Tentang Hukuman Mati

Pertanyaan dari salah satu pengunjung blog Lux Veritatis 7:

Terima kasih atas karunia lewat tulisan ini, sebagai makanan rohani saya, Saya tidak komentar, hanya beretanya satu hal yg sedang ramai dibicaran di media masa mengenai HUKUMAN MATI . Apakah seseorang bisa dikategorikan berdosa bila menyetujui adanya pelaksanaan hukuman mati ? Sebab menurut saya orang picik ini, hanya dalam batin saja apalagi terang-terangan menyetujui hukuman mati adalah merupakan dosa besar pula. sebab keluar dari hati yg penuh keseriusan. Itu pelanggaran hukum Allah ” Jangan membunuh ” … mohon penjelasannya. Terima kasih.

Saya akan coba menjelaskan, semoga jawaban saya bisa sedikit membantu.

Mari kita lihat apa kata Kitab Suci,

Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri. (Kejadian 9:6)

Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. (Rm 13:3-5)

Di Kitab Suci jelas-jelas tidak menolak hukuman mati, bahkan hukuman mati didirikan sendiri oleh Allah (Kej 9:6), menuntut kepatuhan kita kepada pemerintahan untuk selalu berbuat baik dan tidak melanggar hukum. Pemerintah mempunyai kuasa untuk menghukum orang yang bersalah, dalam kasus tertentu termasuk memberikan hukuman mati.

apakah berdosa bila kita menyetujui adanya pelaksanaan hukuman mati atau dituduh tidak taat pada ajaran Gereja? Jawabanny tentu saja TIDAK. Paus Emeritus Benediktus XVI saat masih menjadi prefek Kongregasi Ajaran Iman (CDF) pada tahun 2004 mengeluarkan instruksi kepada Uskup-Uskup di Amerika tentang “Kepantasan Dalam Menerima Komuni Kudus – Prinsip Umum”, menjelaskan bahwa:

Not all moral issues have the same moral weight as abortion and euthanasia. For example, if a Catholic were to be at odds with the Holy Father on the application of capital punishment or on the decision to wage war, he would not for that reason be considered unworthy to present himself to receive Holy Communion. While the Church exhorts civil authorities to seek peace, not war, and to exercise discretion and mercy in imposing punishment on criminals, it may still be permissible to take up arms to repel an aggressor or to have recourse to capital punishment. There may be a legitimate diversity of opinion even among Catholics about waging war and applying the death penalty, but not however with regard to abortion and euthanasia.

Kalau saya perjelas instruksi beliau, isu moral seperti aborsi, euthanasia tidak sama dengan isu hukuman mati. Soal isu aborsi dan euthanasia semua orang Katolik harus setuju dan tunduk kepada ajaran Gereja, yaitu menolak keras aborsi dan euthanasia. Tetapi tidak soal hukuman mati. Seseorang Katolik boleh berbeda pendapatnya soal hukuman mati atau perang. Dia masih dapat menerima Komuni Kudus. Di satu sisi Gereja menyarankan negara untuk mencari perdamaian, bukan perang dan mempraktekan pengampunan dan kebijaksanaan dalam menerapkan hukuman mati kepada para kriminal, di sisi lain negara diperbolehkan mengangkat senjata melawan para agresor atau mempraktekkan hukuman mati.

Saya secara pribadi mendukung hukuman mati, banyak yang menolak hukuman mati berpendapat karena ini kejam, merusak citra Allah. Saya akan bertanya dengan orang-orang tersebut, jika anda percaya manusia itu citra Allah dan hidup itu berharga, bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang sudah merusak citra Allah? Kitab Kejadian menuliskannya dengan jelas.

Referensi untuk di baca:

1. http://unamsanctamcatholicam.blogspot.com/2015/03/a-reminder-about-capital-punishment.html

2. http://www.catholicculture.org/culture/library/view.cfm?id=6041

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: