Penerapan Konsili Vatikan II: Sebuah Catatan Kritis

Second_Vatican_Council_by_Lothar_Wolleh_005

Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap artikel yang ditulis Rm. Johanes Robini Marianto, OP, yang berjudul Semangat Pembaharuan Liturgi Konsili Vatikan II. Rm Robini membahas berbagai hal seputar Konsili Vatikan II, secara khusus tentang pembaharuan Liturgi, dan karena Gereja masih memperingati 50 tahun Konsili Vatikan II, maka tanggapan penulis ini kiranya dapat menjadi pembelajaran semua pihak untuk semakin memahami teks Konsili dan semangatnya yang sejati.

Saya membagi tulisan ini menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas tentang penerapan Konsili Vatikan II secara umum, dan secara khusus menyinggung sedikit tentang relasi Gereja dan dunia. Pada bagian pertama ini saya tidak menguraikan analisis yang terlalu mendalam, melainkan hanya memberikan beberapa catatan kritis tentang Konsili Vatikan II. Bagian kedua menjabarkan tentang pembaharuan Liturgi pasca Konsili Vatikan II.

Ekses Negatif dalam Pelaksanaan Konsili Vatikan II

Rm Robini berargumen bahwa ekses negatif terjadi karena: (1) masih belum banyak pihak yang memahami “semangat, isi dan keputusan KV II”; dan (2) penerapan Konsili Vatikan II yang belum berakar dalam kehidupan gereja karena baru berjalan selama 50 tahun – di sini Rm Robini membandingkan dengan Konsili Trente yang berjarak sekitar 400 tahun dengan Konsili Vatikan I.

Terhadap dua hal ini, penulis sependapat dengan Rm. Robini. Namun penulis ingin menambahkan bahwa ekses negatif yang terjadi, tidak hanya disebabkan dua hal tersebut. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya ekses negatif adalah ambiguitas yang terdapat dalam dokumen Konsili Vatikan II. Hal tersebut belum lama ini juga diakui oleh Kardinal Kasper, yang mengatakan:

“In many places, [the Council Fathers] had to find compromise formulas, in which, often, the positions of the majority are located immediately next to those of the minority, designed to delimit them. Thus, the conciliar texts themselves have a huge potential for conflict, open the door to a selective reception in either direction.” (Cardinal Walter Kasper, L’Osservatore Romano, April 12, 2013)[i]

Boniface, seorang blogger katolik yang mengelola blog Unam Sanctam Catholicam dan website Unam Sanctam Catholicam, menuliskan artikel yang cukup komprehensif tentang ambiguitas dalam dokumen konsili Vatikan II, yang mengacu pada buku Prof. Roberto de Mattei: The Second Vatican Council: The Untold Story. Namun penulis tidak akan membahas secara mendalam tentang hal ini.[ii]

Ada yang menolak ambiguitas ini dengan argumen berikut: Kitab Suci toh juga memiliki pesan yang ambigu, namun kenapa kita juga tidak menyalahkan penulis Kitab Suci atas ambiguitas ini? Tanggapan saya: Kita tidak bisa menyamakan begitu saja Kitab Suci dan dokumen Gereja, karena masing-masing Kitab (yang dapat dipandang sebagai karya sastra) memiliki genre dan ciri khasnya tersendiri. Namun apakah dokumen Gereja juga memiliki genre? Secara pribadi saya tidak pernah mendengarnya.

Pada umumnya, Konsili diadakan untuk menanggapi sebuah kontroversi yang terjadi pada masa itu, yang pada akhirnya merumuskan sebuah ajaran yang jelas untuk menghilangkan kebimbangan di antara umat beriman. Walaupun Konsili Vatikan II agak berbeda dari Konsili sebelumnya, namun saya berpendapat bahwa ajaran Gereja memang perlu dinyatakan secara jelas dan eksplisit, tidak dengan cara yang ambigu yang malah menimbulkan kontroversi di mana-mana. Hal ini sejalan dengan perkataan St. Yohanes XXIII:

“The twenty-first Ecumenical Council, which uses the effective and significant assistance of experts in the sacred sciences, in the apostolate, and in administration, wishes to transmit whole and entire and without distortion the Catholic doctrine which, despite difficulties and controversies, has become the common heritage of humanity.” – Gaudet Mater Ecclesia

Ajaran Gereja yang dinyatakan secara gamblang tanpa ambiguitas tentu akan sangat membantu dalam meneruskan seluruh ajaran Katolik tanpa distorsi.

Memang benar bahwa terdapat prinsip dan cara menafsirkan Kitab Suci, namun sekarang prinsip dan tafsiran yang benar terhadap seluruh dokumen Konsili Vatikan II belum diberikan oleh Magisterium[iii]. Oleh karena itulah, Uskup Athanasius Scheneider mengajukan proposal untuk menafsirkan Konsili Vatikan II dengan benar.

IMG-20140408-WA004Faktor lain yang mempercepat terjadinya ekses negatif ialah penafsiran terhadap dokumen konsili. Paus Benediktus XVI menjelaskan bahwa terdapat dua penafsiran yang saling bertentangan: penafsiran berkesinambungan (hermeneutic of continuity) versus penafsiran yang terputus (hermeneutic of discontinuity and rupture)[iv]. Menurut Benediktus XVI, konsili Vatikan II tidak bisa dipahami terpisah dari seluruh tradisi Gereja. Bila kita mengadopsi penafsiran yang terputus, maka kecenderungan yang tampak ialah tradisi Gereja (baik tradisi dengan T besar dan t kecil), akan dipandang sebagai hal yang kuno, ketinggalan zaman, sedangkan semangat konsili yang sejati hanya dapat ditemukan terhadap hal-hal baru. Tidak hanya itu, penafsiran ini akan berdampak pada adanya pemisahan antara Gereja pra-konsili dan pasca-konsili. Penulis secara pribadi pernah menyaksikan langsung pemisahan ini, yaitu ketika salah seorang frater pernah mengajarkan bahwa Gereja pra-konsili adalah Gereja yang sombong dan arogan. Padahal, Gereja Katolik baik sebelum dan sesudah konsili, tetaplah Gereja yang satu dan sama.

Oleh karena itu, siapapun yang hendak memahami dan menerapkan dokumen konsili berikut semangatnya, perlu memiliki wawasan yang memadai terhadap seluruh tradisi liturgis, doktrinal, dan spiritual Gereja.

Relasi Gereja dan Dunia

Selanjutnya Rm. Robini merangkum pidato pembukaan Konsili Vatikan II oleh Paus Yohanes XXIII yang berjudul “Gaudet Mater Ecclesia” (Bergembiralah Bunda Gereja). Penulis sendiri sudah membaca teks pidato tersebut. Oleh karena itu, penulis hendak memberikan beberapa komentar.

Pertama, berkenaan dengan “pembawa pesan kiamat” (prophet of doom) yang hanya melihat dunia dalam kehancurannya dan keburukannya. Benar bahwa tidak semestinya kita hanya melihat hal yang buruk dan gelap di dunia ini, namun hendaknya kita juga tidak menyangkal bahwa, bahkan di dalam Gereja Katolik sendiri, sedang terjadi krisis, kekacauan, yang menimbulkan kebingungan di kalangan umat beriman. Menurut penulis, pengakuan akan krisis dan “malam gelap” yang dialami Gereja, dan yang terjadi di dunia, harus diimbangi dengan keyakinan teguh akan Allah, bahwa dengan rahmat-Nya, kita dapat menjadi pembawa terang di dunia yang gelap ini.

Penulis tidak sependapat dengan pernyataan “mengatakan dunia jelek sama saja menolak keyakinan iman bahwa Tuhan ada untuk menyelamatkannya”. Dunia memang tampak jelek, dalam arti bahwa di dalam dunia masih terdapat dosa, kebobrokan moral, kesesatan, kejahatan dan penderitaan. Meskipun demikian, pengakuan terhadap kondisi dunia yang “jelek” justru semakin menegaskan akan perlunya karya keselamatan Kristus dilaksakan di dunia ini.

Kedua, adanya preferensi dalam menggunakan “obat kemurahan hati” (medicine of mercy) dan meninggalkan “pengutukan kekeliruan” (condemnation of error). Penulis berargumen bahwa “pengutukan kekeliruan” juga merupakan bagian dari “pengobatan” yang dapat kita berikan kepada dunia. Merupakan tugas Gereja untuk menyatakan kebenaran, namun tugas mewartakan kebenaran ini juga perlu ditopang oleh semangat untuk mengutuk kekeliruan, kesesatan, karena kesesatan ini dapat membahayakan keselamatan jiwa.

Oleh karena itu, “obat kemurahan hati” juga mesti didampingi oleh “obat keadilan.” Kemurahan hati atau belas kasih hanya dapat diberikan bila aspek keadilan telah terpenuhi terlebih dahulu. Seperti kisah anak yang hilang, yang menghamburkan harta warisan bapanya, dan kemudian dengan jujur berani mengakui keberdosaannya, dan merendahkan dirinya hingga berani memutuskan untuk pulang dan bekerja sebagai pelayan di rumah bapanya. Kerelaan untuk mengakui keberdosaan, dan menerima hukuman yang adil dengan menjadi seorang pelayan, merupakan aspek keadilan yang telah dipenuhi oleh si anak bungsu. Barulah kemudian belas kasih bapa yang berlimpah diberikan kepada anaknya.

Ketiga, berhubungan dengan kebhinekaan ungkapan iman tanpa mengkompromikan isi ajaran iman, yang kemudian semangat ini disebut “aggiornamento.” Tidak diuraikan secara jelas apa maksud dari pluralisme ungkapan iman ini, oleh karena itu penulis tidak akan menanggapinya dan hanya membatasi tanggapan pada istilah “aggiornamento”.

Kata “aggiornamento” yang berarti “memperbaharui” sering dianggap sebagai “Semangat Konsili Vatikan II”, di mana “semangat Konsili Vatikan II” ini dapat semangat yang mendukung perubahan dan keterbukaan (yang sering diungkapkan demikian: “Gereja membuka pintu lebar-lebar bagi dunia”). Semangat ini dapat berupa penafsiran yang melampaui teks dokumen hasil Konsili, bahkan cenderung bertentangan dengan teks Konsili dan ajaran resmi Gereja, yang disebut oleh Paus Benediktus XVI sebagai hermeneutic of discontinuity[v].

Lalu bagaimana semestinya Gereja menjalin hubungan dengan dunia? Jawaban yang cukup komprehensif diberikan oleh Paus Benediktus XVI. Saya hadirkan kutipannya:

“In the concrete history of the Church, however, a contrary tendency is also manifested, namely that the Church becomes self-satisfied, settles down in this world, becomes self-sufficient and adapts herself to the standards of the world. Not infrequently, she gives greater weight to organization and institutionalization than to her vocation to openness towards God, her vocation to opening up the world towards the other.

In order to accomplish her true task adequately, the Church must constantly renew the effort to detach herself from her tendency towards worldliness and once again to become open towards God. In this she follows the words of Jesus: “They are not of the world, even as I am not of the world” (Jn 17:16), and in precisely this way he gives himself to the world. One could almost say that history comes to the aid of the Church here through the various periods of secularization, which have contributed significantly to her purification and inner reform.

Secularizing trends – whether by expropriation of Church goods, or elimination of privileges or the like – have always meant a profound liberation of the Church from forms of worldliness, for in the process she as it were sets aside her worldly wealth and once again completely embraces her worldly poverty. In this she shares the destiny of the tribe of Levi, which according to the Old Testament account was the only tribe in Israel with no ancestral land of its own, taking as its portion only God himself, his word and his signs. At those moments in history, the Church shared with that tribe the demands of a poverty that was open to the world, in order to be released from her material ties: and in this way her missionary activity regained credibility.

History has shown that, when the Church becomes less worldly, her missionary witness shines more brightly. Once liberated from material and political burdens and privileges, the Church can reach out more effectively and in a truly Christian way to the whole world, she can be truly open to the world. She can live more freely her vocation to the ministry of divine worship and service of neighbour. The missionary task, which is linked to Christian worship and should determine its structure, becomes more clearly visible. The Church opens herself to the world not in order to win men for an institution with its own claims to power, but in order to lead them to themselves by leading them to him of whom each person can say with Saint Augustine: he is closer to me than I am to myself (cf. Confessions, III,6,11). He who is infinitely above me is yet so deeply within me that he is my true interiority. This form of openness to the world on the Church’s part also serves to indicate how the individual Christian can be open to the world in effective and appropriate ways.

It is not a question here of finding a new strategy to relaunch the Church. Rather, it is a question of setting aside mere strategy and seeking total transparency, not bracketing or ignoring anything from the truth of our present situation, but living the faith fully here and now in the utterly sober light of day, appropriating it completely, and stripping away from it anything that only seems to belong to faith, but in truth is mere convention or habit.

To put it another way: for people of every era, and not just our own, the Christian faith is a scandal. That the eternal God should know us and care about us, that the intangible should at a particular moment have become tangible, that he who is immortal should have suffered and died on the Cross, that we who are mortal should be given the promise of resurrection and eternal life – for people of any era, to believe all this is a bold claim.

This scandal, which cannot be eliminated unless one were to eliminate Christianity itself, has unfortunately been overshadowed in recent times by other painful scandals on the part of the preachers of the faith. A dangerous situation arises when these scandals take the place of the primary skandalon of the Cross and in so doing they put it beyond reach, concealing the true demands of the Christian Gospel behind the unworthiness of those who proclaim it.

All the more, then, it is time once again to discover the right form of detachment from the world, to move resolutely away from the Church’s worldliness. This does not, of course, mean withdrawing from the world: quite the contrary. A Church relieved of the burden of worldliness is in a position, not least through her charitable activities, to mediate the life-giving strength of the Christian faith to those in need, to sufferers and to their carers. “For the Church, charity is not a kind of welfare activity which could equally well be left to others, but is a part of her nature, an indispensable expression of her very being” (Deus Caritas Est, 25). At the same time, though, the Church’s charitable activity also needs to be constantly exposed to the demands of due detachment from worldliness, if it is not to wither away at the roots in the face of increasing erosion of its ecclesial character. Only a profound relationship with God makes it possible to reach out fully towards others, just as a lack of outreach towards neighbour impoverishes one’s relationship with God.”[vi]

Gereja yang memisahkan diri dari keduniawian, Gereja yang tidak berusaha menyesuaikan dirinya dengan standar duniawi, Gereja yang berusaha untuk menuntun manusia kepada Allah, yang berarti manusia lah yang menyesuaikan diri dengan kebenaran yang sudah diwahyukan Allah melalui Gereja. Gereja yang menghidupi imannya secara penuh, tanpa kompromi terhadap kesesatan dan kenikmatan yang ditawarkan dunia. Inilah seharusnya yang menjadi sikap Gereja terhadap dunia. Bukan asal terbuka terhadap dunia, melainkan keterbukaan yang menuntut sikap kritis dan bertujuan mendekatkan manusia kepada Allah, dan dengan demikian, aktivitas misioner akan semakin bersinar.


Catatan Kaki

[i] Ulasan terhadap komentar Kardinal Casper bisa dibaca di artikel ini: Kasper Admits Intentional Ambiguity.

[ii] Pembahasan lebih mendalam bisa dibaca di artikel ini: Council Fathers on Ambiguity in Vatican II.

[iii] Prinsip menafsirkan dokumen Konsili Vatikan II secara umum diberikan oleh Paus Benediktus XVI, namun belum ada pedoman tafsir yang lebih spesifik untuk tiap dokumen.

[iv]  Benedict XVI. (2005). Address of His Holiness Benedict XVI to The Roman Curia.

[v] Ibid: “The hermeneutic of discontinuity risks ending in a split between the pre-conciliar Church and the post-conciliar Church. It asserts that the texts of the Council as such do not yet express the true spirit of the Council. It claims that they are the result of compromises in which, to reach unanimity, it was found necessary to keep and reconfirm many old things that are now pointless. However, the true spirit of the Council is not to be found in these compromises but instead in the impulses toward the new that are contained in the texts. These innovations alone were supposed to represent the true spirit of the Council, and starting from and in conformity with them, it would be possible to move ahead. Precisely because the texts would only imperfectly reflect the true spirit of the Council and its newness, it would be necessary to go courageously beyond the texts and make room for the newness in which the Council’s deepest intention would be expressed, even if it were still vague. In a word:  it would be necessary not to follow the texts of the Council but its spirit. In this way, obviously, a vast margin was left open for the question on how this spirit should subsequently be defined and room was consequently made for every whim.”

[vi] Benedict XVI. (2011). Meeting with Catholics Engaged in the Life of the Church and Society.

 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: