[Review] “Yesus Kekasih Kita dalam Ekaristi” oleh Stefano M. Manelli, FI

jesuseucharisticloveJudul: Yesus Kekasih Kita dalam Ekaristi

Penulis: Romo Stefano M. Manelli, FI

Penerjemah: Ernest Marianto

Penerbit: Marian Centre Indonesia

Jumlah Halaman: xviii + 182

Reviewer: Cornelius


Sudah lama buku ini berdiam di rak buku saya dan belum terjamah sedikitpun. Maklum, bukan saya yang membeli buku ini melainkan orang tua saya. Awalnya, saya pikir buku ini cuma buku renungan biasa (dan memang biasanya buku-buku renungan bahasa Indonesia itu dangkal dan tidak bagus). Namun, setelah saya mengetahui siapa penulisnya, maka saya pun tergerak mengambil buku tersebut lalu menjadikannya bacaan Rohani menyambut masa Natal. Dan ternyata…buku ini merupakan harta karun langka yang jarang ditemui dalam dunia perbukuan Katolik di Indonesia.

Buku kecil dan tipis ini ditulis oleh Rm Stefano M. Manelli, anak rohani dari St. Padre Pio, dan pendiri Fransiscan of the Immaculate, salah satu komunitas religius yang jumlah panggilannya bertambah (berbeda dengan kecenderungan yang terjadi pada ordo lainnya, di mana jumlah panggilan mengalami penurunan). Rm. Manelli ini merupakan seorang Imam yang cukup tradisional, hal ini terlihat dari penjelasan tentang Ekaristi-Nya yang menyebut misa sebagai Kurban Kudus Misa.

Bila anda menginginkan buku tentang Ekaristi yang lengkap namun ringan (tidak terlalu berat secara teologis), memiliki dasar biblis namun sangat diperkaya dengan kisah hidup orang kudus dalam hubungannya dengan Ekaristi, buku ini sangat cocok untuk anda. Rm. Manelli menghadirkan penghayatan tentang Ekaristi dalam setiap aspeknya (tentang Misa, Komuni Kudus, Komuni Spiritual, Kunjungan kepada Sakramen Mahakudus, Viatikum dan semua aspek Ekaristi yang terkait hidup kita, yang mungkin belum terbayangkan oleh anda) melalui perkataan dan perbuatan para Kudus. Inilah buku yang menghadirkan panorama Orang Kudus yang memberikan pewartaan tentang dogma Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi.

Bagi saya pribadi, buku ini berhasil membangkitkan semangat saya untuk semakin mencintai Ekaristi. Belum pernah saya begitu bersemangat dan terinspirasi untuk semakin menghormati Ekaristi. Buku ini juga memberikan teguran bagi saya pribadi, karena ternyata ada hal-hal kecil yang kurang saya perhatikan, namun ternyata merupakan hal yang sangat penting.

Berikut ini saya bagikan beberapa bagian buku tersebut yang cukup menarik.

Mengenai umat yang perhatiannya tidak fokus selama Misa:

St. Yohanes Bosko juga sedih melihat banyak orang Kristiani yang, kalau di Gereja, “dengan senang hati mengalihkan perhatian ke hal-hal lain, tidak menunjukkan ketulusan, perhatian, sikap hormat, yang sambil berdiri (kadang-kadang berlutut) tengok sana tengok sini…Mereka tidak menghadiri Kurban Ilahi seperti Maria dan St. Yohanes, tetapi seperti orang-orang Yahudi – yang sekali lagi menyalibkan Yesus!”

Mengenai prioritas utama bagi kesehatan jiwa dan bukan kesehatan tubuh:

Pertama jiwa, baru kemudian raga. Mungkinkah kita tidak menghargai hal ini? Tetapi, sering, tanpa pikir, kita begitu cemas mencari dokter untuk merawat seorang sakit, baru akhirnya memanggil imam pada menit-menit terakhir ketika si sakit, barangkali, tidak mampu lagi menerima sakramen-sakramen dalam keadaan sadar, atau bahkan tidak dapat menerimanya sama sekali. Ah, betapa bodoh, betapa tidak bijaksana kita! Bagaimana kita harus mempertanggungjawabkan, kalau, karena lupa memanggil imam pada waktunya, kita mengabaikan keselamatan orang yang menghadapi ajal, dan tidak memberi dia dukungan serta bantuan besar yang ia perlukan pada saat-saat terakhir hidupnya?

Mengenai pentingnya mengakui dosa-dosa ringan sebelum menerima Komuni:

Sebaliknya, pengakuan dosa sebelum Komuni Kudus membuat jiwa yang sudah dalam keadaan rahmat pengudus menjadi lebih murni dan lebih indah; ini adalah sesuatu yang berharga meskipun tidak dituntut. Ini merupakan sesuatu yang berharga karena mendandani jiwa dengan “busana pesta” (bdk Mat 22:12) yang lebih indah, sehingga ia pantas ambil bagian dalam perjamuan para malaikat. Karena alasan ini orang-orang kudus sering memanfaatkan (sekurang-kurangnya seminggu sekali) pengampunan sakramental, juga atas dosa-dosa ringan.

Mengenai sikap hormat terhadap partikel Tubuh Kristus:

Sekali peristiwa, ketika St. Karolus Boromeus membagikan Komuni Kudus, karena kurang hati-hati ia menjatuhkan satu Hosti Kudus dari tangannya. Orang Kudus ini merasa bersalah karena sangat tidak hormat kepada Yesus. Ia begitu tertekan sehingga selama empat hari ia tidak berani merayakan Misa Kudus, dan sebagai penitensi, ia menghukum diri dengan berpuasa selama delapan hari.

Mengenai Imam sebagai Pribadi Kristus yang lain, juga makna busana imam:

St. Bernadette Soubirous sekali waktu mengungkapkan sepercik kebijaksanaan ini kepada seorang imam baru, “Ingatlah bahwa imam di altar itu adalah Yesus Kristus di salib”. St. Petrus dari Alcantara berdandan untuk Misa Kudus seperti ia akan pergi ke Kalvari. Karena, sesungguhnya, semua busana imami mengacu kepada sengsara dan kematian Yesus: alba mengingatkan kita akan jubah putih yang dikenakan Herodes pada Yesus untuk mengolok -olokkan Dia; singel mengingatkan kita akan penderaan Yesus; stola mengingatkan kita akan tali kasar yang mengikat Dia; tonsura mengingatkan kita akan mahkota duri; kasula, dengan hiasan berbentuk salib, melambankan salib yang menindih pundak Yesus.

Mengenai sikap hormat terhadap kedua tangan imam:

St. Paskalis Baylon adalah penjaga pintu biara. Setiap kali seorang imam datang, bruder kudus ini berlutut dan dengan hormat mencium kedua tangannya. Orang berkata tentang dia – seperti tentang St. Fransiskus – bahwa “ia memiliki devosi terhadap tangan imam yang sudah dikonsekrasikan”. Ia mengakui bahwa tangan-tangan itu memiliki kuasa untuk menangkis kejahatan dan menurunkan berkat bagi siapa saja yang memperlakukannya dengan hormat, karena tangan-tangan itu adalah tangan yang digunakan Yesus.

Mengenai beratnya tanggung jawab seorang imam:

…itulah sebabnya Padre Pio dari Pietrelcina berkata, “Imam itu santo atau setan. Ia menggerakkan jiwa-jiwa kepada kekudusan atau kepada kebinasaan. Betapa tak terhitung kebinasaan yang diciptakan oleh imam yang mencemarkan panggilannya dengan perilaku yang buruk atau tidak layak, yang menginjak-injak panggilannya, dengan mengingkari status kudusnya sebagai orang yang telah dipilih Tuhan (bdk Yoh 15:16)!”

Kalau dilanjutkan ntar kepanjangan karena banyak kutipan yang bagus, jadi cukup segitu aja ya.

Buku ini sepertinya sudah menjadi buku yang sulit ditemui di toko buku gereja/paroki, walau mungkin di toko buku Obor masih dijual. Versi online buku tersebut dalam bahasa Inggris dapat diakses dengan mengklik ini: Jesus Our Eucharistic Love.

Sudah pasti buku ini menjadi buku favorit lima rahib unyu.

5rahib

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: