Kuasa Sabda yang Menyembuhkan

Miniature Annunciation

Book of hours, Paris c. 1410. Miniature of the Annunciation, with the start of Matins in the Little Office, the beginning of the texts after the calendar in the usual arrangement.

“…tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”

“Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap perkataan yang berasal dari mulut Allah.” Ini adalah perkataan Tuhan Yesus ketika ia sedang dicoba di padang gurun. Perkataan ini menegaskan bahwa ada sesuatu yang lebih besar, ada hal lain yang harus ditempatkan pada tempat pertama dalam kehidupan kita. Hal itu tidak lain adalah sabda (words), atau kata-kata. Namun sudah sejauh mana kita mengutamakan sabda atau perkataan yang keluar dari mulut kita?

Ada satu fenomena menarik yang sudah saya amati sejak lama. Tentu banyak orang mengenal salah seorang motivator di salah satu stasiun televisi, yang sering mengangkat persoalan sehari-hari, lalu berusaha untuk memberikan petuah atau nasehat bijaknya. Tak dapat disangkal, ada banyak orang terpikat dengan acara ini, walaupun tidak jarang juga ada orang-orang yang mencibir, yang berkata “Ah dia itu hanya omong doang. Bacotnya saja yang besar”. Nah, terlepas dari perdebatan yang ada, saya ingin menekankan kenyataan ini: bahwa kelihatannya, ada kebutuhan dalam diri banyak orang untuk mendengarkan sabda, menerima penghiburan ataupun dorongan yang membangkitkan semangat.

Mengapa manusia memerlukan sabda? Pada tulisan ini, saya mengutip sepenggal doa yang kita ucapkan sebelum menerima Komuni, “tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh”; sebenarnya terjemahan bahasa Indonesia tidak begitu tepat, karena dalam teks bahasa Inggris bunyinya ialah “but only say the word and my soul shall be healed” – kata “soul” yang berarti “jiwa” diterjemahkan sebagai “saya”, yang menurut pendapat saya, mereduksi makna doa yang ingin disampaikan.

Mengapa bersabda? Karena manusia itu sedang sakit. Permohonan akan sabda yang menyembuhkan jiwa mengimplikasikan, bahwa manusia mengalami luka. Ia berada dalam kondisi yang rapuh. Mengapa jiwa yang disembuhkan? Karena di sana lah eksistensi manusia berada. Menurut St. Thomas Aquinas, hirarki jiwa manusia terdiri dari akal budi, kehendak dan hasrat (passions). Sejak kejatuhan dosa asal, baik akal budi, kehendak dan hasrat mengalami disintegrasi. Mereka tidak lagi terarah kepada kebenaran, kebaikan dan keindahan, dan karenanya manusia harus berjuang keras untuk mengintegrasikannya.

Sejak awal kelahirannya, manusia masuk ke dalam dunia yang dirusak oleh dosa. Manusia bukanlah makhluk yang diciptakan hanya untuk dirinya sendiri. Ia adalah makhluk yang relasional. Kita masing-masing diciptakan untuk saling terhubung satu sama lain dengan cara yang unik. Seperti Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam, karena “tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja”, karenanya Tuhan menghendaki agar manusia memiliki relasi, dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan seluruh ciptaan.

Namun bagaimana dunia ini dirusak? Oleh dosa. Mengapa manusia pertama melanggar perintah Allah? Karena ia mendengarkan perkataan ular yang jahat, yang mengelabui manusia. Kata-kata beracun yang sekilas terlihat seperti hal yang baik. Berdasarkan kisah ini, maka kita melihat bahwa sabda atau perkataan memiliki efek yang begitu merusak. Namun diam pun terkadang belum tentu baik, seperti Adam yang diam saja ketika Iblis menggoda Hawa. Jadi, kegagalan dalam bersabda, juga ketidakmampuan untuk bersabda ketika diperlukan, dapat mengakibatkan kehancuran, entah itu secara psikis, moral, ataupun spiritual.

Mari kita kembali ke teks doa yang diucapkan dalam liturgi: “bersabdalah saja, maka jiwaku akan sembuh.” Sang Sabda, Kristus, telah menjadi manusia – Verbo caro factum est. Dan Ia memberikan diri-Nya dalam Ekaristi. Inilah roti surgawi – sabda yang menjadi daging –  yang kita butuhkan demi keselamatan jiwa kita. Rahmat yang berasal dari Kristus, yang kita terima melalui sakramen, merupakan rahmat yang dapat membantu kita, memurnikan dan menerangi akal budi dan kehendak, dan memampukan kita mengendalikan hasrat yang tidak teratur. Kita membutuhkan Sabda – membutuhkan Allah – agar kita dapat sembuh.

Saya kira bukan kebetulan juga kalau dalam liturgi Gereja memperingati orang kudus tertentu. Paus Benediktus XVI pernah menjabarkan bahwa orang-orang kudus merupakan terjemahan dari Sang Sabda, dalam konteks historis, sosial dan budaya pada kurun waktu tertentu. Baik kehadiran Kristus di dunia, juga kehadiran orang-orang kudus, keduanya datang dengan membawa keselamatan dan kesembuhan bagi jiwa-jiwa yang malang. Orang-orang kudus adalah teladan yang paling cemerlang bagi kita yang ingin menjadi pembawa Sabda Kristus bagi mereka yang membutuhkan.

Kristus dan para kudusnya meninggalkan tanda yang tak akan lekang oleh waktu. Namun apakah tanda itu? Paus Benediktus XVI mengungkapkannya dengan indah:

“Semua orang ingin meninggalkan tanda yang kekal. Tapi apa yang bertahan? Bukan uang. Tidak juga bangunan atau buku. Setelah beberapa waktu, lama atau singkat, semua hal ini menghilang. Satu-satunya hal yang bertahan selamanya adalah jiwa manusia, pribadi manusia yang diciptakan oleh Allah bagi keabadian.

Buah yang bertahan karenanya semua yang kita tabur dalam jiwa manusia : kasih, pengetahuan, sikap yang mampu menyentuh hati, kata-kata yang membuka jiwa pada sukacita dalam Tuhan. Jadi mari kita pergi dan berdoa kepada Tuhan untuk membantu kita menghasilkan buah yang bertahan. Hanya dalam cara ini bumi akan diubah dari lembah air mata menjadi sebuah kebun Allah.”

Paus Emeritus menyebutkan empat hal yang bertahan dalam jiwa manusia: kasih, pengetahuan, sikap yang mampu menyentuh hati dan kata-kata yang membuka jiwa pada sukacita dalam Tuhan. Kasih dan pengetahuan dapat kita kategorikan dalam aspek interior (batin) manusia, sedangkan sikap dan kata-kata merupakan tergolong dalam aspek eksterior (lahiriah).

Manusia membutuhkan kasih dan pengetahuan, yang berasal dari Allah, agar jangan sampai kita yang mengenal Allah “mengaku sebagai orang bijak, padahal kita adalah orang-orang bodoh.” (bdk. Roma 1:22) Untuk mencapai hal ini, dibutuhkan kapasitas, kerelaan untuk mendengarkan, menerima perkataan Allah dalam kitab suci, dalam ajaran Gereja, dalam tulisan dan hidup para orang kudus, sambil bertanya dalam hati: Apa yang ingin disampaikan pada saya secara pribadi oleh kata-kata ini?

Melalui penerimaan kita terhadap Sabda Allah, barulah kita dapat membagikan benih yang berasal dari Allah, yang akan kita tebarkan ke dalam jiwa manusia. Kita menebarkannya melalui tingkah laku dan kata-kata kita. Memang, kita tidak selalu dapat mencegah dosa yang terkadang kita lakukan melalui perkataan dan perbuatan kita, karena kita adalah bejana yang retak. Kita tidak dapat melenyapkan sumber penderitaan yang berasal dari dosa, karena kita tidak bisa memusnahkan keterbatasan dan kelemahan kita secara total. Namun, dengan mendengarkan sabda Allah melalui kitab suci, para kudus dan Gereja-Nya, dengan mengarahkan hidup kita seturut kehendak Allah, dengan mencintai Allah, dan dari kasih kita kepada-Nya kita mengasihi sesama kita, kita dapat “membawa” Allah semakin dekat dengan luka-luka manusia.

Bersama Allah dan seluruh orang kudus, kita dapat menjadi rekan kerja Allah, yang mampu menyentuh hati manusia dan membawanya ke dalam sukacita di dalam Tuhan. Kita dipanggil untuk menjadi pewarta rahmat, pembawa kabar sukacita. Kita dipanggil menghadirkan Allah di tengah dunia, menghadirkan Ia yang mengasihi dan selalu mau menyembuhkan kita.

Marilah kita berseru kepada Tuhan, “tambahkanlah imanku”, agar kita memiliki iman seperti seorang wanita yang mengalami pendarahan, yang berkata “asal saya dapat menyentuh jubahnya saja, maka saya akan sembuh”, dan karenanya mengalami penyembuhan. “Iman timbul dari pendengaran”, dan seorang pewarta adalah mereka yang menguatkan iman sesamanya, dengan mewartakan sabda Allah yang hidup, dan karenanya Ia juga menyandang peran sebagai pewarta yang menyembuhkan.

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: