[Review] “Treasuring Womanhood” 2015: renungan harian wanita

tw-2015Judul: Treasuring Womanhood 2015

Penulis: Tim Penulis Treasuring Womanhood

Penerbit: Flamma Publishing

Nihil Obstat: RP Yohanes Subagyo

Imprimatur: RP Samuel Pangestu (Vikjen Keuskupan Agung Jakarta)

Cetakan: I, 2014

Jumlah halaman: 424

Reviewer: Anne


Mencari buku renungan harian (renhar) yang berkualitas itu susah-susah gampang. Soalnya, seleranya lebih subyektif daripada buku teologi atau buku doa biasa, jadi gak semua kena di hati. Saya pribadi kurang suka renhar yang isinya banyak cerita-cerita anekdot seperti “Santapan Rohani” (dulu Our Living Bread). Saya menginginkan renhar yang banyak kutipan santo/santa, kutipan Kitab Suci dan dokumen Gereja, dan mungkin sedikit katekese. Kalau kebetulan cocok dengan kehidupan saya yang wanita urban dan berkarir, lebih bagus lagi.

Nah, di penghujung tahun ini kebetulan saya dapet berkah buku…. tonenoneng! Treasuring Womanhood!!! kwang kwang kwang

Saya sendiri nda tahu sudah berapa lama TW beredar—dari penelurusan di internet sih at least sudah dari tahun 2010, bahkan mungkin lebih lama lagi. Buku ini adalah persembahan Flamma, apostolat literatur dari komunitas Domus Cordis, sebuah komunitas muda-mudi yang berspiritualitas Teologi Tubuh. Jadi, teman-teman Cordisian kita banyak berurusan dengan isu seperti martabat kehidupan, hubungan pria-wanita, dan panggilan hidup.

Kayak apa sih isi buku TW ini? Apa keunikannya dibandingkan renhar-renhar lainnya?

Pertama, sesuai dengan namanya, TW adalah renhar khusus wanita, entah wanita lajang atau menikah, entah panggilan hidupnya selibat awam, selibat biara, atau berkeluarga. Intinya, TW berupaya menyentuh hati feminin kita semua.

Kedua, TW ini [kayaknya] tematik. Saya bilang “kayaknya”, karena saya nda tahu bagaimana edisi-edisi yang lalu, tapi yang jelas edisi 2015 ini ada temanya, yaitu mothers of saints, alias ibu-ibu para orang kudus. Asyik kan? Biasanya kita jarang ngomongin keluarga dari orang-orang kudus; padahal, formasi kekudusan dimulai dari keluarga, bukan dari romo paroki atau guru agama. Maka, seperti kita lihat dari kisah-kisah mothers of saints dalam TW 2015 ini, rupanya para ibu dari orang kudus memang mencerminkan pribadi Kristus. Gak jarang mereka sendiri juga jadi kudus (contoh: Santa Monika, ibunya Santo Agustinus).

Menurut saya, tema edisi 2015 ini sangat penting, karena ini menepis anggapan banyak orang bahwa kekudusan hanya milik kaum berjubah. Ada pemikiran: kalau dipanggil sebagai romo, biarawan, atau suster, wah ini pasti orang suci… apalah saya, yang menikah dan punya anak seperti biasa. Sebenarnya tidak demikian. Kekudusan adalah panggilan bagi semua orang, sebab tanpa kekudusan, kita tidak akan bisa melihat Allah. Jika Sobat Perpus kepikiran ingin masuk surga, maka itu artinya Sobat Perpus merindukan kekudusan. No holiness, no heaven.

Biar ngiler sedikit, berikut contoh sisipan kisah mothers of saints yang ada setiap bulan. Yang ini tentang Margaret Bosco, ibunda dari Santo Yohanes Bosco.

photo-29-12-14-20-03-42

Ketiga, halamannya cukup tebal, jadi gak mudah sobek atau kelipet. Isinya pendek-pendek, cocok untuk wanita modern yang rempong sibuk. Ditambah lagi, desain cover dan ilustrasi dalamnya sangat modern dengan teknik vektor. Jadi klo tergeletak di meja kantor, kelas, atau ruang tamu, buku ini ikut mempercantik ruangan. #apaseh

Sekilas penampakan ilustrasi dalamnya:

photo-29-12-14-20-03-58

Keempat, siapa aja sih sebetulnya Tim Penulis TW itu? Klo dari daftar penulis di halaman belakangnya, mereka adalah perempuan-perempuan dari berbagai usia, profesi, dan status. Ada yang udah nikah, lajang, selibat awam, biarawati; kemudian dari profesinya ada karyawati, dokter, wiraswasta, psikolog, presenter, dan lain-lain. Pokoknya rame deh!

Gimana dengan kekurangannya? Ada sih, tapi ini bukan kekurangan yang terlalu teknis sebenernya, bukan seperti hal-hal yang berpotensi heretik (sesat) atau yang serius lainnya. Jadi lebih ke masalah selera.

Pertama, buku ini tebel, cuy. 424 halaman. Memang ukurannya kecil, 18 x 13.5 cm, tapi volumenya bikin buku ini kurang enak dibawa-bawa. Ya mungkin karena memang gak didesain untuk dibawa-bawa kali ya?

Kedua, jilid ring. Buat saya sih gak masalah, tapi mungkin ada orang yang gak suka dengan jilid ring.

Ketiga, teks bacaan hariannya gak ditampilkan, hanya disebutkan ayatnya aja. Ehm klo buat saya sih ini “agak” mengganggu… Soalnya saya mah pemalas :p :p maunya teks KS-nya sudah ada di situ, jadi ga perlu buka 2 buku. Contoh renhar yang teks KS-nya ditampilkan adalah seri “Ruah” terbitan Karmelindo Media. Tapi klo Sobat Perpus ndak masalah dengan ini, maka selamat ya, anda orang rajin, hehe…

Saya kasih 4 Rahib Unyu untuk TW 2015!

4rahib

 

 

 

 


Berminat untuk membeli renhar ini? TW 2015 dapat dipesan seharga Rp 60.000,00 (belum termasuk ongkos kirim) lewat:

Amy Ambarani
Marketing FLAMMA Publishing
HP / WA: +628999739108
Pin BB: 7DCCCD59
e-mail: flamma@domuscordis.org

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: