St. Carolus Borromeus: Sang Pembaharu Sejati

 “Saint Charles Borromeo Bringing the Assistance of Religion to the Plague Victims of Milan”, by Anicet Charles Gabriel Lemonnier, 1780.

“Saint Charles Borromeo Bringing the Assistance of Religion to the Plague Victims of Milan”, Anicet Charles Gabriel Lemonnier, 1780.

Dalam setiap periode sejarah Gereja, kita dapat melihat adanya sebuah perkembangan sejati dalam kehidupan iman, ketika umat beriman menjalani hidup dalam iman, membaktikan diri dalam doa dan silih, serta berbuat kasih kepada sesama; sekaligus pula kita dapat menemukan adanya penghancuran, perpecahan, dan kekacauan pada masing-masing era.

St. Carolus Borromeus hidup di jaman ketika para uskup dan imam memiliki kelekatan terhadap harta benda duniawi, yang mana hal tersebut malah memberikan teladan yang buruk dan menodai kekudusan panggilan mereka. Tidak hanya itu, hawa nafsu yang mestinya dikendalikan oleh akal budi dalam terang iman Gereja, menjadi semakin liar dan tak terkendali, baik itu di kalangan klerus ataupun umat beriman. Ketidaktahuan dan kesesatan pun menjadi racun bagi pikiran umat Kristen, sehingga tidak jarang mereka semakin menjauh dari Allah dan membahayakan keselamatan mereka sendiri. Tentu semua kekacauan ini tidak dapat kita lepaskan dari pengaruh jahat reformasi Protestanisme yang mengacaukan dan merusak sebagian besar kehidupan Gereja.

Namun dalam situasi yang demikianlah, Allah tetap menunjukkan kesetiaan-Nya terhadap janji-Nya bahwa Ia akan menyertai Gereja-Nya hingga akhir jaman, dan alam maut tidak akan pernah menguasai Gereja-Nya. Kesetiaan dan kasih Allah kepada umat-Nya bersinar dengan sangat cemerlang ketika Ia memanggil St. Carolus Borromeus, yang berasal dari keluarga aristokrat kaya untuk membaharui Gereja-Nya. Ia lahir pada tahun 1538 di Kastil Arona (dekat Milan). Pada jam 2 subuh, jam kelahirannya, banyak orang memberi kesaksian bahwa terdapat sinar yang terang menyinari kastil tersebut hingga fajar, sebuah tanda bahwa Allah berkenan menjadikan Carolus sebagai pembawa terang.

Orang tua Carolus merupakan orang Kristen yang saleh, dan ia pun meneladani orangtuanya dengan cara membaca buku-buku rohani dan menghabiskan waktu dalam doa. Kesalehan orangtuanya ini tentu membentuk disposisi Carolus sebagai seorang Kristen yang saleh, yang memiliki relasi personal dengan Kristus melalui doa pribadinya. Pada usia 16 tahun, ia mempelajari hukum sipil dan kanon di Universitas Pavia.

St. Carolus Borromeus mengemban misi penyelamatan domba-domba ketika pamannya, Kardinal Giovanni Angelo di Medici, terpilih menjadi Paus Pius IV. Paus tersebut memanggilnya ke Roma, dan dalam waktu singkat mengangkatnya sebagai kardinal dan menjadikannya uskup agung Milan. Hal tersebut menjadikan dirinya ada dalam situasi yang dikelilingi oleh kekayaan berlimpah dan rasa hormat yang besar. Meskipun demikian, ia tidak pernah lupa menjalankan kewajibannya sebagai orang Kristen, terutama dalam melakukan silih dan penerimaan sakramen Tobat dan Ekaristi.

Dengan diterangi oleh rahmat ilahi, St. Carolus menyadari panggilan Tuhan bagi dirinya: Ia meninggalkan semua harta duniawi dan memutuskan untuk membaktikan seluruh hidupnya demi melayani Allah dan Gereja. Setelah menjauhkan diri dari harta dan gaya hidup duniawi, ia memenuhinya dengan doa, silih, dan dedikasi yang penuh kasih terhadap banyak orang. Dalam situasi yang ditandai oleh kekacauan iman dan moral, St. Carolus mengambil langkah awal yang berani sekaligus sangat menentukan bagi kehidupan Gereja ke depannya: sebelum membaharui orang lain, ia melakukan pembaharuan total atas dirinya, dengan secara heroik menghidupi kebajikan kemurnian, kerendah-hatian, dan kemiskinan.

St. Carolus menempatkan kepercayaan penuh kepada Allah dan pada pertolongan ilahi: “Aku dapat melakukan segala sesuatu dalam Dia yang menguatkan aku”. Pertolongan ilahi ini diberikan Kristus terutama melalui doa, kurban, dan sakramen-sakramen yang menjadi “sumber air, mengalir menuju kehidupan kekal”.

Begitu hakiki pengaruh dari kedua sakramen ini, sehingga St. Carolus berkata: “Karena buah dari sakramen-sakramen ini begi berdaya guna dan berlimpah, nilainya dapat dijelaskan dengan mudah. Sakramen tersebut, maka, harus diperlakukan dan diterima dengan persiapan terbaik, penghormatan paling mendalam, dan dengan kemegahan lahiriah serta perayaan.” Mengenai pentingnya kelayakan dalam menerima Tubuh Kristus, St. Carolus mendesak agar “orang-orang tidak hanya menerima Komuni Suci dengan lebih sering, tetapi juga betapa berbahaya dan fatal apabila mereka mendekati Meja Suci Makanan Ilahi ini secara tidak layak.”

Paus Benediktus XVI menguraikan bahwa kasih yang dimiliki St. Carolus tak dapat dilepaskan dari relasinya yang dipenuhi cinta mendalam terhadap Yesus Kristus.

“Ia mengkontemplasikan dalam misteri suci Ekaristi dan Salib, menghormatinya dalam persatuan erat dengan misteri Gereja. Ekaristi dan Ia yang Tersalib membenamkan Carolus dalam kasih Kristus dan hal ini mengubah serta mengobarkan semangatnya sepanjang hidupnya, memenuhi malamnya yang dihabiskan dalam doa, mendorong setiap tindakannya, mengilhami Liturgi Agung yang ia rayakan bersama umat dan menyentuh hatinya secara mendalam sehingga ia kerap kali tergerak hingga menangis.

Pandangan kontemplatifnya terhadap Misteri Suci Altar dan pada Yang Tersalib membangkitkan perasaan bela rasa akan kesengsaraan manusia dan mengobarkan kerinduan apostolik di dalam hatinya untuk mewartakan Injil kepad semua orang. Di sisi lain, kita tahu bahwa tidak ada misi dalam Gereja yang tidak berasal dari “kekekalan” dalam kasih akan Tuhan Yesus, yang dihadirkan dalam diri kita dalam Kurban Ekaristi.” (Paus Benediktus XVI, Message to Cardinal Dionigi Tettamanzi, Archbishop of Milan, on the occasion of the 400th Anniversary of the Canonization of St Charles Borromeo.)

Ekaristi dan Yesus yang tersalib merupakan sumber kekuatan bagi St. Carolus dalam menjalankan reformasi yang sejati. Kita pun dapat menyebut dirinya sebagai santo yang sangat Ekaristis. Namun pada saat yang sama, St. Carolus juga merupakan santo yang paling sosial. Ia memiliki cinta yang besar bagi kaum miskin, sehingga ia diakui sebagai bapa yang sejati dan penuh kasih terhadap orang miskin.

“Kasih mendorong ia mengosongkan isi rumahnya dan meninggalkan segala kekayaannya untuk memenuhi kebutuhan mereka yang membutuhkan, menopang mereka yang lapar, untuk memberikan pakaian dan meringankan beban orang sakit. Ia mendirikan institusi yang bertujuan untuk memberi pertolongan sosial dan membantu mereka yang membutuhkan; tetapi kasihnya bagi orang miskin dan menderita bersinar dalam cara yang luar biasa selama wabah tahun 1576, ketika Uskup Agung suci ini memilih untuk tinggal di tengah umatnya untuk menyemangati mereka, meyalani dan membela mereka dengan senjata doa, silih, dan kasih.”

Karakteristik Pembaharu Sejati

St.Carolus Borromeus merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam Konsili Trente dan implementasinya. Penyusunan Katekismus Romawi, atau yang juga dikenal dengan nama Katekismus Konsili Trente, tidak dapat dilepaskan dari pengaruh sang kardinal. Begitu gigih upaya St. Carolus dalam menerapkan pembaharuan yang dicanangkan oleh Konsili Trente, dan begitu terasa buahnya bagi kehidupan umat di keuskupannya, sehingga kita dapat menyebut dirinya sebagai seorang pembaharu kehidupan Gereja yang sejati.

Paus Pius X, dalam ensikliknya berjudul Editae Saepe (mengenai St. Carolus Borormeus) membandingkan St. Carolus dengan tokoh pembaharu palsu dan darinya ia mendapatkan beberapa kriteria yang menggambarkan seorang pembaharu sejati.

Seorang pembaharu palsu berusaha mereformasi iman dan disiplin seturut keinginan mereka, dan mereka denan mudah jatuh ke dalam ekstrim, misalnya terlalu menekankan iman hingga mengabaikan perbuatan baik, atau mengunggulkan kodrat dan keunggulan kebajikan hingga meremehkan bantuan iman dan rahmat ilahi. Reformasi seperti ini tidak dapat memulihkan disiplin, melainkan menghancurkan iman dan moral. Sebaliknya, pembaharu yang tulus dan penuh semangat, seperti Carolus, akan menghindari ekstrim dan tidak pernah melanggar batas reformasi sejati. Ia akan selalu disatukan dalam ikatan paling erat dengan Kristus dan Gereja, dan dari sinilah ia menemukan kekuatan bagi kehidupan batinnya serta menemukan arahan dalam menyembuhkan masyarakat manusia.

Pembaharu sejati tidak menceraikan iman dari kekudusan, melainkan mempertahankan dan menjaga keduanya, mambakarnya dengan api kasih. Mereka menjaga deposit iman, tidak mengaburkan terangnya tetapi menyebarkan kebenaran yang menyelamatkan seluas-luasnya. Dengan kata lain, mereka menggabungkan teori dan praktik. Penulis secara pribadi juga ingin menekankan bahwa pembaharu sejati juga memadukan antara letter (huruf, maksudnya teks tertulis, dalam kasus Carolus, yang dimaksud adalah dekrit Konsili Trente) dan spirit (arahan atau semangat yang dikehendaki Konsili Trent). Pemisahan antara letter dan spirit, seolah-olah letter tidak mencerminkan spirit, seperti yang terjadi pada Konsili Vatikan II (dan juga yang dikritik Paus Benediktus XVI mengenai penafsiran yang terputus, yang dikontraskan dengan penafsiran berkesinambungan), merupakan karakteristik pembaharu palsu.

Bila kita membaca riwayat hidup St. Carolus dengan cermat, kita dapat melihat bahwa ia begitu setia terhadap letter atau dokumen Konsili Trente, dan melalui kesetiaan terhadap teks, penafsirannya yang benar serta penerapannya dengan ketat, tercerminlah spirit atau semangat pembaharuan yang sejati. Spirit dan letter terpadu menjadi satu dan diwujudkan dalam setiap tindakan pastoral yang dilakukan Uskup yang suci ini.

Seorang pembaharu sejati juga tidak mencari kemuliaannya sendiri, melainkan kemuliaan Tuhan, ia adalah seorang yang lembut dan rendah hati, tidak merasa sedih dan terganggu, dan karena alasan inilah Ia akan sangat berkenan bagi Tuhan dan membawa buah keselamatan yang berlimpah. Ia adalah seseorang yang memiliki kepercayaan penuh kepada Tuhan dan selalu meminta pertolongan ilahi-Nya bagi semua kekuatan dan kebajikannya, dengan menjadikan perkataan Sang Rasul sebagai miliknya: “Aku dapat melakukan segala sesuatu dalam Dia yang menguatkan aku.”

Dari manakah pertolongan ilahi ini berasal? Tidak lain dari doa, kurban, dan sakramen. Seorang pembaharu palsu akan menolak dan memandang hina sarana-sarana ini, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Sebaliknya, penulis berpendapat, seorang pembaharu sejati selalu menyadari pentingnya penerimaan Ekaristi secara layak, dan karena itu ia tidak akan takut untuk berbicara tentang dosa dan kematian. Ia akan mendorong umat gembalaannya untuk sesering mungkin menerima Sakramen Tobat, sehingga Ekaristi pun dapat disembah dan diterima dengan layak dan dapat memberikan efek atau buahnya bagi jiwa-jiwa.

Situasi yang kita alami pun rasanya tidak jauh berbeda dari situasi pada zaman St. Carolus Borromeus. Oleh karena itu, siapapun yang hendak membaharui Gereja, marilah kita bersama-sama menapaki jejak langkah St. Carolus Borromeus, agar dengan meneladani hidup dan karyanya, sebuah pembaharuan yang sejati dapat dimulai dan sungguh menghasilkan buah bagi keselamatan jiwa-jiwa.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: