[Review] “The Picture of Dorian Gray” oleh Oscar Wilde

dorian-grayJudul: The Picture of Dorian Gray

Penulis: Oscar Wilde

Penerbit: Canterbury Classics San Diego

Cetakan: 2013

Jumlah halaman: 193

Reviewer: Anne


[Catatan:

Karya klasik dunia umumnya diterbitkan oleh lebih dari satu penerbit, sehingga memiliki bermacam sampul, edisi, dan jumlah halaman. Yang kami tampilkan di sini adalah edisi yang dibaca oleh reviewer kami.]


Sebenernya agak susah ya kalau mau ripiu sastra klasik. I mean, it’s a classics… Klasik berarti sudah teruji oleh waktu. Jadi sebetulnya udah pasti layak untuk dibaca dan dipelajari. Kalaupun secara pribadi ceritanya mungkin bukan “gue banget”, sastra klasik selalu mengandung kebenaran universal yang relevan untuk siapa saja di mana saja dan kapan saja. Mengutip perkataan seorang cendekiawan Amerika, Clifton Fadiman: “When you reread a classic you do not see more in the book than you did before; you see more in you than there was before.”

Meski begitu, kalau kita lihat buku yang belum familiar, pasti otomatis akan bertanya, “Itu ceritanya tentang apa sih?”

Pertama-tama, buku ini dikategorikan sebagai “horor”. Eits, yang horor-mania jangan kesenengan dulu, dan yang horor-fobia jangan antipati dulu. Horor di sini artinya luas, gak selalu hantu-hantu, monster, zombie, setan, dan perhororan yang biasa itu. Malah dalam Dorian Gray, itu semua gak ada. Nah, kenapa disebut horor, lanjut baca dulu yaa…

The Picture of Dorian Gray adalah kisah tentang seni, keindahan, dan dosa. Novel ini merupakan komentar Oscar Wilde mengenai korupnya jiwa manusia dan keadaan sosial masyarakat umum. Dengan merenungkan kejatuhan Dorian Gray, kita sebagai pembaca juga dipaksa untuk bercermin dan memeriksa keadaan batin dan jiwa kita sendiri. (Kayak mau ngaku dosa ya?)

Di awal cerita, dikisahkan Dorian Gray ini adalah seorang dewasa muda berusia 19 tahun yang cakeeeeeeeppp banget… cakepnya itu dikatakan “youthful“, “innocent“, dan “pure“. Jadi bayangkan laki-laki muda yang tidak hanya tampan dan rapi, tapi ada kesan murni dan polos yang membuat orang susah ngebayangin dia berbuat jahat. Itulah Dorian Gray. Sampai-sampai seorang pelukis sahabatnya, Basil Hallward, hobi menggunakan Dorian sebagai model lukisannya. Sayangnya, sahabat mereka yang lain yaitu Lord Henry Wotton, “meracuni” Dorian dengan paham-paham hedonisme dan keindahan serta sensualitas fisik / duniawi, yang harus dialami secara full sebelum terlambat (“terlambat” menurut Lord Henry adalah ketika seseorang beranjak tua). Dorian terpengaruh; ia mulai menjalani hidup yang bebas sebebas-bebasnya, jauh dari moralitas. Ia juga menjadi terobsesi dengan keindahan fisiknya yang terbukti sangat atraktif bagi banyak orang. Sementara itu, lukisan potret dirinya yang dilukis oleh Basil, secara ajaib mulai berubah menua, buruk, dan menyeramkan, seiring dengan gaya hidup Dorian yang penuh dosa.

Bayangkan Anda punya potret ajaib seperti itu. Secara fisik, kita tidak berubah, namun potret kitalah yang berubah, tidak hanya sesuai usia namun juga sesuai perbuatan-perbuatan dosa kita. Potret itu menjadi cerminan keadaan jiwa kita. Bayangkan suatu hari Anda pulang ke rumah dan menyaksikan potret Anda berubah entah tambah keriput, tambah uban, tambah busuk, atau ada tetesan darahnya. Wew!

Ya itulah plot inti dari Dorian Gray. Yang seru adalah membaca tentang gejolak psikologis Dorian yang awalnya innocent, kemudian menemukan semacam kebanggaan dalam berdosa, hingga akhirnya paranoid sendiri karena dosa besar yang ditutupinya. Saya yakin, kita semua pernah mengalami perasaan seperti itu, dengan kadar yang berbeda-beda. Saya sendiri berulang kali merasa bisa relate dengan gerak batin Dorian.

Nah, selain potret terkutuk itu tadi, bagian psikologis Dorian ini klo nurut saya sudah horor dengan sendirinya. Bukankah mengerikan bagaimana seseorang yang baik-baik saja dan polos-polos saja, bisa jatuh sedemikian dalam dan menjadi heartless? Jika kita renungkan lebih jauh secara rohaniah, begitulah juga keadaan manusia yang awalnya diciptakan sempurna, lalu jatuh ke dalam dosa dan menjadi terpisah dari Allah. Sama seperti potret buruk rupa Dorian yang masih bisa dikenali ciri-cirinya sebagai Dorian, identitas kita sebagai Imago Dei (citra Allah) juga masih ada, hanya saja sudah sangat korup dan punya kecenderungan ke arah dosa.

Pesan lainnya lagi dari buku ini, adalah bahwa teman yang jahat dan buku yang jahat itu ada. Dorian Gray jadi “rusak”, juga karena paham-paham Lord Henry, dan karena sebuah buku yang dikirimkan Lord Henry. Konon buku tersebut berisi tentang petualangan debauchery (= kesenangan-kesenangan inderawi) seorang laki-laki Perancis (saya pribadi membayangkan buku tersebut memiliki konten pornografik atau paling tidak “nyerempet”)

Maka dari itu, meski hobi membaca tergolong baik secara umum, kita tidak boleh lupa bahwa ada buku-buku yang tidak selayaknya dibaca oleh kita orang beriman. Serial Fifty Shades of Grey, misalnya. Banyak orang berargumen bahwa itu hanya bacaan biasa, fiksi erotis, bukan pornografi. Tetapi pornografi tidak harus berupa gambar atau video. Tulisan-tulisan saja pun bisa menjadi pornografi, karena toh cerita-cerita tertulis akan membangkitkan gambar juga di dalam otak kita. Apalagi, sementara cowo sensitif terhadap gambar, kita para cewe lebih sensitif terhadap kata dan ucapan. Jadi belajarlah dari Dorian Gray dan jauhilah junk book.

Selain itu, ada benarnya kita harus pilih-pilih sahabat dekat. Slogan lama “gak boleh pilih-pilih teman” itu benar, kalau yang dimaksud adalah gak boleh SARA. Tapi jelas ada orang yang membahayakan iman dan moral kita, dan yang seperti ini hendaknya jangan kita jadikan sahabat dekat! Bangun relasi yang baik tentu boleh, tapi hati-hati jangan sampai kita malah ikut terjerumus. Dorian Gray malah ternyata jadi manusia yang lebih buruk secara moral dibandingkan Lord Henry yang menjerumuskannya. Lah ya GGI dong, ganteng-ganteng iblis. Males kan.

Sungguh banyak banget yang bisa dibahas dari buku ini. Dorian Gray tergolong didactic horror, yaitu horor yang bermaksud untuk mendidik atau mengajarkan sesuatu, biasanya pesan moral. Jadi bukan horor yang asal nyerem-nyeremin aja. Yang kayak gini saya suka, karena elemen serem itu jadi ada kamsudnya. Lagipula, Iman Katolik kita juga mempunyai elemen horor: kematian, dosa, penghakiman, neraka. Dalam kadar dan penyajian yang tepat (emangnya makanan), horor sangat berguna sebagai peringatan agar pembacanya merenung dan kembali ke jalan yang benar.

Buku ini saya kasih rating 4 Rahib Unyu. Loh kenapa bukan 5? Sebenernya saya mau kasih 5, tapi saya kurangi 1 karena beberapa bagian agak dragging. Sepertinya Wilde memang hobi dengan karya seni, sejarah, dan batu-batu mulia, dan ini terlihat dari beberapa bagian yang isinya kayak kuliah panjang lebar. Bagus untuk menambah pengetahuan, tapi kalau buat novel malah membuat ceritanya agak lambat. Buku ini cuma 193 halaman, tapi berkat “kuliah”-nya itu saya jadi baru beres baca 1 bulan lebih. Hufff. Untungnya mulai pertengahan ke belakang, mulai jalan cepat dan lebih menegangkan.

Tapi, by all means, saya sangat rekomen buku ini buat semua yang merasa dirinya manusia.

4rahib


Beberapa quote mantap dari buku ini:

“Sin is a thing that writes itself across a man’s face.”

“We live in an age when unnecessary things are our only necessities.”

“Skepticism is the beginning of faith.”

“One has a right to judge of a man by the effect he has over his friends.”

“To be in love is to surpass one’s self.”

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: