Paus Benediktus XVI: “Kuatkanlah Imanmu dalam Tuhan”

pope-benedict-xvi-shutterstock-featured-w740x493

“Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu…” (Kolose 2:7)

Sahabatku terkasih, Saya sering merenung tentang World Youth Day yang diselenggarakan di Sydney tahun 2008. Di sana kita memiliki pengalaman sebuah festival iman yang agung di mana Roh Allah bekerja secara aktif, membangun persekutuan mendalam di antara partisipan yang datang dari berbagai penjuru dunia. Pertemuan itu, seperti pada pertemuan sebelumnya, menghasilkan buah melimpah dalam kehidupan banyak orang muda dan dalam kehidupan seluruh Gereja. Sekarang kita menanti World Youth Day selanjutnya, diselenggarakan di Madrid pada Agustus 2011. Kembali ke tahun 1989, beberapa bulan sebelum kejatuhan historis Tembok Berlin, peziarahan orang muda ini diadakan di Spanyol, di Santiago de Compostela. Sekarang, di saat ketika Eropa sungguh perlu menemukan kembali akar Kekristenannya, pertemuan kita akan dilaksanakan di Madrid dengan tema: “Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, kokoh dalam iman” (bdk Kol 2:7). Saya mendorong kalian semua ambil bagian dalam peristiwa ini, yang begitu penting bagi Gereja di Eropa dan bagi Gereja universal. Saya ingin semua orang muda – mereka yang berbagi iman kita dalam Yesus Kristus, tetapi juga mereka yang merasa ragu atau bimbang, yang tidak percaya pada-Nya – untuk berbagi pengalaman ini, yang dapat menjadi hal yang menentukan bagi hidup mereka. Ini merupakan pengalaman akan Tuhan Yesus, yang bangkit dan hidup, dan akan kasih-Nya bagi kita semua.

1. Di Sumber Aspirasi Kalian yang Terdalam

Dalam setiap periode sejarah, termasuk kurun waktu kita, banyak orang muda mengalami hasrat mendalam bagi sebuah hubungan personal yang ditandai oleh kebenaran dan solidaritas. Banyak di antara mereka yang merindukan untuk membangun persahabatan sejati, mengenal cinta sejati, membangun keluarga yang tetap bersatu, mencapai pemenuhan pribadi dan rasa aman yang nyata, semua itu merupakan jaminan akan masa depan yang damai dan bahagia. Ketika mengenang masa muda saya, saya menyadari bahwa stabilitas dan rasa aman bukanlah pertanyaan yang memenuhi pikiran kaum muda. Benar, penting untuk memiliki pekerjaan dan karenanya memiliki fondasi yang kokoh di atas kaki kita, namun masa muda juga merupakan momen ketika kita mencari untuk mendapatkan yang terbaik dari kehidupan. Ketika aku merenung kembali ke masa itu, aku mengingat bahwa, terutama, kami tidak puas dengan kehidupan kelas menengah yang nyaman. Kami menginginkan sesuatu yang besar, yang baru. Kami ingin menemukan kehidupan itu sendiri, dalam segala kemegahan dan keindahannya. Secara alami, hal tersebut dikarenakan waktu ketika kami hidup. Selama masa kediktatoran Nazi dan perang, kami “dikelilingi” oleh struktur kekuasaan yang dominan. Jadi kami ingin keluar menuju tempat terbuka, mengalami seluruh rentang kemungkinan manusia. Saya pikir bahwa, sampai batas tertentu, dorongan untuk keluar dari kehidupan biasa ada pada setiap generasi. Bagian dari menjadi muda ialah menginginkan sesuatu yang melampaui kehidupan sehari-hari dan pekerjaan yang aman, sebuah kerinduan akan sesuatu yang sungguh lebih agung. Apakah hal ini hanya impian kosong semata yang memudar selagi kita bertambah tua? Tidak! Pria dan wanita diciptakan untuk sesuatu yang agung, bagi ketakterhinggaan. Tak ada hal lain yang akan cukup bagi dirinya. St. Agustinus benar ketika ia berkata “hati kami gelisah sampai ia beristirahat dalam Dikau”. Kerinduan akan kehidupan yang lebih bermakna adalah tanda bahwa Allah menciptakan kita dan kita memikul “jejak”-Nya. Allah adalah kehidupan, dan itulah alasannya setiap ciptaan meraih menuju kehidupan. Karena manusia diciptakan dalam citra Allah, kita melakukan ini dalam cara yang unik dan spesial. Kita meraih demi cinta, sukacita dan kedamaian. Jadi kita bisa melihat betapa tidak masuk akalnya untuk berpikir bahwa kita dapat sungguh hidup dengan meniadakan Allah dari kehidupan! Allah adalah sumber kehidupan. Mengesampingkan Allah artinya memisahkan diri kita dari sumber itu, dan akibatnya kita dilucuti dari pemenuhan dan sukacita: “tanpa Sang Pencipta, ciptaan memudar menuju ketiadaan” (Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 36). Di beberapa bagian dunia, secara khusus di Barat, budaya masa kini cenderung meniadakan Allah, dan menganggap iman hanya sebagai persoalan pribadi tanpa relevenasi bagi kehidupan masyarakat. Walaupun serangkaian nilai yang mendasari masyarakat berasal dari Injil – nilai seperti kesadaran akan martabat manusia, solidaritas, kerja dan keluarga – kita melihat semacam “gerhana Allah” terjadi, sejenis amnesia yang, meskipun bukan penolakan langsung terhadap Kekristenan, namun tetap merupakan penyangkalan terhadap harta karun iman kita, sebuah penyangkalan yang dapat mengarah pada hilangnya identitas kita yang terdalam. Untuk alasan ini, sahabatku terkasih, saya mendorong kalian semua untuk menguatkan imanmu dalam Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Kalian adalah masa depan masyarakat dan Gereja! Seperti yang ditulis Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose, penting sekali untuk memiliki akar, sebuah fondasi yang kokoh! Hal ini secara khusus sungguh benar sekarang. Banyak orang yang tidak memiliki titik acuan yang stabil yang di atasnya mereka membangun kehiduoan mereka, dan mereka berakhir dalam rasa tidak aman yang mendalam. Ada sebuah mentalitas relativisme yang bertumbuh, yang menganggap bahwa semuanya secara setara sah, bahwa kebenaran dan titik acuan yang absolut tidaklah ada. Tetapi cara berpikir ini tidak menuntun pada kebebasan sejati, melainkan pada ketidakstabilan, kebingungan dan konformitas buta terhadap tren masa kini. Sebagai orang muda, kalian berhak menerima dari generasi sebelumnya titik acuan yang kokoh untuk menolongmu membuat pilihan dan di atasnya kalian membangun kehidupan: seperti tumbuhan yang masih muda, yang membutuhkan tanah yang kuat sampai ia bisa membenamkan akarnya secara mendalam dan menjadi pohon yang kuat, yang mampu menghasilkan buah.

2. Ditanam dan Dibangun dalam Yesus Kristus

Untuk menekankan pentingnya iman dalam kehidupan umat beriman, saya ingin merenung bersamamu tentang tiga istilah yang digunakan St. Paulus dalam ungkapan ini: “Ditanam dan dibangun dalam Yesus Kristus, kokoh dalam iman” (bdk. Kol 2:7).  Kita bisa membedakan tiga gambaran: “ditanam” mengingatkan kita akan pohon dan akar yang memberinya makan; “dibangun” mengacu kepada konstruksi sebuah rumah; “kokoh” menandakan pertumbuhan kekuatan fisik dan moral. Ketiga gambaran ini sangat mengesankan. Sebelum mengomentarinya, saya ingin menunjukkan bahwa dari sudut pandang tata bahasa, ketiga istilah tersebut dalam teks aslinya berada dalam bentuk passive voice. Ini berarti bahwa Kristus sendiri yang mengambil inisiatif untuk menanam, membangun dan menguatkan umat beriman. Gambaran pertama ialah sebuah pohon yang ditanam dengan kokoh karena akarnya, yang menjaganya tetap tegak lurus dan memberinya makanan. Tanpa akar tersebut, ia akan dirobohkan angin dan mati. Apakah akar kita? Secara alami orang tua kita, keluarga kita, dan budaya bangsa kita merupakan unsur yang sangat penting bagi identitas pribadi kita. Tetapi Kitab Suci menyatakan unsur yang lain. Nabi Yeremia menulis: “Terberkatilah mereka yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer 17:7-8). Bagi sang nabi, merambatkan akar berarti menempatkan harapan dalam Tuhan. Dari-Nya kita mendapatkan kehidupan kita. Tanpa-Nya, kita tidak bisa sungguh hidup. “Allah memberikan kita kehidupan kekal, dan kehidupan ini ada dalam Putra-Nya” (1 Yoh 5:11). Yesus sendiri memberitahu kita bahwa Ia adalah kehidupan kita (bdk Yoh 14:6). Konsekuensinya, iman Kristen bukan hanya soal mengimani hal-hal tertentu sebagai hal yang benar, namun terutama ialah relasi pribadi dengan Yesus Kristus. Iman adalah perjumpaan dengan Putra Allah yang memberikan energi baru bagi seluruh keberadaan kita. Ketika kita memasuki hubungan yang pribadi dengannya, Kristus menyatakan identitas kita yang sejati, dalam persahabatan dengan-Nya, kehidupan kita bertumbuh menuju pemenuhan yang utuh. Ada saatnya, ketika kita masih muda, ketika setiap kita bertanya-tanya: apa makna yang dimiliki hidupku? Arah dan tujuan seperti apa yang harus kuberikan bagi hidupku? Ini adalah saat yang sangat penting, dan ia dapat membuat kita cemas, mungkin untuk sementara waktu. Kita mulai bertanya tentang jenis pekerjaan yang seharusnya kita ambil, jenis relasi yang harus kita bangun, persahabatan yang seharusnya kita tanam…Di sini, sekali lagi, saya mengingat masa muda saya. Saya cukup sadar sejak awal bahwa Tuhan menginginkan saya untuk menjadi imam. Lalu kemudian, setelah perang, ketika saya berada di seminari dan universitas, sedang berada di jalan menuju tujuan itu, saya harus menangkap kembali kepastian itu. Saya harus bertanya pada diri sendiri: apakah ini sungguh jalan yang seharusnya saya ambil? Akankah saya mampu tetap setia kepada-Nya dan secara utuh melayani-Nya? Keputusan seperti ini menuntut sebuah pergumulan tertentu. Tidak bisa tidak. Tapi kemudian datanglah kepastian itu: Ini adalah hal yang benar! Ya, Tuhan menginginkan saya, dan Ia akan memberikan saya kekuatan. Bila saya mendengarkan Ia dan berjalan bersama-Nya, saya sungguh menjadi diri saya sendiri. Yang penting bukanlah pemenuhan keinginan saya, melainkan memenuhi kehendak-Nya. Dalam cara ini, kehidupan sungguh menjadi autentik. Seperti akar yang menjaga pohon tertanam kokoh di tanah, jadi fondasi sebuah rumah juga memberikan stabilitas yang bertahan lama. Melalui iman, kita telah dibangun dalam Yesus Kristus (bdk. Kol 2:7), bahkan seperti rumah yang dibangun di atas fondasinya. Sejarah suci memberikan kita banyak teladan orang kudus yang membangun kehidupan mereka di atas sabda Allah. Pertama ialah Abraham, bapa kita dalam iman, yang menaati Allah ketika ia diminta meninggalkan tanah leluhurnya dan memulai perjalanan menuju tanah yang tak dikenal. “Abraham beriman kepada Allah, dan Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran, dan ia disebut sebagai sahabat Allah” (Yak 2:23). Dibangun dalam Yesus Kristus berarti menanggapi panggilan Allah secara positif, mengandalkan Ia dan melaksanakan perkataan-Nya. Yesus sendiri menegur para murid: “Mengapa kamu memanggil aku ‘Tuhan, Tuhan’, dan tidak melakukan apa yang aku katakana kepadamu?” (Luk 6:46). Ia meneruskan perkataannya dengan menggunakan gambaran membangun rumah: “Aku akan menunjukkan kepadamu seperti apa seseorang yang datang kepadaku, mendengar perkataanku, dan melakukannya. Ia seperti seseorang yang membangun rumah di atas batu karang, yang menggali dalam-dalam dan meletakkan fondasi di atas batu karang; ketika banjir datang, sungai menyembur menghempaskan rumah itu tapi tidak dapat menghancurkannya karena ia telah dibangun dengan kokoh” (Luk 6:47-48). Sahabatku terkasih, bangunlah rumahmu di atas batu karang, seperti orang yang “menggali dalam-dalam”. Cobalah setiap hari mengikuti perkataan Kristus. Dengarkanlah Ia sebagai sahabat sejati yang dengannya kalian bisa berbagi jalanmu dalam hidup. Bersama Ia di sisimu, kalian akan menemukan keberanian dan harapan dalam menghadapi kesulitan dan masalah, dan bahkan mampu mengatasi kekecewaan dan rintangan. Kalian terus menerus ditawarkan pilihan yang mudah, tetapi kalian sendiri tahu bahwa pilihan tersebut pada akhirnya menipu dan tidak bisa memberikan kalian kedamaian dan sukacita. Hanya sabda Allah yang dapat menunjukkan kita jalan yang autentik, dan hanya iman yang kita terima, yang adalah terang yang menyinari jalan kita. Terimalah dengan penuh rasa syukur karunia rohani yang telah kalian terima dari keluargamu, berusahalah menanggapi panggilan Allah dengan penuh tanggung jawab. Jangan percaya pada mereka yang memberitahu kalian bahwa kalian tidak memerlukan orang lain untuk membangun kehidupanmu! Temukan dukungan dalam iman mereka yang dekat padamu, dalam iman Gereja, dan sampaikan rasa terima kasih pada Tuhan karena kalian telah menerima iman dan menjadikannya milikmu!

3. Kokoh dalam Iman

Kamu “ditanam dan dibangun dalam Yesus Kristus, kokoh dalam iman” (bdk. Kol 2:7). Perkataan dari surat St. Paulus tersebut ditulis untuk menanggapi kebutuhan khusus jemaat di kota Kolose. Komunitas itu diancam oleh tren budaya tertentu yang membuat umat beriman menjauhi Injil. Konteks budaya kita, sahabat muda terkasih, seperti yang terjadi pada jemaat di Kolose lampau. Memang, ada arus pemikiran sekuler yag bertujuan meminggirkan Allah dalam kehidupan masyarakat dengan mengajukan dan mengupayakan untuk membuat “surga” tanpa-Nya. Namun pengalaman memberitahu kita bahwa dunia tanpa Allah menjadi “neraka”: penuh dengan keegoisan, keluarga yang rusak, kebencian di antara individu dan bangsa, dan kurangnya kasih sayang, sukacita dan harapan yang besar. Di sisi lain, ketika individu dan bangsa menerima kehadiran Allah, menyembah Ia dalam kebenaran dan mendengarkan suara-Nya, maka peradaban kasih dibangun, sebuah peradaban di mana martabat semua orang dihormati, dan persekutuan bertambah, dengan semua keuntungannya. Namun beberapa orang Kristen membiarkan diri mereka dihasut oleh sekulerisme atau ditarik oleh arus religius yang menjauhkan mereka dari iman kepada Yesus Kristus. Ada juga mereka yang, walau tidak takluk terhadap bujukan tersebut, namun semata-mata membiarkan iman mereka menjadi dingin, dengan dampak negatif yang tak terhindarkan dalam kehidupan moral mereka. Kepada orang Kristen yang dipengaruhi oleh gagasan yang asing terhadap Injil, rasul Paulus berbicara tentang kuasa wafat dan kebangkitan Kristus. Misteri ini adalah fondasi kehidupan kita dan pusat iman Kristen. Semua filosofi yang mengabaikannya dan menganggapnya sebagai “kebodohan” (1 Kor 1:23) menyatakan keterbatasan mereka berkenaan dengan pertanyaan besar yang ada di lubuk hati manusia yang terdalam. Sebagai penerus Rasul petrus, saya juga ingin meneguhkan kalian dalam iman (bdk Luk 22:32). Kita dengan teguh percaya bahwa Yesus Kristus mempersembahkan diri-Nya di Salib untuk memberikan ktia kasih-Nya. Dalam sengsara-Nya, Ia memikul penderitaan kita, mengambil atas diri-Nya dosa-dosa kita, memperoleh pengampunan bagi kita dan mendamaikan kita dengan Allah Bapa, membuka jalan bagi kita menuju kehidupan kekal. Oleh karena itu kita dibebaskan dari hal yang paling membebani kehidupan kita: perbudakan dosa. Kita dapat mencintai semua orang, bahkan musuh kita, dan kita dapat membagi kasih ini dengan saudara-saudari kita yang paling miskin dan mereka semua yang berada dalam kesulitan. Sahabat terkasih, Salib sering menakutkan kita karena ia kelihatannya menjadi sebuah penyangkalan hidup. Kenyataannya, yang sebaliknyalah yang benar! Salib merupakan tanggapan “Ya” dari Allah bagi manusia, ungkapan tertinggi akan kasih-Nya dan sumber yang darinya mengalir kehidupan kekal. Memang, dari hati Yesus, yang ditikam di salib, mengalirlah kehidupan ilahi ini, selalu dapat menjangkau mereka yang mengangkat matanya menuju Ia yang tersalib. Saya hanya bisa mendesak kalian, untuk memeluk salib Yesus, tanda kasih Allah, sebagai sumber kehidupan baru. Terpisah dari Yesus Kristus yang bangkit dari mati, tidak bisa ada keselamatan! Ia sendiri yang bisa membebaskan dunia dari kejahatan dan membawa pertumbuhan Kerajaan keadilan, damai, dan kasih bagi mereka yang mendambakannya.

4. Percaya pada Yesus tanpa Perlu Melihat Dia

Dalam Injil kita mememukan deskripsi pengalaman iman St. Thomas ketika ia menerima misteri salib dan kebangkitan Kristus. Thomas merupakan salah satu dari dua belas rasul. Ia mengikuti Yesus dan merupakan saksi mata akan penyembuhan dan mukjizat-Nya. Ia mendengarkan perkataan-Nya, dan ia mengalami kekhawatiran di saat kematian Yesus. Paskah sore itu ketika Tuhan menampakkan diri kepada para murid, Thomas tidak ada. Ketika ia diberitahu bahwa Yesus hidup dan telah menampakkan diri-Nya, Thomas berkata: “Kecuali aku melihat bekas paku di kedua tangannya, dan mencucukkan jariku di dalam bekas paku itu dan di lambungnya, aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25). Kita juga ingin merasa mampu melihat Yesus, berbicara kepada-Nya dan merasakan kehadiran-Nya. Bagi banyak orang masa kini, kian sulit untuk mendekati Yesus. Ada banyak gambaran tentang Yesus yang beredar, yang mengklaim sebagai hal yang ilmiah, namun mengurangi keagungan dan keunikan pribadinya. Itulah alasannya, setelah bertahun-tahun melakukan studi dan merenung, saya berpikir tentang upaya membagikan perjumpaan pribadi saya dengan Yesus dengan menuliskannya dalam sebuah buku. Ini adalah cara untuk membantu orang lain melihat, mendengar dan menyentuh Tuhan yang di dalamnya Allah datang kepada kita untuk mengenalkan diri-Nya. Yesus sendiri, ketika ia menampakkan diri lagi kepada para murid seminggu kemudian, berkata kepada Thomas: “Masukkanlah jarimu di sini dan lihatlah tanganku. Ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam lambungku. Dan jangan engkau tidak percaya lagi, namun percayalah” (Yoh 20:27).  Kita juga bisa memiliki kontak yang kasat mata bersama Yesus dan menempatkan tangan kita di atas tanda-tanda Sengsara-Nya, tanda kasih-Nya. Dalam sakramen-sakramenlah Ia secara khusus mendekati kita dan memberikan diri-Nya pada kita. Orang muda terkasih, belajarlah “melihat” dan “bertemu” Yesus dalam Ekaristi, di mana Ia hadir dan dekat dengan kita, dan bahkan menjadi makanan bagi perjalanan kita. Dalam sakramen Tobat Tuhan menyatakan belas kasih-Nya dan selalu memberikan kita pengampunan-Nya. Kenali dan layanilah Yesus dalam diri orang miskin, orang sakit, dan saudara-sudarimu yang mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan. Masuklah dalam dialog yang personal dengan Yesus Kristus tanamlah itu dalam iman. Kenalilah ia lebih dalam dengan membaca Injil dan Katekismus Gereja Katolik. Berbincanglah dengan-Nya dalam doa, dan tempatkan keyakinanmu di dalam Ia. Ia tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan itu! “Iman pertama-tama ialah ketaatan personal manusia kepada Allah. Pada saat yang sama, dan tak terpisahkan darinya, iman juga merupakan persetujuan bebas kepada seluruh kebenaran yang diwahyukan Allah” (Katekismus Gereja Katolik, 150). Dengan demikian, kalian akan memperoleh iman yang dewasa dan kokoh, yang tidak semata-mata berdasar pada sentimen atau ingatan yang kabur akan katekismus yang kalian pelajari waktu kanak-kanak. Kalian akan mengenal Allah dan hidup secara autentik dalam persatuan dengan-Nya, seperti Rasul Thomas yang menunjukkan imannya yang kokoh dalam Yesus melalui perkataan ini: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

5. Ditopang oleh Iman Gereja, untuk Menjadi Saksi

Yesus berkata kepada Thomas: “Apakah kamu percaya karena kamu telah melihat aku? Terberkatilah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh 20:29). Ia sedang berpikir tentang jalan yang harus ditempuh Gereja, berlandaskan iman akan saksi mata: Para Rasul. Oleh karena itu, kita memahami bahwa iman pribadi kita dalam Kristus, yang menjadi ada melalui dialog dengan-Nya, terikat dengan iman Gereja. Kita tidak beriman sebagai individu yang terisolasi, melainkan, melalui Baptisan, kita adalah anggota dari keluarga besar ini; iman yang diakui Gerejalah yang menguatkan iman pribadi kita. Kredo yang kita nyatakan setiap Misa Minggu melindungi kita dari bahaya mengimani Allah lain selain yang diwahyukan oleh Kristus: “Setiap umat beriman karenanya merupakan mata rantai dalam ratai umat beriman. Saya tidak dapat beriman tanpa dibawa oleh iman orang lain, dan melalui imanku, saya dapat mendukung orang lain dalam iman” (Katekismus Gereja Katolik, 166). Mari kita selalu mengucap syukur kepada Tuhan atas karunia Gereja, karena Gereja membantu kita untuk melangkah maju dengan aman dalma iman yang sungguh memberikan kehidupan sejati (bdk. Yoh 20:31). Dalam sejarah Gereja, orang kudus dan martir selalu memperoleh kekuatannya untuk setia kepada Allah sampai mempersembahkan hidup mereka, dari Salib Kristus yang mulia. Dalam iman mereka menemukan kekuatan utuk mengatasi kelemahan mereka dan mengalahkan setiap rintangan. Memang, seperti yang dikatakan Rasul Yohanes, “Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dia yang percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah?” (1 Yoh 5:5). Kemenangan yang lahir dari iman ialah kasih. Telah dan masih ada banyak orang Kristen, yang merupakan saksi hidup kekuatan iman yang diungkapkan dalam kasih. Merekalah pembawa damai, pembela keadilan dan pekerja bagi dunia yang lebih manusiawi, dunia dalam keselarasan dengan rencana Allah. Dengan kompetensi dan profesionalisme, mereka berkomitmen dalam area masyarakat yang berbeda, berkontribusi secara efektif bagi kesejahteraan semua orang. Kasih yang berasal dari iman menuntun mereka memberikan kesaksian nyata melalui tindakan dan perbuatan mereka. Kristus bukanlah harta karun milik kita saja; Ia adalah harta karun paling berharga yang kita miliki, yang harus dibagikan dengan orang lain. Di jaman globalisasi kita, jadilah saksi pengharapan Kristen di seluruh dunia. Betapa banyak orang rindu untuk menerima pengharapan ini! Berdiri di hadapan makam temannya Lazarus, yang meninggal empat hari sebelumnya, selagi ia hendak memanggil ia yang mati kembali kepada kehidupan, Yesus berkata kepada saudari Lazarus, Martha: “Bila kamu percaya, kamu akan melihat kemuliaan Allah” (bdk. Yoh 11:40). Dalam cara yang sama, bila kalian percaya, dan bila kalian mampu menghidupi imanmu dan menjadi saksi iman setiap hari, kalian akan menjadi sarana yang menolong orang muda seperti kalian menemukan makna dan sukacita hidup, yang lahir dari perjumpaan dengan Kristus!

6. Di Jalan menuju World Youth Day di Madrid

Sahabatku terkasih, sekali lagi saya mengundang kalian semua menghadiri World Youth Day di Madrid. Saya menanti kalian semua dengan sukacita. Yesus Kristus ingin membuat kalian kokoh dalam iman melalui Gereja. Keputusan untuk mengimani Yesus Kristus dan mengikuti-Nya bukanlah hal yang mudah. Ia sering dihalangi oleh kegagalan pribadi kita dan oleh banyak suara yang menunjukkan kita jalan yang lebih mudah. Jangan berkecil hati. Melainkan, carilah dukungan komunitas Kristiani, dukungan Gereja! Sepanjang tahun ini, dengan seksama persiapkanlah pertemuan di Madrid dengan para uskup, imam, dan pemimpin muda di keuskupanmu, komunitas paroki, asosiasi dan gerakan. Kualitas pertemuan kita akan bergantung terutama pada persiapan rohani kita, doa kita, dukungan kita, dan bersama-sama mendengarkan sabda Allah. Orang muda terkasih, Gereja bergantung pada kalian semua! Ia memerlukan imanmu yang hidup, kasih kreatif dan energi pengharapan kalian. Kehadiran kalian membaharui, meremajakan dan memberikan energi baru bagi Gereja. Itulah alasannya mengapa World Youth Day adalah rahmat, tidak hanya bagi kalian, tapi juga bagi seluruh Umat Allah. Gereja di Spanyol secara aktif bersiap-siap untuk menyambut kalian dan berbagi dalam pengalaman iman penuh sukacita ini bersama kalian. Saya mengucapkan terima kasih kepada keuskupan, paroki, shrines, komunitas religius, asosiasi gerejawi dan gerakan, dan semua yang bekerja keras menyiapkan acara ini. Tuhan tidak akan gagal dalam melimpahkan berkat-Nya bagi mereka. Semoga Perawan Maria menemani kalian semua di jalan persiapan ini. Saat menerima kabar malaikat, Maria menerima sabda Allah dengan iman. Dalam iman ia menyetujui apa yang Allah capai dalam dirinya. Dengan menyatakan “fiat”, “ya” Maria, ia menerima karunia kasih yang tak terhingga yang menuntun dirinya untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah. Semoga ia memohon bagi kalian semua agar, dalam menyambut World Youth Day yang akan berlangsung, kalian dapat bertumbuh dalam iman dan kasih. Saya pastikan akan mengingat kalian dalam doa dan saya berikan kalian berkat dari lubuk hatiku. Dari Vatikan, 6 Agustus 2010, Pesta Transfigurasi Tuhan.

BENEDIKTUS PP. XVI

Diterjemahkan dari Pesan Paus Benediktus XVI bagi World Youth Day ke-26 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: