Pembaharuan Liturgi: Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai

page-1024x485

Pembaharuan Liturgi pasca Konsili Vatikan II

Topik pembaharuan Liturgi merupakan topik yang tetap ramai diperbincangkan. Namun dalam ulasan Romo Robini, penulis akan menanggapi beberapa hal, sambil mengingat dan menerapkan apa yang diucapkan oleh Rm. Robini: “Maka mengingkari dan mencoba menafsirkan sendiri bisa jadi karena tidak mengerti dan menguasai isi dan semangat KV II dan mencuplik hanya sebagian teks sesuai keinginan sendiri.”

1.Perubahan Beberapa Hal Tertentu dalam Liturgi

Berkenaan dengan perubahan dalam Liturgi, posisi Romo Robini adalah sebagai berikut:

  1. Tujuan pembaharuan Liturgi ialah agar umat dapat menghayati kehidupan berimannya
  2. Ada beberapa bagian pada Liturgi yang dapat diubah, yang disesuaikan dengan cara pikir dan semangat hidup manusia sesuai jamannya
  3. Pembaharuan Liturgi dimaksudkan agar semakin banyak orang dapat masuk ke dalam Gereja
  4. Partisipasi umat secara “sadar dan tahu” dalam Liturgi membuat umat terlibat dan mendapatkan hasil yang matang
  5. Diperlukan studi yang serius dalam menjalankan pembaharuan Liturgi, secara khusus bila hendak melakukan inkulturasi

Penulis sependapat bahwa memang ada hal-hal yang bisa diubah. Namun ketika kita berbicara tentang perubahan-perubahan yang hendak dilakukan, hendaknya diingat Sacrosanctum Concilium no 23:

That sound tradition may be retained, and yet the way remain open to legitimate progress, careful investigation is always to be made into each part of the liturgy which is to be revised. This investigation should be theological, historical, and pastoral. Also the general laws governing the structure and meaning of the liturgy must be studied in conjunction with the experience derived from recent liturgical reforms and from the indults conceded to various places. Finally, there must be no innovations unless the good of the Church genuinely and certainly requires them; and care must be taken that any new forms adopted should in some way grow organically from forms already existing.

Penulis sependapat dengan poin no 1 dan 5. Berhubungan dengan nomor 2, penulis hendak mengingatkan kutipan SC di atas bahwa “there must be no innovations unless the good of the Church genuinely and certainly requires them”. Jadi, dalam upaya membaharui Liturgi, perlu dipertimbangkan apakah “the good of the Church requires them”. Frase tersebut tentu bisa ditafsirkan secara luas, bahkan tidak jarang ditafsirkan demikian bebas hingga mengabaikan batasan yang ada.

Namun SC juga memberikan beberapa batasan sebagai berikut. Pertama, sound tradition harus dipertahankan. Kenyataannya, hal tersebut cenderung diabaikan. Sebagai contoh, Gereja menghendaki agar penggunaan bahasa Latin tetap dipertahankan sambil memperluas penggunaan bahasa vernakular. Namun yang terjadi di sebagian besar keuskupan di Indonesia (juga di benua Eropa dan Amerika) adalah menghilangnya penggunaan bahasa Latin dalam Liturgi. Padahal Gereja memiliki penghormatan yang besar terhadap bahasa Latin. Bahasa Latin merupakan bahasa yang tidak mengalami perubahan, karenanya penggunaan bahasa Latin mengungkapkan kebenaran iman yang kekal, sekalipun terdapat perkembangan doktrinal namun esensinya tetaplah sama.

Apakah bahasa Latin menghambat partisipasi secara “sadar dan tahu” bagi umat beriman karena umat tidak mengerti apa yang didoakan? Penulis berpendapat bahwa bahasa Latin tidak menghambat partisipasi umat beriman. Pertama, dapat diupayakan buku misa terjemahan teks Latin-Indonesia secara berdampingan. Kedua, pengenalan bahasa Latin dapat dilakukan dengan menyanyikan lagu-lagu Ordinarium, kemudian secara bertahap membiasakan umat untuk merespon seperti “Et cum spiritu tuo (dan bersama rohmu)”, “Deo Gratias (syukur kepada Allah)”, “Dignum et iustum est (sudah layak dan sepantasnya)”. Ketiga, manusia selalu memiliki kapasitas untuk belajar, dan umat dapat memahami bahasa Latin bila penggunaannya ini telah dibiasakan. Tentu hal ini memerlukan proses yang panjang. Namun bila kita beranggapan bahwa bahasa Latin itu sulit dan umat tidak akan mampu mengerti, maka kita sebenarnya merendahkan potensi belajar yang ada pada manusia.

Contoh berikutnya ialah praktek menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Saya sudah menuliskannya dalam artikel “Kebenaran tentang Menerima Komuni di Tangan”, yang menegaskan bahwa praktek Komuni di lidah sambil berlutut seharusnya berjalan berdampingan dengan praktek menerima Komuni di tangan. Namun yang terjadi ialah menghilangnya praktek menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Dalam beberapa kasus ada prodiakon yang tidak memberikan Komuni hanya karena mereka berlutut, bahkan para imam pun ada yang menolak memberikan Komuni.

Contoh terakhir ialah tentang orientasi imam dalam Liturgi. Sejak dahulu imam selalu menghadap ke arah Tuhan, dan secara geografis mengarah ke timur (ad orientem)[i]. Namun sekarang pada Misa Novus Ordo, imam menghadap ke arah umat, padahal SC tidak menghapuskan tradisi tersebut. Dokumen gereja lainnya juga tidak mengharuskan atau mewajibkan imam untuk menghadap umat. Namun mengapa sekarang hal tersebut tidak dilakukan lagi? Padahal ini termasuk sound tradition dan merupakan warisan liturgi yang mengalami pertumbuhan secara organik.

Mengenai poin nomor 4, penulis sependapat bahwa umat perlu berpartisipasi secara “sadar dan tahu”. Namun berdasarkan pengamatan penulis, “sadar dan tahu” memiliki berbagai tingkatannya. “Sadar dan tahu” ini bisa berarti umat tahu apa kata-kata yang diucapkan imam, namun hanya sebatas tahu saja. Umat tentu tidak tahu apa yang didoakan imam bila menggunakan bahasa Latin, namun dengan bahasa Indonesia umat menjadi tahu. Tingkat selanjutnya, “sadar dan tahu” bisa berarti umat memahami makna teologis di balik doa-doa yang digunakan dalam Liturgi, namun belum sampai pada perubahan disposisi atau perilaku saat Misa. Tingkat “sadar dan tahu” yang tertinggi ialah bagaimana umat bisa memahami makna teologis di balik tiap teks doa, juga menghayati dan mengapresiasi Liturgi dengan lebih baik sehingga disposisi batin dan gestur atau perilaku mereka semakin menunjukkan rasa hormat yang besar terhadap Ekaristi.

Batasan kedua, diperlukan adanya penyelidikan teologis, historis, dan pastoral secara teliti ketika hendak merevisi bagian tertentu dalam Liturgi. Oleh karena itu, siapapun yang ingin mengubah bagian Liturgi hendaknya mengajukan alasannya didukung dengan hasil penelitian teologis, historis dan pastoral, tidak sekedar berupa “alasan pastoral” atau “demi memenuhi kebutuhan umat” atau alasan sejenis.

Batasan ketiga ialah bentuk-bentuk baru dalam Liturgi haruslah sesuatu yang bertumbuh secara organik. Ini berarti ada aspek kontinuitas (kesinambungan) dengan tradisi Liturgis yang telah ada sebelumnya. Tidak bisa hal-hal baru ditambahkan begitu saja dalam Liturgi. Tentunya untuk mengetahui kontinuitas tersebut, batasan kedua diperlukan.

2.Penggunaan Bahasa Latin dan Bahasa Vernakular

Penulis sudah membahas penggunaan bahasa Latin pada penjelasan sebelumnya. Sekarang penulis akan sedikit menyinggung soal penggunaan bahasa vernakular dalam Liturgi. Penulis tentu saja tidak mempermasalahkan apakah misa dengan bahasa Latin jauh lebih benar atau tidak, lebih sah atau tidak. Gereja mengharapkan baik penggunaan bahasa Latin dan vernakular berjalan berdampingan.

Namun ada kesulitan tersendiri dalam menerjemahkan teks doa dalam Liturgi ke dalam bahasa vernakular. Sebagai contoh, sekitar tiga tahun lalu dikeluarkan terjemahan Misa berbahasa Inggris yang baru, yang merevisi terjemahan sebelumnya, disebabkan ada banyak kata-kata yang cenderung mengaburkan ajaran Iman Katolik. Dalam teks Misa berbahasa Indonesia pun, saya menemukan sedikit contoh penerjemahan yang kurang akurat.

Pertama, terjemahan kata-kata konsekrasi anggur: “yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang”. Frase “semua orang” merupakan terjemahan yang kurang akurat, terjemahan yang seharusnya adalah bagi “banyak orang”, dari kata bahasa Latin “pro multis.” Paus Benediktus XVI[ii] menjelaskan alasan penggunaan terjemahan “bagi banyak orang” sebagai berikut: benar bahwa Yesus wafat demi semua orang, namun buah penderitaan Kristus tidak diterima oleh semua orang. Keselamatan ditawarkan secara gratis (dan tidak dipaksakan) kepada manusia, namun manusia tetap memiliki kebebasan untuk menolaknya.

Penggunaan frase “bagi semua orang” dapat mengimplikasikan bahwa terdapat keselamatan di luar Gereja. Padahal Gereja tidak pernah mengubah dogma “Extra Ecclesiam Nulla Salus” (Di luar Gereja tidak ada keselamatan). Terjemahan yang tidak akurat tentu akan mengaburkan ajaran Gereja.

Contoh lainnya ialah terjemahan doa ”Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja maka SAYA akan sembuh”. Mari kita bandingkan dengan terjemahan Inggris dan teks Latin:

Lord, I am not worthy that thou shouldest come under my roof: but speak the word only, and my SOUL shall be healed.

Domine, non sum dignus ut intres sub tectum meum, sed tantum dic verbo et sanabitur ANIMA mea.

Kata “soul” seharusnya diterjemahkan “jiwa”, namun terjemahan Indonesia menggunakan kata “saya”, yang menurut pendapat penulis, mereduksi makna doa yang ingin disampaikan. Mungkin ada yang keberatan, dengan berkata bahwa manusia itu terdiri dari tubuh dan jiwa, dan keduanya merupakan satu kesatuan. Hal tersebut benar, namun umat awam jarang memiliki pemahaman seperti ini.

Penulis berargumen bahwa dengan menggunakan kata “jiwa”, maka teks doa tersebut hendak menekankan bahwa hal-hal spiritual lah yang harus menjadi prioritas utama. Kesembuhan jiwa harus diutamakan daripada kesembuhan tubuh. Seperti yang dikatakan kitab Suci, kita harus lebih takut terhadap apa yang menghancurkan jiwa daripada tubuh.

Menurut St. Thomas Aquinas, hirarki jiwa manusia terdiri dari akal budi, kehendak dan hasrat (passions). Sejak kejatuhan akibat dosa asal, baik akal budi, kehendak dan hasrat mengalami disintegrasi. Mereka tidak lagi terarah kepada kebenaran, kebaikan dan keindahan, dan karenanya manusia harus berjuang keras untuk mengintegrasikannya.

Sang Sabda, Kristus, telah menjadi manusia –Verbo caro factum est. Dan Ia memberikan diri-Nya dalam Ekaristi. Inilah roti surgawi – sabda yang menjadi daging –  yang kita butuhkan demi keselamatan jiwa kita. Rahmat yang berasal dari Kristus, yang kita terima melalui sakramen, merupakan rahmat yang dapat membantu kita, memurnikan dan menerangi akal budi dan kehendak, dan memampukan kita mengendalikan hasrat yang tidak teratur. Kita membutuhkan Sabda – membutuhkan Allah – agar kita dapat sembuh.

Jadi, kita bisa melihat bahwa terjemahan yang tidak akurat akan mengaburkan kebenaran iman Gereja. Oleh karena itu, terjemahan teks Liturgi dalam bahasa vernakular harus tetap diperiksa keselarasannya dengan teks Latin. Dan yang tidak boleh dilupakan juga ialah bahwa Gereja tidak pernah berusaha meniadakan bahasa Latin.

Bahasa Latin merupakan “bahasa mati”, yang artinya ia tidak mengalami perkembangan atau perubahan lagi. Karakter khasnya yang demikian membuat bahasa Latin sangat tepat digunakan dalam teks doa Liturgi, karena dalam doa terdapat kandungan ajaran iman Katolik yang kekal dan tidak berubah. Selain itu, bahasa Latin juga merupakan bahasa yang memberikan nuansa persatuan semua umat Katolik di seluruh dunia. Penggunaannya menunjukkan kesatuan dalam hal iman dan moral, serta memberikan kesadaran akan kesatuan umat beriman dalam Gereja Universal, bersatu dalam satu Tuhan, satu iman, satu baptisan dan satu gembala Gereja di dunia, yakni penerus Petrus.

III.Misa Tridentine (Extraordinary Form) dan Misa Novus Ordo (Ordinary Form)

Romo Robini menyatakan, “Ada usaha untuk kembali kepada liturgi Pius V (Trente) baik tata cara maupun penggunaan bahasa Latin. Gereja Katolik tidak pernah menolak atau menghapuskan ritus Pius V. Segala ritus yang ada tetap sah, meski demi kesatuan Gereja universal tidak digunakan.”

Memang benar tidak pernah ada dokumen Gereja yang menyatakan secara definitif penghapusan atau pelarangan terhadap liturgi Pius V[iii] (yang untuk selanjutnya akan saya sebut sebagai Misa Tridentine, yang dibedakan dengan misa Novus Ordo). Namun, kenyataannya, setelah reformasi liturgi pasca konsili Vatikan II, Misa Tridentine pada prakteknya dilarang untuk dirayakan. Pada prakteknya, seakan-akan Liturgi pra-konsili Vatikan II telah dihapus, dan digantikan oleh Misa Novus Ordo. Berikut ini saya kutipkan penjelasan Kardinal Ratzinger:

I am of the opinion, to be sure, that the old rite should be granted much more generously to all those who desire it. It’s impossible to see what could be dangerous or unacceptable about that. A community is calling its very being into question when it suddenly declares that what until now was its holiest and highest possession is strictly forbidden, and when it makes the longing for it seem downright indecent. Can it be trusted any more about anything else? Won’t it proscribe tomorrow what it prescribes today?  (Salt of the Earth, p. 176-77)

Lebih lanjut, dalam buku God and the World, Kardinal Ratzinger menjelaskan:

For fostering a true consciousness in liturgical matters, it is also important that the proscription against the form of liturgy in valid use up to 1970 should be lifted. Anyone who nowadays advocates the continuing existence of this liturgy or takes part in it is treated like a leper; all tolerance ends here. There has never been anything like this in history; in doing this we are despising and proscribing the Church’s whole past. How can one trust her present if things are that way? I must say, quite openly, that I don’t understand why so many of my episcopal brethren have to a great extent submitted to this rule of intolerance, which for no apparent reason is opposed to making the necessary inner reconciliations within the Church.

Kardinal Ratzinger menegaskan bahwa mereka yang mendukung keberadaan Liturgi pra-Konsili Vatikan II diperlakukan seperti “penyandang kusta”. Mereka dianiaya dan tidak diberikan toleransi. Perlakuan yang tidak adil ini, yang tampaknya menghina seluruh masa lalu Gereja yang terdapat dalam Liturgi, merupakan hal yang sulit dimengerti oleh sang Kardinal.

1385548_876371885720994_4747299515802359743_nPaus Benediktus XVI juga menjabarkan bahwa:

Many people who clearly accepted the binding character of the Second Vatican Council, and were faithful to the Pope and the Bishops, nonetheless also desired to recover the form of the sacred liturgy that was dear to them. This occurred above all because in many places celebrations were not faithful to the prescriptions of the new Missal, but the latter actually was understood as authorizing or even requiring creativity, which frequently led to deformations of the liturgy which were hard to bear.  I am speaking from experience, since I too lived through that period with all its hopes and its confusion.  And I have seen how arbitrary deformations of the liturgy caused deep pain to individuals totally rooted in the faith of the Church.[iv]

Saya tidak sependapat bila dikatakan adanya dorongan untuk kembali kepada Misa Tridentine hanya dibatasi pada persoalan dengan kelompok +Lefebvre (SSPX) saja. Seperti yang dijelaskan Paus Benediktus di atas, mereka yang menerima Konsili Vatikan II dan setia terhadap Paus dan Uskup, juga memiliki keinginan untuk menghidupkan kembali Misa Tridentine ini. Dan tidak dapat disangkal pula bahwa pemicunya ialah Misa Novus Ordo yang tidak dirayakan sesuai dengan kaidah-kaidah Liturgi, meskipun pembebasan Misa Tridentine dilakukan Paus Benediktus dengan tujuan untuk menciptakan kesatuan dan rekonsiliasi dengan SSPX.

Walaupun demikian, saya tetap meyakini bahwa Misa Novus Ordo tetaplah sah dan valid. Namun tidak dapat disangkal pula bahwa pada prakteknya terdapat Misa Novus Ordo yang tidak sah dan valid, yang penuh dengan pelanggaran Liturgis yang terkadang dilakukan oleh para imam.

Apabila kesatuan Gereja hendak dipertahankan, maka persoalannya ialah sejauh mana praktek berliturgi yang dilakukan sudah sejalan dengan dokumen-dokumen Liturgi yang bersangkutan[v], dan bukan semata-mata soal bahasa Latin versus vernakular, sah atau tidak sah. Menurut saya, kesatuan tidak hanya tentang menjaga kerukunan dan perdamaian dalam perbedaan, namun juga berkaitan erat dengan ketaatan terhadap kaidah-kaidah Liturgi, ketaatan dengan Uskup Roma yang sudah mengeluarkan pedoman tentang cara menerapkan ars selebrandi dengan baik, benar dan indah.

Mengatakan Misa Novus Ordo sebagai hal yang umum, menurut hemat saya juga tidak tepat. Apa yang umum dan menjadi tradisi Gereja ialah Misa Tridentine, yang usianya sudah ribuan tahun dan mengalami proses perkembangan secara organik sejak masa awal berdirinya Gereja hingga Konsili Vatikan II. Misa Novus Ordo “dirancang” oleh sekelompok “ahli” dalam waktu singkat, baru diberlakukan sejak tahun 1970, dan karenanya sedang berada dalam proses untuk menjadi umum. Argumentasi ini didukung oleh pernyataan Kardinal Ratzinger:

What happened after the Council was something else entirely: in the place of liturgy as the fruit of development came fabricated liturgy. We abandoned the organic, living process of growth and development over centuries, and replaced it– as in a manufacturing process — with a fabrication, a banal on-the-spot product.” (Sumber)

Misa Tridentine merupakan misa yang sudah berakar kuat di negara-negara yang memiliki akar Katolisitas yang tertanam kokoh. Bila kita melihat sejarah penerapan awal Misa Novus Ordo ini, justru apa yang sudah “umum dan normal” secara tiba-tiba dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya, dan digantikan oleh sesuatu yang “baru” yang tampak terlihat asing. Oleh karena itu, adanya gerakan yang didasari oleh kerinduan untuk kembali kepada Misa Tridentine, sebenarnya adalah upaya untuk kembali kepada identitas Gereja, kembali kepada warisan yang sudah membentuk santo-santa kita secara dokrtinal, spiritual maupun liturgis.

Tidak berarti saya menentang Misa Novus Ordo, karena Paus Benediktus menghendaki agar kedua bentuk dari satu ritus Romawi yang sama ini tetap dipertahankan hingga dapat saling memperkaya[vi]. Apa yang perlu selalu ditentang adalah pelanggaran-pelanggaran Liturgis, praktek-praktek yang bertentangan dengan ketentuan yang terdapat dalam Sacrosanctum Concilium serta dokumen Gereja lainnya tentang Liturgi. Sikap kita terhadap Novus Ordo ialah berusaha mendidik umat agar memahami makna Liturgi dengan lebih baik, dan mewartakan tentang ars selebrandi yang benar agar Misa Novus Ordo pun dirayakan secara optimal. Ekaristi yang dirayakan dengan sangat baik, sesuai dengan ars selebrandi merupakan katekese Ekaristi yang terbaik, kata Paus Benediktus dalam Sacramentum Caritatis no 64. Oleh karena itu, pembaharuan Liturgi juga harus semakin menumbuhkan rasa hormat dan cinta yang mendalam terhadap Tuhan yang hadir dalam Ekaristi.

Posisi saya pribadi ialah sebagai berikut: bahwa pembaharuan Liturgi masih tetap perlu dijalankan. Misa Novus Ordo bukanlah sebuah misa yang sudah mencapai bentuk akhir, melainkan masih perlu menjalani pembaharuan dan dimurnikan dari setiap hal yang berpotensi, atau bahkan telah, membuat Liturgi terlihat kurang sakral dan agung. Apa yang bisa dilakukan sekarang ialah memperluas pengadaan Misa Tridentine, sambil tetap merayakan Novus Ordo secara optimal sehingga terlihat agung dan penuh hormat.

Penutup: Membedakan Pembaharuan Sejati dan Pembaharuan Palsu

Ada yang berpendapat, bahwa upaya untuk menghidupkan kembali praktek dan tradisi sebelum Konsili Vatikan II merupakan langkah kemunduran yang bertentangan dengan semangat Konsili Vatikan II[vii]. Tidak jarang ada yang berkata bahwa hal-hal sebelum Konsili Vatikan II merupakan produk abad pertengahan, merupakan sesuatu yang kuno, dan tidak sesuai dengan semangat pembaharuan.

Apakah sebuah langkah mundur untuk menghidupkan kembali tradisi yang memiliki makna teologis yang mendalam, merupakan sebuah kekeliruan? Untuk menjawabnya, mari kita tempatkan pertanyaan ini dalam konteks membedakan pembaharuan sejati dari pembaharuan palsu.

Sebagai contoh, ada yang menganggap cara menerima Komuni di tangan merupakan pembaharuan yang dapat dibenarkan dalam Sacrosanctum Concilium. Padahal, praktek menerima Komuni di tangan bukanlah hal yang lazim (praktek menerima Komuni di lidah sambil berlutut tetap perlu dipertahankan), dan agar dapat melakukannya maka diperlukan indult dari Vatikan. Namun yang terjadi sekarang ialah berkurangnya rasa hormat terhadap Ekaristi, yang dapat ditemui dalam beberapa berita yang menyatakan ditemukannya Hosti di bangku Misa, di lantai, dibawa pulang, dst. Padahal, apa yang seharusnya dipertahankan adalah rasa hormat yang mendalam terhadap Kristus yang hadir dalam Ekaristi, dan bagaimana umat diajar untuk menunjukkan cara yang paling baik dalam mengungkapkannya.

Pembarahuan sejati dapat dibedakan dari pembaharuan palsu dengan satu kriteria utama: Tradisi Suci. Gereja Katolik memiliki warisan doktrinal, spiritualitas, devosi yang amat kaya. Dan pembaharuan yang sejati tidak akan pernah meninggalkan apa yang sejak dahulu, kini, dan kelak merupakan hal yang sakral dan agung. Apa yang harus ditinggalkan dan disingkirkan adalah hal-hal yang menyimpang dan menjadi abuse dari penghayatan dan penerapan warisan tersebut.

Beranjak dari analisis di atas, maka sebenarnya masih banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Terjemahan teks Liturgi yang setia dengan bahasa Latin, katekese tentang Liturgi bagi umat, katekese mengenai ars selebrandi bagi para imam, pelanggaran Liturgi yang harus diminimalkan merupakan sebagian kecil tugas yang masih harus kita kerjakan.

Langkah mundur diperlukan, bila kita bergerak maju ke arah yang salah, ke arah yang menyesatkan kita dari tujuan awal yang hendak dicapai. Langkah mundur diperlukan, bila dengan melangkah maju, kita malah semakin kehilangan identitas kita sebagai seorang katolik. Jadi, bila kita tersesat, putar arah sekarang juga. Jangan takut untuk menemukan kembali kekayaan iman katolik yang terkubur di masa lalu.


Catatan Kaki

[i]Pembahasan lebih komprehensif tentang ad orientem, silakan lihat artikel ini: The Altar and the Direction of Liturgical Prayer, oleh Joseph Ratzinger.

[ii] Benedict XVI. (2012). Letter of His Holiness Pope Benedict XVI, Pro Multis, to H.E. Robert Zollitsch, Archbishop of Freiburg, President of The Episcopal Conference of Germany.

[iii] Romo Robini dalam artikelnya menggunakan istilah “ritus Pius V” dan “ritus Paulus VI”. Hal tersebut tidaklah mengherankan karena bila kita mempelajari sejarah penerapan pembaharuan Liturgi pasca KVII, seakan-akan ada ritus baru yang menggantikan ritus lama. Paus Benediktus, dalam surat yang ditujukan kepada para uskup mengenai Motu Proprio Summorum Pontificum, telah memperjelas bahwa hanya ada satu ritus Romawi dengan dua bentuk (form), yakni ordinary form (Misa Novus Ordo) dan extraordinary form (Misa Tridentine).

[iv] Benedict XVI. (2007). Letter of His Holiness Benedict XVI to The Bishops on The Occasion of The Publication of The Apostolic Letter “Motu Proprio Data” Summorum Pontificum.

[v] Sebagai contohnya, dokumen seperti Pedoman Umum Missale Romawi, Sacramentum Caritatis, dan Redemptionis Sacramentum.

[vi] Meskipun Paus Benediktus XVI menghendaki kedua bentuk Misa ini tetap ada, namun berdasarkan pengalaman sejumlah kecil imam yang berusaha melakukan Misa Novus Ordo seturut aturan Liturgi, mereka merasa bahwa apa yang dilakukan ternyata hanya menghabiskan sebagian besar waktu dan tenaganya (baca tulisan saya yang berjudul: Pembaharuan Liturgi Pasca Konsili Vatikan II: Sebuah Pengantar). Ini disebabkan karena Misa Novus Ordo yang dipersembahkan seturut aturan Liturgi (misalnya penerapan ad orientem, bahasa Latin, lagu Gregorian, penghormatan terhadap saat hening dalam Misa, dst) akan semakin menyerupai Misa Tridentine. Tentu kita dapat bertanya: Mengapa tidak mulai mempelajari rubrik Misa Tridentine saja, lalu membantu umat untuk menghayati Misa ini? Apakah sebaiknya Misa Novus Ordo tetap dipertahankan, atau justru sebaliknya: pembaharuan Liturgis harus dimulai kembali dari awal, yakni dari Misa Tridentine, menuju Misa “Novus Ordo” yang lebih sesuai dengan spiritualitas Katolik? Penulis memilih untuk membiarkan pertanyaan ini terbuka untuk ditelaah lebih lanjut.

[vii] Penulis pernah memiliki pengalaman pribadi dalam hal ini, yaitu ketika seorang imam menegur penulis karena menerima Komuni di lidah sambil berlutut. Ia berkata bahwa praktek tersebut merupakan kemunduran, dan kita tidak perlu berjalan mundur ke masa lalu. Kemudian, penulis menjawab pendapat imam tersebut dengan artikel berjudul “Mengapa Saya Menerima Komuni di Lidah Sambil Berlutut”.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: