Penggunaan Warna Hitam dalam Liturgi

Ada beberapa hal yang hampir menghilang setelah pembaharuan Liturgi pasca Konsili Vatikan II, salah satunya ialah penggunaan warna hitam dalam Liturgi.  Sesungguhnya, kebenaran iman apa yang hendak disampaikan oleh warna hitam ini? Makna warna hitam sangat erat hubungannya dengan kematian. Oleh karena itu, perlu dijelaskan dahulu bagaimana Gereja Katolik memahami kematian.

Perspektif Katolik tentang Kematian

2487767650e81a87eb5bke7Perspektif Katolik memandang kematian sebagai perbuatan yang manusia lakukan, dan juga sebagai momen yang menentukan takdir manusia. Benar sekali, kematian dapat dipandang sebuah penghakiman. Pada saat manusia meninggal, ia akan segera diadili berdasarkan iman dan perbuatannya: apakah jiwanya berada di surga, neraka, dan api penyucian (bdk. Katekismus Gereja Katolik 1021-1022).

Manusia merupakan seorang peziarah di bumi ini. Ia adalah orang asing yang hanya mendirikan kemah di bumi. Tujuan terakhir setiap manusia ialah persatuan yang kekal dengan Allah. Berdasarkan sudut pandang ini, maka kematian sebagai sebuah tindakan berarti bahwa manusia harus mempersiapkan kematiannya dengan baik, agar ia dapat menghindari neraka dan menggapai surga. Oleh karena itu, kita menyadari perlunya sakramen pengurapan orang sakit, yang membantu manusia menyatukan penderitaannya dengan penderitaan Kristus sebelum ia meninggal. Tidak hanya itu, kesadaran akan kematian dapat membuat kita bertekun mengerjakan keselamatan kita, dengan cara mengaku dosa secara rutin, rajin menerima Ekaristi, berdoa setiap hari, menanamkan keutamaan Kristiani dan mencabut akar kefasikan dalam diri kita.

Kita perlu mengingat bahwa kematian yang terjadi secara mendadak dan tiba-tiba dapat dianggap sebagai sebuah hukuman (Romano Amerio, Iota Unum, hal. 680). Karenanya, dalam Litani para Kudus terdapat doa berikut:

“From a sudden and unprovided death, Lord, save your people.

“Dari kematian mendadak dan tak terduga, Tuhan, selamatkan umatmu

Dalam doa Salam Maria, kita juga menyebutkan permohonan, “doakanlah kami orang berdosa ini..sekarang dan waktu kami mati, amin.” Lebih lanjut, ada juga sebuah rahmat yang disebut “rahmat untuk mengalami kematian yang bahagia”, yang berhubungan dengan karunia ketekunan (gift of perseverance). Rahmat ini berarti meninggalnya seseorang dalam kondisi berahmat (berada dalam dosa berat yang tidak disesali saat meninggal merupakan hal yang dapat membuat kita jatuh ke neraka). Rahmat tersebut bukanlah sesuatu yang diberikan Tuhan karena jasa kita, melainkan karena Allah sendiri yang berkehendak memberikannya. Oleh karena itu, kita perlu mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, sambil berdoa dan berharap bahwa Tuhan akan memberikan kita rahmat untuk mengalami kematian yang bahagia.

Bagaimana kematian seharusnya disikapi? Sikap seorang Katolik yang berhadapan dengan kematian orang beriman yang ia cintai ialah sikap yang penuh pengharapan, tanpa asumsi bahwa kita mengetahui kondisi jiwa saat ia meninggal. Pengharapan ini juga tidak meniadakan segala ketidakpastian terkait dengan kondisi jiwa orang yang meninggal. Jadi, kita tidak bisa secara pasti mengetahui apakah seseorang yang telah meninggal pasti masuk surga, neraka atau api penyucian. Namun, persis dalam pengharapan yang realistis inilah, kita mendoakan mereka yang telah mendahului kita, baik dalam Misa Requiem atau peringatan arwah semua orang beriman, agar mereka segera terbebas dari api penyucian dan dapat segera masuk ke surga, dan mendoakan kita yang masih berziarah di bumi.

Pergeseran Makna Kematian di Masa Kini

Romano Amerio menjelaskan bahwa di antara ajaran tentang Empat Hal Terakhir: kematian, surga, neraka, api penyucian, tampaknya sebagian besar orang hanya mengingat tentang kematian dan surga. Kematian kelihatannya dipandang sebagai perjumpaan dengan Kristus sang Penyelamat, dan gambaran tentang Kristus sebagai Hakim – yang mengadili dengan bijak dan pasti siapa saja yang berhak masuk surga, neraka, dan api penyucian – semakin memudar.

Berdasarkan pengalaman pribadi, penulis memang jarang mendengar adanya pewartaan tentang dosa, neraka, kematian dan penghakiman. Dalam Misa Requiem yang pernah saya hadiri, sang Imam dalam homilinya malah menceritakan pengalaman dan kebaikan orang yang meninggal, dan bukannya menitikberatkan homili pada realita Kematian dan gambaran Kristus sebagai Hakim. Akibatnya, gambaran yang kurang lengkap tentang Allah dan ajaran Gereja ini juga memiliki dampak dalam hidup umat: umat menjadi kurang peka terhadap keselamatan jiwanya sendiri.

Kerahiman ilahi yang berlebihan – apalagi belas kasih yang palsu – tidak akan menyelamatkan kita, hanya keseimbangan antara keadilan dan belas kasih lah yang selalu mengingatkan kita, bahwa pintu menuju keselamatan ialah pintu yang sempit, dan hanya sedikit yang masuk ke dalamnya.

Makna Hitam dalam Liturgi

Menurut Pedoman Umum Missale Romawi, warna yang digunakan saat peringatan arwah semua orang beriman ialah warna ungu, walaupun warna hitam tetap boleh digunakan (bdk. PUMR 346). Sedangkan pada Liturgi pra-Konsili Vatikan II, warna hitam digunakan pada peringatan mulia arwah semua orang beriman, yang jatuh pada tanggal 2 November, juga pada Misa Requiem, dan penggunaan warna hitam ini sifatnya wajib. PUMR tidak menjelaskan pilihan warna mana yang menjadi prioritas utama dan mana yang sifatnya opsional. Oleh karena itu, mari kita sedikit mendalami pesan yang disampaikan oleh warna tersebut, agar menjadi jelas pilihan yang mesti diambil.

Pada umumnya, warna ungu dan putih yang cukup sering digunakan dalam Misa Requiem atau pemakaman. Sebenarnya penggunaan keduanya tidaklah tepat. Warna ungu melambangkan penitensi dan pertobatan yang harus dilakukan kita yang masih hidup, karenanya warna ini tidak cocok digunakan saat Misa Requiem yang memang perhatiannya diarahkan pada orang yang meninggal. Sedangkan warna putih melambangkan kemuliaan dan sukacita, yang tentu tidak cocok digunakan pada Misa Requiem yang memiliki suasana berkabung. Tentu tidak bijak bila kita berasumsi bahwa orang yang meninggal sudah berbahagia di surga, karena hanya Allah yang mengetahui hal tersebut.

11027_676693299095164_5789270492606055731_nTerdapat tiga hal yang dapat direnungkan dari warna hitam ini. Pertama, hitam melambangkan suasana dukacita, kesedihan terhadap umat beriman yang telah meninggal. Hitam memberikan pengakuan bagi kebutuhan emosional manusia untuk meratap, untuk berduka atas kematian seseorang. Dalam Kitab Suci, Kristus sendiri menangis dan bersedih bersama Maria dan Martha saat Lazarus meninggal, sekalipun setelahnya Ia membangkitkannya dari kematian (Yoh 11:35).

Kedua, warna hitam juga melambangkan kemuraman pusara. Walau memang benar bahwa ketika kita mengunjungi makam, kita mengingat kembali kenangan-kenangan manis tentang seseorang yang kita kasihi, tentang warisannya, apa yang ia cintai dan ia takuti, tentang karunia miliknya yang berasal dari Allah, namun pada saat yang sama, makam mengingatkan kita bahwa suatu hari nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Kita pun akan berhadapan dengan kematian kita sendiri, dan berjumpa dengan Kristus, sang Hakim, yang memberikan mahkota kemenangan bagi orang benar dan menghukum para pendosa yang tak bertobat.

Warna hitam membangkitkan kembali rasa takut yang sehat akan kematian, akan suatu momen ketika Kristus akan mengadili kita secara adil dan bijaksana, dan karenanya kesadaran ini dapat mendorong kita untuk selalu menghindari kejahatan dan dosa. Setelah mati, kita akan diadili. Dan saat itu yang ada hanyalah kita – bersama suara hati kita – dan Kristus. Ia akan menyingkapkan segala hal yang tersembunyi dalam diri kita, termasuk dosa dan kejahatan kita. Dalam situasi ini, penyesalan dan air mata kita tidak akan mengubah apapun. Tidak ada kesempatan untuk bertobat setelah meninggal. Kita hanya menunggu keadilan ilahi ditegakkan.

Memulihkan Kembali Ajaran Gereja secara Utuh

St. Agustinus pernah berkata, “Bila seorang Kristen hanya mendengarkan ceramah tentang penghakiman Allah, hal ini cukup bagi mereka untuk menaati Injil dan mengarahkan kehidupan berahmat yang kudus”. Nah, refleksi yang saya lakukan mengungkapkan betapa kayanya makna Teologis yang disampaikan oleh warna hitam ini.

Oleh karena itu, saya memohon kepada para imam, janganlah ragu menggunakan kasula hitam dalam Liturgi. Janganlah khawatir untuk mewartakan tentang keadilan Allah, tentang penghakiman khusus, tentang gambaran Kristus sebagai hakim. Wartakanlah ajaran Gereja tentang kematian dan pengadilan Allah secara penuh, karena melalui pewartaan ini pun, jiwa-jiwa dapat diselamatkan.

Gambar pertama diambil dari New Liturgical Movement: on the Requiem Mass for Fr. Kenneth Walker, FSSP.

Gambar kedua diambil dari facebook Western Dominican Province, pada Solemn High Requiem Mass according to the Dominican Rite

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam versi bahasa Inggris di website One Peter Five berjudul “Reviving the True Meaning of Death“, dengan beberapa perubahan.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: