Homili Minggu Biasa XXIII: Koreksi dalam Suasana Persaudaraan

Christ_Taking_Leave_of_the_Apostles

Homili dalam Misa Latin

Hari Minggu Biasa XXIII

di  Nunsiatura Apostolik (Kedutaaan Besar Takhta Suci Vatikan) di Jakarta (7 September 2014)

oleh Monsignor José Luis Díaz-Mariblanca Sánchez, Sekretaris Pertama Kedutaaan Besar Takhta Suci Vatikan

Saudara-saudara terkasih: bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang fraternal correction, yaitu koreksi atau teguran dalam suasana persaudaraan. Baik bacaan pertama dan maupun Injil bercerita kepada kita tentang kesalahan sesama kita, yang dapat kita rasakan dan kadang-kadang bahkan kita derita. Jikalau saudaramu berbuat salah terhadapmu, kata Yesus. Ia tidak berbicara tentang kejahatan secara umum atau tentang perlunya pertobatan bagi seluruh umat manusia: itu akan lebih mudah bagi kita untuk menerima. Akan tetapi, Ia berbicara tentang “saudara kita”, orang yang dekat dengan kita, dan menjadi tanggung jawab kita di hadapan-Nya. Itu sebabnya kita merasa Injil hari ini sangat sulit. Pemikiran tentang “sopan-santun kepada sesama” yang berkecamuk dalam diri kita akan mengatakan: Mengapa saya harus mengatakan sesuatu kepada saudara saya? Mengapa saya harus membahayakan persahabatan kita? Mengapa saya harus mengambil resiko hilangnya harmoni di antara kita? Tidakkah lebih mudah untuk membiarkannya? Faktanya adalah, bahwa kita tidak membiarkannya. Kita mungkin tidak berbicara langsung dengannya tentang hal itu; tapi, kita dengan mudah lari ke orang lain untuk bergosip tentang hal itu. Ya, karena bergosip adalah dosa tidak hanya ketika kita mengatakan kebohongan tentang orang lain, tetapi juga ketika kita mengatakan kebenaran tentang orang lain, jika kebenaran itu menghancurkan nama baik dan reputasi mereka.

Mengapa dan bagaimana kita harus mengatasi keengganan itu? Tuhan mengajak kita, pertama-tama untuk melihat masalah ini dengan pandangan supranatural. Ingat apa yang Ia katakan kepada kita hari Minggu lalu: apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Hidup kita, baik kehidupan kita sendiri dan kehidupan sesama kita, memiliki tujuan tunggal ini: untuk menyelamatkan jiwa kita. Jadi, semua yang kita lakukan harus memiliki tujuan yang sama ini: untuk menyelamatkan jiwa kita. Ini adalah cara kita untuk benar-benar mencintai diri sendiri: ketika kita peduli, di atas segalanya, tentang keselamatan kita sendiri, dan karenanya kita menyesuaikan hidup kita. Akan tetapi, Santo Paulus mengingatkan kita pada perintah baru ini: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. “Seperti dirimu sendiri”, artinya: sebagaimana cinta sejati untuk diri kita sendiri menggerakkan kita untuk peduli akan keselamatan kita, cinta sejati kepada sesama kita harus menggerakkan kita juga untuk peduli, di atas segalanya, akan keselamatannya. Dan oleh karena itu, kita harus mendorong dan menemaninya dalam segala sesuatu yang baik dan kudus, dan kita juga seharusnya memperingatkannya ketika ia menyimpang dari jalan keselamatan. Sebagaimana Tuhan berkata melalui Yehezkiel dalam bacaan pertama: Jika engkau memperingatkan orang fasik, engkau akan menyelamatkan dirimu sendiri. Mungkin ia tidak akan mendengarkan; mungkin ia akan menolak engkau; mungkin engkau bahkan akan kehilangan persahabatan dengannya, meski begitu, engkau akan menyelamatkan dirimu sendiri, dan tidak ada yang lebih penting dari itu. Di sisi lain, jika kita tidak begitu, Allah sendiri mengatakan hari ini bahwa Ia akan meminta kita bertanggung jawab untuk dosa saudara kita. Itu tanggung jawab kita terhadap dia: tidak ada cara lain untuk memenuhi perintah cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Berikut ini adalah kuncinya: intinya adalah kasih, mengasihi sesama kita, dan koreksi dalam suasana persaudaraan adalah bagian dari itu. Dan karena intinya adalah kasih, ketika kita membetulkan saudara kita, kita seharusnya tidak melakukannya karena digerakkan oleh kebencian atau dendam, atau oleh keinginan untuk mempermalukannya, atau bersukacita karena ia dipermalukan. Jangan! Kita harus sudah memaafkannya, segera! Dan kemudian, saat pergi kepadanya, kita harus mencari hanya kebaikan yang sejati baginya. Itu sebabnya bergosip adalah dosa berat: karena kita menghancurkan saudara kita dan bukan mencari kebaikan baginya, dan itu kebalikan dari mencintainya. Yesus sangat berhati-hati dalam hal ini, karena Ia ingin menghindari bergosip dengan segala cara: pertama Anda pergi sendirian ke sesama Anda itu, tanpa memberitahu siapapun; jika tidak berhasil, dan karena keselamatan jiwanya lebih penting daripada nama baiknya, Anda dapat memberitahu orang lain; tetapi hanya satu atau dua orang: bukan sembarang orang, tetapi mereka yang peduli kepadanya dan benar-benar bisa membantunya. Anda lihat? Semuanya tergantung pada cinta kita kepadanya, pada keinginan untuk mencari semata-mata kebaikan sejati baginya. Bahkan jika tidak ada yang berhasil pada akhirnya, bahkan jika sesama kita tetap dalam kesalahannya, kita masih terus mencintainya. Perlakukan dia seperti seorang kafir atau pemungut cukai, Yesus berkata. Tapi kemudian, bagaimana Yesus memperlakukan orang-orang kafir dan para pemungut cukai? Dengan kasih yang lebih besar, karena Ia datang bukan untuk menyelamatkan orang-orang benar, tetapi orang-orang berdosa; Ia datang untuk mencari yang hilang dan membawanya kembali.

Karena itu, Saudara-saudara terkasih, marilah kita meminta kepada Tuhan yang Baik cinta sejati yang ada di sini, di tengah-tengah kita, dalam hati-Nya yang Ekaristis. Mari kita memintanya bersama-sama, yakin bahwa jika kita sepakat tentang apa pun yang akan kita doakan, hal itu akan dikabulkan oleh Bapa Surgawi kita. Bersama para pemazmur, mari kita meminta kepada Tuhan begini: Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku, agar tidak ada kata-kata yang jelek yang akan pernah keluar dari mereka terhadap sesamaku; akan tetapi, seperti kata Santo Paulus, semoga kita tidak berutang apa-apa kepada siapapun, kecuali saling mengasihi.

Sumber: Facebook Page Tradisi Katolik

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: