[Review] “Demonologi & Eksorsisme: Perspektif Teologi Katolik” oleh RP Johanes Robini Marianto, OP

demonologi001Judul: Demonologi & Eksorsisme: Perspektif Teologi Katolik

Penulis: RP Johanes Robini Marianto, OP

Penerbit: Yayasan Santo Martinus de Porres

Nihil Obstat: RP Gerard F. Timoner III, OP (Provinsial Ordo Dominikan Provinsi Filipina) dan RP Edmund C. Nantes, OP (Superior Rumah Santo Dominikus Pontianak, Kalimantan Barat)

Imprimatur: RD Laurensius Sutadi

Cetakan: I, Juni 2014

Jumlah halaman: 137

Reviewer: Anne


Wah, buku eksorsisme lagi? Gak bosen apa ngomongin setan? (Jawaban: engga koq, topik setan dan demonologi itu selalu seru untuk dibahas, hehe)

Setelah meripiu bukunya Romo Gabriele Amorth, kami memutuskan untuk meripiu buku eksorsisme keluaran lokal ini, yang ditulis oleh RP Johanes Robini Marianto, OP (Romo Robini). Sebenernya saya sudah sekitar 2 bulan lalu selesai membacanya, tapi berhubung sedang banyak pekerjaan maka terpaksa ripiunya terbengkalai.

Mari kita mulai dari sampul. Sampul buku ini kalau menurut saya keren. Nuansanya dark dan sedikit epic, bukan dark horor, dan ini sesuai dengan konten buku yang memang bukan bertujuan untuk menakut-nakuti, tapi untuk memaparkan teologi Katolik tentang demonologi secara rasional. Jenis font yang dipakai di sampul juga oke, pas untuk latar belakangnya, dan gak “sok horor” (font berdarah-darah atau seperti cakaran hewan seperti yang suka dipake di novel horor kelas teri). Jadi saya kasih cyber applause buat desain grafisnya, Mas Joko Sulistyo.

Mulai membuka bukunya, sekilas tampilannya oke. Huruf enak dibaca dan marginnya pas. Kesan pertama memang oke banget deh.

Tapi… >glek!< Pandangan saya langsung berubah drastis saat benar-benar mulai membaca. Pertama-tama, saya perlu bilang bahwa caci maki kritik habis-habisan yang akan saya haturkan di bawah ini BUKAN ditujukan kepada Romo Robini sebagai penulis. Romo Robini did a great job at doing the essential things a writer should do: researching and writing. Buku Demonologi ini tergolong pioneer dalam dunia perbukuan Katolik di Indonesia, khususnya untuk ranah demonologi dan eksorsisme. Sebelumnya saya belum pernah menemukan buku demonologi lokal yang mengandung pemaparan yang cukup komprehensif mengenai pandangan para Bapa Gereja, para Bapa Gurun, dan pemikir-pemikir besar Gereja seperti Santo Thomas Aquinas dan Santo Agustinus. Buku ini menawarkan sisi ratio (akal budi) dari topik yang biasanya cenderung dibahas dari segi fidei (iman). Dari segi tersebut, buku ini merupakan sumbangsih yang berharga bagi Gereja.

Tapi pujiannya berhenti sampai situ. Tugas penulis adalah menulis, sedangkan editor bertugas membuat bukunya laku. Ini artinya, editor perlu memberi masukan mengenai konten dan tetek-bengek penulisan seperti typo, tata bahasa, aturan penulisan, dan lain-lain. Memang adalah sangat baik apabila penulisnya sendiri mengirimkan naskah sudah dalam keadaan hampir sempurna, tetapi itu bukan kewajibannya.

Nah kebetulan yang perlu saya caci maki kritik habis-habisan di sini adalah editornya (gak saya sebut nama karena nanti malu-maluin). Kalau menilai dari hasil editing-nya, si editor entah gak mengerti dunia per-editor-an, atau gak niat berusaha bikin buku ini laku, atau memang sengaja membuat buku ini hancur di pasaran. (Saya harap sih “cuma” yang pertama.) Masalahnya, tragedi editing ini tidak hanya membuat para perfeksionis seperti saya memuntahkan lahar vulkanik, namun juga secara obyektif sangat mengurangi keterbacaan buku. Dengan kata lain, buku ini jadi susah dibaca dan dimengerti alurnya.

Berikut daftar lima dosa besar yang saya temukan:

1) Inkonsistensi sekaligus abuse dalam penggunaan italic dan bold. Italic (cetak miring) seharusnya digunakan untuk istilah-istilah tidak baku (slang, bahasa daerah, bahasa asing yang belum ada serapannya), judul karya sastra dan karya seni, dan untuk menekankan kata atau frasa tertentu dalam teks. Bold (cetak tebal) hampir tidak pernah digunakan dalam penulisan formal, kecuali untuk style judul bab atau subbab, dan jika memang ada kesepakatan bersama (Majalah Femina, misalnya, menggunakan bold untuk nama orang). Nah, dalam buku ini penggunaan italic dan bold-nya kacau, dan tidak jarang digunakan kedua-duanya sekaligus (belum lagi ditambah tanda kutip ganda juga) untuk kata atau frasa yang sama sehingga berkesan lebay.

Contoh:

  • Institut Kepausan Regina Apostolorum —> cetak miring tidak diperlukan karena meskipun istilah asing, frasa tersebut tergolong proper name.
  • Pengusiran Setan —> cetak miring + tebal = lebay (-_-“). Ini adalah nama Indonesia dari Exorcism Ritual, seharusnya cukup “Ritus Pengusiran Setan” saja (tanpa tanda kutip ganda).
  • “Perjuangan/Pengolahan Rohani” —> saya rasa penulis sedang membicarakan hal spiritual warfare. Jadi hanya istilah biasa saja, bukan proper name atau judul sesuatu. Tidak perlu huruf kapital dan tanda kutip ganda.
  • Gabriel Amorth [sic] dan St. Athanasius —> di satu tempat, nama orang dicetak miring, sedangkan di tempat lain dicetak tebal. Macam mana pula ini mak. Selain itu, singkatan “St.” (saint) seharusnya menjadi “Sto.” (santo) atau “Sta.” (santa) dalam bahasa Indonesia. “St.” tidak salah, tetapi di sini jadi inkonsisten.
  • Pertama, kedua, ketiga, dst. —> penulis sedang menjabarkan sesuatu dalam poin-poin, and you guessed it, kata “pertama”, “kedua”, dan “ketiga” dicetak tebal dan miring sekaligus. Jika ingin menegaskan, cukup cetak miring saja, atau jika penjelasan setiap poinnya agak panjang, lebih cantik bila dipisah menjadi paragraf sendiri-sendiri.
  • dengan cara yang salah —> another failed emphasis. Penekanan dalam teks hendaknya menggunakan cetak miring saja.

2) Ada halaman-halaman kosong namun tertera nomor halaman. Aneh deh. Redundant sekaligus pemborosan kertas.

3) In-text citation dimulai dari nomor 68. Inilah penampakannya:

photo-10-12-14-12-56-39

4) Kutipan bahasa Inggris tidak diterjemahkan atau disertai dengan terjemahan bahasa Indonesianya. Lihat gambar di atas. Bukan masalah takut pembacanya gak mengerti bahasa Inggris, tetapi ini soal inkonsistensi.

5) Tidak ada daftar pustaka atau referensi di akhir buku. Kesalahan fatal. Kalau buku ini adalah skripsi atau tesis, pasti sudah disobek-sobek penguji.

* * *

Singkat cerita, tampilan teks buku ini seperti naskah yang tidak diedit. Jadi seolah penulis mengirimkan naskah, dan naskahnya langsung naik cetak begitu saja. Ini sangat, sangat disayangkan mengingat kontennya sebetulnya bagus dan cukup menjanjikan di pasaran, termasuk di kalangan kaum imam dan religius. Saya sendiri punya sahabat imam yang menanyakan buku ini karena ingin memesan, tetapi saya gak tega memberi buku dengan kualitas seperti ini.

Buat para editor, terutama editor-editor baru, bukannya saya sok menggurui, tetapi percayalah, buku itu bisa mendidik tidak hanya melalui isi teksnya, namun juga melalui editannya. Jika pembaca terbiasa membaca buku yang didesain dan diformat dengan rapi, teratur, dan konsisten, maka sebenarnya hal tersebut memberikan contoh cara menulis yang baik dan berkualitas. Dan kalau saya boleh bilang, banyak—atau malah sebagian besar—orang yang gemar membaca buku adalah orang yang perfeksionis dalam hal tata bahasa dan gaya penulisan, bahkan dengan teknis penyuntingan.

Buat Sobat-sobat Perpus, buku ini adalah contoh kasus “don’t judge the book by its cover” yang harafiah. Gak cuma buku yang sampulnya jelek kontennya bisa bagus, buku yang sampulnya bagus pun kontennya bisa jelek.

Dan sekarang, saya bingung enaknya ngasih berapa rahib unyu. Saya maunya kasih dua atau bahkan satu, tapi koq saya gak tega ya. Gini deh, buat penulisnya saya kasih tiga rahib unyu:
3rahib

 

 

 

 

 

 

Sedangkan buat editornya, maaf-maaf saja, saya harus kasih papal facepalm:

papal-facepalm

One comment

  1. […] entahlah. Seperti buku terbitan St. Dominic’s Publishing lainnya yang pernah saya ripiu (“Demonologi & Eksorsisme: Perspektif Teologi Katolik”, sila klik), hasil akhir cetaknya terkesan raw, mentah, seolah buku ini langsung naik cetak begitu […]

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: