Bingungnya Inkulturasi

oleh: Dr. Peter Kwasniewski

Diterjemahkan oleh Anne,  admin Servus Veritatis di page Gereja Katolik (klik kalimat ini untuk membaca postingannya di page GK)

Dalam beberapa dekade belakangan, telah timbul kebingungan luas dan mendalam tentang konsep inkulturasi. Inkulturasi telah dimaknai sebagai Iman Katolik dan praktek-prakteknya perlu diubah untuk menyesuaikan dengan budaya setempat, serta perlu menyerap praktek-praktek dan kepercayaan spiritual budaya tersebut. Dengan kata lain, Kekatolikan dipandang sebagai bahan mentahnya, sementara budaya asing dipandang sebagai agen perubahannya atau “cetakan”-nya.

Ini adalah pandangan yang salah. Kenyataannya, budaya yang didatangi oleh Iman Katolik adalah budaya yang masih memerlukan pertobatan (conversion) dan pengangkatan (elevation), sehingga unsur apapun dari budaya tersebut, setelah sepatutnya dibersihkan dari dosa dan kesesatan, berlaku sebagai bahan bagi “cetakan bentuk” yang dibawa oleh Iman Katolik pemberi hidup. Gereja adalah agen, bentuk, dan tujuan dari segala inkulturasi yang sejati, sementara budaya [lokal] adalah bahan yang akan memperoleh bentuknya dari agen ini [i.e. Gereja] demi keselamatan di dalam Kristus.

Budaya apapun akan diuntungkan dari masuknya Misa Romawi yang utuh. Kemungkinan yang terjadi ada dua: entah budaya tersebut akan menyambut Misa Romawi sebagai ekspresi terluhur atas sebuah agama yang diwahyukan secara ilahi, seperti yang tergambar dengan kuat di dalam upacara-upacara dan teks-teks liturgi Latin tradisional (konon demikianlah reaksi bangsa Jepang kuno saat menyaksikan keindahan dan kemegahan liturgi yang dirayakan oleh para misionaris); atau, kemungkinan kedua, budaya yang tidak ramah akan dengan sendirinya dikalahkan dan dengan demikian dibersihkan dari ketidaktahuan, kesesatan, dan dosa.

Tidak pernah menjadi tujuan akhir kita untuk mengambil unsur-unsur budaya kafir dan memasukkannya ke dalam budaya suci. Apabila memang ada unsur-unsur budaya lokal yang pantas untuk diangkat ke dalam wilayah sakral, hal tersebut akan terjadi dengan lambat dan dengan amat halus, setelah pertimbangan dan kehati-hatian yang matang. Sengaja mencari-cari unsur budaya ini seperti perburuan putus asa atas nama relevansi, dapat dipastikan gagal. Hal tersebut adalah seperti menjual diri kepada sebuah konsep relevansi yang toh fana dan tidak tetap, sebuah pelacuran kepada zaman ini dan kepada Pangerannya yang jahat [i.e. Iblis].

* * *

Hal-hal yang sungguh benar, sungguh baik, dan sungguh indah akan berbaris di depan pintu-pintu Gereja dan memohon izin masuk; mereka akan meminta kedamaian, memohon pengampunan, dan menawarkan diri sebagai domba-domba kurban. Barulah kemudian kita dapat merengkuh mereka dan menjadikan mereka sarana rahmat.

Tetapi kita tidak dapat melakukan ini dengan cara lain. Seperti kata Santo Agustinus: “Ia yang tidak percaya, adalah sungguh kerasukan roh jahat, buta, dan bisu; dan ia yang tidak memahami iman [Katolik], atau tidak mengakuinya, atau tidak memuji Allah, adalah hamba Iblis.” Gereja tidak pergi kepada yang buta dan bisu untuk meminta nasehat tentang cara menyembah Allah atau apa yang harus dipercayai oleh Gereja; Gereja juga tidak pergi kepada hamba-hamba Iblis yang masih perlu dibaptis, dan memohon supaya dapat duduk semeja dengan Tuan mereka.

Inkulturasi seperti yang dipahami dan dipraktekkan oleh mereka yang suka merevolusi liturgi, hanyalah salah satu cara Iblis untuk menggoyahkan dan menghancurkan Gereja Allah, untuk melemahkan keunikannya, untuk meracuni dan mencemari kultus ilahi dan budaya manusiawinya. Ini bukanlah apa yang dahulu dilakukan oleh para misionaris Yesuit, Dominikan, dan Fransiskan; mereka menunjukkan Iman Katolik dalam segala kemegahannya dan kebenarannya yang kekal, dan dengan cahayanya mempertobatkan bangsa-bangsa dan membaptis apa yang baik dan luhur di dalam budaya mereka.

* * *

(Sumber: “Confusions about Inculturation”)

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: