Homili Yang Mulia Antonio Guido Filipazzi: “Kerahiman Tidak dapat Dipertentangkan dengan Kebenaran dan Keadilan”

Homili Duta Besar Tahta Suci untuk Indonesia
Yang Mulia Antonio Guido Filipazzi
Pada Misa Pembukaan Kongres Kerahiman Ilahi
Medan, 14 Oktober 2015

Antonio Guido Filipazzi (13)Bukanlah suatu kebetulan, bukan juga sesuai dengan kebiasaan, bahwa kita membuka Kongres Kerahiman Ilahi ini dengan merayakan Misa Kudus, doa liturgis, yang akan menemani kita selama hari-hari pertemuan ini. Kita harus ingat bahwa liturgi menyatakan dan menghasilkan pertemuan dengan Kerahiman Ilahi dalam kehidupan kita. Hampir dalam setiap bagian kehidupan liturgi kita menemukan pernyataan cinta Tuhan, “yang menyatakan kuasa keagungan-Nya yang melampaui segalanya dengan mengampuni dan menunjukkan belas kasihan” (Hari Minggu Biasa ke-26). Selain itu, Kerahiman Ilahi menjangkau kita melalui liturgi, yang mencapai puncaknya dalam perayaan sakramen-sakramen dan khususnya Ekaristi. Kemudian, sesungguhnya, Ekaristi menghadirkan Misteri Paska mengenai wafat dan kebangkitan Yesus, yang adalah pernyataan tertinggi dari Kerahiman Ilahi bagi umat manusia.

Secara khusus, pada permulaan Kongres ini, doa utama Gereja memohonkan rahmat untuk memahami Kerahiman Tuhan bagi kita. Dalam doa dari Misa ini, kita memohon agar kita semua dapat memahami “dalam wadah apa… kita telah dibersihkan, oleh Roh siapa… kita telah dilahirkan kembali, dengan Darah siapa.. kita telah ditebus”. Air Pembaptisan, Roh Kudus dan Darah Kristus merupakan realita yang menganugerahkan Kerahiman Ilahi kepada kita. Liturgi tampaknya menggemakan doa St. Paulus bagi umat beriman di Efesus, ketika sang rasul memohon supaya mereka mampu memahami “lebar dan luas, tinggi dan dalam, dan untuk mengetahui cinta Kristus yang mengatasi semua pengetahuan” (Ef. 3:18-19).

Hal ini sangat tepat karena Kerahiman Ilahi adalah salah satu misteri iman kita, maka hanya cahaya yang berasal dari Tuhan yang dapat membantu kita untuk menerimanya, dalam sebuah cara yang pantas dari waktu ke waktu. Ketika berbicara tentang hal ini, St. Yohanes Paulus II menggarisbawahi secara khusus mengenai peran Roh Kudus, yang turut berperan sehingga kita dapat mendekati misteri ini: “Di sisi lain, Roh Kudus memampukan kita, melalui Salib Kristus, untuk mengakui dosa kita, setiap dosa, dalam dimensi kejahatan yang penuh, yang terkandung dan disingkapkan secara batiniah. Di sisi lain, Roh Kudus mengijinkan kita, melalui Salib Kristus, untuk melihat dosa dalam terang mysterium pietatis, yaitu, dalam terang kasih Allah yang mengampuni dan berbelas kasih” (Homili 17 Agustus 2002).

Pada saat yang sama, kita tidak dapat mengelak dari kemungkinan memahami Kerahiman Ilahi dalam sebuah cara yang parsial, berat sebelah, bahkan keliru dan karena itu, pada permulaan Kongres ini, saya ingin memberikan beberapa butir refleksi untuk mencegah kemungkinan pemahaman yang salah mengenai Kerahiman.

Apabila kita ingin memahami Kerahiman Ilahi dengan benar, yang merupakan salah satu karakteristik karya Tuhan terhadap ciptaan-Nya, kita perlu mengingat bahwa Kerahiman berhubungan dengan seorang manusia yang berdosa. Sebagaimana yang diungkapkan kata latin misericordia, yang berarti Tuhan membuka hati-Nya kepada kesengsaraan manusia, baik secara material maupun spiritual. Dalam arti khusus, kelemahan manusia adalah dosa, yang memisahkan kita dari Tuhan yang adalah sumber kehidupan. Oleh karena itu, Katekismus Gereja Katolik berkata demikian: “Supaya memperoleh belas kasihan-Nya kita harus mengakui kesalahan kita” (No. 1874).

Dengan demikian, kerahiman tidak meremehkan beratnya dosa, tidak merendahkannya dan apalagi memberikan dalih bagi kita untuk tetap berdosa, untuk terus melanggar perintah-perintah Tuhan. Kerahiman juga tidak bisa dijadikan alasan untuk mengurangi komitmen kita dalam menghidupi panggilan umum kepada kekudusan, yang sungguh ditegaskan oleh Konsili Vatikan II. Sebaliknya, Kerahiman adalah rahmat yang mengizinkan kita untuk memulai perjalanan kita menuju kekudusan setiap waktu, sekalipun kita memiliki banyak kesalahan.

Kerahiman, karena itu, tidak dapat dipertentangkan dengan kebenaran dan keadilan, yang adalah karakteristik Allah. Sebagaimana dikatakan St. Basilius Agung: “Janganlah kita memiliki sebuah pemahaman yang tidak utuh tentang Tuhan, dan janganlah menjadikan cinta-Nya bagi manusia sebagai dalih bagi kelalaian kita” (Wider rules, Pengantar). Kita tidak bisa memahami Kerahiman sebagai “rahmat murahan”, yang “berarti pembenaran terhadap dosa tanpa pembenaran terhadap pendosa… pewartaan tentang pengampunan tanpa menuntut pertobatan”, sebagaimana ditulis Dietrich Bonhoeffer, teolog Protestan sekaligus korban kekejaman Nazi, dalam bukunya berjudul Discipleship (Kemuridan). Kisah Injil tentang pengampunan wanita pendosa menunjukkan kepada kita bahwa Yesus tidak mengutuk si pendosa, tetapi juga memintanya untuk tidak berdosa lagi.

Itulah alasan mengapa kita dapat berkata bahwa pemahaman akan beratnya dosa, di satu sisi, dan komitmen untuk bertobat, di sisi lain, secara bersamaan menjadi bagian dari pemahaman yang tepat akan Kerahiman Ilahi. “Kerahiman Ilahi memberikan suatu kesempatan rahmat bagi para pendosa dan menginginkan pertobatan mereka,” seperti yang ditulis Kardinal Walter Kasper. Sebagaimana telah terjadi bagi banyak santo-santa, pertemuan dengan Kerahiman Tuhan hendaknya menjadi sebuah kesempatan bagi pembaharuan hidup kita secara mendalam.

Gereja sungguh penuh belas kasih ketika ia membantu kita meninggalkan kehidupan penuh dosa melalui pewartaan dan sakramen-sakramen. “Ketika Gereja harus mengenang kembali kebenaran yang tidak diakui atau kebaikan yang dikhianati, ia senantiasa melakukan demikian karena didorong oleh cinta yang dipenuhi kerahiman, sehingga pria dan wanita boleh memiliki hidup dan memilikinya dalam kelimpahan” (Benediktus XVI, Angelus, 30 Maret 2008). Janganlah kita menganut mentalitas dunia ini (lih. Rom. 12:2), dengan berpura-pura – mungkin dengan mengatasnamakan pemahaman Kerahiman yang salah – bahwa Gereja merendahkan tuntutan Hukum Allah dan Injil. Gereja harus senantiasa menyerukan bahwa sukacita tidak berasal dari kehidupan dalam dosa, melainkan dari pengampunan Tuhan dan kehidupan yang kudus, yang diberikan Kerahiman itu sendiri kepada kita sekalian.

Dalam menghadirkan misteri Kerahiman Ilahi, khususnya dalam memandang Tahun Kerahiman yang akan datang, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Gereja pertama-tama menerima, dan memberikan Kerahiman. Dalam Ensiklik “Sukacita Injil” (Evangelii Gaudium) kita membaca: Gereja “memiliki keinginan tak terhingga untuk menunjukkan kerahiman, buah dari pengalamannya sendiri akan kuasa kerahiman Bapa yang tak terhingga” (No. 24). Kita dipanggil untuk meniru Kerahiman Bapa, yang pertama-tama telah kita alami sendiri. Oleh karena itu, menerima Kerahiman Tuhan merupakan hal yang sangat mendasar bagi kita.

Dan ini terjadi khususnya melalui Sakramen Pengampunan, tempat kita memperoleh pengalaman yang sama dengan anak yang hilang.  Sakramen ini merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan Gereja dan dalam kehidupan setiap orang Kristiani, karena di dalamnya – sebagaimana kita baca dalam Injil hari ini – kuasa pengampunan dosa itu bekerja, yang diserahkan oleh Dia yang Telah Bangkit kepada para Murid-Nya.

Sayangnya, kita perhatikan bahwa dalam tahun-tahun terakhir ini terjadi sebuah krisis yang besar mengenai Pengakuan dosa, yang seringkali diabaikan atau dipraktikkan secara tidak tepat. Contohnya, jarang sekali kita mendengar tentang perlunya pengakuan dosa dengan lebih sering, yang menurut Hamba Allah Pius XII, “[pengakuan dosa yang lebih sering] diperkenalkan ke dalam Gereja di bawah bimbingan Roh Kudus” (Ensiklik Mystici Corporis). Lebih dari itu, kita harus meratapi para imam yang tidak begitu tekun dalam pengakuan dosa sebagaimana seharusnya, dan konsekuensinya, umat beriman tidak dapat dengan mudah berdamai dengan Tuhan. Tampaknya kita telah kehilangan kesadaran yang hidup dan mendalam akan perlunya pengampunan Tuhan, untuk menang dari yang jahat dan bertumbuh dalam kebaikan. Bukankah krisis pengakuan dosa ini merupakan akar dari begitu banyak kesulitan dan masalah, baik dari Gereja maupun masyarakat pada zaman kita?

Secara khusus, saya ingin mengingatkan dua aspek dari praktik Pengakuan dosa.

1) Pertama, Pengakuan dosa merupakan sarana yang perlu untuk menerima Komuni Kudus, jika kita telah melakukan dosa berat. Mengenai hal ini, sayangnya kita melihat sebuah keteledoran yang meluas, yang mengantar banyak umat beriman menerima Komuni dalam cara yang tidak layak. Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa, sebelum menerima Tubuh Kristus, perlulah kita memeriksa diri sendiri; janganlah menerimanya supaya tidak mendatangkan hukuman (lih. 1 Kor. 11:28-29). Seperti yang dikatakan Uskup dari Sumatra kepada saya, orang yang menerima Komuni dalam keadaan berdosa berat, sama dengan seseorang yang makan makanan yang baik dan menyehatkan dalam sebuah piring yang kotor dan tidak pantas. Tidaklah cukup hanya melakukan tindakan pertobatan secara batiniah [atau dalam hati], sebab penyesalan yang sejati senantiasa mensyaratkan keinginan untuk pergi menerima sakramen pengakuan dosa. Kita juga tidak dapat berbalik secara langsung kepada Tuhan untuk menerima pengampunan, sembari menolak jalan yang telah ditetapkan Tuhan dalam memberikan pengampunan dosa kepada kita. Seorang penulis Abad Pertengahan mengingatkan kita bahwa “Pengantin Pria dan Wanita, yakni Kristus dan Gereja, adalah satu, baik dalam menerima pengakuan dosa atau dalam memberikan pengampunan dosa… Gereja tidak dapat mengampuni dosa tanpa Kristus, dan Kristus tidak menghendaki untuk mengampuni dosa apapun tanpa Gereja” (Isak dari Stella, Sermon 11).

2) Kedua, selagi kita berada di sini, di Keuskupan Agung Medan ini, yang memiliki banyak biarawan Kapusin, saya ingin mengingatkan, baik kepada Uskup maupun para imam, dua bapa pengakuan yang suci dari tarekat religius tersebut, para santo yang telah diajukan Paus Fransiskus sebagai saksi dan teladan bagi Tahun Kerahiman: St. Leopold dari Castelnuovo dan St. Pio dari Pietrelcina. Semoga mereka menginspirasi para imam dalam dedikasi yang tulus untuk mengatur Sakraman Pengakuan dosa, yang mana kaum beriman memiliki hak – dan saya tekankan: hak! – untuk menerimanya secara berlimpah (lih. KHK. Kan. 213). “Ada tempat khusus bagi imam yang mana orang yang terakhir, orang yang hina, dan orang yang terkecil ditemukan – dan itulah ruang pengakuan dosa,” kata Paus Fransiskus (Homili, 20 September 2015). Tetapi “kita tidak menjadi bapa pengakuan yang baik secara otomatis. Kita menjadi bapa pengakuan yang baik ketika, di atas semuanya, kita membiarkan diri kita sendiri untuk menjadi peniten dalam mencari kerahiman-Nya (Paus Fransiskus, Bulla Misercordiae Vultus, No. 17). Setiap imam harus menjadi seorang peniten dan seorang bapa pengakuan pada saat yang bersamaan.

Kita harus berharap dan juga bekerja agar Yubileum yang akan datang dapat membantu menemukan kembali sakramen Pengakuan Dosa, sehingga kita dapat melaksanakannya dengan baik. Sebenarnya, akan menjadi hasil yang luar biasa bagi Kongres ini jika ia dapat berkontribusi bagi kerasulan yang mendukung praktik Pengakuan dosa secara meluas.

Setelah mengalami Kerahiman, kita diundang untuk menyalurkannya kepada sesama, sehingga “di manapun Gereja hadir, kerahiman bapa harus menjadi nyata” (Paus Fransiskus, Bulla Misericodiae Vultus, No. 12).

Itulah alasan mengapa Paus Fransiskus menulis: “Saya telah meminta kepada Gereja dalam Tahun Yubileum ini untuk menemukan kembali kekayaan yang mencakup karya belas kasih yang bersifat rohani dan jasmani. Pengalaman akan kerahiman, sesungguhnya, menjadi nyata dalam kesaksian akan tanda-tanda nyata sebagaimana Yesus sendiri telah ajarkan kepada kita” (Surat, 1 September 2015). Seperti yang diingatkan perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, Kerahiman bukan hanya perasaan belaka, tetapi harus menjadi sikap yang aktif.

Tetapi kita juga harus sadar akan kesalahpahaman mengenai karya belas kasih, yang dapat mereduksi Gereja menjadi sebuah NGO – sebuah bahaya yang sering disebut oleh Paus Fransiskus.

Karena itu, pertama-tama, penting untuk menegaskan “dimensi kristologis” dari karya belas kasih. Sesungguhnya, “Tokoh utama yang nyata dari karya belas kasih adalah Tuhan Yesus. Ia menjadikan diri-Nya sendiri hadir dalam gereja-gereja di bawah tanda-tanda ekaristis, untuk mengatakan kepada kita bahwa tidak ada kepedulian bagi manusia yang sungguh Kristen dan gerejawi, jika tidak menerima hasratnya, kekuatannya dan penyebabnya dari Dia. Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita tidak pernah dapat memisahkan, bahkan dalam pikiran kita, inisiatif kita akan solidaritas dari perasaan cinta akan Yesus, sang cinta yang menginspirasi kita dan memberikan nilai kepada semua tindakan kita” (Card. G. Biffi, Eucaristia e opera di misericordia). Orang Kristiani memenuhi karya belas kasih karena mereka melihat dan melayani Yesus dalam diri sesama. Yesus berkata: “Apapaun yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sadara-Ku ini, itu kamu lakukan untuk Aku” (Mat. 25:40).

Banyak filsafat dan agama menganjurkan belas kasih dan perhatian kepada sesama. Tetapi Kristianitas mengajarkan kita hal yang lebih. Ia mengatakan bahwa Tuhan sendiri hadir dalam saudara-saudari kita yang menderita. Dan Dialah yang memberikan kita kekuatan, keberanian, kemurahan hati dan kesetiaan yang kita butuhkan, untuk menyelesaikan karya belas kasih dalam setiap situasi. Hanya apabila Yesus mempercayakan cinta-Nya kepada kita, kita mampu melakukan karya cinta ini. Tanpa rahmat-Nya, kita tidak dapat menghidupi cinta yang demikian. Itulah alasannya mengapa kita perlu tinggal bersama Dia, bagaikan ranting-ranting yang adalah bagian dari pokok anggur, guna membawa buah yang baik, yaitu karya belas kasih.

Paus Fransiskus mengungkapkan lagi bahwa karya belas kasih, sama seperti kesengsaraan manusia, juga bersifat rohani dan jasmani. Karya jasmani begitu nyata sehingga orang yang menolak keberadaannya, pastilah seorang yang buta. Setiap hari, media massa memperlihatkan berbagai kebutuhan jasmani manusia yang luas dan banyak jumlahnya. Namun bahayanya bagi kita ialah terdapat sebuah jenis kebutaan yang lain. Berbahaya sekali kalau kita berpikir bahwa mereka yang tidak lapar atau haus, yang tidak sakit atau tidak berada dalam penjara, mereka yang memiliki rumah sendiri dan sebuah rak penuh pakaian, singkatnya mereka yang tidak kekurangan barang jasmani, mungkin tidak membutuhkan juga hal-hal rohani. Sesungguhnya, sangat sering mereka yang berlimpah kekayaan, kekuasaan dan kesuksesan, mereka itu miskin akan kegembiraan, harapan, arti kehidupan, cinta… dan khususnya, mereka miskin akan Tuhan. Dan kita harus mengingat bahwa mereka yang miskin akan kebutuhan benda jasmani sekalipun, mereka tidak hanya memerlukan kekayaan secara duniawi, melainkan juga memerlukan kekayaan secara rohani, kekayaan yang abadi. Karya belas kasih tidak bisa bersifat jasmani saja atau rohani saja. Karya belas kasih tidak bisa menjadi sebuah alternatif antara memberikan roti dan mewartakan Injil. Setiap manusia membutuhkan keduanya! Marilah kita mengingat bahwa tidak ada gunanya memenangkan seluruh dunia, jika kita kehilangan jiwa kita (lih. Mat. 16: 26). Dan ini adalah kebenaran yang berlaku bagi orang kaya dan orang miskin.

Yesus mengatakan kepada Santa Faustina, rasul Kerahiman Ilahi: “Aku memberikan kepadamu tiga cara melaksanakan kerahiman bagi sesamamu: pertama – dengan perbuatan, kedua – dengan perkataan, ketiga – dengan berdoa. Dalam tiga tingkatan ini tercakup kepenuhan Kerahiman, dan ini adalah bukti cinta yang tak terbantahkan bagi-Ku” (Buku Harian, 742). Tindakan, kata dan doa sesungguhnya merangkum semua karya belas kasih.

Orang yang sangat memahami Kerahiman Tuhan adalah Santa Perawan Maria, yang kita sebut sebagai Bunda Kerahiman.

Ia telah memperoleh sebuah pengalaman mengenai Kerahiman Ilahi yang unik dan tiada bandingnya. Seperti yang ditulis Cardinal Caffara: “Inkarnasi Sang Sabda, perwujudan utama dari cinta yang dipenuhi kerahiman, telah nyata di dalam rahimnya… Maria telah menghidupi dalam dirinya sendiri misteri wafat dan kebangkitan Kristus dalam cara yang khusus, dan karena itu ia telah dipenuhi, sampai ke akar terdalam dari keberadaannya, melalui pewahyuan Kerahiman Bapa… Ia memahami sampai sejauh mana kerahiman Bapa menuntunnya dengan memberikan Putera-Nya. Dalam penderitaannya, ia memahami keseriusan solidaritas dengan kesengsaraan manusia yang diterima Putra Allah karena bela rasa-Nya kepada manusia”. Inilah alasan mengapa Santa Maria mampu menyanyikan Kerahiman Tuhan dalam “Magnifikat” (Kidung Pujian)-nya, yakni kerahiman Allah “turun temurun bagi mereka yang takut akan dia” (Luk. 1:50). Setelah mengalami Kerahiman Tuhan dalam cara yang istimewa, selanjutnya Santa Maria sangat berbelas kasih kepada setiap kesengsaraan manusia dan “hak yang kita miliki, yang harus diterima olehnya hanya satu: kebutuhan kita” (Cardinal C. Caffarra).

Pada awal Kongres ini, dan memandang kepada Yubileum Kerahiman, kita memohon kepadanya: Arahkanlah tatapan belas kasihmu kepada kami!” Semoga ia memampukan kita, seperti dia, untuk memahami, menerima dan membagikan Kerahiman Ilahi.

Amin.

 

One comment

  1. Martina Narita · · Balas

    Terima kasih… saya suka blog ini

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: