Homili Minggu Kedua Paskah: Mengenang Ulang Tahun ke-80 Paus Benediktus

13382_968195529865444_6067086135823745290_n

Misa Syukur
Memperingati Ulang Tahun ke-80 Paus Benediktus

Homili Yang Terkudus Benediktus XVI
Minggu Kedua Paskah, 15 April 2007

 

Saudara-saudari terkasih,

Minggu ini disebut “in Albis” seturut tradisi lama. Pada hari ini, neophytes (orang yang baru dibaptis sebagai Katolik) Malam Paskah masih mengenakan pakaian putih mereka, simbol terang yang Tuhan berikan pada mereka melalui Baptisan. Selanjutnya, mereka akan melepaskan pakaian putih tersebut, namun mereka harus mengenalkan dalam kehidupan mereka setiap hari, kecemerlangan baru yang disampaikan kepada mereka.

Mereka harus dengan tekun menjaga nyala api kebenaran dan kebaikan yang Tuhan hidupkan dalam diri mereka, untuk membawa kepada dunia secerah kemegahan dan kebaikan Allah.

Bapa Suci Yohanes Paulus II menginginkan agar minggu ini dirayakan sebagai Pesta Kerahiman Ilahi: dalam kata “kerahiman ilahi”, ia merangkum dan menafsirkan secara baru bagi masa kita, seluruh misteri Penebusan. Ia telah menjalani hidup di bawah dua rezim kediktatoran, dan dalam persentuhannya dengan kemiskinan, kebutuhan dan kekerasan, ia memiliki pengalaman mendalam tentang kuasa kegelapan yang juga mengancam dunia masa kini.

Tetapi ia juga memiliki pengalaman yang sama kuatnya tentang kehadiran Allah yang melawan semua kekuatan kegelapan ini dengan kuasa-Nya, yang secara total berbeda dan ilahi: dengan kuasa kerahiman ilahi. Kerahiman ilahilah yang mengakhiri kejahatan. Di dalamnya terungkap hakekat spesial Allah – kekudusan-Nya, kuasa kebenaran dan kasih.

Dua tahun lalu, setelah Vesper Pertama pesta ini, Yohanes Paulus II mengakhiri kehidupan duniawinya. Dengan wafatnya, ia memasuki terang Kerahiman Ilahi, yang melampaui kematian dan berawal dari Allah, ia sekaran berbicara kepada kita dalam cara yang baru.

Berimanlah, ia memberitahu kita, dalam Kerahiman Ilahi! Jadilah pria dan wanita yang membawa belas kasih Allah hari demi hari. Kerahiman ilahi adalah jubah terang yang Tuhan berikan pada kita melalui Baptisan. Kita tidak seharusnya membiarkan terang ini lenyap; sebaliknya, ia harus bertumbuh di dalam diri kita setiap hari dan membawa kabar gembira Allah kepada dunia.

Pada hari-hari yang diterangi secara khusus oleh terang kerahiman ilahi, sebuah kebetulan yang berarti terjadi pada saya: Saya dapat memandang kembali hidup saya selama 80 tahun.

Kita berkumpul di sini untuk merenungkan pemenuhan periode kehidupan saya yang panjang. Jelas sekali, Liturgi tidak seharusnya digunakan untuk berbicara tentang diri sendiri, tentang saya, namun kehidupan seseorang dapat berperan dalam mewartakan kerahiman ilahi Allah.

“Kemarilah dan dengarlah, kalian semua yang takut akan Tuhan, dan aku akan memberitahu apa yang telah Ia lakukan kepadaku”, kata Pemazmur (66[65]:16). Saya selalu menganggap ini sebagai karunia Kerahiman Ilahi yang besar, yaitu bahwa saya lahir dan dilahirkan kembali, pada hari yang sama yang menandai permulaan paskah. Oleh karena itu, saya lahir sebagai anggota keluarga saya dan keluarga Allah yang besar pada hari yang sama.

Ya, saya bersyukur kepada Allah karena saya telah mengalami apa makna “keluarga”; Saya mampu mengalami apa arti “kebapakan”, sehingga perkataan tentang Allah sebagai Bapa dapat dipahami oleh saya dari dalam; atas dasar pengalaman manusiawi, sebuah akses terbuka bagi saya kepada Bapa yang agung dan baik yang ada di Surga.

Kita memiliki tanggung jawab kepada-Nya, tetapi pada saat yang sama Ia memberikan kita kepercayaan agar belas kasih dan kebaikan yang dengannya Ia terima, bahkan kelemahan kita dan menopang kita agar selalu memancar dalam keadilannya, dan agar kita secara bertahap dapat berjalan dalam kebenaran.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena memampukan saya memiliki pengalaman mendalam tentang makna kebaikan sosok ibu, yang terbuka bagi siapa saya yang mencari perlindungan dan dalam cara ini mampu memberi saya kebebasan.

Saya bersyukur kepada Tuhan atas saudari dan saudara saya, yang dengan pertolongan mereka, mereka mendekatkan diri pada saya dengan setia sepanjang hidupku. Saya bersyukur kepada Tuhan atas teman yang saya jumpai dalam perjalanan dan bagi penasehat dan sahabat yang telah Ia berikan pada saya.

Secara khusus saya berterima kasih pada-Nya, dari hari pertama kehidupan saya, saya telah mampu memasuki dan berkembang dalam komunitas umat beriman yang mana penghalang antara kehidupan dan kematian, antara Surga dan bumi, terbuka lebar. Saya bersyukur karena mampu belajar banyak hal, dari kebijaksanaan komunitas ini yang tidak hanya meliputi pengalaman manusiawi dari masa lampau yang jauh: kebijaksanaan komunitas ini bukanlah kearifan manusia; melauinya, kearifan Allah – kebijaksanaan kekal – menjangkau kita.

Pada Minggu ini Bacaan Pertama memberitahu kita bahwa saat fajar Gereja yang baru lahir, orang-orang membawa orang sakit ke lapangan sehingga ketika Petrus lewat, bayangannya jatuh menimpa mereka: kepada bayangan ini mereka mengatributkan kuasa yang menyembuhkan. Bayangan ini, kenyataannya, dilemparkan melalui terang Kristus dan karenanya dalam dirinya mempertahankan kuasa kebaikan ilahi.

Sedari awal, melalui komunitas Gereja Katolik, bayangan Petrus telah menyelubungi kehidupan saya dan saya telah belajar bahwa ia adalah bayangan yang baik – bayang-bayang yang menyembuhkan persis karena ia pada akhirnya berasal dari Kristus sendiri.

Petrus adalah manusia dengan segala kelemahan manusiawi, tetapi terutama ia adalah manusia yang penuh iman yang berhasrat dalam Kristus, penuh kasih kepada-Nya. Melalui iman dan kasihnya, kuasa menyembuhkan Kristus dan kekuatannya yang menyatukan, menjangkau manusia, sekalipun ia bercampur dengan kelemahan Petrus. Marilah kita mencari bayang-bayang Petrus kini untuk dapat berdiri dalam terang Kristus!

Lahir dan dilahirkan kembali, sebuah keluarga duniawi dan keluarga beasr Allah: ini adalah karunia belas kasih Allah yang besar, fondasi yang menopang kita. Selagi saya melanjutkan perjalanan kehidupan saya, saya menjumpai karunia yang baru dan menuntut: panggilan menuju pelayanan imamat.

Pada Pesta St. Petrus dan Paulus tahun 1951, selagi saya mengahadapi tugas ini, ketika kami berbaring telungkup di lantai Katedral Freising – kami lebih dari 40 orang – dan atas diri kami semua Orang Kudus dipanggil, saya merasa terganggu dengan kesadaran akan kemiskinan hidup saya.

Ya, merupakan sebuah penghiburan bagi saya, bahwa perlindungan orang Kudus Allah, mereka yang hidup dan mati, dipanggil atas diri kami. Saya tahu bahwa saya tidak akan dibiarkan sendirian. Dan iman dalam perkataan Yesus, yang kami dengar terus menerus melalui bibir Uskup selama Liturgi Pentahbisan, mengilhami kami! “Aku tidak lagi memanggil kamu hamba, melainkan sahabatku…” Saya mampu mengalami hal ini secara mendalam: Ia, Tuhan, bukan hanya Tuhan tetapi juga seorang sahabat. Ia telah menempatkan tangan-Nya di atasku dan tidak akan meninggalkan saya.

Perkataan ini diucapkan dalam konteks pemberian fakultas administrasi Sakramen Tobat, dan karenanya dapat mengampuni dosa dalam nama Kristus. Kita mendengar hal yang sama dalam Injil: Tuhan menghembuskan [Roh-Nya] di atas para murid. Ia memberikan mereka Roh-Nya – Roh Kudus: “Bila kamu mengampuni dosa orang, maka dosanya diampuni…”

Roh Yesus Kristus adalah kuasa pengampunan. Ia adalah kuasa Kerahiman Ilahi. Ia memungkinkan kita untuk memulai kembali – selalu memperbaharui. Persahabatan dengan Yesus Kristus adalah persahabatan dengan Ia yang menjadikan kita orang-orang yang mengampuni, Ia yang juga mengampuni kita, membangkitkan kita tanpa henti dari kelemahan kita dan dalam cara ini mendidik kita, menanamkan dalam kita sebuah kesadaran batin akan kewajiban kasih, akan kewajiban untuk menanggapi kepercayaan-Nya dengan kesetiaan kita.

Dalam bacaan Injil hari ini kita juga mendengar kisah Rasul Thomas yang berjumpa dengan Tuhan yang bangkit: Sang Rasul diijinkan untuk menyentuh lukanya dan karenanya mengakui Dia – terutama identitas manusiawi Yesus dari Nazareth, Thomas mengakui Ia dalam identiasnya yang sejati dan terdalam: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28.)

Tuhan membawa luka-luka bersama diri-Nya menuju keabadian: Ia adalah Allah yang terluka; Ia membiarkan dirinya dilukai melalui kasih-Nya pada kita. Luka-Nya adalah tanda bagi kita bahwa Ia memahami dan mengijinkan diri-Nya dilukai karena kasih-Nya bagi kita.

Luka-luka Kristus: betapa kasat matanya mereka bagi kita dalam sejarah kita ini! Memang, lagi dan lagi Ia mengijinkan diri-Nya dilukai bagi kita. Betapa pastinya belas kasih-Nya, betapa besar penghiburan yang diberikan luka-Nya bagi kita! Dan betapa besar rasa aman yang mereka berikan pada kita mengenai identitas-Nya: “Ya Tuhanku dan Allahku!”. Dan ini merupakan kewajiban kita, kewajiban untuk membiarkan diri kita dilukai karena Dia!

Kerahiman Allah menemani kita setiap hari. Agar mampu memahami belas kasihnya cukuplah bagi kita untuk memiliki hati yang mawas. Kita secara berlebihan cenderung menyadari hanya upaya sehari-hari yang dipaksakan pada kita sebagai anak-anak Adam.

Bila kita membuka hati kita, dan juga menenggelamkan diri kita di dalamnya, kita terus menerus dapat menyadari betapa baiknya Allah bagi kita; bagaimana Ia memikirkan kita secara detil dalam hal-hal kecil, dan karenanya membantu kita menggapai hal yang penting.

Dengan bertambahnya beban tanggung jawab, Tuhan juga telah membawa bantuan baru bagi hidup saya. Berulang kali saya melihat dengan sukacita yang dipenuhi rasa syukur, betapa banyak orang yang menopang saya dengan doa-doa mereka; Saya melihat bahwa dengan iman dan kasih mereka membantu saya menjalankan pelayanan saya; Saya melihat bahwa mereka sabar terhadap kelemahan saya dan juga menyadari dalam bayang-bayang Petrus, terang Yesus Kristus yang sungguh baik.

Pada momen ini, karenanya, saya ingin mengucap syukur pada Tuhan dan kalian semua dengan segenap hati. Saya ingin mengakhiri homily ini dengan doa seorang Paus yang suci, St. Leo Agung, doa yang saya tulis dalam kartu suvenir tahbisan saya 30 tahun yang lalu:

“Berdoalah kepada Allah kita yang baik, agar dalam masa kita Ia akan selalu baik dengan menguatkan iman, menambahkan kasih dan meningkatkan perdamaian. Semoga ia menjadikan saya, hamba-Nya yang dina ini, memadai bagi tugas-Nya dan berguna bagi pembangunan kalian, dan mampukan saya menjalani pelayanan ini agar bersama dengan waktu yang diberikan pada saya, bakti saya dapat bertumbuh. Amin.”

Diterjemahkan dari Mass of Thanksgiving in Remembrance of the Pope’s 80 Birthday.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: