Kebangkitan Rohani dan Kesederhanaan Hidup Kristiani

ressurection-of-jairus-daughter-1871.jpg!Large

“Ressurection of Jairus Daughter”, Vasily Polenov, 1871.

Saya menggunakan istilah “Kebangkitan Rohani” tidak bermaksud untuk menyebut atau menyinggung pihak tertentu. Tujuan dari penggunaan istilah tersebut adalah untuk menunjukkan adanya acara atau kegiatan rohani besar yang dilakukan secara berkala, misalnya World Youth Day, Indonesian Youth Day, Bogor Youth Day, KaPal Youth Day, dst. Silakan tambahkan sendiri berbagai kegiatan besar lainnya.

Tulisan ini hanyalah refleksi saya terhadap berbagai kegiatan gereja yang tentunya memiliki tujuan yang baik. Namun, perlu ditegaskan bahwa saya tidak pernah ikut atau terlibat dalam acara-acara tersebut, sehingga refleksi ini hanyalah pengamatan dari seorang “outsider”, yang mana membuat saya tidak mungkin untuk memberikan penilaian yang akurat mengenai visi, misi, ataupun tujuan dari berbagai kegiatan rohani yang diselenggarakan.

Kalau saya tidak salah, World Youth Day (WYD) pertama kali diselenggarakan oleh Paus Yohanes Paulus II, yang selanjutnya diteruskan oleh para penerusnya, Benediktus XVI dan Fransiskus. Melalui kegiatan besar ini, orang muda Katolik sedunia berkumpul. Tidak hanya ada kegiatan sosial atau kebersamaan, tentunya kegiatan yang bersifat pengajaran atau pemberian bimbingan rohani pun juga ada. Misalnya, pada masa kepausan Benediktus XVI, dikeluarkan Youth Catechism (YouCat) yang bertujuan untuk menyampaikan ajaran Katolik dengan bahasa kaum muda. Juga dalam WYD terdapat kegiatan seperti pengakuan dosa, dan juga adorasi bersama yang tetap diadakan sekalipun cuaca saat itu sangat buruk dikarenakan hujan deras (kalau tidak salah ini WYD di Madrid).

Tak dapat kita ragukan bahwa acara seperti ini memiliki satu tujuan utama: yakni mengadakan pertemuan atau perjumpaan personal antara Kristus dengan kaum muda. Bagaimana menumbuhkan iman kaum muda kepada Kristus, bagaimana kaum muda bisa merasakan sukacita menjadi seorang Katolik, dan bagaimana iman sungguh menjadi suatu daya yang mampu mengubah kehidupan seseorang. Mungkin, bisa dikatakan kalau tujuan kegiatan seperti itu adalah untuk membangkitkan kehidupan rohani mereka yang berpartisipasi di dalamnya.

Nah, kalau boleh menggunakan bahasa saya sendiri, dan kalau boleh berimajinasi sebagai seseorang yang hendak mengadakan kegiatan serupa, maka saya akan membahasakan tujuan utama tersebut dengan cara demikian: acara [masukkan apa saja nama kegiatannya di sini] ini bermaksud untuk menerangi perjalanan umat beriman di dunia, untuk menggapai kehidupan kekal. Saya menyukai adanya acuan kepada kehidupan kekal, karena kehidupan kekal merupakan tujuan utama dari setiap hidup manusia di dunia, terlebih bagi orang Kristen.

Nah, dengan mengingat kehidupan abadi sebagai tujuan akhir manusia, saya ingin mengomentari fenomena kegiatan-kegiatan rohani yang dilakukan dalam skala besar.

Kegiatan rohani berskala besar seperti itu bisa menyalakan api dalam diri umat beriman, menginspirasi mereka sehingga mereka kembali bertekun dalam iman, harapan, dan kasih. Mungkin hal ini dapat membangkitkan semangat mereka untuk berdoa, menghadiri Misa, berbuat baik, dst. Akan tetapi, sejauh mana kita dapat mengetahui, bahwa acara akbar seperti itu dapat memberikan dampak bagi kehidupan umat beriman?

Apa yang terjadi setelah orang Katolik pulang kembali ke rumah, dan menjalani aktivitas seperti biasanya? Apa yang terjadi satu bulan, dua bulan, enam bulan, bahkan satu tahun setelah mereka berpartisipasi dalam acara tersebut? Apakah api yang sudah dinyalakan melalui acara itu tetap berkobar, dan kian besar kobarannya, ataukah api tersebut malahan sudah padam dan mati, namun tidak ada yang menyadarinya? Sungguhkah kegiatan rohani tersebut menghasilkan buah rohani yang sejati?

Saya menolak untuk memberikan komentar ataupun penilaian terhadap pertanyaan tersebut. Satu-satunya jawaban yang bisa saya berikan adalah: saya tidak tahu.

Meskipun demikian, mungkin pertanyaan itu bisa dijawab, bila kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Sekali lagi saya ingin mengingatkan kita semua akan tujuan akhir hidup manusia: yakni mencapai kehidupan kekal dan berbahagia bersama Allah di surga. Agar manusia dapat mencapai kehidupan kekal, maka seorang Kristen tidak cukup hanya menjadi orang Katolik yang baik, melainkan mereka harus menjadi kudus, harus menjadi sempurna. Pertanyaan selanjutnya pun muncul: bagaimana caranya menjadi kudus? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, dan mungkin jawabannya yang sangat lengkap tidaklah mungkin saya berikan dalam tulisan ini. Namun saya ingin memberikan beberapa petunjuk yang dapat membantu kita untuk menggapai kekudusan.

Pertama, sebagai orang Katolik, kenyataan yang tak dapat dihindari adalah bahwa kita adalah orang berdosa. Ada dua jenis pendosa: yang pertama mereka yang membenci dosanya dan berusaha bangkit menghindari dosa, berjuang jatuh bangun setiap harinya; dan yang kedua adalah mereka yang mencintai dosanya dan tidak mau bertobat. Bagi para pendosa, Tuhan sudah memberikan kepada kita sakramen Tobat, sebuah sarana ilahi yang dapat menghapuskan semua dosa kita, yang memampukan kita untuk memulai kembali kehidupan rohani kita secara baru.

Pertanyaan yang patut kita renungkan selanjutnya: apakah, setelah kaum muda mengikuti berbagai kegiatan besar yang dirancang khusus untuk orang muda, maka semakin banyak kaum muda yang mengaku dosa secara rutin? Ataukah ternyata kehidupan mereka berjalan seperti biasa saja, mengaku dosa hanya setahun dua kali? Kalau begitu, apakah kegiatan rohani berskala besar itu sungguh memberikan buah?

Selain itu, apakah ada imam yang bersedia memberikan dirinya untuk hadir di kamar pengakuan dosa? Apakah ada imam yang dengan tekun mewartakan tentang dosa dan pengampunan dalam homilinya? Atau jangan-jangan, masih banyak imam yang “tertidur”, yang mungkin malah perlu dibangkitkan juga secara rohani?

Kedua, sakramen tobat memiliki kaitan yang erat dengan Ekaristi. Tidak semua orang bisa menerima Ekaristi dengan layak, hanya mereka yang berada dalam kondisi berahmatlah yang layak menyambut Tubuh dan Darah Tuhan. Mereka yang berada dalam kondisi berdosa berat harus membasuh dan membersihkan dosa ini melalui sakramen tobat.

Kelayakan dan kepantasan umat Katolik, secara fisik dan rohani, untuk menyambut Ekaristi inilah yang hendak saya renungkan. Mari kita bertanya dan mengamati sekeliling kita: sudahkah kaum muda berpenampilan dengan sopan saat menghadiri Misa? Sudahkah Tubuh dan Darah Tuhan diterima dengan cara yang layak, dengan menunjukkan penghormatan, entah itu menundukkan kepala lalu menerima Komuni di tangan, atau dengan menerima Komuni di lidah sambil berlutut? Ataukah, mereka hanya maju menerima Komuni, membuka telapak tangan tanpa memberikan penghormatan, lalu pergi begitu saja?

Lalu bagaimana dengan praktik adorasi di hadapan Ekaristi: sudahkah kita melihat banyak kaum muda yang mau meluangkan sedikit waktunya, untuk menyembah Tuhan, berbicara dari hati ke hati kepada-Nya, dalam adorasi Suci? Ataukah mereka yang menghadiri adorasi pribadi hanya orang-orang tua, atau orang yang itu-itu saja?

Ketiga, dengan adanya (atau katakanlah, menjamurnya) istilah “kebangkitan rohani”, ijinkan saya berasumsi bahwa memang kebangkitan rohani ini yang hendaknya dicapai: bagaimana seseorang menjalani hidupnya secara baru, berusaha meninggalkan dosa dan bekerja sama dengan rahmat Tuhan untuk menaati kehendak Allah.

Namun kebangkitan rohani tidak dapat dimengerti sebagai sebuah proses yang instan dan cepat jadi, seakan-akan setelah mengalami kebangkitan rohani, maka seseorang sudah menjadi orang yang kudus. Melainkan, kebangkitan rohani adalah sebuah tahap awal yang perlu. Setelah bangkit, seseorang juga perlu bertumbuh secara rohani kan? Manusia pun membutuhkan perawatan, membutuhkan makanan dan minuman supaya ia bisa bertumbuh dan berkembang, dari bayi hingga menjadi seorang yang dewasa.

Dengan kata lain, sesungguhnya diperlukan sebuah studi yang mempelajar seluk-beluk kehidupan rohani. Kita semua yang mengimani Kristus, perlu mempelajari iman kita, perlu menghayatinya dan menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tradisi untuk melakukan bacaan rohani sangat bermanfaat bagi mereka yang sungguh ingin bangkit dan bertumbuh secara rohani.

Pertanyaan selanjutnya: apakah kita, dan terutama kaum muda, sudah diberikan berbagai buku yang berkualitas, yang dapat dijadikan pegangan atau pedoman dalam menjalani kehidupan Kristen? Sudahkah hasrat untuk mencari tahu ajaran iman Katolik dibangkitkan, sehingga kita tidak lagi menjadi orang Katolik yang bodoh, yang tahunya hanya berbuat baik dan mengutamakan hati (keduanya tidak salah, namun perlu dipahami dengan benar)? Sudahkah ada upaya untuk menyediakan buku-buku Katolik yang berguna bagi kaum muda? Sudahkan dilakukan upaya untuk mengajarkan kebijaksaan dan hikmat orang kudus kepada umat beriman?

Saya kira ketiga hal ini cukup berperan sebagai indikator dari sebuah kegiatan rohani, entah berskala kecil ataupun besar. Umat beriman perlu diingatkan pentingnya ketiga hal tersebut: tidak hanya dari tingkat tertinggi, dari paus dan uskup, tetapi juga dari para imam, katekis, guru agama, dan juga keluarga juga harus mengingatkan ketiga hal ini.

Oleh karena itu, hendaklah kita tidak tertipu dengan acara-acara besar, apalagi mewah, yang tentu memiliki tujuan baik. Hendaknya pula kita tidak terjebak dalam pemikiran yang sempit, yang hanya mencari sebuah sensasi, sesuatu yang sepertinya memberikan dampak yang besar, namun ternyata cepat menguap dan menghilang begitu saja. Justru dalam kesederhanaan hidup Kristiani, dalam ketekunan untuk berdoa setiap hari, menerima sakramen tobat secara rutin, menyambut Ekaristi dengan layak dan penuh hormat, kebangkitan rohani dapat dijaga dan selalu kita perhatikan. Tentu ketiganya ini hanyalah sebagian kecil saja dari hal-hal lain yang perlu kita lakukan, misalnya menghayati dan menjalankan 10 Perintah Allah, 5 Perintah Gereja dan Sabda Bahagia.

Saya akan menutup renungan ini dengan perkataan St. Agustinus. Dalam suatu homili, St. Agustinus sangat suka berbicara tentang orang sakit dan dokter, dan ia pun pernah berbicara demikian kepada umatnya: ketika ada orang sakit, kamu dengan cepat dan tergesa-gesa memanggil dokter, berusaha untuk menyelamatkan hidupnya, memberikan ia beberapa hari lebih panjang kendati tetaplah tidak pasti, karena Tuhan tidak pernah menjanjikan hari esok. Kapanpun Tuhan bisa memanggil manusia. Meskipun demikian, kamu berlari dengan kencang, tergesa-gesa untuk bertemu dengan dokter untuk memulihkan kesehatan dari orang yang kamu cintai. Namun bukankah kesehatan kita yang sejati adalah kehidupan kekal, yakni “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia”; sudahkah kita berlari kencang untuk menemui Sang Dokter ilahi, demi memiliki jiwa yang sehat? Marilah kita, dengan kegelisahan dan ketergesaan yang suci, juga berlari kencang di jalan kekudusan, dan dengan penuh kesetiaan melakukan hal-hal kecil (terutama ketiga hal yang saya sebutkan di atas) demi kesehatan rohani kita.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: