Bagaimana Cara Membunuh Benih Panggilan di Keuskupan Anda

dance

Artikel asli ditulis oleh Anthony Esolen (How to Kill Vocations in Your Diocese). Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Anne untuk Lux Veritatis 7.

* * *

Kardinal Raymond Burke baru-baru ini menyatakan salah satu hal yang patut dipersalahkan bagi menurunnya panggilan imamat, yaitu feminisasi liturgi, alias liturgi yang jadi kecewek-cewekan. Pernyataan beliau mengharuskan kita bertanya. Apa yang tergolong “feminisasi”? Dan apakah kita ternyata sudah melakukan itu terhadap liturgi di paroki kita?

Tetapi satu pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan adalah, “Apa betul liturgi yang kecewek-cewekan memang membuat para pria muda menutup diri dari imamat, oleh karena ketidaktahuan, kebingungan, atau ketidaksukaan?” Bayangkan saja, apakah pemandangan seorang imam yang ikut berjoget saat Misa Malam Paskah, diiringi dengan barisan anak-anak perempuan yang melambaikan selendang, selama enam menit atau lebih, mempunyai daya tarik sedikitpun bagi anak laki-laki dan pria muda yang sadar akan jenis kelamin mereka?

Justru, pemandangan seperti itu sudah pasti akan membuat para kaum pria menahan tawa, atau menunduk sambil berharap agar pertunjukan tersebut segera berhenti, atau mencuri-curi pandang ke pintu keluar. Dan bayangkan saja apabila salah satu anak laki-laki ini mengajak sahabat laki-laki mereka yang non-Katolik ke Misa, atau apabila mereka ingin menunjukkan kepada temannya bahwa iman kita adalah sesuatu yang serius. Wah kesalahan besar!

Kadang saya bertanya-tanya apakah kita orang Katolik betul-betul menginginkan adanya panggilan imamat. Adalah masuk akal untuk menilai tujuan seseorang melalui kebiasaan mereka. Kalau saya mencoba-coba sesuatu yang baru di kelas saya, dan sekelompok murid yang baik kabur dari kelas tersebut, bisa saja saya kemudian mencoba cara yang lain. Tetapi jika murid-murid yang baik tersebut tetap kabur, dan saya bersikeras untuk tetap menggunakan cara versi saya, masuk akal apabila orang menilai bahwa saya tidak peduli dengan murid-murid yang kabur itu. Tidak ada gunanya saya meratap sepanjang waktu, “Kelas ini butuh lebih banyak murid, dan lebih banyak lagi murid yang terbaik!” Boleh saja saya terus-terusan berdoa supaya murid-murid mengambil kelas saya dan bertahan di dalamnya, sama seperti saya bisa berdoa supaya saya terus-terus membenturkan kepala ke dinding tanpa mendapat sakit kepala.

Kalau tingkah laku saya tidak hanya terus-menerus merugikan saya, melainkan juga merugikan banyak orang lain, dan saya tetap bersikeras melakukannya, masuk akal apabila orang kemudian menyalahkan saya, bukan menyalahkan murid-murid yang bodoh atau tidak peduli. Orang dapat menyimpulkan bahwa saya memang ingin mendapat hasil yang buruk, dan bahwa saya senang mendapat hasil yang buruk.

Keuskupan kami yang sedang berkembang melayani lebih dari seratus ribu umat Katolik, dan kami tidak punya anak seminari. Benar-benar tidak satupun. Ada dua imam yang ditahbiskan dalam sepuluh tahun terakhir, dan salah satunya sudah meninggalkan imamat untuk menikah. Gereja-gereja tutup di mana-mana. Romo paroki kami harus merayakan Misa untuk lima gereja yang tersebar dalam jarak 20 mil. Keuskupan lain, yaitu Keuskupan Lincoln, yang melayani tidak sampai seratus ribu umat, memiliki 48 anak seminari, paling sedikit dua imam di setiap paroki, tidak ada gereja yang ditutup, dan banyak sekolah Katolik.

Sudah jelas pertanyaannya adalah, “Mengapa semua orang tidak mencoba melakukan beberapa hal yang berhasil mereka lakukan di Lincoln?” Atau lebih tepatnya, “Mengapa semua orang tidak berhenti mencoba-coba 9 atau 10 hal yang TIDAK pernah mereka lakukan di Lincoln?”

Alasannya bisa jadi karena cemburu sosial. Bisa juga karena keras kepala. Rasa malu dan kepentingan politik duniawi juga mungkin berperan. Namun saya mulai beranya-tanya apakah para pemimpin keuskupan saya sebetulnya ingin membunuh Gereja yang tidak lagi mereka imani.

Karena itu, berikut adalah beberapa hal yang selama ini saya amati di keuskupan saya yang mulai runtuh. Hal-hal ini adalah apa yang dapat anda lakukan jika anda ingin membunuh benih-benih panggilan imamat.

1) Lemahkan iman

Para pejuang merindukan sesuatu untuk diperjuangkan. Nah, pastikan mereka tidak punya sesuatu untuk diperjuangkan. Jangan wartakan ajaran Gereja secara penuh. Jangan menyebut-nyebut tentang dosa, terutama dosa-dosa berat. Harus lebih berhati-hati agar tidak melukai perasaan beberapa orang, daripada berhati-hati agar tidak melukai Allah. Buang perintah ke-6 dari Sepuluh Perintah Allah. Omong-omong, sekalian buang juga perintah ke-2, ke-3, dan ke-9.

Maknai “kasih” Kristiani sebagai memberikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, milik Allah, milik anda, milik anak-anak, dan milik komunitas anda. Asumsikan bahwa semua orang selain Hitler pasti masuk surga, karena toh berbuat sesuatu yang baik sedikit saja sudah cukup untuk menyenangkan Allah. “Jadilah menyenangkan,” sabda Yesus, “seperti Paman Ronnie-mu juga menyenangkan”—ya, seperti si Paman Ronnie yang sudah bercerai dan kini kumpul kebo dengan pacarnya, tetapi baik hati pada anjing-anjing dan anak-anak yang bukan anaknya sendiri.

Turunkan standar moral begitu rendah sampai orang yang tidak bermoral pun bisa terpeleset, dan sekaligus buatlah jatuhnya orang tersebut sebagai akrobat yang hebat yang akan membuatnya masuk surga. Jangan pernah bilang bahwa iman adalah masalah hidup dan mati yang abadi.

2) Jadikan Ekaristi sebagai camilan

Buang sisa-sisa altar rail (pagar yang membatasi panti imam dan tempat duduk umat, biasanya ada di gereja-gereja tua -ed-). Pastikan umat mengambil hostinya sendiri seperti mengambil biskuit. Cegah siapapun yang ingin berlutut selama Misa. Buatlah agar orang sulit melakukan pengakuan dosa. Anggap pengakuan dosa itu tidak penting. Jika ada umat yang ingin mengaku dosa, pastikan ia tahu bahwa hal tersebut sangat merepotkan. Jangan anggap dosa-dosanya serius. Malah, berikan kepastian kepada si pengaku dosa bahwa dia bisa pergi dan melakukan dosa yang sama tanpa merasa bersalah.

Dan terakhir, pastikan tidak ada bilik pengakuan dosa. Jadikan bilik pengakuan sebagai gudang untuk menyimpan sapu, pel, dan cairan pembersih.

3) Telanjangi altar

Apakah ada lukisan di gereja anda? Tutup lukisan itu dengan mengecat ulang dinding, atau buang lukisannya. Apakah ada altar kuno (high altar) di dinding belakang panti imam? Bongkar altar itu dan jadikan kayu bakar saja. Lebih baik lagi kalau anda bisa merobohkan dua atau tiga gereja tua dan bangun gereja baru yang bentuknya seperti stadion olahraga. Kalau anda memasang Jalan Salib, pastikan gambar-gambarnya kecil atau sangat abstrak sehingga orang tidak tahu gambar apa itu. Buang segala unsur warisan seni Gereja. Nyanyikan lagu yang ringan-ringan saja, dan sampaikan homili yang santai-santai saja.

4) Tutup sekolah-sekolah Katolik

Berikan sekolah-sekolah Katolik kepada pemerintah sekuler, seperti yang sudah dilakukan di Kanada. Pekerjakan orang-orang sekuler untuk mengajar, atau lebih baik, pekerjakan orang Katolik yang membenci Gereja. Jika ada sekolah khusus laki-laki, jadikan ia sekolah campuran. Jika anda punya program basket laki-laki, dan anda tidak punya dana lagi untuk program basket perempuan, tutup saja basket laki-laki itu.

Berikan tanggung jawab katekese kepada orang-orang yang diragukan pemahaman imannya. Lakukan hal yang sama pada kelas-kelas agama di sekolah. Jadikan mata pelajaran di sekolah Katolik sama saja dengan mata pelajaran di sekolah biasa. Intinya, hilangkan identitas Kekatolikan dan jadikan sistem pendidikan Katolik sebagai sistem pendidikan sekuler yang plus plus (plus air suci).

5) Buat liturgi yang banci

Singkirkan setiap madah yang menyebut-nyebut peperangan rohani atau keprajuritan Kristiani. Kemudian, kebiri sisanya. Pilih lagu-lagu yang menggambarkan Yesus sepagai seorang teman yang manis dan menyenangkan dan tidak akan marah, yang dengan-Nya kita bisa bersantai-santai di sofa dan di surga nanti. Biarkan musik dipimpin oleh seorang wanita, terutama wanita yang memang suka mendapat perhatian umat. Tempatkan pemazmur di tengah-tengah untuk menggantikan romo dan Kristus.

Persilahkan anak-anak perempuan melakukan tarian yang konyol di lorong tempat duduk. Kalau bisa, kumpulkan 5 atau 6 anak perempuan, dengan satu orang anak laki-laki yang cemberut, yang jelas-jelas dipaksa menari oleh ibunya.

Pilih alat musik apapun selain organ. Biarkan sang pemain piano memainkan melodi seperti pianis yang tampil di bar-bar, supaya umat bisa mengumpulkan kolekte untuknya sambil minum-minum champagne.

Gunakan sebanyak mungkin misdinar perempuan. Cegah anak laki-laki untuk bergabung. Jangan berikan mereka peran yang penting. Gunakan sebanyak mungkin lektor perempuan. Malah, kalau nanti Misa juga sudah membosankan bagi anak-anak perempuan, manfaatkan nenek-nenek sebagai akolit, supaya mereka bisa sibuk di altar seperti sedang menyiapkan taplak meja dan peralatan makan untuk acara kumpul keluarga.

6) Jangan pernah katakan bahwa Gereja membutuhkan kaum laki-laki

Jadikan laki-laki sebagai makhluk yang kotor. Jangan pernah katakan bahwa ayah dan ibu memainkan peran yang saling melengkapi dalam keluarga. Jangan bilang-bilang bahwa Yesus merencanakan sesuatu yang luar biasa ketika Ia memilih 12 laki-laki sebagai rasul dan saudara-Nya. Tetapi, katakan bahwa untuk menjadi seorang Kristen sejati, seorang laki-laki harus berhenti menjadi laki-laki. Yakinkan mereka bahwa para perempuan Kristen sudah lama “ditindas” selama hampir 2000 tahun.

Dan terakhir, berdoalah bagi panggilan imamat, setelah anda melakukan semua yang anda bisa untuk memastikan panggilan imamat itu tidak pernah ada.

* * *

[Catatan penerjemah:

Tulisan di atas tidak bermaksud mendiskriminasi siapapun, baik laki-laki, perempuan, ataupun nenek-nenek. Akan tetapi, kita diajak untuk merenungkan satu kenyataan psikologis, yaitu bahwa untuk membuat seorang anak atau remaja laki-laki bergabung dalam sebuah organisasi atau kegiatan, maka ia harus bisa melihat bahwa organisasi atau kegiatan itu “jantan”, “macho”, atau “cowok banget”. Hal ini berlaku dalam liturgi. Liturgi dalam bentuk aslinya adalah megah, agung, dan menggetarkan hati. Banyak sikap liturgis yang menyerupai sikap kemiliteran, misalnya genufleksi di hadapan tabernakel, yang menyerupai seorang ksatria berlutut di hadapan raja. Demikian pula, imamat sebetulnya memiliki prestise tersendiri karena itu adalah—kasarnya—geng “cowok semua”. Menghilangkan atau meminimalisir unsur-unsur ini dengan pelecehan liturgi, Misa kreatif, mengecilkan peran imam, dan sebagainya, justru akan sangat menurunkan daya tarik liturgi dan imamat bagi banyak anak laki-laki.]

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: