Memimpin atau Mempersembahkan Misa?

mass-of-st-john-of-mathaa-1666

“Mass of St. John of Mathaa”, Juan Carreno de Miranda, 1666.

 

Tadi siang dalam suatu grup, saya mendapat pesan demikian:

“Maaf info. Diatas pengucapan: “misa akan dipersembahkan oleh romo…” sebaiknya diperbaiki menjadi: misa akan DIPIMPIN oleh Romo…karena yang mempersembahkan misa adalah kita umat dipimpin oleh romo… maaf juga karena romo tanpa umat berarti romo melakukan doa pribadi. Maka pada umumnya para romo setelah selesai misa mengucapkan terima kasih kepada umat atas kebersamaan dalam mempersembahkan misa…mengharap pendapat apabila ada, sumonggo…”

Nah, setelah ada diskusi singkat mengenai “memimpin” VS “mempersembahkan” di grup tersebut, orang yang sama setelah berkonsultasi dengan seorang imam Jesuit, mengirim pesan demikian:

“Misa akan dipimpin oleh Romo X karena yang mempersembahkan misa ya Tuhan dalam seluruh umat.”

Saya ingin menjelaskan bahwa ada kekeliruan teologis yang serius berkenaan dengan pesan pertama tersebut (pesan kedua menurut saya sangat singkat dan tidak jelas sehingga saya tidak mau menanggapinya).

Pertama, harus dimengerti bahwa Misa adalah “Kurban yang sejati dan berkenan kepada Allah”, dan ini adalah dogma Gereja (lih. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma). Jadi, mari kita membicarakan segala hal terkait Misa dalam konteks kurban, karena inilah Tradisi Gereja yang tetap dipertahankan hingga sekarang. Namun, saat ini ada upaya yang sistematis (entah disadari atau tidak) untuk mengaburkan aspek kurban dalam Misa, khususnya setelah Konsili Vatikan II.

Dalam Perjanjian Lama, kita tahu bahwa aktivitas mempersembahkan kurban dilakukan oleh imam, dan hanya imam saja. Kurban dipersembahkan di atas altar. Seperti inilah Gereja mengartikan kurban Melkisedek sebagai arketipe Kurban Misa.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus merupakan imam dan kurban. Ia adalah imam agung yang mempersembahkan kurban, sekaligus Dialah kurban itu sendiri. Ia mempersembahkan diri-Nya di kayu salib. Perjamuan Terakhir harus kita tempatkan sebagai antisipasi Kurban Salib Kristus.

Tugas untuk menghadirkan Kurban Kristus secara tak berdarah, hanya bisa dilakukan oleh kaum tertahbis, dalam hal ini ialah uskup dan imam. Orang biasa (dalam bahasa kita sekarang, umat awam), tidak akan pernah bisa mempersembahkan kurban. Tanpa imam, tidak ada Misa, tidak ada kurban, tidak ada Ekaristi.

Sekarang, saya mencoba menghadirkan berbagai definisi asal-usul kata berkenaan dengan kata merayakan (celebrate), memimpin (preside), dan mempersembahkan (offer), dan persembahan, saya ambil dari Online Dictionary Etymology:

Celebrate mid-15c.
originally of the Mass, from Latin celebratus “much-frequented; kept solemn; famous,” past participle of celebrare “assemble to honor,” also “to publish; sing praises of; practice often,” originally “to frequent in great numbers,” from celeber “frequented, populous, crowded;” with transferred senses of “well-attended; famous; often-repeated.” Related: Celebrated; celebrating.

preside (v.)
from French présider “preside over, govern” (15c.), from Latin praesidere “stand guard; superintend,” literally “sit in front of,” from prae “before” (see pre-) + sedere “to sit” (see sedentary).

offer (v.)
“to offer, show, exhibit, sacrifice, bring an oblation,” from Latin offerre “to present, bestow, bring before” (in Late Latin “to present in worship“), from ob “to” (see ob-) + ferre “to bring, to carry” (see infer). The Latin word was borrowed elsewhere in Germanic: Old Frisian offria, Middle Dutch offeren, Old Norse offra. Non-religious sense reinforced by Old French offrir “to offer,” from Latin offerre. Related: Offered; offering.

offering (n.)
late Old English offrung “the presenting of something to a deity; a thing so presented,” verbal noun from offrian (see offer (v.)). Of presentations to a person from mid-15c.; to the public from 1834.

Perhatikan bagian yang saya tebalkan. Dalam kata persembahan (offering) dan mempersembahkan (offer), ada nuansa penyembahan terhadap yang ilahi. Hal ini sangat berbeda dengan kata memimpin (preside), kata merayakan (celebrate) masih memiliki nuansa sesuatu yang agung (solemn), namun kurang eksplisit dalam menekankan aspek penyembahan terhadap yang ilahi.

Logika sederhananya begini: kata “memimpin” itu terlalu umum dan sekuler, bisa digunakan untuk hal-hal yang non-religius, misalnya: memimpin upacara bendera, memimpin rapat, memimpin pertandingan, memimpin barisan, dst. Kata memimpin dapat digunakan untuk aktivitas yang sifatnya sekuler atau duniawi, walaupun bisa juga digunakan dalam aktivitas yang sifatnya religius, misalnya: memimpin doa, memimpin ibadat, juga dalam memimpin misa. Namun, ada istilah yang lebih spesifik, yang lebih tepat dan lebih menampilkan dogma Ekaristi sebagai Kurban secara eksplisit, yakni kata “mempersembahkan”. Kata “mempersembahkan” merupakan kata yang khas Katolik. Makanya ada istilah “Holy Sacrifice of the Mass“, Kurban Kudus Misa. Tentunya Kurban Kudus ini dipersembahkan kaum tertahbis.

Seorang pemimpin (presider) bisa siapa saja, tidak harus imam, dan belum tentu juga sang pemimpin adalah imam. Namun seorang imam sudah pasti memimpin, dan juga mempersembahkan Kurban Misa. Seorang imam disebut pemimpin, dalam arti ia adalah kepala dari tubuh jemaat umat beriman. Ia dapat memimpin karena ia memiliki peran sebagai perantara dalam mempersembahkan kurban kepada Allah. Namun  kata “imam” dan “mempersembahkan” memiliki makna teologis yang erat kaitannya dengan aspek kurban Misa. Karena imam adalah perantara Allah dan manusia, dan memang menjadi tugasnya untuk mempersembahkan kurban.

Selanjutnya, kita harus membedakan antara imamat umat beriman dan imamat khusus. Father John Zuhlsdorf menjelaskan demikian:

“Ada perbedaan kualitatif dalam cara semua umat beriman berpartisipasi dalam imamat Kristus Imam Agung dan bagaimana imam tertahbis berpartisipasi dalam imamat Kristus (Lumen Gentium 10). Sakramen Imamat memberikan perbedaan imamat secara kualitatif terhadap pria yang ditahbiskan. Tahbisan Suci mengubah sang imam secara ontologis. Kaum terbaptis mempersembahkan kurban rohani yang berkenan bagi Allah karena mereka berpartisipasi dalam imamat Kristus dalam cara mereka. Tetapi apa yang dilakukan imam itu berbeda.

Secara eksplisit, ketika imam mengucapkan Misa, transubstansiasi terjadi. Ia terjadi apakah imam sendirian atau ada umat yang hadir. Orang awam, mengucapkan kata-kata [konsekrasi] yang sama terhadap roti dan anggur, tak ada yang berubah. Ratusan, ribuan, jutaan orang awam yang mengucapkan hal tersebut juga tak akan mengubah apapun. Apa yang dapat dilakukan orang awam ialah dengan segenap hati, pikiran, dan kehendak, menyatukan kurban rohani mereka kepada apa yang imam lakukan. Imam membaharui kurban Kristus yang menyelamatkan. Orang awam berpartisipasi dalam pembaruan ini juga dengan menyatukan dirinya dengan apa yang imam lakukan. Dan ini juga suatu partisipasi yang nyata!”

Cara kaum awam mempersembahkan kurban rohani mereka adalah dengan menyatukannya kepada apa yang dilakukan imam. St. Thomas Aquinas pun menjelaskan, ketika menjawab pertanyaan “apakah hanya imam yang berhak membagikan sakramen Ekaristi”:

Tanggapan terhadap keberatan 2: ….“Kedua, karena imam adalah perantara terpilih antara Allah dan manusia; dengan demikian hanya ia yang berhak mempersembahkan persembahan umat kepada Allah..” (Sumber)

Konsep “perantara” itu merupakan pemahaman yang menjadi ciri khas ajaran Katolik. Sejak kejatuhan manusia pertama, relasi antara manusia dan Allah terputus. Kurban Perjanjian Lama, yang dipersembahkan manusia, tidak akan pernah dapat memulihkan relasi manusia dan Allah yang rusak ini, dan karenanya mereka menantikan sebuah Kurban yang sejati: Kurban Kristus di Salib, Kristus yang adalah Allah dan manusia, sekaligus juga imam dan kurban. Hanya kurban Kristulah yang mampu memulihkan relasi antara Allah dan manusia. Dan kuasa untuk menghadirkan kembali Kurban Kristus ini, diberikan kepada kaum tertahbis melalui sakramen tahbisan suci atau imamat.

Jadi, mau menggunakan kata “memimpin” atau “mempersembahkan”? Gunakanlah kata “mempersembahkan” karena kata tersebut memiliki makna teologis yang lebih baik.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: