St. Agustinus: Uskup, Doktor Gereja dan Peniten yang Rendah Hati

I

nb_pinacoteca_coello_claudio_the_triumph_of_st_augustineHari ini kita memperingati St. Agustinus, Uskup dan Doktor Gereja. Sudah layak dan sepantasnya, kita menghaturkan puji dan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus, karena di sepanjang sejarah perjalanan Gereja, Allah selalu membangkitkan putra-putrinya, memberkati mereka dengan rahmat berlimpah, sehingga hidup dan karya mereka menjadi sebuah pujian yang hidup bagi Allah kita. Tidak hanya itu, para kudus memberikan kita sebuah kepastian yang kokoh: bahwa kekudusan merupakan hal yang dapat digapai oleh kita semua.

Dalam saat penuh rahmat ini, sudah menjadi tradisi gereja bahwa pribadi-pribadi yang menampilkan teladan kekudusan tertinggi, dijunjung tinggi dan diberikan penghormatan mendalam dalam Liturgi Gereja. Oleh karena itu, saat ini tentu menjadi saat yang tepat bagi kita untuk menggali kembali teladan kekudusan St. Agustinus yang hidup sekitar 1600 tahun yang lalu.

Saya akan membuka renungan ini dengan kutipan St. Agustinus yang berasal dari autobiografinya yang terkenal, yakni The Confessions:

“Maka apa yang ada antara diriku dan orang banyak sehingga mereka harus mendengarkan pengakuanku, seakan-akan merekalah yang akan menyembuhkan segala penyakitku? Betapa orang macam itu ingin mengetahui kehidupan orang lain, malas membetulkan kehidupan sendiri! Mengapa mereka mencoba mendengar dariku siapakah aku ini, mereka yang tidak mau mendengar dari-Mu siapakah mereka?”

Perkataan St. Agustinus di atas menunjukkan pada kita sebuah disposisi yang tepat dalam menghayati kehidupan para kudus: kita memperingati dan menghayati kekudusan mereka, pertama dan terutama dengan maksud untuk memperbaiki hidup kita, bukan hanya sekedar berusaha menjadi orang yang baik, melainkan berupaya sungguh menjadi orang yang kudus.

Bagaimana kekudusan ini dicapai? Berdasarkan kutipan tersebut, St. Agustinus menekankan pentingnya sebuah pengetahuan akan diri kita sendiri, yang tidak hanya berlandaskan pada opini dan pendapat orang lain, melainkan sebuah pengetahuan yang memiliki sumber utamanya dari Allah. Bila kita telah membaca dan mencermati buku Pengakuan St. Agustinus, maka kita dapat melihat bahwa buku ini memiliki ciri yang unik: isinya tidak hanya bersifat kehidupan personal St. Agustinus, melainkan kehidupan pribadi yang ditempatkan dalam percakapan dengan Allah, diperiksa dalam terang kebenaran ilahi, sehingga menjadi jelaslah kenyataan tentang siapa diri kita dan siapakah Allah. Dengan demikian, pengenalan yang mendalam akan diri kita dan Allah, adalah langkah awal bagi kita yang memulai untuk melangkah di jalan kekudusan.

Kesaksian St. Agustinus menyingkapkan dengan gamblang bahwa dirinya bukanlah seorang yang sudah kudus sejak lahir hingga wafatnya. Masa mudanya dihabiskan dengan mengembara di jalan duniawi, jalan yang kian jauh dari iman Katolik, dan konsekuensinya, ia kehilangan Allah dan juga kehilangan dirinya sendiri.

Agustinus bertualang cukup lama sebelum ia akhirnya bertobat dan dibaptis oleh St. Ambrosius. Petualangan Agustinus ini mengingatkan saya akan perumpamaan Injil Lukas tentang anak yang hilang, yang mengembara di tempat yang jauh dari rumah bapanya, dan setelah mengalami kesengsaraan dunia memutuskan untuk kembali pulang.

Di jaman modern ini, tidak hanya seorang anak yang dapat disebut anak yang hilang. Kini pun dapat kita jumpai seorang bapa yang hilang. Imam adalah seorang bapa rohani bagi umatnya, namun di manakah mereka ketika umatnya hendak mengakui dosa-dosanya? Di manakah mereka ketika umatnya terombang-ambing oleh pengajaran yang palsu, oleh kenikmatan dunia ini? Apakah mereka sungguh mengajarkan ajaran iman dalam kesetiaan dengan Magisterium Gereja, ataukah yang diajarkan adalah pemikiran dan pendapat pribadi mereka semata?

Tidak hanya para bapa yang hilang, ayah dan ibu dalam keluarga pun dapat menjadi sosok orangtua yang hilang. Ketika orangtua memutuskan supaya anaknya memilih agama yang harus mereka anut sendiri, ketika orangtua tidak lagi bertanggung jawab dalam mendidik iman anak-anak mereka, melainkan malah menyerahkannya kepada sekolah dan gereja, ketika orangtua tidak mendoakan keselamatan jiwa anak mereka, dan membiarkan mereka meninggalkan iman Katoliknya, di manakah mereka?

Ini hanya sebagian kecil dari permasalahan iman yang saya ketahui. Situasi ini sungguh merupakan kejadian yang menyedihkan, ketika keluarga menjadi kehilangan arah dan tidak lagi melangkah bersama menuju kehidupan kekal, maka Allah sungguh telah dilupakan dan tidak lagi menjadi pusat kehidupan kita.

Buah rohani apa yang dapat kita petik dari kehidupan St. Agustinus, yang kiranya tetap relevan bagi jaman kita? Seluruh tema hidup St. Agustinus dapat dirangkum dalam dua kata latin berikut: quarere deum, yang berarti mencari Allah. Mencari Allah dan membiarkan diri kita ditemukan oleh-Nya. Ya, kita perlu terus-menerus mencari Allah, menemukan Dia, dan setia kepada-Nya, sehingga kita dapat tetap berjuang di tengah kehidupan yang mulai mengabaikan kehadiran Allah.

Hendaknya dalam peringatan St. Monika yang kita rayakan kemarin, dan juga peringatan St. Agustinus hari ini, kita dapat meneladani keluarga kudus tersebut, sehingga ketika keluarga kita berada di tengah kesulitan dan kesusahan dunia, kita tidak kehilangan arah, dan dapat mengarunginya dengan memandang kepada teladan kekudusan St. Monika dan Agustinus. Dengan mengenang kesaksian hidup mereka, kita akan semakin diingatkan panggilan kita untuk menggapai kekudusan di tengah dunia.

II

“Merupakan kewajiban penafsir Kitab Suci dan juga pembela iman sejati serta penentang kekeliruan, untuk mengajarkan yang benar dan membantah kekeliruan, dan dalam melaksanakan tugas ini, [mereka] mendamaikan yang berseteru, membangunkan yang ceroboh, dan memberitahu yang tak tahu apa yang terjadi di masa kini dan apa yang mungkin di masa depan.”

nb_pinacoteca_huguet_st_augustine_is_ordained_bishopMari kita melanjutkan renungan ini dengan mengarahkan perhatian kita kepada peran yang diemban oleh St. Agustinus sebagai Uskup, Doktor Gereja, dan Peniten (seseorang yang bertobat).

Uskup berasal dari kata episkopos, yang berarti seseorang yang mengawasi, seorang penjaga atau pelindung. St. Petrus menggambarkan Yesus sebagai Gembala dan Uskup bagi jiwa-jiwa (1 Pet 2:25), dan karenanya Yesus memang menjadi teladan bagi para uskup. Dari apakah para uskup harus melindungi umatnya? Dari serangan serigala-serigala jahat yang berusaha membunuh jiwa-jiwa, dan dari gembala palsu yang berusaha memberikan racun kepada para umat gembalaannya, dan bukannya memberi makanan yang menyehatkan.

Seorang uskup dapat dikatakan berhasil melindungi umatnya bila ia melaksanakan kedua tugasnya dengan baik: pelayanan Sabda dan sakramen. Berkenaan dengan pewartaan Sabda Allah, maka perlu ditegaskan peran Agustinus sebagai seorang Doktor: seseorang yang bertanggung jawab dalam menyampaikan kebenaran yang telah direnungkan sebelumnya. Peran Agustinus yang tak kenal lelah dalam mengajarkan kebenaran dan melawan kesesatan, menunjukkan kesatuan antara kehidupan kontemplatif dan kehidupan aktif. Permenungan akan Sabda Allah dalam doa, yang kemudian dibagikan melalui pengajaran kepada umat beriman. Inilah yang menjadi ciri khas para raksasa iman yang menyandang gelar Doktor Gereja.

Sayangnya, kerap kali kita temukan adanya kardinal, uskup, dan imam yang tidak mengajarkan kebenaran iman seperti yang diwartakan Gereja terus menerus. Mereka menggantikan pengajaran iman yang kekal dan mendalam, dengan sebuah ajaran ciptaan mereka yang menyesatkan dan membingungkan umat beriman. Ada kalanya, kaum awam yang memiliki pengetahuan yang baik dalam teologi, mau tidak mau harus mengambil tanggung jawab dalam mengoreksi kekeliruan dan kekacauan yang beredar. Dalam situasi inilah teladan St. Agustinus sangat berfaedah bagi kita: kesesatan harus dihancurkan, kebenaran harus ditegakkan, dan hal ini harus diwujudkan dalam kasih.

Pewartaan akan Sabda Allah yang sejati merupakan bagian penting dalam kehidupan Gereja, karena manusia tidak hidup dari roti saja, melainkan dari setiap perkataan yang berasal dari mulut Allah. Selain itu, makanan rohani lainnya yang menyehatkan jiwa kita ialah sakramen Ekaristi. Agar Ekaristi sungguh menjadi makanan yang menyembuhkan jiwa, maka kita perlu selalu berada dalam kondisi berahmat. Sakramen pengampunan dosa merupakan sarana yang paling ampuh dalam memulihkan kondisi kita sebagai anak-anak Allah. Oleh karena itu, dalam pelayanan sakramen, seorang uskup haruslah bertindak sebagai seorang gembala yang peduli akan keselamatan jiwa domba-dombanya.

Hal apa yang membuat aktivitas pastoral St. Agustinus memberi dampak yang besar, tidak hanya di jamannya tetapi juga sampai ke jaman kita? Ketika St. Agustinus memasuki masa-masa perpisahan akhir untuk menyambut keabadian, ia jatuh sakit. Namun ia tetap meminta agar dinding kamarnya ditempelkan ayat Mazmur pertobatan yang ditulis dengan ukuran huruf yang besar, agar sambil berbaring di tempat tidur, ia dapat selalu mendaraskannya.

Kerendahan hati sebagai seorang peniten, seseorang yang terus menerus menyesali dan meratapi dosanya, sambil memohon belas kasih dan pengampunan Allah, inilah yang menjadi salah satu kekuatan St. Agustinus. Agustinus sungguh menyadari, bahwa kehidupan Kristen yang sejati seperti yang digambarkan dalam khotbah di bukit, hanya terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Seperti yang dijelaskan oleh Paus Benediktus XVI:

“Kita selalu perlu dibasuh oleh Kristus, yang membasuh kaki kita, dan diperbarui oleh-Nya. Kita memerlukan pertobatan yang tiada henti, yang setiap harinya dalam doa kita ucapkan: ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. Hingga akhir hidup kita, kita memerlukan kerendahan hati yang menyadarkan kita bahwa dalam peziarahan ini, kita adalah pendosa, hingga Tuhan menjulurkan tangan-Nya secara definitif dan mengantar kita ke dalam kehidupan kekal. Kerendahan hati inilah yang dijalani hari demi hari, hingga wafatnya.”

Marilah kita terus berjaga-jaga dengan menumbuhkan kerendahan hati sebagai seorang peniten, agar ketika Allah menjemput kita untuk memasuki keabadian, maka kita akan mengalami persatuan dengannya dalam kebahagiaan kekal. Amin.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: