Buku dalam Perspektif Katolik: Sisi Terang Bacaan Rohani (Part 2)

reading_saints

Artikel tersebut juga diterbitkan di website Komisi Kepemudaan Bogor dengan beberapa perubahan (artikel yang diterbitkan di sini adalah versi yang lebih panjang), dan diberi tag Seri Bacaan Rohani, yang dibagi menjadi lima tulisan.

Bacaan Rohani: Makanan Bergizi bagi Jiwa

Selain Ekaristi, makanan yang sehat dan bergizi bagi jiwa kita ialah bacaan rohani. Sebenarnya, apa itu bacaan rohani? Secara sederhana, bacaan rohani merupakan buku-buku yang menyajikan pada kita sebuah pemahaman dan cara bagaimana kita seharusnya menjalani kehidupan rohani kita seperti yang Tuhan kehendaki. Tujuan dari bacaan rohani ialah agar mereka yang membacanya dapat bertumbuh dalam kekudusan. Karene esensi dari kekudusan ialah menyerupai Yesus Kristus, maka bacaan rohani bertujuan untuk mendekatkan kita kepada Allah, hingga pada titik di mana seluruh diri kita diubah dalam dan oleh Kristus.

Membaca Sabda Kehidupan

Pada saat Yesus melakukan karya publik, Ia tidak menuliskan pengajaran-Nya. Satu-satunya informasi yang kita ketahui ialah bahwa Yesus pernah menulis sesuatu di tanah, ketika Ia hendak menyelamatkan seorang pezinah dari hukuman. Namun apa yang ditulis Yesus, tidak pernah kita ketahui. Menurut St. Thomas Aquinas (Summa Theologica, III, q. 42, a. 4.), salah satu alasan mengapa Yesus tidak perlu menuliskan ajaran-Nya ialah karena sebagai Guru yang sempurna, Ia langsung menuliskan pengajaran-Nya di hati para pendengarnya. Ia dapat langsung mencapai tujuan akhir tanpa memerlukan sarana, yakni tulisan.

Para Rasul sebelum menjadi pengikut Kristus, sebagian besar dari mereka adalah nelayan biasa. Namun keputusan mereka untuk menapaki jejak Kristus, untuk tinggal bersama Dia, memampukan mereka “membaca” Sang Sabda Allah yang hidup, yang tidak terkurung dalam selembar kertas, kendati mereka juga suka kebingungan dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kristus. Apa yang pada mulanya tidak mereka mengerti, kemudian menjadi jelas setelah turunnya Roh Kudus atas diri mereka. Kita pun tahu bahwa kemudian mereka pun menjadi saksi Kristus yang bersemangat dalam mewartakan Injil, bahkan sampai pada titik mereka mau mengorbankan hidupnya dan menjadi martir. Melalui fondasi yang diletakkan oleh mereka, maka eksistensi Gereja dapat tetap bertahan selama 2000 tahun dan tersebar di seluruh dunia.

Membaca buku maupun “membaca” kehidupan seseorang adalah sama pentingnya. Kesaksian hidup yang tertulis maupun yang tidak ditulis sama-sama bertujuan untuk mendorong seseorang agar semakin dekat dengan Tuhan. Namun kita memerlukan sebuah tulisan, agar apa yang sudah dilakukan dan diwariskan oleh anggota keluarga kudus kita di masa lampau dapat menjangkau dan menginspirasi kita. Oleh karena itu, bacaan rohani yang kita baca seharusnya mendorong kita untuk semakin menyerupai Kristus.

Daya Transformasi Sebuah Buku Sepanjang Jaman

“Mengasihi Allah berarti mengenal Allah, mengakui Allah. Dan ini adalah langkah pertama yang harus kita ambil: mencari untuk mengenal Allah. Dan oleh karena itu kita tahu bahwa hidup kita ada…bukan karena kebetulan. Hidup saya telah dikehendaki Allah sejak keabadian. Saya dicintai, saya dibutuhkan. Allah memiliki rencana bagi saya dalam totalitas sejarah: Ia memiliki rencana yang khusus bagi saya. Hidup saya penting dan berarti. Kasih yang kekal menciptakan dan menanti saya. Jadi ini adalah poin pertama: mengenal Allah, mencari Allah dan karenanya memahami bahwa hidup adalah karunia, bahwa  merupakan hal yang baik untuk hidup.” – Paus Benediktus XVI

Kekudusan adalah panggilan utama (ultimate calling) untuk kita semua, tidak peduli apakah kita terpanggil untuk hidup berkeluarga, selibat religius, atau selibat awam; tidak peduli apa pekerjaan kita, umur kita, apakah kita laki-laki atau perempuan, semua dari kita dipanggil untuk menjadi kudus, seperti Allah adalah kudus (bdk. Im 20:26; 1Pet 1:16).

Kekudusan yang harus kita perjuangkan terkait erat dengan rencana yang Allah miliki bagi kita semua. Sekalipun semua orang Katolik bertujuan untuk menjadi kudus, namun kekudusan ini tampak dalam berbagai bentuk. Kamu yang sudah pernah membaca riwayat hidup santo/a pasti tahu bahwa ada berbagai macam orang kudus: ada imam (St. Yohanes Bosco), biarawati (St. Teresa dari Avila), uskup (St. Agustinus), aktivis sosial (Beato Giorgio Frassati), anak remaja (St. Dominikus Savio), dokter (St. Gianna Molla), penjual buku (St. Yohanes dari Allah), seorang ibu rumah tangga (St. Monika), pengacara (St. Thomas More), dst.

Melalui perjumpaan dengan Allah, maka seseorang akan semakin mengasihi Dia dan berusaha untuk menguduskan dirinya. Nah, pertemuan dengan Allah ini dapat dimulai dari sebuah buku. Sudah banyak bukti-bukti dari orang-orang kudus yang mengalami pertobatan mendalam karena membaca buku-buku Katolik yang bermutu. Berikut ini adalah beberapa contohnya (klik kalimat ini untuk melihat daftar yang lebih lengkap):

saint-augustine-1485.jpg!LargeSanto Agustinus dari Hippo (354-430) merupakan seorang pencari kebenaran sejati. Hasratnya untuk mencari kebenaran sudah tampak sejak muda. Namun, pertobatannya yang radikal, yang memberanikan ia untuk meninggalkan gaya hidup yang penuh dengan kenikmatan duniawi, terjadi ketika ia sedang mengalami pergumulan batin di taman, ia mendengar suara anak kecil yang berkata “ambillah, bacalah, ambillah, bacalah”. Suara yang misterius itu mendorong ia untuk membuka Kitab Suci yang ada di dekatnya. Lalu ia pun menemukan ayat yang sangat menghujam batinnya, yang berbunyi “Marilah kita hidup sopan seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Rm 13:13-14). Sejak saat itu, St. Agustinus sungguh menjadi milik Kristus dan membaktikan hidupnya hanya untuk melayani Dia. Gereja memberikan gelar kehormatan kepada-Nya sebagai Doktor Gereja, di mana hal tersebut membuktikan pengajarannya yang mendalam serta kekudusan hidupnya.

Santo Ignatius dari Loyola (1491-1556) adalah salah satu pendiri Serikat Yesus. Sebelum mengalami pertobatan yang mendalam, ia adalah seorang prajurit. Dalam sebuah peperangan, ia mengalami cedera yang agak berat di kakinya, sehingga mengharuskan dirinya untuk dirawat. Selama masa pemulihan cederanya ini, ia membaca buku yang bercerita tentang Kehidupan Orang Kudus. Ia sangat terinspirasi dengan kisah hidup Orang Kudus, sehingga setelah membaca buku tersebut, ia berpikir: bila orang-orang Kudus dapat melakukan berbagai hal besar dalam hidup mereka, maka saya pun juga pasti bisa melakukan hal yang sama. Hal tersebut diwujudkannya dengan mendirikan Serikat Yesus.

Santa Teresa dari Avila (1515-1582)merupakan salah satu Doktor Gereja, sekaligus biarawati Karmelit. Ia merupakan pribadi yang gemar membaca, dan salah satu bacaan yang memberi pengaruh bagi dirinya ialah Surat-surat Santo Hieronimus, yang memberikan ia keberanian untuk menceritakan panggilannya kepada ayahnya. Selain itu, buku Moral dari St. Gregorius Agung memperkenalkan Teresa dengan kisah Ayub, yang kemudian membantunya dalam mempersiapkan diri menanggung penyakitnya dengan sabar selama perjalanan hidup rohaninya. The Sinner’s Guide yang ditulis oleh Venerable Louis Granada juga menjadi buku favoritnya. Bahkan ia sendiri berkata bahwa buku tersebut telah mentobatkan satu juta jiwa. Gereja menghormatinya dengan memberikannya gelar Doktor Gereja, dengan gelar khusus Doktor Doa.

Beato Henry Newman (1801-1890), merupakan seorang Anglikan yang tekun mempelajari sejarah Gereja dan tulisan Bapa Gereja. Ia awalnya merupakan seorang yang anti-Katolik, namun proses pembelajaran sejarah Gereja membuat ia tiba pada kesimpulan bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja yang didirikan Kristus. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menjadi Katolik, dan menjalani kehidupan yang sulit dan tidak nyaman baginya. Kisah Beato Henry Newman mengajarkan kita bahwa keputusan untuk menjadi Katolik melibatkan seluruh penerimaan kita terhadap kebenaran iman yang diajarkan Gereja, dan konsekuensinya ialah hidup kita belum tentu menjadi aman, nyaman, dan menyenangkan. Namun pada akhir hidupnya, ia memperoleh kedamaian dalam menjalani sisa hidupnya.

Santa Teresa Benedikta dari Salib (1891-1942)yang juga dikenal dengan nama Edith Stein, merupakan seorang Yahudi. Suatu ketika, saat ia berada di rumah temannya, ia menemukan dan membaca sebuah buku Riwayat Hidup St. Teresa dari Avila. Semalam suntuk ia membacanya hingga selesai di pagi hari. Setelah selesai membaca buku tersebut, ia berkata “inilah kebenaran itu”. Setelahnya, ia kemudian memutuskan untuk menjadi Katolik. Ia pun mengakhiri hidupnya sebagai martir karena dibunuh di bawah kediktatoran Nazi yang kejam.

Benedetto-XVI-benedice-con-il-evangeliario-e1389710359848Joseph Ratzinger atau Paus Benediktus XVI (1927-) merupakan seorang teolog besar abad ini. Pemikiran teologisnya sangat dipengaruhi oleh teologi St. Agustinus, dan hal tersebut terlihat dari tulisan-tulisannya, terutama homili serta ceramahnya memiliki kedalaman dan keindahan yang tidak kalah dengan St. Agustinus. Tidak mengherankan juga bila Confessions merupakan salah satu buku favoritnya. Begitu penting dan berpengaruh hidup dan warisan St. Agustinus dalam diri Paus Emeritus Benediktus, sehingga ia menganjurkan kita menjadikan St. Agustinus sebagai sahabat dalam perjalanan hidup rohani kita.

Kehidupan pribadi Ratzinger pun memiliki beberapa kemiripan dengan St. Agustinus: Agustinus ingin hidup dalam kesunyian sebagai seorang teolog dan mengkontemplasikan kebenaran ilahi, namun Allah berkeinginan agar ia membaktikan hidupnya demi melayani umat. Ia pun ditahbiskan menjadi imam secara terpaksa karena sebenarnya ia tidak menginginkannya. Setelahnya ia pun segera menjadi uskup dan dengan setia menjalankan panggilannya.

Ratzinger awalnya hanya ingin menjalani kehidupan secara sederhana sebagai profesor teologi, dalam sebuah lingkungan akademis yang kecil. Namun dengan cepat “karir” nya menanjak: ia ditahbiskan menjadi uskup, lalu segera ia diangkat menjadi Prefek Kongregasi Ajaran Iman (Ratzinger tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi uskup atau Prefek Kongregasi Ajaran Iman), yang bertugas untuk membela ortodoksi iman Katolik. Setelah lebih dari 20 tahun bekerja di Kuria Roma, ia pun dipilih sebagai penerus Petrus. Sejak menjabat sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman, ia mengajukan surat pengunduran diri sebanyak tiga kali kepada Paus Yohanes Paulus II, namun permohonan tersebut ditolak.

Keduanya sama-sama ingin hidup dalam kesunyian, namun Tuhan berkeinginan agar talenta mereka digunakan demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar. Dan keduanya pun memutuskan untuk menaati kehendak Tuhan daripada menuruti kehendak sendiri. Selain itu, keduanya juga merupakan orang yang gigih dalam melawan kesesatan di jamannya (Agustinus melawan kesesatan seperti donatisme, pelagianisme; sedangkan Paus Benediktus melawan relativisme).

Berdasarkan survey singkat yang kita lakukan, kita dapat melihat betapa buku memiliki kuasa untuk mengubah manusia sesuai rencana Tuhan! Ada yang kemudian memenuhi kehendak Tuhan sebagai uskup dan paus, ada yang berperan sebagai pendiri komunitas religius, ada juga yang menjadi biarawati dan memberi kesaksian iman dengan menjadi martir, bahkan ada yang kehidupannya mirip dengan sosok orang kudus yang dikagumi (seperti pada Paus Benediktus dan St. Agustinus). Masih banyak contoh lainnya yang tidak dibahas di sini, namun intinya jelas: bahwa dengan berusaha mengenal Tuhan, mencari apa yang Ia kehendaki bagi kita, maka kita pun dapat menjadi kudus dan berkontribusi bagi Gereja sesuai talenta dan kondisi hidup kita.

Berbagai Genre Bacaan Rohani

“Buku-buku: jangan sembarangan membeli buku tanpa meminta terlebih dahulu nasihat dari seorang Katolik yang terpelajar dan bijaksana. Mudah sekali orang membeli buku yang dapat merusak ataupun tidak ada manfaatnya sama sekali. Betapa seringnya orang mengira bahwa ia sedang membawa buku di tangannya, ternyata yang dibawanya adalah sampah.” – St. Josemaria Escriva

Sebelum membaca bacaan rohani, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, dalam membaca bacaan rohani, kita juga perlu membaca buku-buku yang membahas seputar dogma dan ajaran Gereja. Hal ini perlu kita lakukan karena kebenaran yang ada pada buku-buku rohani mesti bersandar pada kebenaran iman atau dogma Gereja. Bila suatu buku rohani memiliki fondasi pada ajaran Gereja, maka kita bisa merasa yakin bahwa buku tersebut cukup aman untuk dibaca. Dengan demikian, bacaan rohani dan bacaan teologis (yang membahas seputar ajaran Gereja) berjalan berdampingan.

Catholic-booksKedua, seorang pemula mungkin merasa bingung dan kesulitan untuk memulai bacaan rohani dan mendalami ajaran Gereja. Oleh karena itu, untuk mempermudah proses pembelajaran seputar ajaran Gereja dan kehidupan rohani, maka saya akan memberikan penjelasan singkat tentang berbagai genre buku-buku teologis dan bacaan rohani (lihat apendiks di akhir artikel ini). Saya juga akan merekomendasikan beberapa buku berbahasa Indonesia dan Inggris, yang menurut saya sangat baik untuk kita pelajari bersama. Pembahasan dan rekomendasi yang diberikan tidaklah komprehensif, melainkan berperan sebagai pemandu bagi para pemula yang ingin berkenalan dengan berbagai genre bacaan rohani.

4 Alasan Mengapa Kita Perlu membaca Bacaan Rohani

Secara umum, kita sudah tahu manfaat bacaan rohani: agar kita bertumbuh dalam kekudusan. Namun ternyata masih ada empat manfaat rohani lainnya yang dapat kita nikmati. Yuk kita lihat apa saja buah-buah bacaan rohani:

#1. Menguatkan Iman

fathersday-facebookBacaan rohani dapat membantu kita memahami kebenaran iman dengan lebih jelas, sehingga iman kita akan semakin kokoh dan tidak mudah goyah oleh berbagai serangan orang non-Katolik terhadap ajaran iman Katolik.

St. Anselmus memiliki semboyan yang berbunyi “iman yang mencari pemahaman”. Bila kita mengarahkan akal budi kita untuk memahami iman, maka ada banyak praktek dan kebiasaan Katolik, yang seringkali diabaikan atau tidak dianggap penting, akan kita hargai. Contohnya, bila kita memahami tujuan dan buah dari Sakramen Tobat bagi jiwa kita, maka kita pun tentu akan menghargainya pentingnya kebiasaan mengaku dosa secara teratur.

#2. Memupuk Doa

Secara pribadi, ada saat ketika saya merasa kesulitan untuk berdoa, bercakap-cakap dengan Tuhan secara personal dengan kata-kata saya sendiri. Rasanya pikiran dan hati ini tidak mampu mengeluarkan kata-kata untuk disampaikan kepada Tuhan. Namun dengan adanya bacaan rohani, terkadang saya menemukan kalimat yang bagus yang dapat membangkitkan percakapan dari hati ke hati dengan Tuhan.

#3. Mengajarkan Prinsip Pertumbuhan Kristiani

Yesus Kristus memilih para rasul dan membina mereka melalui kesaksian hidup-Nya selama tiga tahun, sebelum akhirnya mereka diutus untuk mewartakan Injil. Kita pun juga perlu belajar bagaimana dapat menjalani hidup secara Katolik secara penuh.

Terdapat beberapa buku yang mengajarkan kita tentang prinsip-prinsip pertumbuhan Kristiani, misalnya “An Introduction to Devout Life” oleh St. Fransiskus de Sales, “Jalan” oleh St. Josemaria Escriva, “Mengikuti Jejak Kristus” oleh Thomas A. Kempis, dan “Abandonment to Divine Providence” oleh Jean-Pierre de Caussade. Mereka merupakan seorang pembimbing bagi kita yang mau menempuh perjalanan kekudusan.

#4. Membangkitkan Inspirasi dan Motivasi dalam Menjalani Hidup

St. Agustinus pernah berkata bahwa ketika seseorang mengikuti Kristus, maka jalan menuju kepada-Nya menjadi panjang. Jalan yang panjang ini adalah jalan yang sempit, terjal, dan berbatu. Bukan tidak mungkin bahwa motivasi kita yang paling kuat pun dapat melemah seiring berjalannya waktu.

Bacaan rohani dapat menjadi sumber motivasi kita. Melalui bacaan rohani yang kita lakukan secara teratur, ia secara perlahan dapat memperbaharui motivasi kita dan menyalakan kembali api semangat, yang dapat memberikan kekuatan baru dalam perjalanan kita mengikuti jejak Kristus. Sumber kekuatan baru ini dapat kita temukan melalui riwayat hidup santo-santa.

Autobiografi santo-santa memiliki pengaruh yang besar, karena ia tidak hanya menceritakan perbuatan lahiriah, melainkan juga menggambarkan kehidupan batin sang santo-santa. “Confessions” (Pengakuan-Pengakuan) karangan St. Agustinus merupakan karya klasik dalam hal ini. Pembaca di zaman modern pun masih dapat mengidentifikasi dirinya dengan St. Agustinus, misalnya dalam hal pencarian akan kebenaran atau perjuangan untuk hidup murni dan mengalahkan nafsu seksual.

Setelah kita menyadari betapa besar manfaat bacaan rohani bagi jiwa kita, pertanyaan selanjutnya ialah, bagaimana seharusnya kita membaca bacaan rohani? Apakah bacaan rohani harus dibaca seperti kita membaca buku pelajaran atau novel? Nah, artikel selanjutnya (sekaligus akhir dari Seri Bacaan Rohani) akan memberikan tips bagaimana membaca bacaan rohani.

Cara Membaca Bacaan Rohani

Bacaan rohani memerlukan cara membaca yang khusus dan tidak bisa disamakan dengan membaca sebuah novel atau textbook kuliah. Menurut pengalaman saya, ada beberapa hal yang perlu kita miliki dan latih secara disiplin bila kita hendak menimba kekayaan dari bacaan rohani.

Pertama, menumbuhkan rasa cinta dan haus akan kebenaran. Ini adalah semangat yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin membaca bacaan rohani. Rasa cinta akan kebenaran akan mendorong kita untuk terus belajar tanpa henti, dan memang ini adalah esensi menjadi seorang Katolik: harus mau belajar dan berjuang tanpa henti untuk menjadi kudus hingga akhir hidup kita.

Kedua, memiliki niat untuk bertumbuh dalam kekudusan.  Rasa haus akan kebenaran harus ditemani oleh niat untuk bertumbuh dalam kekudusan. Keduanya bagaikan sayap yang dapat mengangkat kita menuju ketinggian Allah. Dengan adanya niat untuk menjadi kudus, maka kita akan berusaha menerapkan apa yang sudah kita baca dan pelajari.

Ketiga, menyediakan waktu secara teratur untuk melakukan bacaan rohani. Agar aktivitas membaca bacaan rohani menghasilkan buah, diperlukan konsistensi dan disiplin. Di tengah kesibukan kita, kita harus meluangkan waktu untuk membaca buku rohani. Persiapkan diri dengan baik (jangan membaca saat kondisi sedang lelah), bacalah buku rohani di tempat yang hening, dan lakukan secara rutin.

Keempat, membaca secara perlahan sambil mencari apa yang hendak dikatakan Tuhan melalui bacaan tersebut. Syarat keempat ini sama dengan membaca Kitab Suci dengan cara lectio divina. Dalam membaca bacaan rohani, saya sendiri beberapa kali tanpa sengaja menemukan kalimat, yang ternyata sesuai dengan situasi atau permasalahan yang saya hadapi. Dan seringkali kutipan kalimat tersebut adalah jawaban dari pertanyaan yang saya cari. Oleh karena itu, dalam membaca bacaan rohani kita juga perlu memiliki sikap untuk mencari tahu apa yang Tuhan ingin katakan pada kita. Kita perlu mencermati apa yang kita baca, dengan demikian kita menumbuhkan sikap mendengarkan.

Kelima, menemukan kutipan yang menyentuh hati untuk direnungkan dan dibawa dalam doa. Bila kita sudah menemukan kutipan yang menggugah hati, maka ada baiknya kita bawa dalam doa dan kita ungkapkan kepada Tuhan, sambil bersyukur atas kebaikan-Nya karena telah menanggapi kita melalui bacaan rohani yang kita baca.

Buah Bacaan Rohani: Mengangkat Jiwa Menuju Allah

Bacaan rohani dapat kita umpamakan seperti jendela yang ketika dibuka, akan memberikan kita sebuah pemandangan yang baik, benar dan indah mengenai ajaran iman kita. Ia akan menyingkapkan kekayaan iman Katolik dan menunjukkan bahwa kehidupan sebagai seorang Katolik bukanlah kehidupan yang monoton dan membosankan, melainkan kehidupan yang walau bercampur dengan penderitaan dan perjuangan, namun juga dipenuhi sukacita dan harapan.

Bila kita melihat sekilas tentang kisah orang-orang Kudus yang disebutkan dalam tulisan ini, maka kita akan menyadari bahwa sebuah buku memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hidup seseorang. Tentu pertobatan, kekudusan, serta kebesaran dari orang kudus ini tidak bisa kita pisahkan dari karya Allah yang bekerja melalui rahmat-Nya. Inilah buah bacaan rohani: yakni mengangkat jiwa kita menuju Allah.

Kegiatan membaca buku rohani tidak akan berbuah bila ia hanya diam dalam pikiran saja. Kita harus mencoba secara perlahan untuk mengikuti nasehat-nasehat yang diberikan. Namun, sebagai langkah awal, maukah anda menjelajahi cakrawala iman melalui buku rohani?

Referensi

Brandon Vogt, The Saints’ Favorite Books.

Fr. Andrew Apostoli, Walk Humbly with Your God: Simple Steps to a Virtuous Life.

Marie-Eugene, OCD, Aku Ingin Melihat Allah: Sintesa Praktis Spiritualitas Karmelit.

St. Josemaria Escriva, Jalan.

Thomas Aquinas, Summa Theologica.


Apendiks: Beragam Genre Bacaan Rohani dan Rekomendasi Buku

Mega-Books-21

Genre Buku Teologi

Angelologi dan Demonologi: Membahas seputar ajaran Gereja tentang malaikat dan iblis, baik secara teologis (teori) maupun secara praktis (mengacu ke berbagai kasus nyata yang terjadi). Buku yang termasuk genre ini:

Apologetik: Segala sesuatu tentang pembelaan iman Katolik. Ini adalah salah satu cara termudah untuk mencari jawaban buat kamu yang sering “diserang” dengan pertanyaan “mengapa”, contohnya: mengapa orang Katolik berdoa kepada Maria dan para kudus? Mengapa orang Katolik harus mengaku dosa? Mengapa orang Katolik mengimani kehadiran Kristus secara nyata dalam Ekaristi? Dst. Karena tujuannya adalah membela iman, maka dengan membaca buku apologetik, kita akan semakin merasa yakin dan pasti akan kebenaran iman Katolik. Berikut ini beberapa buku apologetik berbahasa Indonesia yang baik untuk dibaca:

  • “Katolik dan Fundamentalisme” oleh Karl Keating
  • “Mengapa Saya Menjadi Seorang Katolik” oleh David B. Curie
  • “Umat Bertanya, Romo Pid Menjawab” oleh Rm. Piedyarto O.Carm
  • “Reasons to Believe: Mengapa Beriman? Memahami, Menjelaskan, dan Membela Iman Katolik” oleh Scott Hahn
  • “Fakta-Fakta Iman: Jawaban-Jawaban atas Pertanyaan-pertanyaan Iman Katolik” Volume 1 dan 2 oleh Leon J. Suprenant dan Philip C. L. Gray
  • “Pedoman Apologetik Kristen” oleh Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli

Katolisisme Dasar: Pembahasan iman Katolik secara sistematis, yang strukturnya terdiri dari uraian tentang Syahadat Iman, Tujuh Sakramen, moralitas Katolik (10 Perintah Allah dan 5 Perintah Gereja), dan doa-doa Katolik. Beberapa buku yang saya rekomendasikan antara lain:

  • YouCat (Youth Catechism)
  • Kompendium Katekismus Gereja Katolik
  • Katekismus Gereja Katolik
  • “40 Signs of Life: 40 Kebiasaan Katolik dan Akar Biblisnya” oleh Scott Hahn
  • “Di Mana Hal-hal Itu Tertulis dalam Kitab Suci?” oleh P. N. J van Doornik, MSC
  • Understanding Our Father” oleh Scott Hahn
  • Sacraments” oleh Tim Gray
  • Paus Menjawab: Jawaban Sri Paus Benediktus XVI atas Berbagai Permasalahan Gereja dan Umat

Buku berbahasa Inggris

  • Your Life is Worth Living” oleh Fulton Sheen (e-booknya dapat diunduh di internet)
  • The Divine Romance” oleh Fulton Sheen
  • Theology for Beginners” oleh Frank Sheed
  • “Catholic Christianity” oleh Peter Kreeft
  • Introduction to Christianity” oleh Joseph Ratzinger (Pope Benedict XVI)
  • Fundamentals of Catholic Dogma” oleh Ludwig Ott
  • The Spiritual Life” oleh Adolphe Tanquerey

Dokumen Gereja: merupakan kumpulan dokumen gereja berupa ensiklik, anjuran apostolik, motu proprio, audiensi umum, dst. Pada umumnya dokumen Gereja merupakan bacaan yang cukup berat dan kurang cocok bagi pemula, namun tidak ada salahnya jika kamu ingin mencoba membaca, karena dalam dokumen-dokumen ini kamu akan menemukan posisi Gereja atas berbagai isu kerohanian dan sosial, serta penjelasannya.

Ekaristi dan Liturgi: seputar teologi, spiritualitas, mukjizat, serta cerita orang kudus yang berhubungan dengan Ekaristi dan Liturgi.

Kristologi: Seputar kehidupan Yesus Kristus, perkataan-Nya, tindakan-Nya, misteri-Nya. Beberapa buku yang bagus untuk dibaca antara lain:

Mariologi: segala hal yang berhubungan dengan Maria Bunda Kristus: perannya dalam rencana keselamatan, hubungannya dengan Kristus dan Gereja, statusnya sebagai yang dikandung tanpa noda, dan lain-lain. Salah satu buku Mariologi yang bagus ditulis oleh Scott Hahn, berjudul “Hail, Holy Queen”.

Seksualitas Katolik (Teologi Tubuh): Teologi Tubuh merupakan penjabaran tentang teologi seksualitas manusia dan hubungan antargender sesuai dengan ajaran Paus Sto. Yohanes Paulus II. Teologi Tubuh banyak berbicara tentang pacaran, seks, perkawinan, hidup selibat, serta martabat kita sebagai manusia laki-laki dan perempuan dan bagaimana menghidupinya.

  • “Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks bersama Yohanes Paulus II” oleh Rm. Deshi Ramadhani SJ
  • “Adam Harus Bicara” oleh Rm. Deshi Ramadhani SJ
  • “You Deserve the Truth” oleh Rm. Deshi Ramadhani SJ
  • Theology of the Body for Beginners” oleh Christopher West (bahasa Inggris)
  • Three to Get Married” oleh Fulton Sheen (bahasa Inggris)
  • Love and Responsibility” oleh Karol Wojtyla (St. Yohanes Paulus II) (bahasa Inggris)

Genre Buku Spiritualitas

Antologi Homili/Ceramah: Kumpulan homili yang ditulis oleh Paus, Uskup, Imam ataupun Santo/a.

Kitab Suci dan Tafsirnya: Buku yang termasuk genre ini adalah Kitab Suci dengan berbagai terjemahannya, juga buku-buku yang sifatnya berupa tafsir Kitab Suci atau semacam pengantar singkat untuk mengenal Kitab Suci.

  • Kitab Suci Komunitas Kristiani: Edisi Pastoral Katolik
  • “Saripati Kitab Suci: Membaca Alkitab Sesuai Ajaran Gereja” oleh Scott Hahn
  • “Seorang Bapa yang Setia pada Janji-Nya” oleh Scott Hahn
  • Ignatius Catholic Study Bible: Second Catholic Edition RSV, dilengkapi dengan komentar ayat Kitab Suci oleh Scott Hahn dan Curtis Mitch (bahasa Inggris)

Pertobatan (Conversion): Kisah nyata conversion (pertobatan, dibarengi dengan transformasi hidup) seseorang, dari agama lain atau denominasi lain ke Gereja Katolik, atau dari gaya hidup Katolik KTP alias sekuler, ke gaya hidup Katolik yang taat.

Riwayat Orang Kudus: kisah hidup orang kudus yang menceritakan kehidupan, pertobatan, dan karya mereka di dunia, yang ditulis dalam bentuk autobiografi atau biografi. Beberapa buku yang baik untuk dibaca:

  • Ensiklopedia Orang Kudus dari A Sampai Z oleh Adolf Heuken, SJ
  • Orang Kudus Sepanjang Tahun oleh Nicolaas Martinus Schneiders
  • “Come, Be My Light” — autobiografi Beata Teresa dari Kalkuta
  • “Seirama Langkah Tuhan: Biografi” St. Josemaria Escriva
  • “The Catholic Idols (Kisah Hidup Santo-Santa): Bacaan Inspiratif Bagi Kaum Muda” oleh Susan Helen Wallace FSP dan Melissa Wright

Spiritualitas: berkenaan dengan berbagai hal yang dapat membantu seseorang untuk menjalani kehidupan sebagai seorang Katolik. Ada banyak tema yang dibahas, seperti kehidupan doa, kekudusan, peperangan rohani, rahmat dan dosa, dst. Beberapa buku yang bagus untuk dibaca:

Buku Berbahasa Indonesia

  • “Arise from Darkness: What to Do When Life Doesn’t Make Sense”oleh Father Benedict Groeschel, C. F. R.
  • “Aku Ingin Melihat Allah: Sintesa Praktis Spiritualitas Karmelit” oleh P Marie-Eugene, OCD
  • “Mengikuti Jejak Kristus” oleh Thomas A. Kempis
  • “Jalan” oleh St. Josemaria Escriva

Buku Berbahasa Inggris

  • “Walk Humbly With Your God” oleh Father Andrew Apostoli, C. F. R.
  • “Introduction to the Devout Life” oleh St. Francis de Sales
  • “The Spiritual Combat” oleh Dom Lorenzo Scrupolli
  • “Abandonment to Divine Providence” by Jean-Pierre de Caussade
  • “Authenticity: A Biblical Theology of Discernment”oleh Father Thomas Dubay
  • “Fire Within” oleh Father Thomas Dubay
  • “Transformation in Christ” oleh Dietrich von Hildebrand
  • “The Fulfillment of All Desire: A Guidebook for The Journey to God Based on The Wisdom of the Saints”oleh Ralph Martin
  • “The Soul of the Apostolate” oleh Jean-Baptiste Chautard

4 komentar

  1. Terima kasih sekali, sebuah artikel yang sangat mencerahkan. Ada satu pertanyaan yang masih menggganjal di hati saya mengenai budaya kejawen yang menurut kita adalah suatu kekayaan budaya, bagaimana menurut gereja dengan adanya mitos, kepercayaan dan hal-hal yang berbau magis dalam budaya jawa karena banyak hal yang baik pula dalam budaya jawa yang selaras dengan ajaran katolik?
    Adakah buku-buku yang menjelaskan tentang inkulturasi iman katolik dalam budaya jawa? Dimana kami bisa mendapatkannya?

    1. Saudara Theodorus Indarto,

      Maaf baru membalas. Sayang sekali saya tidak tahu tentang buku seputar inkulturasi iman dalam budaya Jawa.

      Posisi Gereja terhadap budaya saya rasa cukup jelas: Gereja menerima dan menghargai apa yang benar dan baik dalam budaya tersebut, namun hal-hal budaya yang bertentangan dengan iman Katolik tidak dapat diterima.

  2. […] Pulung, Cornelius. “Buku dalam Perspektif Katolik: Sisi Terang Bacaan Rohani (Part II).” Lux Veritatis 7. (4 Mei 2015). Dapat diakses di https://luxveritatis7.wordpress.com/2015/05/04/buku-dalam-perspektif-katolik-sisi-terang-bacaan-roha… […]

  3. […] Keahlian yang dimilikinya ialah sebagai seorang tukang cukur dan juga seorang dokter, bahkan ia pun berhasil melampaui kehebatan gurunya. Namun sejak kecil Martin sudah menampakkan tanda-tanda kekudusan: ia sudah tertarik dalam kehidupan doa yang mendalam di hadapan Kristus yang tersalib. Martin tidak banyak memiliki talenta atau karunia kodrati (hanya sebagai seorang penyembuh atau dokter), namun dalam biografi ini, kita dapat melihat bagaimana karunia tunggal ini sungguh digunakan secara maksimal, dan betapa ia memiliki banyak karunia pada tingkat supernatural/adikodrati. Keberadaan Martin bukan sekedar ada demi dirinya saja, ia ada demi Kristus, untuk melayani Kristus, dalam persatuan yang intim dengan Dia yang tersalib. Kepeduliannya terhadap orang-orang miskin, sakit dan membutuhkan membuat saya menganggapnya sebagai santo yang paling empatik terhadap orang lain. Tidak hanya itu, walaupun kondisi hidupnya mirip seperti seorang pembantu, namun ia sangatlah bijaksana dalam perkara rohani. Ia tahu nasihat yang tepat bagi setiap orang yang datang kepadanya, bahkan Ia memiliki pengetahuan mengenai Summa Theologica, sebuah masterpiece karya St. Thomas Aquinas, padahal ia tidak pernah menjalani studi teologi! Tepatlah apa yang dikatakan Aquinas, bahwa sesunggunya kita dapat memahami lebih banyak dengan berkontemplasi dalam doa di hadapan Kristus, jauh lebih banyak daripada membaca buku (bukan berarti membaca buku itu jelek dan tidak berguna, namun dalam membaca buku, kita pun harus melakukannya dengan disposisi tertentu agar bacaan tersebut dapat memberikan buah roh…). […]

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: