[Review] “Saint Martin de Porres: Apostle of Charity” oleh Giuliana Cavallini

deporresJudul: Saint Martin de Porres: Apostle of Charity

Penulis: Giuliana Cavallini

Penerbit: TAN Books

Imprimatur: +Cletus F. O’Donnel, J. C. D. Vicar General, September 19, 1963.

Cetakan: 1973

Jumlah halaman: ix + 254

Reviewer: Cornelius


Berbeda dengan review sebelumnya yang memperoleh dua rahib unyu. Untuk karangan biografis mengenai St. Martin de Porres, saya tidak ragu dan segera memberikan rating lima rahib unyu serta merekomendasikan bagi siapa saja untuk mengenal dan mengahayati kisah hidupnya (khususnya bagi anggota Dominikan Awam, karena Martin adalah seorang saudara awam (lay brother) dalam Ordo Dominikan).

Sejujurnya, saya tidak menyangka bahwa saya akan terpikat dengan santo yang satu ini. Tipe-tipe santo/a yang dapat membuat saya merasa connected adalah tipe santo/a yang intelektual, yang siap menderita, dan yang memiliki kelemahan manusiawi dan mengakuinya dengan jelas, namun berkat rahmat Tuhan berhasil mengatasinya (sebut saja St. Agustinus, St. Teresa Benedikta, dan St. Petrus sebagai contoh). Dan tentunya, santo yang identik dengan sapu ini (karena salah satu pekerjaannya ialah sebagai tukang sapu) awalnya bukanlah santo yang dapat mempesona saya. Itu pemikiran saya sebelum membaca buku ini.

St. Martin de Porres, menurut saya, dapat digolongkan sebagai santo yang sejenis dengan St. Fransiskus Asisi (dan sungguh saya tidak bisa merasa “nyambung” dengan St. Fransiskus). Sama-sama memutuskan hidup miskin, sama-sama memiliki kerendahan hati dan menjalani hidup dalam kondisi yang sangat hina (status martin sebagai lay brother merupakan posisi yang terendah dalam Ordo Dominikan, karena dalam statusnya ini, bayangkan saja santo ini melakukan semua pekerjaan yang layaknya dilakukan seorang pembantu), dan mereka juga sama-sama merupakan seorang yang menebarkan aroma kekudusan sudah sejak mereka hidup dan berkarya di tengah banyak orang.

Keahlian yang dimilikinya ialah sebagai seorang tukang cukur dan juga seorang dokter, bahkan ia pun berhasil melampaui kehebatan gurunya. Namun sejak kecil Martin sudah menampakkan tanda-tanda kekudusan: ia sudah tertarik dalam kehidupan doa yang mendalam di hadapan Kristus yang tersalib. Martin tidak banyak memiliki talenta atau karunia kodrati (hanya sebagai seorang penyembuh atau dokter), namun dalam biografi ini, kita dapat melihat bagaimana karunia tunggal ini sungguh digunakan secara maksimal, dan betapa ia memiliki banyak karunia pada tingkat supernatural/adikodrati. Keberadaan Martin bukan sekedar ada demi dirinya saja, ia ada demi Kristus, untuk melayani Kristus, dalam persatuan yang intim dengan Dia yang tersalib. Kepeduliannya dan kasihnya terhadap orang-orang miskin, sakit dan membutuhkan membuat saya menganggapnya sebagai santo yang paling empatik terhadap orang lain. Tidak hanya itu, walaupun kondisi hidupnya mirip seperti seorang pembantu, namun ia sangatlah bijaksana dalam perkara rohani. Ia tahu nasihat yang tepat bagi setiap orang yang datang kepadanya, bahkan Ia memiliki pengetahuan mengenai Summa Theologica, sebuah masterpiece karya St. Thomas Aquinas, padahal ia tidak pernah menjalani studi teologi! Tepatlah apa yang dikatakan Aquinas, bahwa sesungguhnya kita dapat memahami lebih banyak dengan berkontemplasi dalam doa di hadapan Kristus, jauh lebih banyak daripada membaca buku (bukan berarti membaca buku itu jelek dan tidak berguna, namun dalam membaca buku, kita pun harus melakukannya dengan disposisi tertentu agar bacaan tersebut dapat memberikan buah rohani bagi jiwa kita).

Buku ini merupakan kesaksian yang berharga akan kekudusan santo berkulit negro ini. Tidak hanya berbagai kisah dan mukjizatnya, kita pun dapat mengetahui kata-kata yang diucapkan Martin (ada banyak quotes yang berasal dari Martin sendiri, yang saya yakini dapat menginspirasi pembaca). Menurut saya, penulisnya juga mampu menuliskan riwayat hidup Martin dengan sangat indah dan mampu menyentuh kedalaman hati saya yang membacanya, sehingga kini saya menjadikan ia sebagai santo pelindung saya, dan sudah mulai berdoa kepadanya.

Saya tidak mau menghujani pembaca dengan kata-kata berlimpah mengenai kehebatan dan kekudusan Martin. Saya bisa menuliskannya hingga menjadi sebuah esai, namun cukuplah sekian saja. Bagi yang merasa tertarik dan penasaran, bukunya hanya bisa dipesan online di penerbit TAN Books.

5rahib

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: