Pesan Paus Emeritus Benediktus XVI: Tentang Dialog, Misi dan Agama

Benedykt_XVI_(2010-10-17)_4

Pesan Paus Emeritus Benediktus XVI

Pada penamaan Aula Magna yang baru

Universitas Urbaniana Kepausan

21 Oktober 2014

Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Rektor dan pemangku jabatan akademis Universitas Urbaniana Kepausan, kepada staf dan perwakilan mahasiswa, atas proposal mereka untuk menamai pembangunan ulang Aula Magna sebagai penghormatan terhadap saya. Saya ingin berterima kasih dalam cara yang khusus, kepada rektor (Chancellor) Universitas, Kardinal Fernando Filoni, karena telah merencanakan inisiatif ini. Merupakan sukacita besar bagi saya, untuk dapat selalu hadir di tengah karya Universitas Urbaniana Kepausan dengan cara ini.

Dalam sejumlah kunjungan yang mampu saya lakukan sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman, saya selalu tersentuh oleh atmosfir universalitas yang berhembus dalam Universitas ini, di mana pria dan wanita muda datang dari berbagai penjuru dunia menyiapkan diri demi pelayanan Injil di seluruh dunia di masa kini. Saya juga melihat, di aula kuliah ini, sebuah komunitas yang terdiri dari begitu banyak orang muda, sebuah komunitas yang membuat kita melihat, dalam cara yang hidup, realita yang gemilang dari Gereja Katolik.

Definisi Gereja ini sebagai “Katolik”, yang menjadi bagian dari Syahadat Iman sejak masa lampau, memiliki hal yang terkait dengan Pentakosta. Mari kita mengingat bahwa Gereja Yesus Kristus tidak pernah terhubung hanya dengan satu bangsa atau satu budaya, tapi bahwa dari sejak awal ia ditetapkan bagi seluruh umat manusia. Perkataan terakhir yesus kepada para muridnya ialah: “Jadikan semua bangsa muridku”. (Mat 28:19). Dan pada saat Pentakosta para Rasul berbicara dalam banyak bahasa, dan dengan cara ini mereka mewujudkan semua kepenuhan iman mereka melalui kuasa Roh Kudus.

Sejak saat itu Gereja telah bertumbuh dalam cara yang nyata di setiap benua. Kehadiranmu, para mahasiswa terkasih, mencerminkan wajah Gereja yang universal. Nubuat Zakaria telah mengumandangkan kuasa mesianis yang membentang dari lauat ke laut dan akan menjadi kerajaan damai (Zak 9:9).  Dan kenyataannya, di manapun Ekaristi dirayakan, seperti dari Tuhan, dan manusia, menjadi satu tubuh di antara mereka, hadirlah suatu kedamaian yang Yesus Kristus janjikan kepada para murid. Semoga engkau, teman terkasih, menjadi kolaborator dengan kedamaian ini, yang kian mendesak di tengah dunia yang kejam dan terluka di mana kedamaian Kristus diperlukan untuk dibangun dan dijaga. Untuk alasan ini, karya Universitasmu menjadi begitu penting, di mana kamu berkeinginan untuk belajar mendekat kepada Kristus agar mampu menjadi saksi-Nya.

Tuhan yang bangkit memberikan tugas ini kepada para Rasul, dan melalui mereka, murid di sepanjang jaman, yaitu tugas untuk membawa Sabda-Nya hingga ke ujung bumi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Konsili Vatikan II – mengulanginya dalam dekrit “Ad Gentes” sebuah tradisi yang kekal – telah menerangi alasan mendasar bagi upaya missioner ini dan telah memanggil Gereja masa kini mengemban tugas ini dengan kekuatan yang telah diperbarui.

Tetapi, apakah hal ini masih memungkinkan? Banyak orang menanyakan pertanyaan ini, baik di dalam dan luar Gereja. Apakah misi ini sungguh mungkin [dijalani] di dunia seperti sekarang ini? Bukankah akan lebih tepat bila semua agama berdampingan dan bekerja bersama demi perdamaian di dunia? Pertanyaan sanggahannya  ialah: Dapatkah dialog menggantikan misi? Sekarang, banyak orang memiliki gagasan, yang pada hakekatnya, agama-agama harus saling menghormati satu sama lain, dan saling berdialog, menjadi satu kekuatan bersama bagi perdamaian. Dalam pola pikir ini, sebagian besar terdapat asumsi bahwa berbagai agama merupakan bentuk yang berbeda dari realitas yang satu dan sama; bahwa “agama” adalah kategori umum bagi semua, yang mengambil bentuk yang berbeda menurut budaya yang berbeda pula, namun mengungkapkan realitas yang satu dan sama. Pertanyaan tentang kebenaran – yang sejak permulaan Kekristenan menggerakkan orang Kristen lebih daripada yang lain – dalam cara berpikir demikian ditempatkan dalam ruang kosong. Ia mengandaikan bahwa kebenaran sejati tentang Allah, pada akhirnya, tidak dapat dicapai, dan bahwa yang terbaik yang dapat menghadirkan apa yang tak terungkap oleh kata-kata ialah hanya dengan beranekaragam symbol. Penolakan terhadap kebenaran ini tampak meyakinkan dan berguna bagi perdamaian di antara agama-agama di dunia.

Hal ini, bagaimanapun, membahayakan iman. Kenyataannya, iman kehilangan keseriusan dan karakternya yang mengikat, bila segala sesuatu direduksi menjadi simbol yang pada akhirnya dapat saling dipertukarkan, hanya mampu memperhatikan dari jauh kepada misteri ilahi yang tak terjangkau.

Teman-teman terkasih, pahamilah bahwa pertanyaan tentang misi menempatkan kita tidak hanya dalam konfrontasi dengan pertanyaan hakiki tentang iman tapi juga pertanyaan tentang siapakah manusia itu. Dalam konteks pidato singkat ini, yang ditujukan untuk menyambut kalian semua, tentu saya tidak mampu mencoba menganalisa secara mendalam sekelompok masalah yang kita hadapi. Namun, saya ingin sedikit membahas tentang arah mana yang harus kita ambil berkaitan dengan tugas yang kita hadapi.

I

1.Pendapat umum adalah bahwa agama, bersebelahan seperti benua dan bangsa-bangsa di atas peta. Hal ini, bagaimanapun, tidaklah tepat. Agama berada dalam kondisi pergerakan di tingkat sejarah, seperti bangsa dan budaya. Ada agama yang [berada dalam kondisi] “penantian”. Agama suku (tribal religions) termasuk dalam jenis ini. Mereka memiliki waktunya sendiri dalam sejarah, namun juga sedang menanti pertemuan yang lebih besar, yang membawa mereka dalam kepenuhan.

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa, dalam kesunyian, mereka menanti pertemuan dengan Yesus Kristus, terang yang berasal dari-Nya, terang itu sendiri yang mampu menuntun mereka dalam cara yang utuh terhadap kebenaran mereka. Dan Kristus menunggu mereka. Perjumpaan dengan-Nya bukanlah gangguan orang asing yang menghancurkan budaya dan sejarah mereka. Melainkan ini ialah kedatangan sesuatu yang lebih besar, yang ke sanalah mereka melakukan perjalanan. Konsekuensinya, perjumpaan ini selalu pada saat yang sama merupakan sebuah pemurnian dan pendewasaan. Lebih lanjut, perjumpaan selalu bersifat timbal balik. Kristus menanti sejarah mereka, kebijaksanaan mereka, cara mereka memahami pelbagai hal.

Sekarang kita melihat lebih jelas aspek lainnya juga: sementara di berbagai bangsa dengan masa lalu Kristen yang besar, Kekristenan, dalam banyak cara, telah menjadi lelah, dan beberapa cabang dari pohon yang besar, yang tumbuh dari biji sesawi Injil telah memudar dan jatuh ke tanah, tapi dari perjumpaan dengan Kristus dalam agama-agama yang menanti dengan penuh pengharapan, kehidupan baru sedang bertumbuh. Yang pada mulanya hanya ada keletihan, dimensi iman yang baru sedang bangkit dan membawa sukacita.

2.Agama dalam dirinya sendiri bukanlah fenomena tunggal. Ia selalu melibatkan sejumlah dimensi yang berbeda. Di satu sisi, ada keutamaan dalam menjangkau keluar, melampaui dunia ini menuju Allah yang kekal. Di sisi lain, kita menemukan unsur yang muncul dari sejarah manusia dan dari praktek keagamaan mereka. Di antara unsur-unsur ini tentu ada hal-hal indah tetapi juga jahat dan destruktif, di manapun egoisme manusia mengambil alih agama dan, bukannya membuka, melainkan mengubah agama menjadi tertutup dalam ruangnya sendiri.

Oleh karena itu, agama tidak pernah hanya fenomena yang positif atau negatif saja. Kedua aspek ini tercampur di dalamnya. Dari sejak awal misi Kristen telah membedakan dalam cara yang menonjol, secara khusus unsur-unsur negatif dalam agama pagan yang ia jumpai. Untuk alasan ini, pewartaan Kristiani sedari awal sangatlah kritis terhadap agama. Hanya dengan mengatasi tradisi-tradisi yang dipahami dalam iman Kristen sebagai demonik, barulah iman dapat mengembangkan kuasa pembaruannya. Atas dasar unsur ini, teolog Evangelis, Karl Barth, menempatkan agama dan iman secara bertentangan, dan memutuskan bahwa, agama, dalam cara yang secara mutlak negatif, sebagai sebuah perilaku arogan yang manusia coba untuk menyita Allah atas inisiatifnya sendiri. Dietrich Bonhoeffer mengangkat rumusan ini dalam mendukung sebuah Kekristenan “tanpa agama”. Jelas sekali kita berhadapan dengan sebuah cara sepihak dalam memandang pelbagai hal yang tidak dapat diterima. Dan merupakan hal yang tepat untuk menegaskan bahwa setiap agama, untuk tetap berada di sisi yang benar, pada saat yang sama juga harus selalu kritis terhadap agama. Hal ini sah, dari asal usulnya dan seturut hakekatnya, bagi iman Kristen yang, di satu sisi, melihat dengan rasa hormat yang besar terhadap pengharapan besar dan kekayaan mendalam dari agama-agama, tetapi, di sisi lain, iman Kristen melihat apa yang negatif dengan mata yang kritis. Hal ini sejalan dengan nalar bahwa iman Kristen lagi dan lagi harus mengembangkan kekuatan yang kritis bahkan dengan rasa hormat terhadap sejarah keagamaannya sendiri.

Bagi kita orang Kristen, Yesus Kristus adalah Logos Allah, terang yang membantu kita membedakan antara hakekat agama dan distorsinya.

2.Di masa kita, suara mereka yang ingin meyakinkan kita bahwa agama merupakan hal yang usang, makin kian terdengar. Mereka berkata bahwa hanya nalar kritis yang seharusnya menjadi landasan bagi tindakan manusia. Di balik pemahaman yang sama berdiri sebuah keyakinan bahwa dengan cara berpikir positivis, nalar dalam segala kemurniannya telah mencapai supremasi dalam cara yang pasti. Sebenarnya, bahkan cara berpikir dan hidup seperti ini secara historis terkondisikan dan terikat dengan budaya historis tertentu. Menganggapnya sebagai satu-satunya cara berpikir yang sah tentang pelbagai hal mereduksi manusia sedemikian rupa, melucutinya dari dimensi yang hakiki bagi eksistensinya. Manusia kian mengecil, tidak membesar ketika tidak ada lagi ruang bagi etos, bagi hakekatnya yang autentik, yang melampaui pragmatisme, ketika tidak ada lagi ruang bagi sebuah pandangan yang diarahkan kepada Allah. Tempat yang layak bagi nalar positivis adalah di ruang lingkup teknologi dan ekonomi, akan tetapi hal ini tidak mengurangi segala yang manusiawi. Dan ini tergantung kita juga yang percaya, untuk membuka pintu lebar-lebar, melampaui teknologi dan pragmatisme semata, yang mengarah kepada keagungan luar bisa dari keberadaan kita dalam perjumpaan dengan Allah yang hidup.

II

1.Refleksi ini, yang mungkin sedikit sulit [dipahami], seharusnya menunjukkan bahkan sekarang, di dunia yang berubah secara mendalam, tugas mewartakan Injil kepada orang lain tetaplah tugas yang masuk akal. Dan, terlebih, terdapat cara kedua, yang lebih sederhana, untuk membenarkan pengembanan tugas ini kini. Kasih harus diwartakan. Kebenaran harus diwartakan. Siapapun yang mengalami sukacita yang besar tidak dapat menyimpannya untuk dirinya sendiri. Ia mesti meneruskannya kepada orang lain. Hal yang sama juga benar terhadap karunia kasih, melalui karunia mengakui kebenaran yang menyatakan dirinya.

Ketika Andreas bertemu Kristus, ia tidak dapat melakukan apapun selain berkata kepada saudaranya:”Kami telah melihat Mesias” (Yoh 1:41). Dan Filipus, yang juga diberikan karunia pertemuan ini, tidak dapat melakukan apapun selain berkata kepada Nathaniel bahwa ia telah menemukan Dia yang ditulis oleh Musa dan Para Nabi (Yoh 1:45). Kita mewartakan Yesus Kristus tidak untuk mendapatkan sebanyak mungkin anggota bagi komunitas kita, sedikitnya paling tidak, tidak demi kekuasaan. Kita berbicara tentang ia karena kita merasakan keharusan untuk berbagi sukacita yang orang lain telah berikan pada kita.

Kita akan menjadi pewarta Yesus Kristus yang terpercaya, ketika kita telah menjumpai ia di kedalaman eksistensi kita, ketika, di dalam perjumpaan dengan-Nya, kita diberikan pengalaman besar akan kebenaran, kasih, dan sukacita.

2.Ketegangan mendalam di antara persembahan mistik kepada Allah, di mana seseorang memberikan dirinya secara total kepada-Nya, dan tanggung jawab terhadap sesama dan dunia yang diciptakan Allah, merupakan bagian kodrati dari agama.Marta dan Maria selalu tak terpisahkan, bahkan ketika, waktu demi waktu, yang utama dapat jatuh pada yang satu atau yang lain. Titik temu antara dua kutub, yang adalah kasih yang mana kita menyentuh Allah dan ciptaan-Nya pada saat yang sama. “Kita mengetahui dan percaya dalam kasih yang Allah miliki bagi kita.” (1 Yoh 4:16). Ungkapan ini menyatakan hakekat Kristianitas yang sejati. Kasih yang dinyatakan dan dipantulkan dalam beragam cara melalui para kudus di sepanjang masa, adalah bukti sejati akan kebenaran Kristiani.

Diterjemahkan dari Rorate Caeli: First Major Text Benedict XVI Ratzinger following resignation – on Catholic faith, mission, and other religions.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: