[Review] “Pengakuan-pengakuan” oleh St. Agustinus

the-confessionsJudul: Pengakuan-pengakuan

Penulis: St. Agustinus

Penerjemah: Ny. Winarsih Arifin dan Dr. Th. van den End

Penerbit: Kanisius

Cetakan: 8 (2006)

Jumlah halaman: 488 halaman

Reviewer: Cornelius


[Catatan:

Karya klasik dunia umumnya diterbitkan oleh lebih dari satu penerbit, sehingga memiliki bermacam sampul, edisi, dan jumlah halaman. Yang kami tampilkan di sini adalah edisi yang dibaca oleh reviewer kami.]


“When I read St Augustine’s writings, I do not get the impression that he is a man who died more or less 1,600 years ago; I feel he is like a man of today:  a friend, a contemporary who speaks to me, who speaks to us with his fresh and timely faith.” – Pope Benedict XVI

Buku berjudul Confessions (Pengakuan-pengakuan) yang ditulis oleh St. Agustinus ini merupakan salah satu karya spiritual klasik. Sejak jaman St. ugustinus, buku ini banyak disukai oleh banyak saudara, bahkan, hingga saat ini, baik saya dan Paus Benediktus XVI juga termasuk dalam “saudara” yang sangat menyukai buku ini. Begitu mendalam kesan yang ditinggalkan buku ini, hingga Paus Benediktus pernah berkata dalam sebuah wawancara, bila ia tinggal di padang gurun dan hanya diperbolehkan membawa dua buku, selain Kitab Suci, ia akan membawa buku karangan St. Agustinus tersebut. Nah, seperti apa sih isi buku favorit Paus Benediktus ini?

Buku ini merupakan autobiografi rohani, berkisah tentang kehidupan batin seorang Bapa Gereja, kehidupan batin yang dinarasikan dalam bentuk dialog dengan Allah. Judul buku ini, Confessions (bahasa latinnya, confessiones), menunjukkan hakekat dari buku tersebut. Di satu sisi, confessiones  berarti pengakuan akan kesalahan kita, buruknya dosa kita. Namun di sisi lain, confessiones berarti pujian dan syukur kepada Allah.

Melalui pengakuan St. Agustinus, kita dapat melihat kehidupan St. Agustinus dengan sangat jelas: kenakalannya di masa kanak-kanak, kecerdasannya, hasrat seksualnya yang menggebu-gebu yang membuat ia memiliki seorang anak di luar pernikahan, namun yang tidak kalah penting adalah ini: hasratnya yang sangat besar untuk mencari kebenaran yang absolut, pengembaraan batinnya, dan juga pertobatannya kepada Allah. Dengan menulis pengakuan akan kehidupannya secara jujur, St. Agustinus ingin agar orang-orang tidak menilai dan memuji dirinya secara berlebihan.

Dengan membaca buku ini, maka umat Katolik dapat melihat betapa dekatnya sosok St. Agustinus dengan manusia jaman sekarang: ia bukan orang kudus yang melakukan banyak mukjizat seperti penyembuhan, bukan seseorang yang mendapat pengalaman mistik seperti St. Teresa dari Avila, dan juga bukan orang kudus yang hidupnya tanpa dosa. Justru sebaliknya, kisah hidupnya menggambarkan betapa kekudusan dicapai melalui ketekunan dalam pertobatan, dengan perjuangan dalam menyelaraskan kehendak manusia dan kehendak Allah.

Saya sangat yakin para pembaca akan mendapatkan manfaat rohani yang sangat besar dari buku ini. St. Agustinus mengajarkan kita, bahwa Allah dapat ditemukan, pertama-tama bukan dengan mencarinya di luar, melainkan dengan masuk ke dalam, meneropong ruang batin kita, kehidupan kita. Kita dapat menemukan tangan Allah yang membimbing kita, bila kita peka terhadap kehadiran-Nya. Oleh karena itu, kita perlu membina relasi yang sangat intim dan personal kepada Allah.

Saya juga yakin buku ini mampu menyentuh hati mereka yang membacanya. St. Agustinus merupakan pribadi yang sangat puitis, yang menggambarkan relasinya kepada Allah dengan cara yang sangat indah dan romantis. Berikut ini adalah salah satu kutipannya yang terkenal, silakan diresapi dan dirasakan keindahannya:

Late have I loved you, beauty so old and so new: late have I loved you. And see, you were within and I was in the external world and sought you there, and in my unlovely state I plunged into those lovely created things which you made. You were with me, and I was not with you. The lovely things kept me far from you, though if they did not have their existence in you, they had no existence at all. “You called and cried aloud and shattered my deafness. You were radiant and resplendent, you put to flight my blindness. You were fragrant, and I drew in my breath and now pant after you. I tasted you, and I feel but hunger and thirst for you. You touched me, and I am set on fire to attain the peace which is yours.”

Nah, bagi pembaca yang penasaran di mana buku ini bisa dibeli, terakhir saya lihat masih ada sekitar tiga buku di toko buku Obor di Jakarta (NB: Covernya tidak sama dengan cover yang ada pada review ini, cover pada review ini merupakan cover dari Ignatius Press). Selain itu, pembaca juga bisa mengunjungi website Kanisius untuk memesan online.

Saya beri lima rahib unyu untuk buku favorit saya ini.

5rahib

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: