Homili Minggu Biasa XVIII: Ekaristi adalah Bukti Cinta yang Kekal

17 LANFRANCO MIRACLE OF THE BREAD AND FISH

Homili dalam Misa Latin

Hari Minggu Biasa XVIII

di  Nunsiatura Apostolik (Kedutaaan Besar Takhta Suci Vatikan) di Jakarta (3 Agustus 2014)

oleh Monsignor José Luis Díaz-Mariblanca Sánchez, Sekretaris Pertama Kedutaaan Besar Takhta Suci Vatikan

Saudara-saudara: kita baru saja mendengar dalam Injil cerita tentang penggandaan lima roti dan dua ikan. Injil hari ini menceritakan kepada kita bukan hanya tentang mukjizat itu sendiri, tetapi juga tentang alasan mengapa Yesus melakukannya. Mereka berada di tempat yang terpencil, hari sudah malam dan orang banyak itu tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan. Itu adalah alasan yang jelas, tapi itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Injil mengatakan bahwa ketika Yesus melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka. Itulah alasan yang sebenarnya. Hati Yesus, yang penuh cinta, tersentuh, tergerak oleh kebutuhan orang banyak itu. Pertama kebutuhan-kebutuhan rohani, dan karenanya Ia memberikan kepada mereka firman-Nya, Ia mengajar mereka, karena mereka – seperti juga yang dikatakan Injil – seperti domba-domba yang tidak memiliki gembala. Dan kemudian, juga, kebutuhan mereka yang penting, dan karenanya Ia pertama-tama menyembuhkan banyak orang dan kemudian Ia memberi mereka makan. Semuanya karena hati-Nya tergerak.

Kalimat ini sendiri adalah suatu pelajaran spiritual yang berharga untuk direnungkan. Allah tidak bersikap acuh terhadap kebutuhan kita. Sebaliknya, karena Ia mengasihi kita, hati-Nya tergerak oleh setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Tidak ada yang lebih pasti dalam seluruh hidup kita, tidak ada yang lebih kuat. Tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, kata Santo Paulus dalam bacaan kedua. Santo Paulus memahami secara mendalam apa sebenarnya kasih Kristus bagi kita itu. Dia tahu bahwa Ia benar-benar membawa kita, kita semuanya saja, dalam hati-Nya, dengan cinta yang melebihi apa yang dapat dikatakan.

Kita harus kembali, terus-menerus, kepada kebenaran yang paling mendasar ini. Kita semua perlu mendengar lagi kata-kata yang Tuhan kita ulangi berkali-kali dalam bacaan pertama: Datanglah kepada-Ku! Ia tidak meminta imbalan apa pun: semua yang haus, orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah tanpa uang pembeli dan tanpa bayaran. Ia tahu bahwa kita haus, yaitu, bahwa kita sungguh membutuhkan rahmat-Nya. Ia juga tahu bahwa kita tidak punya uang, bahwa kita tidak mampu, dan tidak akan pernah mampu, untuk membayar kepada-Nya, sebagaimana Ia layak menerimanya. Meskipun begitu, Ia mengajak kita untuk datang kepada-Nya. Dalam Injil dikatakan bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Cinta Allah bagi kita selalu penuh dengan belas kasih. Ia tidak membutuhkan apa-apa dari kita, tapi Ia tahu bahwa kita membutuhkan-Nya, bahkan tanpa kita menyadarinya. Itu sebabnya Ia bersikeras, terus-menerus, mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Ia tahu betul bahwa kita tergoda melupakan cinta-Nya kepada kita, kita berpura-pura Ia tidak benar-benar peduli tentang kehidupan kita, mengesampingkan-Nya dan berusaha untuk mendapat ketenangan hati kita dari hal-hal lain selain Dia. Dan kemudian, seperti seorang ibu yang melihat anaknya menyimpang dari jalan yang benar, Ia selalu memanggil kita kembali: mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Kedengarannya hampir seperti permohonan orang yang sudah putus asa, yang meminta kita untuk datang kepada-Nya. Karena hanya Dia seorang diri yang tahu benar betapa kita membutuhkan-Nya.

Di dalam seluruh bagian Kitab Suci, makanan adalah suatu gambaran untuk menyatakan Firman Allah. Orang tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Tapi dalam Yesus, selain ajaran-Nya sendiri, kita mengenal adanya makanan lain. Dalam mukjizat hari ini, dikatakan bahwa, mengambil lima roti … dan menengadah ke langit, Ia mengucap syukur, membagi-bagi roti itu dan memberikannya kepada mereka. Hal ini seperti kata-kata yang mengawali Ekaristi: itulah roti sejati kita, makanan kita yang sebenarnya. Mereka semua makan dan sangat puas, kata Injil. Yesus dalam Ekaristi adalah makanan rohani itu yang secara sendirian bisa memuaskan kita. Kita datang kepada-Nya di sini, setiap hari Minggu, untuk menerima makanan itu, yaitu firman-Nya dan Tubuh-Nya. Namun sebenarnya, Ia sendirilah yang datang kepada kita. Ia menawarkan diri-Nya kepada kita; Ia datang kepada kita dengan cinta yang melebihi apa yang dapat dikatakan, dengan kepedulian yang sungguh-sungguh untuk hidup kita, karena Ia tahu betapa kita membutuhkan-Nya.

Santo Paulus mengatakan dengan benar bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Ekaristi adalah bukti yang definitif bagi cinta tanpa syarat yang tidak pernah terputus, tidak pernah berubah. Tetapi juga benar bahwa bukan sesuatu, tetapi adalah seseorang yang dapat memisahkan kita dari itu. Dan bahwa “seseorang” itu adalah kita sendiri. Jika kita tidak mengindahkan undangan Kristus, jika kita membawa diri kita ke dalam pencobaan yang melupakan kasih Allah dan kebutuhan kita akan kasih Allah, maka, ya, kita akan memisahkan diri kita dari cinta itu.

Pada hari ini, biarlah itu menjadi doa sederhana kita, agar Tuhan berkenan menyalakan kembali api cinta-Nya di dalam hati kita. Agar kita, dengan hati yang juga tergerak oleh kasih dari Allah, dapat menyadari betapa kita sangat membutuhkan Dia, dan datang kepada-Nya dengan lebih sungguh-sungguh. Amin!

Sumber: Facebook Page Tradisi Katolik

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: