Nama Yesus Yang Tersuci

Sculpture of the Holy Name radiant in glory is in the church of Il Gesu in Rome.

Penanggalan liturgi Gereja bulan Januari dipenuhi dengan berbagai hari raya dan pesta. Hari Raya Maria Bunda Allah dan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), misalnya, menjadi hari-hari yang menonjol dalam kalender liturgi kita bulan ini. Melalui perayaan-perayaan liturgisnya, bulan ini Gereja hendak menyoroti secara tajam peristiwa-peristiwa awali dalam hidup Yesus Kristus, Tuhan kita. Dalam peristiwa-peristiwa sederhana ini Allah Bapa sudah menyatakan rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia dalam diri Putra-Nya, Sang Sabda yang menjadi Manusia. Namun, di balik perayaan-perayaan besar itu, ada satu perayaan penting yang ternyata seringkali kita lupakan!

Sahabatku yang terkasih dalam Kristus, secara tradisional, Gereja Katolik mendedikasikan bulan Januari pada Nama Yesus Yang Tersuci (Most Holy Name of Jesus). Secara spesifik kita merayakan pesta Nama Yesus Yang Tersuci (dengan kelas peringatan fakultatif) pada tanggal 3 Januari. Nama Yesus bukanlah nama sembarangan. Dalam bahasa Ibrani, nama “Yesus” berarti “Allah Menyelamatkan”. Sejatinya, seturut kebiasaan orang Yahudi, setiap bayi laki-laki harus diberi nama oleh ibu-bapanya pada hari kedelapan setelah kelahirannya, yakni hari dimana ia disunat. Biasanya, orangtua si bayi akan memilih sebuah nama yang menggambarkan ungkapan syukur mereka, atau harapan mereka untuk si bayi, ataupun nama kerabat untuk mengenangnya. Namun, Maria dan Yosef dengan penuh ketaatan pada perintah Allah menamai Bayi itu “Yesus”, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Malaikat Agung Gabriel kepada Maria. Meski nama “Yesus” diberitahukan kepada Maria oleh seorang malaikat, Nama-Nya bukan berasal dari sang malaikat. Meski nama “Yesus” diberikan oleh Maria dan Yosef kepada Putra mereka, Nama-Nya bukan berasal dari mereka berdua. Santo Bernardus dari Clairvaux menekankan hal ini dengan sangat indah: “‘Penyelamat’ adalah Nama-Nya sejak kekekalan; Nama itu berasal dari kodrat-Nya yang untuk menyelamatkan. Gelar ini dimiliki-Nya sendiri, bukan atas anugerah apapun yang telah Dia ciptakan, entah itu manusia ataupun malaikat.” Nama-Nya Yang Tersuci ini telah dipilih di surga, bahkan sebelum waktu bermula. Nama-Nya Yang Tersuci ini mengumandangkan misi-Nya dan kasih-Nya yang tidak terbatas, yakni kasih yang membuat-Nya menyerahkan Diri-Nya sendiri bagi kita yang begitu dikasihi-Nya.

Nama Yesus menjadi jantung doa Kristiani. Semua doa liturgis diakhiri dengan kata-kata “dengan perantaraan Tuhan kita, Yesus Kristus.” Doa Salam Maria mencapai titik puncaknya pada kata-kata “… dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.” Dalam tradisi Timur pun terdapat Doa Yesus yang begitu terkenal: “Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah aku, orang berdosa.” Nama “Yesus” menyatakan nama Allah yang sungguh hadir dalam Pribadi Putra-Nya, yang menjadi Manusia bagi penebusan yang universal dan definitif atas segala dosa manusia. Nama-Nya yang ilahi ini membawa keselamatan, dan karenanya semua orang dapat menyebut Nama-Nya, karena Yesus mempersatukan diri-Nya sendiri dengan semua manusia melalui Misteri Inkarnasi-Nya.

Tradisi doa yang indah tersebut tentu bertunas dari Kitab Suci. Sehingga tak heran bahwa Kitab Suci pun menegaskan betapa besar dan penuh kuasa Nama Yesus Yang Tersuci: para murid menyembuhkan orang dan mengusir setan dalam nama Yesus,  Santo Petrus dan Paulus berpesan pada umat agar memohon dan bersyukur dalam nama Yesus, Santo Yohanes menyebutkan dalam kitab Wahyu bahwa nama-Nya harus ditinggikan, Santo Paulus berpesan agar kita melakukan segala sesuatu dalam nama Yesus Kristus. Salah satu perikop yang begitu mengena bagi saya adalah Kidung Filipi (Filipi 2:6-11) yang para frater aspiran Dominikan nyanyikan setiap mendoakan Ofisi Suci pada hari Sabtu sore:

Though he was in the form of God,
Jesus did not regard equality with God
something to be grasped at.

Rather, he emptied himself,
and took the form of a slave,
being born in the likeness of men.

He was known to be of human estate,
and it was thus that he humbled himself,
obediently accepting even death,
death on a cross!

Because of this,
God highly exalted him
and bestowed on him the name
above every other name,

So that at Jesus’ name
every knee must bend
in the heavens, on the earth
and under the earth,
and every tongue proclaim
to the glory of God the Father:
Jesus Christ is Lord!

Perhatikanlah seruan Santo Paulus: “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lututlah segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi!” Sesungguhnya, betapa layak dan pantas nama Yesus dihormati dengan mendalam (revere), ditinggikan (magnify), dan dimuliakan (glorify) oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun; namun, sekarang ini kita malah seringkali menyebut nama-Nya yang Suci secara kasual dan tanpa penghormatan, menjadikannya bahan candaan, mengucapkannya dalam kesia-siaan, bahkan menghujatnya. Sebagai orang Katolik, tidak banyak dari antara kita yang mengetahui adanya devosi kepada Nama Yesus Yang Tersuci, bahkan banyak laku kesalehan yang sudah tidak kita praktekkan lagi. Ada apa dengan kita? Apakah penghormatan pada Allah sudah pudar dan lenyap, bahkan dari lubuk hati kita yang terdalam?

Adoration IHS

“The Adoration of the Name of Jesus” oleh Antwerp School

Devosi pada Nama Yesus Yang Tersuci berakar sejak jaman para rasul. Devosi ini terus berkembang, hingga Paus Gregorius X dalam Konsili Lyons tahun 1274 memperkenalkan devosi istimewa ini kepada Gereja Semesta. Mungkin bukan sebuah kebetulan bahwa para Dominikan memiliki tempat yang istimewa bagi devosi ini. Melalui dorongan Beato Yohanes dari Vercelli (Master Ordo Dominikan yang keenam), para Dominikan mulai mewartakan keutamaan Nama Yesus Yang Tersuci dan membuat altar istimewa agar umat beriman dapat menghormati Nama Yesus Yang Tersuci. Dalam perkembangannya, Ordo Fransiskan, yang adalah sepupu pertama dari Ordo Dominikan, turut menyuburkan devosi ini. Apakah kamu ingat monogram Nama Yesus Yang Tersuci (IHS)? Santo Bernardinus dari Siena-lah yang membuat objek devosi ini. Ia melukiskan Nama Yesus Yang Tersuci yang dikelilingi pancaran cahaya matahari pada sebuah plakat kayu. Santo Bernardinus dan rekan sejamannya, Santo Yohanes Kapistrano, mempopulerkan devosi ini dan menyebarluaskan monogram ini. Sampai hari ini simbol ini menjadi simbol kekristenan di samping Salib. Santo Ignatius dari Loyola (kemungkinan karena pengaruh Santo Dominikus de Guzman dan Santo Fransiskus Assisi yang dikaguminya, serta Ordo yang mereka dirikan) menggunakan simbol ini sebagai simbol tarekat yang didirikannya, Serikat Yesus. Salah satu orang kudus lainnya yang memiliki devosi pada Nama Yesus Yang Tersuci adalah Santo Bernardus dari Clairvaux. Ia menggubah madah “Iesu Dulcis Memoria” yang begitu indah dan dengan manisnya meninggikan serta memuliakan Nama Yesus.

Mari kita menilik sejenak kondisi abad pertengahan kala itu, yakni masa dimana Paus Gregorius X memperkenalkan devosi pada Nama Yesus Yang Tersuci pada Gereja Semesta. Pada masa itu ajaran sesat Albigensian menyerang Gereja dengan hebatnya. Ajaran sesat ini secara umum menyatakan bahwa segala hal yang berkenaan dengan daging (tubuh) adalah jahat dan berasal dari Allah yang jahat (demiurgos). Konsekuensi yang lebih jauh dari ajaran sesat ini adalah penganutnya menolak pemahaman Trinitaris tentang Yesus. Bagi mereka, Yesus hanyalah bentuk manusia dari seorang malaikat saja. Kesesatan ini merusak masyarakat – menentang keilahian Kristus, tidak mengakui sakramen-sakramen Gereja, dan bahkan mendorong seseorang untuk melakukan dosa besar pembunuhan. Untuk mengatasinya, Paus Gregorius X mengadakan konsili khusus di Lyons, Prancis. Hasil dari konsili ini adalah sebuah ketetapan bahwa umat beriman seharusnya memiliki sebuah devosi khusus pada Nama Allah dan Yesus Yang Mahakudus sebagai pemulih dari hujatan yang ditujukan pada Yesus oleh para penganut ajaran sesat Albigensian. Ordo Dominikan diminta untuk menyebarluaskan devosi ini melalui sebuah surat khusus yang ditujukan kepada Beato Yohanes dari Vercelli. Para Dominikan dengan sungguh-sungguh melaksanakan perintah Bapa Suci dengan mewartakan kuasa dan kemuliaan Nama Yesus Yang Tersuci.

Atas usaha Santo Bernardinus dari Siena dan Santo Yohanes Kapistrano untuk mempromosikan devosi Nama Yesus Yang Tersuci kepada umat beriman, Ordo Fransiskan memprakarsai Persaudaraan Nama Yesus Yang Tersuci pada abad ke-16. Paus Yulius II bahkan memberikan dua indulgensi terpisah kepada Persaudaraan ini. Sementara itu, melalui usaha Ordo Dominikan, didirikanlah Persaudaraan Nama Allah Yang Tersuci. Gereja secara formal mengakui Persaudaraan Nama Allah Yang Tersuci pada tahun 1571 saat Paus Santo Pius V memberikan yurisdiksi penuh atas komunitas ini kepada Ordo Dominikan melalui bulla Decet Romanum. Pada tahun 1727, Paus Benediktus XIII memberikan konfirmasi atas berbagai hak istimewa kedua komunitas tersebut dalam dokumennya yang berjudul Pretiosus. Kedua Persaudaraan ini kemudian digabungkan menjadi satu oleh Paus Benediktus XIII dengan nama Persaudaraan Nama Allah dan Yesus Yang Tersuci pada tanggal 26 Mei 1727. Bapa Suci juga memberikan hak eksklusif atas kepengurusan komunitas ini kepada Ordo Dominikan. Demikianlah sekilas sejarah devosi ini dan Persaudaraan yang muncul beriringan dengannya.

Jadi, ketika kita menyebutkan nama “Yesus” (atau “Jesus”, “Iesu”, “Yeshua”, dan lain-lain) dengan penuh kesadaran dan dengan penghormatan yang mendalam, kita sebenarnya sedang mengakui inti kebenaran Iman kita yang kudus: “Allah menyelamatkan” — dan segala rasa syukur dan kerendahan hati kita unjukkan kepada Allah. Sebutkanlah Nama Suci itu, renungkanlah, rasakanlah di mulut dan hatimu! Ketika kamu melafalkannya, ketahuilah maknanya dan rendahkanlah hatimu di hadapan-Nya; rasakanlah dalam hatimu bagaimana kamu menyebut dan memanggil Tuhan kita, Yesus Kristus. Ingatlah selalu bahwa Nama-Nya begitu suci, sehingga saat kita mengucapkannya dengan khusyuk kita dapat memperoleh indulgensi. Nama Yesus begitu dihormati oleh umat Katolik, sehingga — meski sekarang jarang kita temukan — ada beberapa tradisi sebagai berikut.

  • Para pria melepaskan penutup kepala (topi)nya kapanpun dan di manapun nama Yesus didengar atau diucapkan. Dan semua umat Katolik menundukkan kepalanya saat mereka mengucapkan atau mendengar nama Yesus.
  • Ketika nama-Nya Yang Tersuci digunakan secara kasual dalam kesia-sian (in vain), maka umat Katolik hendaknya melakukan reparasi/pemulihan dengan membuat tanda salib pada diri sendiri dan berdoa, “Sit nomen Dómini benedíctum!” (“Terberkatilah Nama Tuhan!”), yang harus dijawab (oleh orang Katolik lainnya dalam ruangan tersebut, jika ada) dengan, “Ex hoc nunc, et usque in sæculum!” (“sekarang dan selama-lamanya!”) atau “per ómnia saecula saeculórum” (“sepanjang segala abad”).
  • Terinspirasi oleh teladan dan perkataan Santo Bernardinus dari Siena, kita memasang monogram Nama-Nya Yang Suci (IHS) di pintu rumah kita untuk perlindungan, sama seperti orang Israel di Mesir yang menorehkan darah anak domba di pintu rumah mereka pada Paskah pertama (yakni saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawa setiap putra sulung Israel, baik manusia maupun hewan ternak).
  • Nama-Nya kita sebut pada saat kita dilanda ketakutan dan mendapat godaan. Setan akan pergi ketika mendengar Nama-Nya.

Mari kita melestarikan tradisi yang begitu saleh ini, dan di atas segalanya, menghormati Nama Yesus Yang Tersuci dengan mendalam, menghormati Nama Sang Juruselamat yang begitu mengasihi kita!

In nomine Jesu omne genu flectatur, coelestium, terrestrium, et infernorum: et omnis lingua confiteatur, quia Dominus Jesus Christus in gloria est Dei Patris. Domine Dominus noster: quam admirabile est nomen tuum in universa terra! (Introit Pesta Nama Yesus Yang Tersuci)

*

Referensi: Fish Eaters dan National Association of the Holy Name Society.

PS. Happy belated feast day of the Most Holy Name of Jesus, especially for the Dominican brothers of the Province of the Most Holy Name of Jesus!

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: