Homili Misa Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

Requiem.greyscale

Homili dalam Misa Latin

Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

di  Nunsiatura Apostolik (Kedutaaan Besar Takhta Suci Vatikan) di Jakarta (2 November 2014)

oleh Monsignor José Luis Díaz-Mariblanca Sánchez, Sekretaris Pertama Kedutaaan Besar Takhta Suci Vatikan

Saudara-saudari terkasih: Adalah suatu berkah khusus, bahwa tahun ini Peringatan Arwah Semua Orang Beriman jatuh pada hari Minggu, sehingga kita dapat secara khusus memikirkan orang-orang yang telah meninggal, orang-orang yang kita kasihi yang telah meninggal. Kemarin kita merayakan (Hari Raya) Semua Orang Kudus: mereka juga adalah jiwa-jiwa; jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal dan telah menikmati kebahagiaan surgawi. Lalu, siapakah jiwa-jiwa yang lain yang kita rayakan hari ini? Kita menyebut mereka Jiwa-Jiwa yang Kudus dan Jiwa-Jiwa yang Malang: “Kudus”, karena mereka telah diselamatkan dari hukuman kekal. “Malang”, karena meskipun mereka telah diselamatkan, mereka tidak sepenuhnya berpartisipasi dalam kebahagiaan surgawi: mereka perlu dibersihkan, mereka perlu dimurnikan dari akibat dosa-dosa yang mereka lakukan di dunia. Mereka berada di Api Penyucian.

Melihat jiwa-jiwa yang kudus dan malang ini, kita perlu memikirkan, pertama-tama, tentang kematian kita sendiri nantinya. “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, namun kehilangan nyawanya?,” kata Yesus. Ini adalah satu-satunya alasan seluruh hidup kita! Kita memiliki jiwa yang kekal untuk diselamatkan, dan jika kita gagal dalam usaha itu, seluruh hidup kita merupakan kegagalan. Jiwa-Jiwa yang Malang mengajarkan kita hari ini untuk menghindari dosa, tidak peduli betapapun sulitnya; mereka mengajarkan kita juga untuk melawan akibat dari dosa-dosa, yang tetap berada dalam jiwa kita, seperti noda yang tetap tinggal di gaun bahkan setelah kita mencucinya. Jiwa kita di bumi ini sungguh buta, bahkan kita tidak menyadari keberadaan sebagian besar noda itu. Itu sebabnya api penyucian benar-benar adalah suatu karunia kerahiman Allah, karena melaluinya Tuhan kita yang baik memberi kita kesempatan untuk memurnikan noda-noda tersebut sebelum memasuki kemuliaan Allah. Oleh karena itu, pada hari ini kita harus berterima kasih kepada Tuhan yang baik atas kerahiman yang luar biasa ini bagi kita. Dan tergerak oleh kerahiman itu, kita harus menjalani pertobatan, memurnikan jiwa kita di dunia ini, terus menerus kembali pada Bunda Gereja kita, yang memberi kita sarana-sarana untuk pemurnian itu.

Tapi ada sesuatu yang lain, yang cukup penting, tentang perayaan hari ini. Ini bukan tentang apa yang diajarkan Jiwa-Jiwa yang Kudus kepada kita, tapi tentang apa yang dapat kita lakukan bagi mereka. Minggu lalu kita mendengar Yesus menekankan perintah ganda untuk mengasihi Allah dan sesama. Dalam kesempatan yang serupa, seorang ahli Taurat yang ingin menguji Yesus bertanya kembali kepada-Nya: Dan siapakah sesamaku? Hal ini, seperti yang Anda tahu, adalah awal dari perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati.

Siapakah sesamaku? Perayaan hari ini memberi kita sebuah jawaban. Semua umat beriman yang telah meninggal juga adalah sesama kita. Bukan karena mereka berkeliaran di sekitar, di sana-sini, di sudut ini atau pohon itu, menunggu sesuatu terjadi: kita tahu bahwa keyakinan tersebut bertentangan dengan iman Kristiani kita, yang percaya bahwa “Pada saat kematian setiap manusia menerima ganjaran abadi dalam jiwanya yang tidak dapat mati” (KGK 1022). Semua umat beriman yang telah meninggal juga adalah sesama kita karena persekutuan para kudus: kita benar-benar bersatu dengan Gereja yang Jaya di Surga dan dengan Gereja yang Menderita di Api Penyucian. Dan khususnya bagi mereka, bagi Gereja yang Menderita, kita dipanggil untuk menjadi orang Samaria yang baik bagi mereka. Mereka seperti orang yang ditinggalkan di pinggir jalan. Mereka tidak dapat menolong diri mereka sendiri, karena mereka tidak lagi mampu, dan dengan demikian mereka sepenuhnya mengandalkan kita. Jika kita tidak membantu mereka, jika kita melupakan mereka dan lewat sisi seberang jalan, akan mungkin terjadi, seperti yang dikatakan Bunda Maria kepada Lucia di Fatima, bahwa mereka “akan berada di api penyucian sampai akhir dunia”.

Marilah kita berdoa bagi mereka, tidak hanya hari ini, tetapi dengan lebih sering. Kita tidak dapat melakukan hal yang lain bagi mereka. Ini mungkin tampak remeh, tetapi kenyataannya tidak. Terutama ketika kita mempersembahkan bagi mereka doa terbaik yang kita miliki: Misa Kudus, Kurban Kristus yang dipersembahkan untuk istirahat abadi mereka. Jiwa-jiwa di Api Penyucian, karena ketidakberdayaan mereka, sangat berterima kasih, dan akan membalas kita seratus kali lipat. Santa Theresia dari Avila mengatakan bahwa ia selalu memperoleh kemurahan, yang ia minta dari Allah, melalui perantaraan Jiwa-Jiwa yang Malang di Api Penyucian. Mari kita mohon perantaraan mereka, dengan berdoa untuk istirahat abadi mereka. Amin!

Sumber: Facebook Page Tradisi Katolik

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: