Perlukah Anak Perempuan Melayani di Altar? : Kesaksian Mantan Putri Altar

little nuns

Saat mengerjakan pekerjaan musim panas selama SMA, saya hendak berjalan keluar gedung bersama salah satu rekan kerja laki-laki yang sesama Katolik. Saya berjalan di depannya, jadi sayalah yang membukakan pintu dan mempersilakan dia keluar.

“Oh tidak!” serunya setengah menyindir. “Kamu membuatku jadi banci!”

Kita kemudian berkelakar bahwa peran wanita seharusnya di dapur saja, dan setelah tertawa-tawa kami pun berpisah jalan.

Perubahan sikap kita terhadap peran gender tidak berhenti sampai urusan membuka pintu dan menarik kursi. Sudah tentu, jika feminisme itu memang bernilai, dan jika Gereja Katolik bisa menghormati dirinya sendiri, maka anak perempuan perlu melayani di altar, bukankah demikian? Karena kalau tidak, para suami akan memukuli kami dan mendominasi kami dan mengatakan bahwa kami tidak perlu memusingkan kepala-kepala cantik kami dengan urusan laki-laki yang penting. Lebih jauh, jika anak-anak laki tidak menyukai anak perempuan menjadi misdinar bersama mereka, sudah jelas mereka diindoktrinasi dengan paham-paham misoginis (membenci perempuan -ed-) oleh orangtuanya, kan?

Apakah argumen di atas kedengaran terlalu jauh, bahkan sedikit konyol? Yah, saya pun setuju.

Dulu saya adalah putri altar (misdinar perempuan -ed-). Saya melayani selama kira-kira delapan tahun di paroki saya. Meskipun saya tidak punya pengalaman buruk, saya harus jujur mengakui bahwa saya tidak mendapatkan lebih banyak di altar dibandingkan jika saya hanya duduk di barisan umat. Untuk beberapa waktu, menjadi putri altar hanya sebagai sesuatu yang saya kerjakan kalau saya pergi Misa: saya tetap saja banyak bercanda dengan anak-anak lain dan hanya mengikuti aturan ketika Romo menyuruh untuk menjaga sikap.

Ketika saya bertambah dewasa dan lebih serius tentang iman saya, saya merasa bersalah karena dulu banyak tingkah. Saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya mestinya hanya menjadi misdinar kalau saya bisa melakukannya dengan sikap penuh doa dan rendah hati, sebab menjadi misdinar adalah salah satu cara untuk berpartisipasi dalam Kurban Kudus Misa. Dengan pemikiran tersebut saya pun menyadari bahwa sikap seperti itu sebetulnya merupakan sikap yang benar yang harus dilakukan oleh seluruh umat. Jadi kalaupun saya hanya duduk di barisan umat, saya tetap perlu berpartisipasi [dengan sikap demikian].

Kalau ternyata saya tidak perlu berpartisipasi sebagai misdinar, jadi apa tujuan saya waktu itu? Bukannya anak perempuan tidak mampu; hanya saja kami toh tidak mendapatkan banyak. Kami tidak bisa menggunakan pengalaman tersebut sebagai jalan untuk discernment panggilan, sebab: pertama, secara metafisik tidak mungkin seorang wanita menjadi imam, dan kedua, apabila seorang wanita memutuskan untuk serius dengan panggilan religiusnya, maka ia akan mencari kongregasi suster dan menghabiskan waktu bersama para suster, dan suster-suster tidak melayani di altar.

Kadang-kadang orang yang menyebut diri mereka “feminis” akan mencoba meyakinkan saya bahwa Gereja tidak adil terhadap perempuan. Tetapi pandangan saya lain: tidak ada orang yang akan berargumen bahwa anak laki-laki mereka “berhak” menghabiskan waktu dengan kongregasi suster, atau bahwa ia harus mengikuti retret di biara yang dirancang untuk mendukung panggilan bagi wanita muda. Toh retret seperti itu jelas bukan untuk langsung mengucap kaul, dan anak laki-laki mestinya juga mengikuti latihan panggilan untuk perempuan karena dia juga mampu melakukan perbuatan amal kasih seperti anak perempuan, bukan?

Nah, anak laki-laki akan berpikir seperti saya: mungkin hal seperti itu memang baik, tapi tidak ada manfaatnya baginya kecuali perasaan tidak cocok. Dia tidak akan pernah bergabung dengan kongregasi suster. Pengalaman retret seperti itu tidak berguna bagi anak laki-laki.

Sebagai orang Katolik yang memahami tentang panggilan, kita seharusnya bisa mengakui perbedaan antara gender yang diberikan oleh Allah tanpa takut dituduh menganakemaskan satu gender di atas yang lain. Para orang tua Katolik seharusnya menginginkan anak laki-laki mereka untuk mempertimbangkan panggilan imamat dengan serius, dan mendorong mereka menjadi misdinar adalah salah satu cara yang sebenarnya sudah sangat jelas. Posisi ini bukan anti-perempuan. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa Gereja menawarkan karunia yang berbeda untuk para wanita.

Lebih lanjut, benar bahwa seorang pria tidak boleh mendominasi atau menganiaya wanita dan mengurung dia dalam peran ketat yang terkondisi oleh budaya. Bunda Gereja menyetujui ini, sekaligus menjaga prinsip bahwa kedua gender saling melengkapi dan menekankan bahwa memang ada perbedaan dalam panggilan.

Sebagai ilustrasi: Seorang pria bisa saja memasak untuk keluarganya, mengganti popok bayi, menyanyi dan menari sesukanya, dan bahkan merajut sweter. Wanita bisa saja membuat furnitur, membuang sampah-sampah, minum bir, dan menolak untuk mencukur rambut ketiak. Gereja tidak memedulikan masalah seperti ini dan tidak bersusah payah membatasi peran gender dalam hal tersebut. Akan tetapi, Gereja secara tepat menjaga otoritas Kristus yang menyatakan bahwa pria-pria tertentu, jika terpilih, dapat ditahbiskan sebagai imam. Seperti yang dikatakan Yohanes Paulus II dalam Mulieris Dignitatem:

Dengan memanggil hanya laki-laki sebagai rasul-rasul-Nya, Kristus bertindak dengan kehendak yang bebas dan berdaulat. Dalam melakukannya, Ia menggunakan kebebasan yang sama yang juga Ia gunakan, dalam segala perilaku-Nya, untuk mengusung martabat dan panggilan perempuan, yang melawan adat kebiasaan dan tradisi yang berlaku pada zaman itu.

Beberapa pria, tidak semua, dapat menjadi imam tertahbis. Wanita tidak dapat.

Pria tidak menjadi imam—dan anak laki-laki tidak menjadi misdinar—untuk mendiskriminasi wanita, atau untuk sok eksklusif. Imamat adalah panggilan perhambaan, yaitu untuk menghamba sebagai alat Kristus dan untuk menggembalai kawanan domba-Nya. Ini adalah hidup yang berat, jika dijalani dengan benar. Misdinar ditempatkan pada posisi untuk melayani dalam Misa dan untuk menyaksikan langsung, dan bagi seorang anak laki-laki ini adalah pengalaman penting yang memberikannya “kursi barisan depan” untuk mengamati kegiatan imam.

Saya tahu bahwa saya memang tidak melakukan dosa berat dengan menjadi putri altar. Dan juga, tidak ada yang memperlakukan saya dengan tidak baik. Imam-imam paroki kami sangat solid dan sangat ortodoks, dan para misdinar laki-laki adalah anak-anak yang baik. Selain dari senda gurau iseng (“Jangan pakai sepatu hak tinggi ya! Nanti kami perlu memberimu jubah yang lebih panjang!”), tidak ada yang dapat dituduh memperlakukan saya dengan misoginistik. Saya memang tidak melanggar apa-apa, tapi toh saya juga tidak memperoleh apa-apa. Bagi saya, putri altar kemudian menjadi praktek yang tidak bijaksana; bukan karena praktek ini memberikan pengaruh negatif pada anak laki-laki, melainkan karena fakta bahwa anak-anak perempuan akan menjalani panggilan religius yang berbeda dari laki-laki. Misi kami masing-masing adalah terpisah, sama-sama dibutuhkan, dan sama-sama tidak tergantikan. Pengalaman mengajarkan kepada saya bahwa kita tidak secara lebih baik menghargai anak perempuan kita dengan menyuruh mereka menjadi putri altar.

Anak-anak perempuan kita pantas mendapatkan yang lebih baik—dan itu dapat dimulai dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan panggilan dalam setting yang relevan.

* * *

Rebecca DeVendra memperoleh gelar BA dalam Kebudayaan Klasik dari Franciscan University [of Steubenville] pada tahun 2010. Ia menulis dan membantu menulis kurikulum bahasa Latin dan Humaniora untuk kurikulum K-12 online, dan saat ini bekerja sebagai manajer perusahaan jasa kursus ilmu kesehatan tingkat kampus. Ia belajar part-time di Academy of Realist Art di Boston, di sela-sela kegiatannya bekerja dari rumah dan merawat anak-anaknya. Galerinya dapat dilihat di blognya: https://beckydevendra.wordpress.com/gallery/

* * *

Artikel asli dapat dilihat di tautan berikut: Should Girls Serve at the Altar? A Former Altar Girl Weighs In. Diterjemahkan oleh Anne untuk Lux Veritatis 7.

2 komentar

  1. Saya setuju dengan tulisan ini terutama bahwa “penolakan” akan adanya putri altar bukan didasarkan pada alasan diskriminasi gender tapi lebih pada pertimbangan panggilan untuk menjadi imam. Realitas yang sering terjadi adalah ketika suatu paroki mengijinkan adanya putri altar, semakin lama semakin sedikit yang menjadi putra altar dan justru kemudian didominasi oleh putri altar. Mungkin karena anak dan remaja putri itu lebih telaten atau lebih dewasa dibanding anak laki-laki sebaya dengan mereka sehingga mereka lebih bertanggung jawab atas tugas mereka, Akan tetapi, hal itu berarti “agak menutup” tumbuhnya benih-benih panggilan imam yang tentu saja sangat kita harapkan terus bertambah saat ini

    1. Dear Julius,
      Terima kasih sudah berkomentar! Iya, memang bukan tidak mungkin anak-anak perempuan justru lebih cakap dalam urusan misdinar, tapi secara psikologis ini akan membuat anak-anak laki-laki merasa “gak pede”, merasa tersaingi oleh anak perempuan. Dan pikiran “tersaingi oleh anak perempuan” inilah yang saya kira tidak dimaui oleh anak laki-laki manapun.

      Anne

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: