Homili Minggu Biasa XXVIII: Allah, Israel, dan Kebun Anggur Tuhan

Spas_Loza_Istinnaya_ikona

Homili dalam Misa Latin

Hari Minggu Biasa XXVII

di  Nunsiatura Apostolik (Kedutaaan Besar Takhta Suci Vatikan) di Jakarta (5 Oktober 2014)

oleh Yang Mulia Antonio Guido Filipazzi, Uskup Agung Tituler Sutrium dan Nunsius Apostolik untuk Indonesia.

Secara jelas, perumpamaan Injil pada hari ini memberikan pencerahan, pertama-tama, tentang hubungan antara Yesus dan orang-orang Israel, terutama dengan para pemimpinnya. Hubungan ini berlanjut dan memenuhi sejarah hubungan antara Allah dan Israel, yang Nabi Yesaya sampaikan dalam bacaan pertama, menggunakan gambaran tentang kebun anggur dan menunjukkan betapa banyak yang telah dilakukan Allah bagi umat-Nya dan betapa sedikit Israel telah menanggapi cinta tersebut.

Akan tetapi, apa yang terjadi antara Allah dan umat-Nya, antara Yesus dan Israel, adalah apa yang selalu terjadi dan terus terjadi dalam hubungan setiap orang, dari setiap komunitas, dari Gereja dan seluruh umat manusia dengan Allah. Ada bahaya saat kita menjadi bagian dari Gereja tanpa menghasilkan buah-buah yang Allah harapkan dari kita. Kita juga, seperti para penggarap dalam Injil, mungkin menolak untuk mengakui hak Allah atas buah-buah yang kita hasilkan. Kita mungkin mencoba untuk mengesampingkan Kristus dari kehidupan kita dan dari dunia kita agar kita menjadi satu-satunya tuan bagi diri kita sendiri. Sayangnya, itulah yang telah terjadi dan masih terus menerus terjadi: manusia tidak mengakui Allah dan mencoba untuk membangun kehidupan pribadi dan sosialnya tanpa Dia, melawan Dia, akan tetapi pada akhirnya ia harus menyadari bahwa sikap ini mengarah pada kehancuran sang manusia sendiri, daripada memberinya lebih banyak kebebasan.

Oleh karenanya, perumpamaan hari ini mengingatkan kita bahwa kita adalah kebun anggur Tuhan, bahwa kebun anggur Tuhan telah dipercayakan kepada kita, tetapi bahwa ini bukan hak yang dijamin selamanya: menjadi kebun anggurnya, menjadi penggarapnya itu tergantung pada tanggapan kita terhadap karunia yang diterima dari Allah, dan tergantung pada kemampuan kita untuk menghasilkan buah. Sejarah memberi kita banyak contoh individu dan kelompok, yang, setelah menerima kasih karunia dengan berada di dalam Gereja dan bahkan berbagi dalam misinya, telah kehilangan karunia tersebut karena ketidaksetiaan mereka. Oleh karena itu masyarakat dan bangsa-bangsa yang dulunya Kristen, kaya dengan banyak pekerjaan baik dan buah-buah, sekarang tidak lagi seperti demikian. Fakta ini mengingatkan kita bahwa kita bisa kehilangan harta iman yang telah kita warisi dari masa yang lalu.

Bagaimana agar kita kemudian bisa menghasilkan buah-buah yang Allah harapkan? Di Ruang Atas, sebelum sengsara-Nya, Yesus berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, dia berbuah banyak.”. Kata-kata ini membuat kita mengerti bahwa langkah pertama untuk menjadi kebun anggur yang memberikan buah yang diharapkan oleh Allah, adalah dengan bersatu dengan-Nya, dengan dicangkokkan kepada-Nya, karena – seperti Yesus katakan pada kita – “tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” kita tidak bisa menghasilkan buah-buah yang Allah harapkan dari kita. Buah-buah ini, oleh karena itu, pertama-tama adalah iman kita kepada Yesus dan persatuan kita dengan Dia. Kita dapat menghasilkan buah kita sendiri hanya tumbuh dalam iman kita melalui doa dan dengan mendengarkan Firman Allah dan ajaran Gereja dan tumbuh dalam persatuan kita dengan Kristus, khususnya melalui sakramen-sakramen, dan di atas semuanya itu, Sakramen Ekaristi.

Perumpamaan hari ini menunjukkan kepada kita perhatian besar dari sang tuan pada kebun anggurnya. Yesus, berbicara tentang diri-Nya sendiri sebagai pokok anggur yang benar, mengatakan bahwa Bapa-Nya merawat cabang-cabang yang bersatu dengan-Nya sehingga mereka dapat lebih banyak berbuah, dengan kata lain, Bapa menyucikan mereka sehingga mereka dapat tumbuh lebih baik. Mari kita meminta Tuhan untuk membuat kita sadar akan tanggung jawab kita bagi diri kita sendiri, bagi Gereja dan bagi dunia, untuk setia dan menghasilkan buah-buah yang melimpah. Mari kita minta Dia untuk menghilangkan semua hambatan yang memisahkan kita dari-Nya, seperti yang kita lihat dalam perilaku penggarap-penggarap yang jahat, yaitu: dosa, ketidakpedulian dan keegoisan.

Dalam bulan yang didedikasikan untuk Rosario ini, marilah kita mohon kepada Perawan Maria melalui doa ini, untuk membantu kita menjadi ranting-ranting yang hidup, yang dicangkokkan secara mendalam kepada Kristus dan dengan demikian mampu menghasilkan buah yang baik bagi diri kita sendiri, bagi Gereja dan bagi dunia, sama seperti ia telah memberi kepada dunia, buah yang terberkati dari rahimnya, Tuhan kita Yesus Kristus.

Sumber: Facebook Page Tradisi Katolik

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: