5 Mitos tentang Liturgi Gereja Perdana yang Sering Digencarkan oleh Ahli Liturgi Modern

RCMModernWorship-770x439_c

“Di satu sisi, ada penafsiran yang saya sebut sebagai ‘penafsiran yang terputus’ (hermeneutic of discontinuity); penafsiran ini menuai simpati dari media massa, dan juga salah satu tren teologi modern… Penafsiran yang terputus ini berbahaya karena berpotensi memecah Gereja pra-Konsili (Vatikan II) dan Gereja pasca-Konsili… Dengan kata lain: orang diharapkan bukan untuk mengikuti teks-teks Konsili melainkan ‘semangat’-nya. Jelas, istilah ‘semangat’ ini memiliki ruang yang terbuka lebar bagi definisi dan pemaknaan, dan akibatnya kita dengan leluasa memberi tempat bagi segala keinginan dan tingkah manusia…”

—Paus Benediktus XVI

Pada tahun-tahun setelah Konsili Vatikan II, beberapa ahli liturgi modern yang berpengaruh memanfaatkan media massa—dengan menggunakan jargon “Semangat Vatikan II” (Spirit of Vatican II)—untuk meniupkan perubahan-perubahan “radikal” terhadap liturgi, yang kini membuat Gereja Katolik terpecah dan berkurang. Tujuan dari perubahan-perubahan ini—menurut mereka—adalah untuk mengembalikan liturgi seturut masa Gereja Perdana.

Dalam artikelnya Five Myths About Worship in the Early Church, Michael P. Foley menyingkap mitos-mitos umum tentang liturgi Gereja Perdana yang seeing digencarkan oleh kaum modern.

1. Misa menghadap umat

Setelah mempelajari altar-altar yang berdiri sendiri (free-standing) di gereja-gereja purba, para ahli liturgi di tahun 1930-an menyimpulkan bahwa dahulu imam merayakan Misa “menghadap umat”. Konon praktek ini berubah akibat pengaruh klerikalisme abad pertengahan sehingga imam merayakan Misa “membelakangi umat”. Pemikiran ini meracuni para ahli sekitar Vatikan II (1962-1965).

Kelak, beberapa ilmuwan mulai mempelajari kembali bukti-bukti yang ada dan menemukan bahwa bukti tidak mendukung pemikiran yang beredar. Mereka menemukan bahwa ada tradisi tak terputus—baik di Gereja Barat maupun Gereja Timur—di mana imam dan umat sama-sama merayakan Misa menghadap arah yang sama, yaitu arah timur.

Paus Benediktus XVI telah mencoba menyebarluaskan fakta-fakta hasil penelitian tersebut. Namun sayangnya, jutaan dollar telah dihabiskan untuk menghancurkan high altar (altar lama yang menempel ke dinding -ed-) yang indah dan menggantinya dengan meja altar, semuanya mengatasnamakan “liturgi Gereja Perdana”. Andai saja mitos ini terpecahkan lebih cepat.

2. Komuni di tangan dan dalam dua rupa

Mitos tentang Komuni Kudus mengikuti pola yang sama. Lima puluh tahun yang lalu, klaim bahwa “Komuni di tangan” merupakan praktek yang lazim di Gereja Perdana, diyakini oleh semua orang, bahkan oleh mereka yang menentang praktek tersebut. Namun sekarang, kita tidak begitu yakin lagi.

Yang bisa kita katakan adalah, memang beberapa komunitas Kristen mempraktekkan Komuni di tangan, namun Komuni di lidah pun memiliki akar yang tak kalah purba. Dan ketika Komuni di tangan dilakukan, si penerima menerimanya dari imam (dan hanya dari imam), dan memasukkannya ke mulut dengan satu tangan itu saja, tanpa tangan yang lain ikut menyentuhnya. Bahkan di beberapa tempat, wanita perlu membungkus tangannya dengan kain putih saat menerima Komuni di tangan.

Kita lebih pasti bahwa Gereja Roma dahulu selalu memberikan Komuni dua rupa (seperti praktek di Gereja Timur), tetapi kita tidak tahu persisnya bagaimana. Satu praktek yang menarik, yang lazim pada abad ke-7, adalah seorang diakon mengedarkan Darah Kudus dengan sedotan emas. Beberapa orang menduga bahwa sedotan itu digunakan ibarat pipet: pertama, ia dicelupkan ke dalam cawan (yang hanya boleh disentuh oleh imam atau uskup), ujung atasnya ditutup dengan jari, lalu sedotan dibawa ke mulut penerima yang terbuka, kemudian jari yang menutup itu diangkat untuk melepaskan isinya.

Singkatnya, Komuni Kudus tidak dibagikan seolah makanan cepat saji, seperti yang terjadi saat ini., di mana kita memiliki beberapa baris antrean sekaligus, dan penerima Komuni menyentuh Hosti atau Cawan Suci dengan tangan sendiri. Kebiasaan modern kita saat ini lebih mirip Protestan daripada Gereja Perdana. Benediktus XVI, yang mendalami ajaran Bapa-Bapa Gereja, tidak lagi membagikan Komuni di tangan.

3. Bahasa vernakular (bahasa sehari-hari)

Mitos lain lagi yang meluas adalah bahwa Gereja Perdana merayakan Misa “dalam vernakular”. Tetapi ketika Yesus beribadah di sinagoga, bahasa yang digunakan di sana adalah bahasa Ibrani, yang pada waktu itu sudah menjadi bahasa mati selama 300 tahun. Dan selama 3 abad pertama di Roma, Misa dirayakan dalam bahasa Yunani, bukan Latin, dan hanya sedikit dari kumpulan umat yang dapat memahami bahasa ini.

Ketika Misa akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, bahkan teksnya masih mempertahankan elemen-elemen bahasa Latin seperti “amin” dan “alleluia” (Ibrani) dan “Kyrie” (Yunani). Selanjutnya, bahasa Latin yang digunakan untuk menerjemahkan liturgi berbeda dari bahasa Latin sehari-hari: Latin liturgi memiliki grammar yang berbeda dan di sana-sini memiliki unsur bahasa yang kuno. Dengan kata lain, bahkan saat Misa dirayakan dalam bahasa yang dapat dimengerti umat pada waktu itu, tetap Misa tidak dirayakan dalam bahasa “vernakular”—yaitu bahasa sehari-hari yang umum digunakan di jalan-jalan.

Alasannya sederhana: Gereja yang apostolik—bahkan lebih luas lagi, setiap agama besar di dunia—selalu memiliki “bahasa kudus”-nya atau “bahasa ibadat”-nya, yaitu piranti berbahasa yang lain dari bahasa sehari-hari, dan yang didesain khusus untuk berkomunikasi tentang keilahian dan keistimewaan Injil.

4. Keterlibatan awam

Satu mitos lagi yang bertahan adalah pemikiran bahwa umat awam “lebih terlibat” dalam Misa Gereja Perdana dibanding Misa abad-abad sesudahnya. Pada masa kini, pemikiran ini menyebabkan bertambah banyaknya kerasulan liturgi bagi awam, seperti lektor, prodiakon, dan lain-lain. Realitanya, di Gereja Perdana, semua peran ini diisi oleh klerus. Dan faktanya, Gereja Perdana memiliki jauh lebih banyak jabatan tertahbis (yang disebut minor orders) daripada hari ini. Konsili Nikea tahun 325, misalnya, berbicara tentang memperbaiki jabatan “subdiakon”. Ini memberi tahu kita satu hal: bahwa subdiakon sudah ada sebelum konsili tersebut, sedangkan prodiakon atau pelayan Ekaristi tak lazim memang tidak pernah ada.

5. Gereja pra- dan pasca-Konstantin.

Di balik semua mitos di atas adalah satu mitos besar yang mengklaim bahwa ada ruptur dalam kehidupan Gereja setelah Kaisar Konstantin melegalkan Kekristenan pada abad ke-4. Mitos ini menceritakan bahwa Gereja sebelum Konstantin adalah Gereja yang sederhana dan murni, Gereja “milik umat”. Namun setelah Konstantin, Gereja menjadi klerikalis, hierarkis, dan getol mengejar gedung-gedung mewah dan upacara-upacara rumit.

Yang benar adalah, walaupun Gereja memang mengalami perubahan—kadang menuju kebaikan dan kadang menuju yang lebih buruk—nyatanya kontinuitas selalu lebih diutamakan dibanding ruptur. Gereja sebelum Konstantin sudah memiliki pembedaan antara klerus dan awam, dan Gereja sudah mengakui pentingnya seni, arsitektur, simbolisme, dan kesakralan ibadat. Lagipula, Perjamuan Terakhir Tuhan toh terjadi saat Perayaan Paskah, yang sendirinya sangat ritualistik, dan Misa Kudus tidak lain merupakan penyempurnaan dari liturgi rumit di sinagoga dan Bait Allah.

Liturgi Misa pada abad ke-2 dan ke-3 jauh lebih panjang, lebih hierarkis, dan lebih simbolik dibanding dengan Misa Minggu kita saat ini. Dan karena bangku gereja merupakan ciptaan Protestan untuk mengakomodasi khotbah yang panjang, maka dahulu umat entah berdiri atau berlutut di lantai sepanjang waktu.

Ibarat virus yang ganas, mitos Gereja pra-Konstantin yang utopis dan lebih merakyat, terus merusak liturgi kita. Bahkan, kalaupun setiap mitos di atas terbukti benar, hal ini tetap tidak membenarkan paham arkeologisme, yaitu keharusan untuk kembali ke era Bapa Gereja. Tahun 1947, Paus Pius XII telah menubuatkan bahaya arkeologisme, sebuah “kecintaan berlebihan dan tak masuk akal terhadap segala yang purba”, yang berasumsi bahwa yang lebih tua selalu lebih baik, dibandingkan dengan apa yang telah berkembang secara organik sepanjang tahun dan disetujui oleh Gereja (Mediator Dei 64).

Tentunya Sri Paus khawatir akan para pembaharu liturgi yang begitu mudahnya melompati 1900 tahun tradisi Gereja dan inspirasi ilahi. Sungguh tepat jika beliau khawatir, namun bahkan beliau tidak pernah membayangkan betapa luasnya dampak buruk akibat “rekonstruksi liturgi” yang dipertanyakan keakuratannya itu.

* * *

Diterjemahkan dan diadaptasi dari Calling Out Modern Liturgists oleh Fr. Richard Heilman.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: