Mempelai Kristus dalam Rumah Allah: Kerudung Misa dari Perspektif Pria

Head Covering

“Everything related to the Eucharist should be marked by beauty.” – Pope Benedict XVI

Ketertarikan terhadap kerudung Misa (chapel veil) tampaknya mulai mengalami peningkatan. Salah satu bukti meningkatnya ketertarikan tersebut dapat dilihat dari betapa banyaknya orang yang membagi artikel “Mengapa Saya Mengenakan Kerudung Misa” melalui facebook (hampir 5.000 lebih orang sudah membagi artikel tersebut). Saya juga mendapat beberapa informasi melalui teman-teman saya, yang mengungkapkan besarnya keinginan untuk menghidupkan kembali tradisi mengenakan kerudung misa di antara kaum Hawa.

Memang, hanya wanita yang mengenakan kerudung Misa, namun apakah penggunaan kerudung Misa ini hanya mempengaruhi wanita saja? Apakah ada makna lain yang hendak disampaikan melalui devosi tersebut bagi kaum Adam? Tulisan ini merupakan buah refleksi saya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya akan memulai refleksi saya ini dengan menempatkan penggunaan kerudung Misa dalam konteksnya, yakni dalam Liturgi.

Ruang dan Waktu yang Sakral

Ketika kita memasuki pintu gereja untuk menghadiri Misa hari Minggu, sebenarnya kita masuk ke dalam ruang dan waktu yang sakral. Gereja merupakan bangunan yang dikonsekrasikan kepada Allah. Hanya ada satu tujuan didirikannya gereja: untuk menyembah Allah. Kurban Kristus dihadirkan kembali dalam Ekaristi, dan karenanya Allah hadir di ruang kehidupan kita. Allah berdiam di antara kita, dan karenanya sungguh layak dan pantas gereja kita sebut sebagai domus Dei (rumah Allah).

Bukan tanpa alasan mengapa umat Katolik waijb menghadiri Kurban Kudus Misa pada hari Minggu. Hari Minggu merupakan hari kebangkitan Tuhan Yesus, dan juga hari ketika jemaat Kristen perdana berkumpul untuk berdoa bersama, mendengarkan pengajaran para rasul, dan memecahkan roti.

Oleh karena itu, Liturgi dalam Gereja Katolik memberikan ruang dan waktu yang khusus kepada Allah, yang berbeda dari hari-hari di mana umat Katolik menjalani rutinitasnya sehari-hari. Segala hal yang terkait dengan Liturgi, seperti waktu, seni, arsitektur, kaca patri dan simbol-simbol liturgis lainnya merupakan sarana untuk mengungkapkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang mengungkapkan keilahian Allah, keabadian surga.

Kerudung Misa dan Kehadiran Allah

Tanpa sengaja, cukup sering saya melihat umat, yang saat Misa, malah sibuk berbicara dengan orang di sebelahnya. Tidak jarang perhatian para lelaki juga dapat teralihkan bila ada wanita yang datang ke gereja dengan busana yang minim yang memamerkan keindahan lekuk tubuhnya. Terlebih, tidak sedikit pula yang menghadiri Misa dengan pakaian yang sama seperti ketika seseorang pergi ke tempat-tempat umum. Tingkah laku kita, secara khusus apa yang kita kenakan ketika menghadap Allah, tidak lagi memberikan kesan bahwa Allah hadir di tengah-tengah kita. Misa tampak tidak lagi berbeda seperti acara-acara sosial lainnya. Akibatnya, perayaan Ekaristi menjadi kehilangan maknanya sebagai misteri yang kudus dan agung.

Kerudung Misa dikenakan saat seseorang berjumpa dengan Sakramen Maha Kudus, entah itu melalui perayaan Ekaristi ataupun Adorasi Suci. Perjumpaan tersebut terjadi dalam suasana yang agung dan sakral. Karenanya, kerudung Misa menjadi tanda bahwa Allah hadir, bahwa dalam perayaan Ekaristi, ada sebuah misteri yang indah nan agung sedang terjadi di sini: Allah hadir untuk bersatu dengan manusia.

Wanita yang memakai kerudung Misa, mengingatkan kita semua bahwa Ekaristi bukanlah pertemuan sosial, bukan acara untuk ramah tamah terhadap sesama kenalan kita. Layaknya Bunda Maria yang dipilih dan memberikan dirinya sebagai saksi akan keberadaan Allah, maka wanita memiliki privilege khusus dengan kerudungnya, sebagai tanda yang menegaskan kehadiran Yang Ilahi. Inilah keistimewaan wanita yang tidak dapat dilakukan oleh laki-laki.

“Dirimu adalah Bait Allah”

Dalam surat pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, St. Paulus berkata:”Tidakkah kamu tahu bahwa dirimu adalah bait Allah, dan Roh Allah berdiam di dalam kamu? Bila siapapun menghancurkan bait Allah, Allah akan membinasakan orang itu; karena bait Allah, yang adalah kamu, adalah kudus.”

Malaikat Gabriel menyapa Bunda Maria dengan kata-kata berikut: “Salam, Maria, penuh rahmat. Tuhan sertamu.” Tuhan bersama Bunda Maria, karena melalui “fiat” Maria, Yesus sungguh tinggal dan berdiam dalam tubuh Maria.

Wanita yang menudungi kepalanya, menurut saya, secara simbolis menyampaikan pesan berharga kepada para lelaki: tubuhku adalah bait Allah yang kudus, karenanya perlakukanlah tubuhku dengan rasa hormat yang besar. Tubuh dan kecantikanku bukanlah objek yang bertujuan memuaskan hasrat yang tidak teratur yang ada pada dirimu. Aku adalah citra Allah, oleh karena itu hormatilah dan hargailah aku.

Kerudung Misa mengingatkan pria akan perannya sebagai penjaga kesucian, seperti St. Yoseph yang selalu melindungi dan menjaga Bunda Kita Perawan Maria. Dengan demikian, Allah dapat kita muliakan dengan cara menghormati dan melindungi keindahan dan keagungan martabat wanita.

Mempelai Kristus dalam Rumah Allah

Wanita yang mengenakan kerudung Misa menghadirkan dirinya sebagai mempelai Kristus. Mereka adalah kepunyaan Kristus, dan tentunya mereka menghendaki agar kaum pria, secara khusus pasangan mereka masing-masing, berpikir dan bertindak seperti Kristus.

Dengan demikian, kerudung Misa menghadirkan sebuah pemaknaan baru dalam hubungan pria dan wanita: bukan hanya ada dua pribadi yang terlibat dalam sebuah relasi yang intim, melainkan ada pribadi ketiga, yakni Yesus Kristus. Ia lah yang menjadi pusat relasi keintiman pria dan wanita. Kehadiran Kristus merupakan hal yang hakiki yang diinginkan wanita terhadap para pria. Inilah pesan yang terus dikumandangkan oleh mereka yang mengenakan kerudung Misa.

Kerudung Misa: Daya Transformasi Ilahi

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah renungan yang terakhir. Wanita yang mengenakan kerudung Misa tidak sekedar mengenakannya hanya untuk terlihat berbeda. Berdasarkan pengalaman saya, mereka yang mengenakan kerudung Misa sebagai sarana untuk berdevosi mengalami perubahan dalam diri mereka: penampilan mereka menjadi lebih modest (santun), mereka menumbuhkan rasa cinta dan hormat yang besar kepada Yesus Kristus, dan mereka semakin bertekun dalam memperjuangkan kekudusan pribadi.

Inilah kebenaran yang dapat kita saksikan: kerudung Misa menjadi daya, sumber kekuatan untuk memperbaharui diri. Transformasi dalam diri para wanita tentunya akan berdampak pula dalam relasi mereka terhadap para lelaki.

Paus Benediktus XVI berkata:”segala hal yang berhubungan dengan Ekaristi harus ditandai oleh keindahan.” Tidak ada hal yang lebih dekat dengan Ekaristi selain diri kita. Tuhan memberikan dirinya bagi kita semua, dan ini adalah kebenaran yang indah! Oleh karena itu, kerudung Misa tidak hanya memberikan sebuah keindahan lahiriah, ia juga dapat keindahan batiniah. Ia menjadikan jiwa manusia indah, dan karenanya berkenan di mata Allah. Keindahan jiwa akan semakin meyakinkan kita untuk berkata: “Tuhan, tinggallah bersama kami” dan kian mendorong kita untuk percaya pada sabda Tuhan: “Aku menyertai kamu.” Sebarkanlah kebenaran tentang kerudung Misa, maka anda berkontribusi dalam melahirkan jiwa-jiwa yang indah!

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: