[Review] “Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives” oleh Paus Benediktus XVI

infancyJudul: Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives

Penulis: Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI)

Penerbit: Image Books

Cetakan: I (2012)

Jumlah halaman: 132

Reviewer: Anne


Masih ingat review kami tentang buku pertama dari trilogi Jesus of Nazareth ini? Nah sekarang kami akan mereview buku ketiganya, yaitu The Infancy Narratives (selanjutnya “Infancy“. Kalau ada yang orang Sunda bolehlah jadi “Inpansi”).

Loh buku keduanya mana? Jangan khawatir, trilogi ini tidak perlu dibaca berurutan. Malah, sangat disarankan agar dibaca sesuai dengan kalender liturgi, yaitu buku pertama untuk Masa biasa, buku kedua (Holy Week) untuk masa Prapaskah, dan buku ketiga (Infancy) untuk masa Adven dan Natal. Jadi berhubung saat ini kita masih dalam masa Adven, maka buku ini cocok sekali untuk dibaca. Btw, yang disebut masa Natal gak hanya tanggal 25 Desember saja lho, tetapi sampai dengan Hari Raya Epifani yaitu tanggal 6 Januari. So, kita punya sekitar 10 minggu untuk menikmati buku pendek ini!

Mungkin pertanyaan pertama yang terlintas di benak kita adalah: “Berat gak sih bukunya?” Ehm, ya kayaknya sekilo gak nyampe sih hehe jayus Tapi serius deh, meski tergolong sebagai tafsir Kitab Suci, Infancy ini cukup ringan dan cukup cepat dibaca (cuma 130-an halaman koq… Harry Potter #5 aja 1000-an halaman kan :p ). Malah, kalau saya bilang, membaca Infancy rasanya seperti membaca novel biasa saking flowing-nya.

Istilah “infancy narrative“—selanjutnya kami terjemahkan sebagai “narasi masa kecil”—adalah sebutan untuk komponen Injil yang menceritakan masa kecil Tuhan kita Yesus Kristus. Injil yang mengandung narasi ini adalah Injil Matius dan Injil Lukas. Persamaan dan perbedaan kedua narasi tersebut dapat dibaca di sini.

Buku ini diawali dengan analisis pendek dari pertanyaan Pilatus kepada Yesus: “Dari manakah asal-Mu?” (Yoh 19:9) Pertanyaan sederhana ini ternyata mengandung makna yang mendalam, karena jawaban atas pertanyaan tersebut juga akan turut menyingkap identitas Yesus yang sebenarnya dan misinya di dunia ini.

Kita tahu dari bahwa selama masa hidupnya pun, banyak kontroversi akan asal-muasal Yesus: “bukankah Ia ini anak tukang kayu?”, “bukankah Ia ini Yesus, yang ayah dan ibunya kita kenal?”, “bukankah saudara-saudarinya ada bersama kita?”, “mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”. Bahkan Yesus sendiri bertanya kepada Petrus: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

Dalam Infancy, Papa Ben (panggilan sayang untuk Paus Benediktus XVI) menyuguhkan berbagai interpretasi baik dari ekseget lain maupun dari pemikirannya sendiri, yang menjawab isu tersebut. Buku disusun secara sistematis, mulai dari peristiwa Anunsiasi ganda (pemberitaan akan kelahiran Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus), dan berakhir dengan peristiwa Yesus yang berusia 12 tahun diketemukan dalam Bait Allah. Simbol-simbol, metafora, dan pemenuhan nubuatan dibahas dengan mendalam dan menyenangkan. Pokoknya, setelah membaca rasanya seperti ada bohlam nyala >TING!< di kepala, dan Sobat Perpus pasti gak akan pernah melihat Kitab Suci dengan cara yang sama lagi :D

Bagian favorit saya pribadi adalah simbolisasi palungan, dan perbandingan yang menakjubkan antara sejarah Kekaisaran Romawi di bawah Kaisar Agustus dengan nubuat kelahiran Yesus Kristus. Saya suka bagaimana Kaisar Agustus secara tidak sadar membantu pemenuhan rencana keselamatan Allah. Sungguh benar bahwa Allah tidak tidur: ia mampu bekerja melalui hal-hal yang tidak menyenangkan seperti penjajahan bangsa asing sekalipun.

Papa Ben gak hanya menafsirkan dari segi murni historis atau murni modern; ia menggunakan kedua-duanya. Beliau secara eksplisit merekomendasikan metode ini sebagai metode eksegesis (tafsir Kitab Suci) yang baik.

I am convinced that good exegesis involves two stages. Firstly one has to ask what the respective authors intended to convey through their text in their own day—the historical component of exegesis. But it is not sufficient to leave the text in the past and thus relegate it to history. The second question posed by good exegesis must be: is what I read here true? Does it concern me? If so, how? With a text like the Bible, whose ultimate and fundamental author, according to our faith, is God himself, the question regarding the here and now of things past is undeniably included in the task of exegesis. The seriousness of the historical quest is in no way diminished by this: on the contrary, it is enhanced.

—Pope Benedict XVI, The Infancy Narratives, hlm. xi

Inilah yang saya suka dari tulisan-tulisan beliau, karena dengan demikian figur-figur dan peristiwa-peristiwa Kitab Suci menjadi hal yang historis sekaligus hal yang aktual: mereka terjadi di masa lampau namun masih berbicara dan masih relevan bagi kita sekarang. Ini juga bukti bahwa Allah bekerja melalui sejarah manusia, namun hasil pekerjaan tangan-Nya adalah benar sepanjang masa. Dengan metode tersebut, kita terhindarkan dari pertanyaan-pertanyaan seperti “Yesus secara historis itu seperti apa ya?” yang menyiratkan bahwa seolah-olah Yesus historis berbeda dari Yesus yang kita imani.

Buku ini kami rekomendasikan untuk semua orang Kristen, baik yang pernah belajar eksegesis secara formal maupun yang tidak. Bagi para ekseget, mungkin banyak pemaparan dalam buku ini sudah tidak asing lagi, tapi saya kira selalu baik untuk mempelajari bagaimana hal yang sama dapat diungkapkan dengan cara yang berbeda oleh orang lain (oleh seorang Paus, pula!). Nilai plus lainnya, Infancy bisa dibaca berulang-ulang; buku ini adalah tipe buku yang setiap kali kita baca ulang, selalu ada hal baru yang kita dapatkan.

5 Rahib Unyu menerjang masuk perpus dan rebutan buku ini.

5rahib

 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: