Ketika Keadilan dan Belas Kasih Bertemu dan Berciuman

womaninadultery2-1024x490

“Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.” – Mzm 85:10

Kata mercy (belas kasih) merupakan kata yang belakangan ini sering kita dengar, terutama oleh Paus Fransiskus yang mencanangkan tahun belas kasih (year of mercy), juga oleh mereka yang mendukung untuk memberikan Komuni bagi mereka yang bercerai dan kawin lagi, dengan alasan, bahwa Gereja haruslah berbelas kasih. Dengan demikian, mereka yang mendukung pemberian komuni tersebut mempertentangkan belas kasih dan keadilan.

Hal serupa juga terjadi dalam menghadapi persoalan hukuman mati. Mereka yang pro terhadap hukuman mati juga dilabel sebagai seseorang yang “tidak punya hati”. Mereka mengutip adegan Kitab Suci tentang Yesus yang tidak menghukum seorang wanita pezinah, yang kemudian menekankan bahwa Yesus adalah seorang yang penuh kasih, mudah mengampuni. Hal tersebut juga memberikan kesan seolah-olah, ada dikotomi atau pertentangan antara belas kasih dan keadilan. Padahal, bila dicermati lebih lanjut, dalam diri Yesus terpenuhi baik itu belas kasih dan keadilan, cinta kasih dan kebenaran, hukum dan kebebasan, dst.

St. Agustinus, seorang Bapa Gereja dan juga salah satu teolog besar Gereja, memberikan kita pencerahan tentang belas kasih dan keadilan yang terpenuhi dalam diri Yesus. Mari kita melihat apa yang diajarkan St. Agustinus mengenai perikop Yesus dan seorang wanita pezinah (uraian St. Agustinus diambil dari Tractate 33).

Perikop tersebut diawali oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang membawa seorang wanita, yang ketahuan berbuat zinah, ke hadapan Yesus. Mereka melakukan ini dengan niat yang buruk: yakni menguji sikap lembut Tuhan. Mereka berkata: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

Mereka berusaha untuk menjebak dan menuduh Yesus. Bila Yesus menyetujui agar wanita tersebut dilempari batu, Yesus akan menunjukkan bahwa Ia tidak bersikap lembut. Namun bila Yesus melepaskan wanita itu dari hukuman, maka orang Farisi dan ahli Taurat akan menuduh Yesus karena melanggar hukum, dan menjadikan dirinya musuh bagi hukum Taurat:

Let us bring before him a woman taken in adultery; let us say to him what is ordered in the law concerning such: if he shall approve her being stoned, he will not show his gentleness; if he consent to let her go, he will not keep righteousness. But, say they, that he may not lose the reputation of gentleness, for which he has become an object of love to the people, without doubt he will say that she must be let go. Hence we find an opportunity of accusing him, and we charge him as being a transgressor of the law: saying to him, You are an enemy to the law; you answer against Moses, nay, against Him who gave the law through Moses; you are worthy of death: thou too must be stoned with this woman.

Yesus, yang telah membaca hati yang busuk dari orang Farisi dan ahli Taurat ini, akan menunjukkan bahwa Ia tetap bersikap lembut dan adil/benar:

Behold, the Lord in answering them will both keep righteousness, and will not depart from gentleness. He was not taken for whom the snare was laid, but rather they were taken who laid it, because they believed not on Him who could pull them out of the net.

Kita tahu apa yang menjadi jawaban Yesus: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” St. Agustinus menjelaskan, betapa jawaban ini penuh dengan keadilan dan belas kasih. Dengan menjawab demikian, maka Yesus menyerahkan persoalan ini kepada orang Farisi dan hali Taurat. Dari luar, mereka berdiri untuk menuduh, namun mereka tidak memeriksa batin mereka: mereka melihat seorang pezinah, tetapi tidak melihat ke dalam diri mereka. Mereka yang adalah seorang pelanggar hukum, menginginkan agar hukum dipenuhi:

What then did He answer? See you how full it is of righteousness, how full of meekness and truth! He that is without sin of you, says He, let him first cast a stone at her. O answer of Wisdom! How He sent them unto themselves! For without they stood to accuse and censure, themselves they examined not inwardly: they saw the adulteress, they looked not into themselves. Transgressors of the law, they wished the law to be fulfilled, and this by heedlessly accusing; not really fulfilling it, as if condemning adulteries by chastity.

Ada sebuah adegan ketika Yesus menulis di tanah. Menurut St. Agustinus, hukum ditulis dengan jari Allah, tetapi tertulis di atas batu karena kerasnya hati manusia. Tuhan kita menulis di tanah, karena Ia mencari buah dari hukum tersebut. Dengan demikian, Yesus mengundang orang Farisi dan ahli Taurat untuk masuk ke dalam diri mereka, berhadapan dengan hati nuraninya, agar mereka mengakui siapa mereka sesungguhnya.

What else does He signify to you when He writes with His finger on the ground? For the law was written with the finger of God; but written on stone because of the hard-hearted. The Lord now wrote on the ground, because He was seeking fruit. You have heard then, Let the law be fulfilled, let the adulteress be stoned. But is it by punishing her that the law is to be fulfilled by those that ought to be punished? Let each of you consider himself, let him enter into himself, ascend the judgment-seat of his own mind, place himself at the bar of his own conscience, oblige himself to confess.

Sekarang St. Agustinus menunjukkan aspek keadilan yang sering dilupakan dari perikop ini. Dengan berkata “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”, Yesus menyatakan keadilan dengan lantang: Biarlah pendosa itu dihukum, tetapi tidak oleh pendosa. Biarlah hukum dipenuhi, tetapi bukan oleh pelanggar hukum. Melalui suara keadilan ini, Yesus menembus batin mereka, layaknya sebuah panah yang menghujam tepat di sasarannya, yang menyingkapkan kemunafikan dan keberdosaan mereka. Setelah menyadari bahwa mereka adalah pendosa juga, hanya ada dua orang yang tetap tinggal di situ, yakni wanita pezinah dan Sang Belas Kasih.

Hence, either let this woman go, or together with her receive ye the penalty of the law. Had He said, Let not the adulteress be stoned, He would be proved unjust: had He said, Let her be stoned, He would not appear gentle: let Him say what it became Him to say, both the gentle and the just, Whoso is without sin of you, let him first cast a stone at her. This is the voice of Justice: Let her, the sinner, be punished, but not by sinners: let the law be fulfilled, but not by the transgressors of the law. This certainly is the voice of justice: by which justice, those men pierced through as if by a dart, looking into themselves and finding themselves guilty, one after another all withdrew. The two were left alone, the wretched woman and Mercy. But the Lord, having struck them through with that dart of justice, deigned not to heed their fall, but, turning away His look from them, again He wrote with His finger on the ground.

Apakah ini berarti bahwa St. Agustinus hendak memberitahu kita, bahwa kita tidak seharusnya menghukum siapapun? Dalam suratnya kepada Magistrat Macedonius, St. Agustinus menggambarkan sikapnya secara umum: bahwa kita harus membenci dosa atau kejahatan dan mencintai orangnya, oleh karena itu penting sekali agar para pendosa dikoreksi dan mendapatkan hukuman.

In no way, then, do we approve of the sins that we want to be corrected, nor do we want the wrongdoing to go unpunished because we find it pleasing. Rather, having compassion for the person and detesting the sin or crime, the more we are displeased by the sin the less we want the sinful person to perish without having been corrected. For it is easy and natural to hate evil persons because they are evil, but it is rare and holy to love those same persons because they are human beings. Thus, in one person you at the same time both blame the sin and approve of the nature, and for this reason you must justly hate the sin because it defiles the nature that you love. He, therefore, who punishes the crime in order to set free the human being is bound to another person as a companion not in injustice but in humanity. There is no other place for correcting our conduct save in this life. For after this life each person will have what he earned for himself in this life. And so, out of love for the human race we are compelled to intercede on behalf of the guilty lest they end this life through punishment so that, when it is ended, they cannot have an end to their punishment.

Setelah mengusir musuhnya dengan lidah keadilan, sekarang Yesus memandang wanita tersebut dengan tatapan penuh belas kasih, dan terjadilah percakapan berikut

“Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.””

Perhatikan bahwa Yesus tidak mengutuk atau mencela pribadi/orangnya, melainkan yang dikutuk Yesus adalah dosanya. Oleh karena itulah Yesus berkata: pergilah dan jangan berbuat dosa lagi. Yesus tidak berkata, pergilah dan berbuatlah sesuka hatimu, dan aku akan membebaskanmu dari segala hukuman termasuk neraka.

But He, who had driven back her adversaries with the tongue of justice, raising the eyes of clemency towards her, asked her, Hath no man condemned you? She answered, No man, Lord. And He said,Neither do I condemn you; by whom, perhaps, you feared to be condemned, because in me you have not found sin. Neither will I condemn you. What is this, O Lord? Do You therefore favor sins? Not so, evidently. Mark what follows: Go, henceforth sin no more. Therefore the Lord did also condemn, but condemned sins, not man. For if He were a patron of sin, He would say, Neither will I condemn you; go, live as you will: be secure in my deliverance; how much soever you will sin, I will deliver you from all punishment even of hell, and from the tormentors of the infernal world. He said not this.

Apa yang dikatakan St. Agustinus tentang mereka yang berhati keras dan tidak mau bertobat? Mereka ini menyimpan bagi diri mereka kemurkaan Tuhan, yang akan dijatuhkan pada hari angkara murka dan ketika Allah menyatakan penghakimannya yang benar dan adil, yang menilai setiap manusia berdasarkan perbuatannya. St. Agustinus juga menegaskan bahwa Tuhan memang lemah lembut dan berbelas kasih, namun Ia juga adalah kebenaran dan adil. Ia memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, tetapi kita lebih menyukai penghakiman yang ditunda daripada memperbaiki jalan hidup kita.

But you, after your hardness and impenitent heart, treasurest up for yourself wrath against the day of wrath and therevelation of the righteous judgment of God; who will render to every man according to his deeds. Romans 2:4-6 The Lord is gentle, the Lord is long-suffering, the Lord is pitiful; but the Lord is also just, the Lord is also true. He bestows on you space for correction; but you love the delay of judgment more than the amendment of your ways.

Selanjutnya Agustinus mengajak kita untuk bertobat dan memperbaharui diri. Allah telah berjanji bahwa Ia akan mengampuni mereka yang bertobat dan memperbaiki kehidupannya. Pertobatan harus segera dilakukan, karena Allah tidak pernah menjanjinkan kepada setiap manusia, bahwa mereka akan memiliki kehidupan yang panjang di dunia ini.

Have you been a bad man yesterday? Today be a good man. Have you gone on in your wickedness today? At any rate change tomorrow. You are always expecting, and from the mercy of God makest exceeding great promises to yourself. As if He, who has promised you pardon through repentance, promised you also a longer life. How do you know what tomorrow may bring forth? Rightly you say in your heart: When I shall have corrected my ways, God will put all my sins away. We cannot deny that God has promised pardon to those that have amended their ways and are converted. For in what prophet you read to me that God has promised pardon to him that amends, you do not read to me that God has promised you a long life.

Agustinus juga memberikan peringatan kepada mereka yang berharap dengan berlebihan terhadap belas kasih Allah. “Siapa yang ditipu dengan berharap? Ia yang berkata, Allah itu baik, Allah itu berbelas kasih, biarkan aku melakukan apa yang aku senangi, apa yang aku suka, biarkan aku melonggarkan kendaliku terhadap nafsuku, biarkan aku memuaskan hasrat jiwaku. Mengapa? Karena Allah berbelas kasih, Allah itu baik. Mereka ini berada dalam bahaya karena harapan.” Sebuah teguran yang keras dari St. Agustinus, terhadap mereka yang di jaman modern ini juga menyuarakan hal yang sama!

From both, then, men are in danger; both from hoping and despairing, from contrary things, from contrary affections. Who is deceived by hoping? He who says, God is good, God is merciful, let me do what I please, what I like; let me give loose reins to my lusts, let me gratify the desires of my soul. Why this? Because God is merciful, God is good, God is kind. These men are in danger by hope.

Bagaimana Tuhan memperlakukan mereka yang berada dalam bahaya karena berharap secara berlebihan terhadap belas kasih Allah? Hanya pertobatan yang menjadi satu-satunya jalan, dan ini tidak boleh ditunda, karena bila murka Allah datang secara tiba-tiba, manusialah yang akan mengalami kehancuran.

How then does the Lord treat those who are in danger from both these maladies? To those who are in danger from hope, He says, Be not slow to be converted to the Lord, neither put it off from day to day; for suddenly His anger will come, and in the time of vengeance, will utterly destroy you. Sirach 5:8-9

Akhirnya, penjelasan St. Agustinus terhadap perikop Yesus dan wanita pezinah menunjukkan pada kita tidak hanya belas kasih, melainkan keadilan pun juga menjadi hal yang Yesus lakukan, dan keduanya tidaklah bertentangan. Seperti yang dikatakan Pemazmur, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm 25:10), “Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-Mu” (Mzm 89:14).

Sekarang, saya melihat adanya kecenderungan untuk memisahkan kasih dari kebenaran, belas kasih dari keadilan, hukum dari kebebasan, dst. Tidak hanya di kalangan umat, di kalangan hirarki pun juga sangat mungkin ini terjadi. Inilah salah satu krisis yang terjadi dalam kehidupan beriman. Lalu, apa tanggapan kita?

Dalam diri Yesus, terpenuhilah belas kasih dan keadilan, karena keduanya adalah cara Allah dalam bekerja dan berhadapan dengan manusia. Dan ini juga lah yang senantiasa diperjuangkan oleh Gereja: bukan menceraikan yang satu dan meninggalkan yang lain, melainkan menyatukan keduanya dengan harmonis. Keadilan dan belas kasih, keduanya harus dipertemukan dan bercium-ciuman, agar semakin nyatalah kasih dan kebenaran Allah.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: