Nasihat St.Thomas Aquinas tentang Menerima Komuni Secara Rutin

The Sacred Bleeding Host of Dijon Adored by a Couple, from the Heures à l'usaige de Romme Printed in France, Paris (Jean Poitevin), 1501 Illuminations added in Dijon, 1540s (Source)

The Sacred Bleeding Host of Dijon Adored by a Couple, from the Heures à l’usaige de Romme. Printed in France, Paris (Jean Poitevin), 1501.
Illuminations added in Dijon, 1540s (Source)

Kisah nyata 1: Suatu ketika ada seseorang yang memutuskan untuk tidak menerima Komuni saat Misa, karena ia tidak berada dalam kondisi berahmat dan belum mengaku dosa. Setelah umat lain menerima Komuni, salah seorang umat di sebelahnya bertanya: “Mas, anda orang Protestan ya?”

Kisah nyata 2: Saya mengamati di paroki saya sendiri, ketika orang-orang maju menerima Komuni, banyak yang tidak membungkuk untuk menunjukkan penghormatan saat hendak menyambut Tubuh Tuhan. Padahal, ketika Sakramen Maha Kudus di angkat, semua umat berlutut dan bersikap menyembah. Tidakkah dua contoh ini merupakan hal yang tidak konsisten? Kenapa saat adorasi kita berlutut ketika Sakramen Maha Kudus diangkat, sedangkan saat kita hendak menerima Yesus dalam jiwa kita, kita tidak menunjukkan penghormatan yang pantas kepada-Nya?

The Morgan Library in NYC is showcasing an illuminated manuscript billed as : The Crusader Bible: A Gothic Masterpiece through January 4, 2015 (Source)

The Morgan Library in NYC is showcasing an illuminated manuscript billed as: The Crusader Bible: A Gothic Masterpiece through January 4, 2015 (Source)

Kisah nyata 3: Teman saya pernah mendengar komentar dari seseorang, bunyinya kurang lebih begini: “kalau kamu tidak terima Komuni, misamu itu gak sah!” Pernyataan tersebut memberikan kesan bahwa menghadiri Misa = (harus) menerima Komuni, padahal ada situasi-situasi yang membuat seseorang harus menahan diri untuk tidak menerima Komuni, salah satunya ketika seseorang tidak berada dalam keadaan berahmat.

Kisah nyata 4: Saya pernah melihat seorang perempuan yang datang sangat terlambat saat misa, berpakaian yang kurang layak, namun tetap maju menerima Komuni tanpa menunjukkan sikap hormat, baik itu dari gesture tangannya atau tubuhnya saat berjalan mendekati imam yang membagikan Komuni.

Kisah nyata 5: Rekan saya pernah berdiskusi pada saya tentang apa yang harus dilakukan, kalau imam membagikan Komuni dua rupa, dan mengharuskan umat untuk mengambil Hosti sendiri dan mencelupkannya ke cawan berisi anggur. Praktek ini sebenarnya sudah dilarang oleh Gereja Katolik. Rekan saya itu menjawab, kalau kita berada dalam situasi ini, maka kita tetap maju menerima Komuni, lalu setelah Misa menegur romo yang bersangkutan. Kita harus tetap menyambut Komuni sekalipun terpaksa, karena jika tidak, kita akan tidak memperoleh keuntungan secara rohani. Jawaban saya: kita tidak perlu mengambil Komuni dan mencelupkannya. Prioritas utama kita ialah rasa hormat terhadap Tubuh Tuhan, dan bukan keuntungan rohani yang harus kita utamakan.

Namun, nasehat yang saya dapat dari seorang imam yang ortodoks, adalah bahwa boleh saja kita menerima Komuni sekalipun terpaksa, khususnya bila seseorang yang menerima itu merupakan seseorang yang berusaha mengatasi sinful habit (kebiasaan yang adalah dosa). Atas alasan ini, maka prioritas utama tadi bisa saja “terkalahkan”.

Berdasarkan kelima cerita tersebut, hasil pengamatan dan refleksi saya menunjukkan bahwa inilah akibat negatif ketika seseorang terlalu sering atau rutin menerima Tubuh Tuhan, namun tidak memiliki disposisi yang layak ataupun kurang memiliki pemahaman dan penghayatan yang benar terhadap Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi.

Nasihat Rohani dari St. Thomas Aquinas

St. Thomas Aquinasseorang Doktor Gereja sekaligus penulis himne Ekaristi yang terkenal seperti Adore te Devote, Pange Lingua Gloriosi, Sacris Solemnis, dst―dalam Summa Theologica memberikan jawaban terhadap pertanyaan, apakah sah (lawful) untuk menerima sakramen Ekaristi setiap hari:

Aku menjawab bahwa, ada dua hal yang harus dipertimbangkan berkenaan dengan penggunaan sakramen ini. Pertama, di sisi sakramen itu sendiri, kebajikannya yang memberikan kesehatan pada manusia; dan karenanya sangat menguntungkan untuk menerimanya setiap hari agar buah-buah sakramen [Ekaristi] juga diterima setiap hari. Oleh karena itu Ambrosius berkata (De Sacram. iv): “Bila kapanpun darah Kristus ditumpahkan, ia ditumpahkan demi pengampunan dosa, saya yang sering berdosa, harus menerimanya sesering mungkin: saya membutuhkan obat yang teratur.” Hal kedua yang perlu dipertimbangkan ada pada sisi penerima, yang diharuskan mendekati sakramen terebut dengan rasa hormat dan devosi yang besar. Akibatnya, bila seseorang menemukan bahwa ia memiliki disposisi ini [yakni rasa hormat dan devosi yang besar], baik bila ia menerimanya setiap hari. Karenanya Agustinus setelah berkata, “Terimalah setiap hari, agar ia menguntungkanmu setiap hari juga” ia menambahkan: “Jadi hiduplah, agar kamu layak menerimanya setiap hari.” Tetapi karena banyak orang masih kurang dalam devosi ini, karena alasan banyaknya kekurangan jasmani dan rohani yang mereka derita, merupakan hal yang tidak bijaksana bagi semua orang untuk mendekati sakramen tersebut setiap hari; tetapi mereka seharusnya mendekati sakramen terebut sesering mungkin bila diri mereka telah memiliki disposisi yang layak. Oleh karena itu dikatakan dalam De Eccles. Dogmat. Liii: “Aku tidak memuji atau menyalahkan penerimaan Ekaristi setiap hari.”

I answer that, There are two things to be considered regarding the use of this sacrament. The first is on the part of the sacrament itself, the virtue of which gives health to men; and consequently it is profitable to receive it daily so as to receive its fruits daily. Hence Ambrose says (De Sacram. iv): “If, whenever Christ’s blood is shed, it is shed for the forgiveness of sins, I who sin often, should receive it often: I need a frequent remedy.” The second thing to be considered is on the part of the recipient, who is required to approach this sacrament with great reverence and devotion. Consequently, if anyone finds that he has these dispositions every day, he will do well to receive it daily. Hence, Augustine after saying, “Receive daily, that it may profit thee daily,” adds: “So live, as to deserve to receive it daily.” But because many persons are lacking in this devotion, on account of the many drawbacks both spiritual and corporal from which they suffer, it is not expedient for all to approach this sacrament every day; but they should do so as often as they find themselves properly disposed. Hence it is said in De Eccles. Dogmat. liii: “I neither praise nor blame daily reception of the Eucharist.” (S.th., IV, Qu. 80, art. 10)

Angels Displaying the Eucharist in a Monstrance, from the “Prayer Book of Anne de Bretagne,” in Latin and French France, Tours, ca. 1494 Illuminated for Anne de Bretagne, queen of France, and her son Charles-Orland by Jean Poyer The Morgan Library & Museum, New York; MS M.50, fol. 11v

Angels Displaying the Eucharist in a Monstrance, from the “Prayer Book of Anne de Bretagne,” in Latin and French
France, Tours, ca. 1494

St. Thomas Aquinas dengan jelas menegaskan, bahwa penerimaan Komuni secara teratur perlu didahului adanya disposisi batin yang layak: yakni rasa hormat dan devosi yang besar terhadap Sakramen Ekaristi. Seseorang yang sudah memiliki disposisi yang layak untuk menerima Komuni, dianjurkan untuk menerima Komuni sesering mungkin, karena Komuni adalah obat bagi jiwa kita yang sakit. Tetapi jika seseorang kurang memiliki disposisi tersebut, maka merupakan hal yang bijaksana bila menahan diri untuk tidak menyambut Komuni.  Nasihat Aquinas yang terakhir inilah yang harus menjadi perhatian kita.

Bagaimana kita bisa mengetahui apakah seseorang memiliki rasa hormat terhadap Ekaristi?

Liturgi Suci selalu menekankan kesatuan antara aspek batiniah dan lahiriah, antara sikap batin dan perbuatan lahiriah. Seseorang yang memiliki rasa hormat yang besar terhadap Ekaristi, seharusnya menunjukkan sikap berikut ketika menyambut Komuni:

  • Mereka menerima Komuni di lidah sambil berlutut
  • Mereka membungkukkan badan, dan menerima Komuni di lidah sambil berdiri
  • Mereka membungkukkan badan, dan menerima Komuni di tangan

Ketiga hal diatas hanya contoh saja, tentu ada banyak hal yang bisa menunjukkan disposisi batin seseorang yang sungguh menghormati Ekaristi. Menurut saya, bila ketiga hal diatas dilakukan dengan khidmat, maka kita dapat sungguh melihat rasa hormat yang ditampilkan dan bukannya melihat sebuah gerakan otomatis seperti yang dilakukan robot.

Sekarang, kita melihat sebuah kecenderungan bahwa antrian untuk menerima Komuni selalu ramai dan panjang setiap minggunya, sedangkan antrian untuk pengakuan dosa hanya ramai di saat-saat menjelang Paskah atau Natal. Tidak jarang kita menemukan bahwa sedikit sekali paroki yang memiliki jadwal pengakuan dosa yang tetap, sekalipun ada, yang mengantri pun dapat dihitung dengan jari. Ironis sekali, bila kita menyambut Tubuh dan Darah Tuhan tanpa mempedulikan kesehatan jiwa kita.

Beberapa Langkah Praktis dalam Melaksanakan Nasihat St. Thomas Aquinas

Apa yang seharusnya kita lakukan bila kita ingin memiliki rasa hormat dan devosi terhadap Tubuh Tuhan? Berdasarkan nasihat dari St. Thomas Aquinas, saya mencoba merumuskan beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan.

Pertama, saya menganjurkan anda untuk menerima sakramen tobat secara teratur, karena ada banyak manfaat rohani yang berguna bagi jiwa kita.

Kedua, mulai mempelajari ajaran Gereja yang berhubungan dengan Ekaristi, yaitu Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Baca juga kisah santo/a yang berhubungan dengan Ekaristi. Buku kecil karangan Rm. Stefano Manelli “Yesus Kekasih Kita dalam Ekaristi” dan buku berjudul “Ekaristi: Roti Kehidupan Kekal” karangan Raffaello Martinelli dapat membantu anda semakin menghayati Ekaristi. Jangan lupa membaca penjelasan Katekismus Gereja Katolik tentang Sakramen Ekaristi.

Ketiga, saya menyarankan anda untuk mulai menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Saya sendiri sudah melakukannya dan menuliskan alasan saya untuk melakukan hal tersebut. Penting untuk diketahui bahwa praktek menerima Komuni di tangan merupakan sebuah indult (pengecualian) dan bukanlah hal yang umum. Praktek yang umum adalah menerima Komuni di lidah sambil berlutut.

Keempat, baik juga bila anda mulai mengembangkan kebiasaan untuk melakukan kunjungan terhadap Sakramen Maha Kudus dan melakukan adorasi pribadi secara teratur. Jangan lupa juga untuk mengikuti Misa harian dan menerima Komuni bila memungkinkan. Rasa hormat dan devosi terhadap Ekaristi tidak datang begitu saja, melainkan harus terus ditanam dan dipupuk secara rutin. Tentunya kebiasaan yang saleh ini sangat berkenan di mata Tuhan.

Kelima, menurut pertimbangan saya, ada saat ketika anda harus menahan diri untuk tidak menerima Komuni, yaitu ketika kita datang terlambat menghadiri Misa. Mungkin masih tidak masalah kalau terlambat 5-10 menit, namun bila lebih dari itu, rasanya tidak layak bila anda tetap menerima Komuni, padahal anda seharusnya mempersiapkan diri sebelum Misa. Saat lainnya ialah bila anda sudah terlalu lama tidak mengaku dosa. Bagi saya yang sudah terbiasa mengaku dosa secara rutin (sekitar 2 minggu sekali atau sebulan sekali), saya merasakan bertumbuhnya kepekaan saya terhadap Ekaristi. Bila sudah terlalu lama belum mengaku dosa, maka tidak ada salahnya bila tidak menerima Komuni dahulu sebelum mengaku dosa. Tentunya harus diingat bahwa hal tersebut sangat bergantung pada kondisi kerohanian seseorang, dan perlu dilakukan pemeriksaan batin yang mendalam untuk menilai apakah layak atau tidaknya kita menyambut Tubuh Tuhan. Selain itu, jangan pernah menerima Komuni dengan cara mengambil dan mencelupkannya ke dalam cawan berisi anggur. Ingat, rasa hormat terhadap Tuhan harus lebih diutamakan (kecuali anda adalah seseorang yang bergulat mengatasi sinful habit, seperti yang saya sebutkan dalam kisah nyata kelima).

Intinya, dalam melakukan langkah kelima, saya mengundang anda untuk melakukan pemeriksaan batin dan discernment mengenai disposisi batin anda bila anda berada dalam situasi tersebut.

Keenam, lakukan langkah pertama hingga kelima secara konsisten. Mari kita tumbuhkan kembali rasa hormat dan devosi terhadap Ekaristi secara mendalam.

Saya tutup tulisan ini dengan kutipan dari St. Thomas Aquinas:

“Makanan rohani, di sisi lain, mengubah orang yang memakannya menjadi dirinya. Oleh karena itu, efek yang pantas bagi Sakramen ini adalah pertobatan manusia menjadi Kristus, agar bukan ia lagi yang hidup, melainkan Kristuslah yang hidup di dalam dirinya; akibatnya; ia memiliki efek ganda, yakni memulihkan kekuatan rohani yang ia hilangkan melalui dosa dan kelemahannya, dan meningkatnya kekuatan kebajikan-kebajikannya.” – Commentary on Book IV of the Sentences, d.12, q.2, a.11

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: