Allah Masih Membentuk Orang Kudus Dari Antara Kita: Mengenal dan Mengenang Chiara Corbella Petrillo

chiara
Beberapa bulan lalu, saya menerima sebuah pesan elektronik (email) dari teman saya yang baru saja menemukan kisah hidup seorang wanita yang luar biasa ketika ia berada di Roma. Saya begitu tergerak oleh kisahnya itu, sehingga saya membagikan kisah itu kepada para wanita yang hadir pada acara SEEK 2013 dan sekarang saya ingin membagikannya kepadamu. Ini adalah kisah hidup yang seringkali dilihat penuh dengan kebodohan dan tragedi. Namun, jika kamu memahami kehidupan Kristiani dan jika kamu dapat melihat sukacita yang datang meski dari penderitaan, maka kamu dapat mengenalinya bukan sebagai sebuah kedukaan. Kamu dapat melihat bahwa hidup Chiara adalah sebuah alasan untuk bersukacita, sebuah alasan untuk berharap.

Chiara Corbella Petrillo bertemu dengan suaminya, Enrico, dalam sebuah peziarahan. Beberapa tahun kemudian mereka menikah dan Chiara mengandung anak pertama mereka. Mereka begitu senang karena berita akan kehidupan yang berkembang dalam rahim Chiara; namun di tengah masa kehamilannya, para dokter memberitahu Chiara bahwa anaknya tidak tumbuh sebagaimana mestinya dan tidak akan dapat hidup setelah keluar dari rahim ibunya. Bukannya mengaborsi bayinya yang diberi nama “Maria”, Chiara menjaganya hingga lahir, menggendongnya sebentar, dan melihat bayinya masuk ke dalam kehidupan yang akan datang.

Chiara hamil kembali. Dan saya dapat membayangkan mereka mulai mempersiapkan kelahiran bayi mereka yang kedua ini. Namun, lagi-lagi, di tengah kehamilannya, para dokter memberitahu Chiara bahwa anaknya tidak akan dapat hidup setelah keluar dari rahim ibuya. Untuk kedua kalinya Chiara mengandung bayinya “David” hingga sembilan bulan dan melahirkannya, menggendongnya sebentar, dan melihat bayinya masuk ke dalam kehidupan yang akan datang.

Bukannya jatuh ke dalam kepahitan, kemarahan, dan mengurung diri, Chiara dan Enrico mulai berbicara di depan umum mengenai karunia kehidupan, meski waktu kehidupan itu singkat. Tentang ini Chiara mengatakan:

Allah memberikan kepada kami dua anak yang istimewa, namun Dia hanya meminta kami untuk menemani mereka hingga mereka lahir. Dia memperkenankan kami untuk menggendong mereka, membaptis mereka, dan mengembalikan mereka ke tangan Bapa. Ada sebuah rasa damai dan sukacita, yang tidak pernah kami alami sebelumnya.

Ada sebuah video kesaksiannya yang baru-baru ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang teman saya, dan kamu dapat melihatnya di situs resminya. Kesaksiannya merupakan teladan yang indah akan kedamaian sejati yang diperolehnya dari Allah di tengah penderitaannya.

Untuk ketiga kalinya Chiara mengandung bayi. Dan anak ini sehat dan bertumbuh dengan baik. Namun, di tengah masa kehamilannya, para dokter memberitahu Chiara bahwa sementara anaknya baik-baik saja, Chiara-lah yang sedang terserang kanker. Karena intensitas pengobatan yang ditentukan dokter (yang mungkin dapat membahayakan keselamatan bayinya), Chiara memutuskan untuk menundanya hingga anaknya, Francesco, lahir, untuk memastikan bahwa anaknya dapat lahir dengan selamat dan hidup.

Bayi Francesco lahir dengan gembira dan sehat, dan Chiara memulai pengobatan dirinya. Namun segera dengan jelas Chiara mengetahui bahwa kematiannya tak terelakkan, sehingga ia berdoa, “Tuhan, Engkau dapat meminta apapun daripadaku, namun aku tidak dapat melakukannya jika aku dikelilingi dengan wajah-wajah yang bersedih.” Doa-doanya bagi penjenguk yang penuh sukacita terjawab, dan ia menanggung penderitaannya dengan penuh kedamaian.

Sukacita dan kedamaian yang mengelilingi Chiara dan Enrico begitu terlihat, Chiara mengatakan: “Sekalipun Tuhan menyembuhkan aku, mukjizat yang lebih besar adalah ketika Dia membantu keluargaku dan aku menjalani cobaan ini dalam kedamaian.” Sebagai tanggapan atas reaksi negatif yang ditujukan kepada Chiara dan Enrico oleh orang-orang yang menyebut situasi yang mereka alami itu menyedihkan dan tragis, mereka mengatakan: “Di mana ada tertulis bahwa kematian itu mengerikan dan tidak dikehendaki? Bahwa memiliki dua orang anak yang hanya dapat bertahan hidup selama setengah jam adalah sebuah tragedi?” Enrico sekali waktu memberikan sebuah pernyataan yang heroik, “Jika istriku akan bersama Seseorang yang mengasihinya lebih daripada aku, mengapa aku harus marah?”

Sekitar setahun setelah kelahiran Francesco, Chiara terbaring di ranjang pesakitannya. Dalam sebuah wawancara dengan Vatican Radio, Enrico menceritakan saat-saat Chiara menjelang kematiannya:

Aku menghabiskan banyak waktu tahun ini untuk merenungkan frasa dari Injil yang mengatakan bahwa Tuhan memberikan sebuah salib yang manis dan sebuah beban yang ringan. Ketika aku melihat Chiara saat ia akan meninggal, aku menjadi sangat terpukul. Namun aku mengumpulkan keberanian dan beberapa jam sebelumnya (kira-kira pukul delapan pagi, Chiara meninggal siangnya) aku bertanya kepadanya.

Aku mengatakan: ‘Tapi Chiara, cintaku, apakah salib ini sungguh manis, seperti yang Tuhan katakan?’ Ia memandangku dan tersenyum, dan dengan suara yang lembut ia menjawabku, ‘Ya, Enrico, salib ini sangatlah manis.’

Pada tanggal 13 Juni 2012 Chiara berpulang kepada Bapa. Teman saya di Roma dapat menghadiri pemakamannya. Ia menggambarkan peristiwa itu penuh dengan sukacita, penuh dengan lagu gembira yang ditulis dan dinyanyikan oleh Enrico, penuh dengan tepukan tangan, pelukan, dan air mata sukacita. Teman saya merenungkan pengalamannya itu dan mengatakan:

Apa yang mereka jalani, menurut standar manusia, begitu intens dan sulit. Kita mungkin tergoda untuk mengatakan, ‘Aku tidak akan pernah dapat melakukan apa yang Chiara lakukan.’ Meski begitu, apa yang Chiara lakukan adalah membuat langkah-langkah kecil yang dapat ia lakukan setiap harinya. Doanya adalah agar mereka dapat memiliki ‘rahmat untuk menyambut rahmat’ yang Allah berikan agar mereka dapat terus melangkah maju. Tak peduli bagaimana kondisi kita, secara pribadi, inilah apa yang harus kita doakan dengan iman yang besar: rahmat untuk terbuka menerima rahmat yang diperlukan untuk menghadapi apapun dalam hidup kita.

Ketika saya melihat foto Chiara, di atas segalanya yang dapat saya pikirkan adalah: “Lihatlah sukacita itu!” Meski kanker dengan jelas hendak merenggut nyawanya, lihatlah sukacita itu! Sukacita itu berasal dari kekudusan. Sukacita itu hanya berasal dari hidup yang diperuntukkan bagi Kristus, dari pengambilan langkah-langkah kecil setiap hari untuk hidup sebagaimana Dia memanggil kita untuk hidup. Saya menginginkan sukacita itu dan saya menginginkan sukacita itu bagimu. Piccoli passi possibile, langkah-langkah kecil itu mungkin.

Jadilah orang kudus, kekudusan itu layak dan patut kita perjuangkan.


Berikut ini surat Chiara dan Enrico bagi putra mereka, Francesco, untuk ulang tahunnya yang pertama.

Francesco yang terkasih,

Hari ini kami merayakan ulang tahunmu yang pertama, dan kami meminta kepada diri kami sendiri apa yang dapat kami berikan kepadamu yang dapat bertahan selama bertahun-tahun. Jadi, kami memutuskan untuk menulis sebuah surat untukmu. Kamu adalah karunia yang begitu besar bagi kami dalam hidup kami, karena kamu telah membantu kami untuk melihat melampaui batas-batas manusiawi kami. Ketika para dokter hendak menakuti kami, hidupmu yang begitu rapuh memberikan kami kekuatan untuk melangkah maju. Sedikit yang aku pelajari selama bertahun-tahun, namun aku dapat memberitahukan kepadamu bahwa kasih adalah pusat kehidupan kita, karena kita lahir dari tindakan kasih, kita hidup untuk mengasihi dan dikasihi, dan kita meninggal untuk mengetahui kasih Alah yang sejati. Tujuan hidup kita adalah untuk mengasihi dan dikasihi, selalu siaplah untuk belajar bagaimana mengasihi sesama karena hanya Allah yang dapat mengajarkannya kepadamu. Kasih menghabiskan dirimu, namun begitu indah untuk meninggal dalam kehabisan, sama seperti sebuah lilin yang padam hanya ketika ia mencapai tujuannya. Apapun yang kamu lakukan dalam hidup hanya masuk akal jika kamu melihatnya dalam sudut pandang kehidupan kekal. Jika kamu sungguh mengasihi, kamu akan menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar-benar milik kita, sebab segalanya adalah sebuah karunia. Seperti dikatakan St. Fransiskus, “Lawan dari kasih adalah kepemilikan.”

Kami mengasihi saudara laki-laki dan perempuanmu, Maria dan David, dan kami mengasihimu, dengan mengetahui bahwa kalian semua (Maria, David, dan Francesco) bukanlah milik kami, kalian semua bukanlah diperuntukkan bagi kami. Dan inilah bagaimana mestinya segalanya dalam hidup. Semua yang kamu miliki tidak pernah menjadi milikmu, karena itu adalah sebuah karunia yang Allah berikan kepadamu agar kamu dapat menghasilkan buah daripadanya. Jangan berkecil hati, putraku. Allah tidak pernah merampas apapun. Dan jika ia mengambil sesuatu darimu, itu karena Dia hendak memberikan kepadamu lebih lagi. Terima kasih pada Maria dan David, kami lebih mengasihi kehidupan kekal dan berhenti menjadi takut akan kematian. Allah telah mengambil dari kami hanya untuk memberikan kepada kami sebuah hati yang lebih besar dan lebih terbuka untuk menyambut kekekalan di dunia ini.

Di Assisi, aku jatuh cinta pada sukacita yang dihidupi oleh para biarawan yang percaya akan Penyelenggaraan Ilahi. Jadi aku meminta kepada Tuhan sebuah karunia untuk percaya akan penyelenggaraan yang mereka bicarakan ini — untuk percaya pada Bapa yang tidak membuatmu kekurangan suatu apapun. Bruder Veto membantu kami dalam perjalanan ini dengan mempercayai janji ini. Kami menikah tanpa apapun, namun kami menempatkan Allah pada tempat yang utama dan percaya akan kasih yang ia minta dari kami, mengambil lompatan besar ini; kami tidak pernah dikecewakan. Kami selalu memiliki sebuah tempat tinggal dan lebih daripada apa yang kami perlukan. Namamu adalah Francesco karena St. Fransiskus mengubah hidup kami, dan kami berharap bahwa ia dapat menjadi teladan juga bagimu. Sungguh indah mempunyai teladan hidup yang mengingatkanmu bahwa kamu sudah dapat mengharapkan sukacita yang terbesar di bumi ini, dengan Allah sebagai pembimbing kita. Kami tahu bahwa kamu istimewa dan kamu mempunyai sebuah misi yang besar. Tuhan telah menginginkanmu sejak kekekalan, dan Dia akan menunjukkan jalan yang harus kamu tempuh jika kamu membuka hatimu. Percayalah pada-Nya.

 

Yang mengasihimu,

Ibu dan Ayah

 

*Terima kasih kepada Tatum dari Apostles of the Interior Life atas terjemahan surat ini dan begitu banyak artikel dan wawancara hidup Chiara Corbella Petrillo yang luar biasa.

 

Diterjemahkan secara bebas oleh Ferrer dari artikel “Saints Are Still Being Made: Meet Chiara Corbella Petrillo” tulisan Lisa Cotter.

5 komentar

  1. Allah ternyata memang tdk akan pernah berhenti mengasihi manusia spy manusia memperoleh hidup kekal dg membuat admin sharing kisah hidup pasutri dunia modern yg kita jalani skrg ini yg memiliki jiwa yg kudus spt diatas. sanggup menerima dan menjalani kehendak Allah dlm khidupan mrk. pdhl buat sy pribadi sj blm bs punya ksanggupan yg luar biasa spt mrk utk menerima dg ikhlas tanpa mengolahnya lbh dahulu, hanya dg iman mrk. smntr sy msh mngolahnya sblm kmdn kata hati sy memaksa sy utk melihat teladan para kudus yg hidupnya jauh dr masa hidup sy skrg ini, baruu sy sanggup memasrahkannya kpd Allah apapun rencanaNya atas hidup dan diri sy dan kelg sy terutama anak2 sy. Trmksh utk kisah luarbiasa ini. Sy percayakan anak2 saya dan generasi2 sesudahnya dalam bimbinganMu, Tuhan Yesus. Sy jg ingin mrk beroleh hidup kekal yg telah kami persatukan dgMu dlm Pembaptisan, Komuni Suci dan Krisma. Dunia memang mengerikan.

  2. Eleonora Aurelia · · Balas

    Terimakasih sudah share cerita ini… bagaimanapun ujian dalam hidupku ini sekarang mungkin Tuhan menguji kesabaranku… vonis dokter hari ini pun ternyata memang pahit tapi harus aku jalani… cerita ini menegurku bahwa aku harus tegar demi anak2ku… tetap harus berjuang… aku tahu Tuhan Yesus selalu mendampingiku…

  3. sangat menginspirasi sekali

  4. pranathalia bondan prasnorini · · Balas

    Menerjang hatiku

  5. ijin share, thx u

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: