus St. Agustinus. Dalam refleksi ini, dalam menjumpai pertanyaan sejati di masanya, St. Thomas, juga dengan menggunakan metode dan pemikiran filsuf kuno, dan Aristoteles secara khusus, ia tiba pada rumusan kebenaran iman yang tepat, jelas dan relevan, yang mana kebenaran adalah karunia iman yang bersinar dan terjangkau bagi kita, bagi permenungan kita. Namun, Aquinas sendiri mengingatkan kita denganhidupnya bahwa upaya pikiran manusia ini selalu diterangi oleh doa, oleh terang yang datang dari tempat tinggi. Hanya mereka yang hidup bersama Allah dan dengan misteri-misteri-Nya dapat memahami apa yang mereka katakan pada kita.

Dalam Summa Theologiae, St. Thomas memulai dari kenyataan bahwa Allah memiliki tiga cara untuk ada (being) dan mengada (existing): Allah ada dalam diri-Nya, ia adalah awal dan akhir segala sesuatu, dan inilah alasan mengapa semua ciptaan berasal dari-Nya dan bergantung pada-Nya: selanjutnya Allah hadir melaui rahmat-Nya dalam hidup dan aktivitas orang Kristen, orang Kudus; terakhir, Allah hadir dalam cara yang khusus dalam pribadi Kristus, Ia sungguh disatukan dengan Yesus-Manusia, dan aktif dalam sakramen-sakramen yang bersumber dari karya penebusan-Nya. Jadi, struktur karya monumental ini (cf. Jean-Pierre Torrell, La “Summa” di San Tommaso, Milan 2003, pp. 29-75), sebuah pencarian dengan “visi teologis” bagi kepenuhan Allah (cf. Summa Theologiae, Ia q. 1, a. 7), terbagi ke dalam tiga bagian, dan digambarkan oleh Doctor Communis itu sendiri. St. Thomas mengawali dengan perkataan ini: “Karena tujuan utama ajaran suci adalah untuk mengajarkan pengetahuan akan Allah, tidak hanya sebagaimana Ia ada dalam diri-Nya, tetapi jgua sebagaimana Ia adalah awal segala sesuatu dan tujuan akhir mereka, dan secara khusus mengenai ciptaan rasional, jelas sekali dari apa yang telah dikatakan, maka, kita akan membahas: (1) mengenai Allah; (2) mengenai pergerakan ciptaan rasional menuju Allah; (3) mengenai Kristus, yang sebagai manusia, adalah jala kita menuju Allah” (ibid.,I, q. 2). Ini adalah lingkaran: Allah dalam diri-Nya, yang keluar dari diri-Nya dan menggenggam kita dengan tangan-Nya, dalam cara yang sedemikian bersama Kristus, kita kembali kepada Allah, kita disatukan kepada Allah, dan Allah akan menjadi segala hal bagi semua orang.

Bagian pertama Summa Theologiae menelusuri Allah dalam diri-Nya, misteri Allah Tritunggal dan aktivitas kreatif Allah. Dalam bagian ini kita juga menemukan renungan mendalam mengenai realita otentik manusia, sejauh ia berasal dari tangan Allah yang kreatif sebagai buah kasih-Nya. Di satu sisi kita adalah ciptaan yang bergantung, kita tidak berasal dari diri kita; namun di sisi lain, kita memiliki otonomi sejati sehingga kita tidak hanya sesuatu yang nampak, seperti yang dikatakan filsuf Platonis tertentu, melainkan adalah realita yang dikehendaki Allah sedemikian rupa dan memiliki nilainya yang  hakiki.

Dalam bagian kedua St. Thomas merenungkan manusia, yang didorong oleh rahmat, dalam aspirasinya untuk mengenal dan mengasihi Allah guna menjadi bahagia dalam waktu dan keabadian. Pertama, Thomas menghadirkan prinsip-prinsip teologis dari tindakan moral, mempelajarinya, dalam pilihan bebas manusia untuk melakukan perbuatan baik, bagaimana akal budi, kehendak dan hasrat (passions) disatukan, yang kepadanya ditambahkan kuasa yang diberikan oleh rahmat Allah melalui keutamaan-keutamaan dan karunia-karunia Roh Kudus, juga pertolongan yang diberikan oleh hukum moral. Maka manusia adalah makhluk yang dinamis yang mencari dirinya, berusaha menjadi dirinya, dan berkenaan dengan ini, ia berupaya melakukan perbuatan yang membangun dirinya, yang sungguh menjadikannya manusia sejati; dan di sini hukum moral berperan. Rahmat dan akal budi itu sendiri, kehendak dan hasrat juga terlibat. Atas dasar ini St. Thomas menggambarkan profil manusia yang hidup seturut Roh dan dengan demikian menjadi citra Allah. Di sini Aquinas berhenti sejenak untuk mempelajari tiga keutamaan teologis, iman, harapan dan kasih, yang diikuti oleh pemeriksaan kritis terhadap lebih dari 50 keutamaan moral, yang terbagi dalam empat keutamaan pokok kebijaksanaan, keadilan, pengendalian diri dan keberanian. Lalu ia mengakhiri refleksi ini mengenai berbagai panggilan di dalam Gereja.

Dalam bagian ketiga Summa, St. Thomas mempelajari Misteri Kristus, jalan dan kebenaran yang melaluinya kita dapat menggapai Allah Bapa. Dalam bagian ini, hampir dalam halaman-halaman yang hampir tak tertandingi, dituliskannya tentang Misteri Inkarnasi dan Sengsara Yesus, sembari menambahkan risalah yang luas mengenai tujuh sakramen, karena di dalam mereka Sabda Ilahi yang Berinkarnasi membentangkan keuntungan Inkarnasi demi keselamatan kita, bagi perjalanan iman kita menuju Allah dan kehidupan kekal. Ia, seolah-olah, secara material hadir dengan realita ciptaan, dan dengan demikian menyentuh kita pada tubirnya yang terdalam.

Ketika membahas sakramen-sakramen, St. Thomas merenungkan Misteri Ekaristi dalam cara yang khusus, yang mana ia sendiri memiliki devosi yang besar kepada Ekaristi. Penulis biografisnya menyatakan bahwa, ia akan mencondongkan kepalanya ke Tabernakel, seakan hendak merasakan debaran hati ilahi dan manusiawi Yesus. Dalam salah satu karyanya, yang mengomnteri Kitab Suci, St. Thomas membantu kita memahami keunggulan sakramen Ekaristi, ketika ia menulis demikian: “Karena Ekaristi adalah sakramen Sengsara Tuhan kita, di dalamnya terkandung Yesus sendiri yang menderita bagi kita. Jadi, apapun yang merupakan efek Sengsara Tuhan kita, juga merupakan efek dari sakramen ini. Karena sakramen ini tidak lain daripada penerapan Sengsara Tuhan kita atas diri kita” (cf. Commentary on John, chapter 6, lecture 6, n. 963). Kita dengan jelas memahami mengapa St. Thomas dan orang kudus lainnya, ketika merayakan Misa Kudus, mencurahkan air mata bela rasa bagi Tuhan kita yang memberikan diri-Nya sebagai kurban bagi kita, air mata sukacita dan rasa syukur.

Saudara-saudari terkasih, dalam sekolah para kudus, hendaklah kita jatuh cinta dengan sakramen ini! Marilah kita berpartisipasi dalam Misa Kudus dengan rekoleksi, untuk memperoleh buah-buah rohaninya, marilah kita memperkaya diri kita dengan Tubuh dan Darah Tuhan kita, tiada henti diberi makan oleh rahmat ilahi! Hendaklah kita dengan rela dan lebih sering berdiam bersama Sakramen Mahakudus, dalam percakapan dari hati ke hati!

Semua yang digambarkan St. Thomas dengan presisi ilmiah dalam karya teologisnya yang besar, seperti, persisnya, Summa Theologiae dan Summa contra gentiles, juga dijelaskan dalam pewartaannya, baik kepada para muridnya dan umat beriman. Tahun 1273, setahun sebelum wafatnya, ia berkhotbah selama masa Prapaskah di Gereja San Domenico Maggiore di Naples. Isi khotbah ini dikumpulkan dan dirawat: isinya ialah Opusculiyang mana ia menjelaskan Syahadat Para Rasul, menafsirkan doa Bapa Kami, menjelaskan Sepuluh Perintah Allah dan memberikan komentar mengenai doa Salam Maria. Isi pewartaan Doktor Angelicus ini pada hakikatnya berhubungan dengan seluruh struktur Katekismus Gereja Katolik. Sesungguhnya, dalam katekese dan pewartaan, di jaman seperti jaman kita dengan komitmen bagi evangelisasi yang telah diperbarui, topik-topik fundamental ini tak boleh berkekurangan: apa yang kita percaya, dan itulah Syahadat iman; apa yang kita doakan, itulah Bapa Kami dan Salam Maria; dan apa yang kita hidupi, seperti yang diajarkan Wahyu biblis, itulah hukum kasih kepada Allah dan sesama serta Sepuluh Perintah Allah, yang merupakan penjelasan tentang mandat untuk mengasihi.

Saya ingin mengajukan contoh isi pengajaran St. Thomas yang sederhana, namun hakiki dan meyakinkan kita. Dalam booklet mengenai Syahadat Para Rasul, ia menjelaskan nilai iman. Melalui iman, ia berkata, jiwa disatukan dengan Allah dan menghasilkan, seakan-akan, pandangan akan kehidupan kekal; hidup menerima orientasi yang terpercaya dan kita mengatasi godaan dengan mudah. Bagi mereka yang keberatan bahwa iman adalah kebodohan karena mengarahkan kita untuk percaya pada sesuatu yang tidak berasal dari pengalaman indrawi, St. Thomas memberikan jawaban yang fasih dan mengingat bahwa ini adalah keraguan yang tidak konsisten, karena akal budi manusia itu terbatas dan tak dapat mengetahui segalanya. Hanya bila kita mampu mengetahui segala hal yang kelihatan dan tak kelihatan secara sempurna, barulah akan menjadi bodoh untuk menerima kebenaran hanya murni karena iman. Terlebih, tidaklah mungkin untuk hidup—seperti yang diamati St. Thomas—tanpa percaya pada pengalaman orang lain, kapanpun pengetahuan kita tidak cukup. Maka menjadi masuk akal untuk percaya pada Allah, yang menyatakan diri-Nya, dan percaya pada kesaksian Para Rasul: mereka berjumlah kecil, sederhana, dan miskin, tertimpa dukacita karena Penyaliban Guru mereka. Namun banyak orang bijak, bangsawan dan orang kaya yang bertobat segera setelah mendengarkan pewartaan mereka. Sesungguhnya ini adalah fenomena sejarah yang ajaib, yang mana sulitlah memberikan jawaban yang meyakinkan selain daripada perjumpaan Para Rasul dengan Tuhan yang bangkit.

Ketika mengomentari artikel Syahadat mengenai Inkarnasi Sabda Ilahi, St. Thomas membuat beberapa renungan. Ia berkata bahwa iman Kristen dikuatkan dengan merenungkan misteri Inkarnasi; harapan dikuatkan ketika memikirkan bahwa Putra Allah datang di tengah kita, sebagai salah seorang dari kita, untuk menyampaikan keilahian-Nya kepada manusia; kasih dibangkitkan karena tak ada tanda kasih Allah yang paling jelas selain daripada bahwa Pencipta alam semesta menjadikan dirinya ciptaan, salah satu dari kita. Terakhir, saat mengkontemplasikan misteri Inkarnasi Allah, hasrat kita bernyala-nyala untuk menggapai Kristus dalam kemuliaan. Dengan menggunakan perbandingan yang sederhana namun efektif, St. Thomas berkomentar: “Bila saudara seorang raja tinggal di tempat yang jauh, tentu ia akan rindu untuk tinggal di sebelahnya. Nah, Kristus adalah saudara bagi ktia; maka kita harus merindukan persekutuan dengannya dan menjadi sehati dengan-Nya” (Opuscoli teologico-spirituali, Rome 1976, p. 64).

Ketika mengulas tentang doa Bapa Kami, St. Thomas menunjukkan bahwa doa ini sempurna dalam dirinya, karena ia memiliki lima karakteristik yang harus dimiliki doa yang disusun dengan baik: kepercayaan, penyerahan diri penuh ketenangan, konten yang layak karena, seperti yang diamati St. Thomas, “agak sulit mengetahui dengan pasti apa yang pantas dan tidak pantas untuk diminta, karena memilih di antara keinginan kita menempatkan kita dalam kesulitan” (ibid., p. 120); dan selanjutnya tatanan permohonan yang pantas, gairah kasih dan ketulusan kerendahan hati.

Seperti semua orang kudus, St. Thomas memiliki devosi yang besar kepada Bunda Maria. Ia menggambarkannya dengan gelar yang luar biasa: Triclinium totius Trinitatis; triclinium, yaitu, tempat Trinitas menemukan istirahatnya, karena Inkarnasi, tidak dalam ciptaan apapun selain dalam Maria, tiga Pribadi ilahi berdiam dan bersukacita serta bergembira karena tinggal dalam jiwanya yang penuh rahmat. Melalui perantaraaan Maria kita dapat memperoleh setiap pertolongan.

Dalam doa yang secara tradisional diatributkan kepada St. Thomas, doa ini memantulkan unsur-unsur devosi kepada Maria secara mendalam, dan melalui doa ini kita juga berkata: “Ya Perawan Maria yang Berbahagia dan manis, Bunda Allah… Aku mempercayakan seluruh hidupku kepada hatimu yang berbelas kasih… Perolehkan juga bagiku, Ya Bunda yang paling manis, kasih sejati yang berasal dari kedalaman hatiku sehingga aku dapat mengasihi Putra Kudusmu, Tuhan kita Yesus Kristus, dan setelah Dia, mengasihimu di atas segalanya… dan mengasihi sesamaku, di dalam Allah dan bagi Allah.”

23 Juni 2010


Sumber: General Audience of Pope Benedict XVI on St. Thomas Aquinas (Part III)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: