Pidato Paus Benediktus XVI mengenai Musik Suci: “Musik Suci adalah Gambaran Kebenaran Kekristenan”

Berikut ini merupakan terjemahan ungkapan syukur Paus Benediktus XVI ketika ia menerima gelar Honoris Causa dari Universitas Kepausan Krakow Yohanes Paulus II, dari Akademi Musik Krakow, Polandia.

***

Yang Utama!

Yang Mulia!

Profesor yang terhormat!

Saudara dan saudari!

pope5n-3-webSaat ini saya hanya bisa mengungkapkan ungkapan syukur bagi gelar penghormatan yang kalian berikan pada saya, Doctoratus Honoris Causa. Saya berterima kasih kepada Yang Mulia Kardinal Stanislaw Dziwisz, dan kepada para pejabat Akademik dari Athenaeums. Saya bersukacita terutama karena dengan cara ini, ikatan saya dengan Polandia, dengan Krakow, dengan tanah kelahiran Santo kita yang agung Yohanes Paulus II, menjadi lebih dalam, karena tanpanya, perjalanan rohani dan teologis saya tidak mungkin terjadi. Dengan teladannya yang cemerlang ia juga menunjukkan kita bagaimana sukacita musik sakral yang agung dan tugas partisipasi bersama dalam liturgi suci, sukacita agung dan kesederhanaan perayaan iman yang rendah hati, dapat berjalan berdampingan.

Beberapa tahun setelah Konsili Vatikan II, dalam hal ini, terdapat perdebatan lama yang terwujud dalam semangat baru. Saya dibesarkan di Salisburghese, yang ditandai oleh tradisi agung kota ini. Merupakan hal yang lazim di sini bahwa Misa Minggu ditemani oleh paduan suara dan orkestra, yang merupakan bagian integral pengalaman iman kami dalam perayaan liturgi. Tak terhapuskan kesan dalam ingatan saya, ketika nada pertama Misa Pemahkotaan yang digubah Mozart bergema, Surga secara virtual terbuka dan kehadiran Tuhan dirasakan secara mendalam. Dan syukur juga saya ucapkan kepada kalian semua, yang memampukan saya mendengar Mozart dan juga bagi Paduan Suara yang menyanyikan lagu yang indah! Selain hal ini, tentu, sudah hadir juga realita baru dari Gerakan Liturgis, khususnya melalui salah satu chaplain yang kemudian menjadi wakil daerah dan kemudian Rektor Seminari Utama Freising. Lalu, selama studi saya di Monaco Bavaria, saya masuk secara lebih konkret dalam Gerakan Liturgis melalui pelajaran Profesor Pescher, satu dari para ahli penting dalam Konsili berkenaan dengan persoalan liturgis, dan terutama melalui kehidupan liturgis dalam komunitas di Seminari. Jadi, sedikit demi sedikit, ketegangan antara partisipasi aktif dalam kesesuaiannya dengan liturgi, dan musik yang agung yang menaungi tindakan suci, ketegangan keduanya menjadi nyata, bahkan ketika saya belum memahaminya dengan jelas.

Tertulis dengan sangat cerdas dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci dari Konsili Vatikan II, bahwa “warisan musik suci harus dipelihara dan ditambah dengan hati-hati” (1124). Di sisi lain, teks Konstitusi memberikan bukti, bahwa partisipasi aktif semua umat beriman merupakan kategori liturgis yang fundamental. Apa yang ada dalam Konstitusi tentang Liturgi adalah dua hal yang ada dalam relasi yang damai [yakni mengenai musik suci dan partisipasi aktif], namun setelahnya, dalam penerimaan Konsili, hal tersebut ada dalam ketegangan. Sebagian kelompok Gerakan Liturgis berpendapat bahwa untuk paduan suara yang menyanyikan karya-karya besar, dan bahkan untuk Misa yang dirayakan dengan orkestra, ruang bagi mereka hanya ada di panggung konser, dan tidak dalam liturgi. Dalam liturgi hanya ada tempat bagi nyanyian dan doa bersama umat beriman. Di sisi lain, ada kekhawatiran terhadap pemiskinan budaya Gereja, yang berasal dari hal ini. Dalam cara seperti apa kedua hal tersebut dapat didamaikan? Bagaimana Konsili dapat diterapkan dalam keutuhannya? Inilah pertanyaan yang diajukan pada saya dan banyak umat beriman, pada orang-orang sederhana juga kepada mereka yang menjalani formasi teologis.

Pada titik ini, mungkin benarlah bila kita mengajukan pertanyaan mendasar: Sesungguhnya apakah musik itu? Dari mana ia berasal dan kemana ia mengarah?

Saya pikir ada tiga “tempat” yang dapat kita temukan, yang darinya musik berasal.

Sumber pertama ialah pengalaman kasih. Ketika manusia terpesona oleh kasih, dimensi keberadaan yang baru terbuka bagi mereka, keagungan yang baru, dan luasnya realita, dan ia juga mendorong seseorang mengungkapkan diri dalam cara baru. Puisi, nyanyian dan musik secara umum berasal dari pengalaman kasih yang melanda mereka, dan dengan cara ini membuka diri seseorang bagi dimensi hidup yang baru.

Asal muasal musik yang kedua ialah pengalaman akan kesedihan, pengalaman disentuh kematian, melalui dukacita dan jurang eksistensi. Terbuka juga dalam hal ini, dalam arah yang berlawanan, sebuah dimensi realita baru yang tidak lagi dapat menemukan jawabannya dalam percakapan saja.

Akhirnya, asal muasal musik yang ketiga ialah perjumpaan dengan yang ilahi, yang sedari awal merupakan bagian dari apa yang mendefinisikan manusia. Terlebih di sini, yang lain secara utuh, dan yang agung secara utuh hadir, yang membangkitkan dalam diri manusia, cara baru mengungkapkan dirinya. Kelihatannya mungkin untuk menegaskan bahwa dalam dua jangkauan lainnya – kasih dan kematian – misteri ilahi menyentuh kita, dan dalam pengertian ini, pengalaman disentuh Allahlah, yang membentuk asal usul musik. Saya tergerak ketika mengamati bagaimana dalam Mazmur nyanyian tidak lagi memadai bagi manusia – sebuah seruan dibuat bagi semua instrumen: terbangunkanlah ciptaan musik yang tersembunyi, bahasanya yang misterius. Bersama Pemazmur, dua motif kasih dan kematian juga bekerja, kita secara langsung menemukan asal muasal musik suci Gereja Allah. Dapat dikatakan bahwa kualitas musik bergantung pada kemurnian dan keagungan perjumpaan dengan yang ilahi, dengan pengalaman kasih dan rasa sakit. Semakin murni dan sejati pengalaman ini, semakin murni dan agung juga musik yang lahir dan berkembang darinya.

Dalam hal ini, saya ingin mengungkapkan sebuah pemikiran yang mencengkram saya, lebih-lebih karena perbedaan budaya dan agama masuk dalam relasi di antara mereka. Hadir pula dalam batasan perbedaan budaya dan agama ini, literatur, arsitektur, lukisan dan pahatan yang agung. Dan di mana-mana juga terdapat musik. Namun tidak ada dalam batasan budaya lainnya ditemukan musik yang keagungannya setara dengan musik yang lahir dalam batasan iman Kristen: dari Palestrine hingga Bach, Handle, sampai dengan Mozart, Beethoven, dan Bruckner. Musik barat adalah unik, yang tidak memiliki kesetaraan yang salam dalam budaya lain. Hal ini, tampak bagi saya, semestinya membuat kita berpikir.

Pope+Benedict+XVI+Holds+Holy+Mass+St+Mary+AyeanwSZZrblTentu, musik Barat melampaui ruang lingkup religius dan gerejawi. Namun ia menemukan asal usul terdalamnya, dalam liturgi perjumpaan dengan Allah. Dalam Bach, yang baginya kemuliaan Allah mewakili tujuan tertinggi dari semua musik, hal ini tampak jelas. Jawaban yang agung dan murni akan musik Barat dikembangkan dalam perjumpaan dengan Allah, yang dalam liturgi, menghadirkan diri-Nya bagi kita dalam Yesus Kristus. Bagi saya, musik tersebut adalah gambaran kebenaran Kekristenan. Di mana pun jawaban tersebut dikembangkan, telah ada perjumpaan dengan kebenaran, dengan Pencipta dunia yang sejati. Maka, musik suci yang agung adalah realita dalam tingkat teologis dan memiliki makna yang kekal bagi iman seluruh Kekristenan, bahkan bila ia tidaklah perlu untuk dilakukan selalu dan di mana saja. Di sisi lain, juga jelas bahwa ia tidak dapat menghilang dari liturgi, dan bahwa kehadirannya secara bersamaan dapat menjadi cara khusus dalam partisipasi perayaan suci, dalam misteri iman.

Jika kita memikirkan liturgi yang dirayakan oleh St. Yohanes Paulus II di setiap benua, kita semua melihat betepa luas kemungkinan ungkapan iman dalam peristiwa liturgis; dan kita juga melihat betapa musik agung tradisi Barat bukanlah hal yang asing bagi liturgi, tetapi lahir dan bertumbuh darinya dan dalam cara ini berkontribusi lagi serta memberinya bentuk. Kita tidak tahu masa depan budaya kita dan musik suci. Namun, ada sesuatu yang tampak jelas bagi saya: ketika sungguh ada perjumpaan dengan Allah yang hidup yang datang pada kita dalam Kristus, lahir dan tumbuh lagi adalah jawabannya, yang keindahannya berasal dari kebenaran itu sendiri.

Aktivitas dua universitas yang memberikan saya gelar Honoris Causa, yang terhadapnya saya dengan segenap hati mengucapkan terima kasih, merupakan sebuah kontribusi hakiki agar karunia musik, yang berasal dari tradisi iman Kristen, dapat tetap hidup dan menjadu penolong agar daya kreatif iman tidak lenyap pula di masa depan. Untuk hal ini, saya berterima kasih dengan segenap hati kepada kalian semua, tidak hanya bagi gelar kehormatan yang kalian berikan pada saya, tetapi juga atas semua karya yang kalian lakukan demi melayani keindahan iman. Semoga Tuhan memberkati kalian semua.

Sumber terjemahan: Zenit.org

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: