Pembaharuan Liturgi Pasca Konsili Vatikan II: Sebuah Pengantar

Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik mengadakan beberapa perubahan dari dalam, termasuk pembaharuan liturgi. Salah satu tokoh utama yang terlibat dalam pembaharuan liturgi setelah Konsili Vatikan II adalah Romo Annibale Bugnini, C.M. Ia bahkan pernah berkata, “Akulah Sang Pembaharu Liturgis – I am the liturgical reform”. Mungkin tidak banyak yang pernah mendengar namanya. Oleh karena itu, mari kita melihat lebih jauh sosok yang satu ini.

Siapakah Romo Annibale Bugnini?

Annibale BugniniIa dilahirkan di Civitella de Lego, Italia, pada 1912. Ia ditahbiskan dan bergabung dalam Kongregasi Misi (Vincentian) tahun 1936, melakukan tugas paroki selama 10 tahun, pada tahun 1947 ia terlibat aktif dalam studi liturgis. Ia ditunjuk sebagai Sekretaris Komisi Reformasi Liturgis Paus Pius XII tahun 1948, menjadi penasehat bagi Kongregasi Suci Ritus (Sacred Congregation for Rites) tahun 1956, dan pada 1957 ia diangkat sebagai Profesor Liturgi Suci di Universitas Lateran.

Pada tahun 1960 ia ditempatkan sebagai sekretaris Komisi Persiapan Liturgis Konsili Vatikan II, sebuah posisi yang memberikannya pengaruh dalam masa depan liturgi Gereja Katolik. Ia terlibat dalam proses penulisan skema dokumen tentang Liturgi yang diperdebatkan oleh para Bapa Konsili dalam sesi pertama Konsili Vatikan II.

Tidak lama kemudian, Rm. Bugnini dipecat dari jabatannya di Lateran University dan dari secretaryship Komisi Persiapan Liturgis. Hal tersebut mendapat persetujuan dari Paus Yohanes XXIII, walaupun alasan dari tindakantersebut tidak pernah diungkap. Selanjutnya, pada tahun 1964 ia diangkat sebagai sekretaris Consilium. Tahun 1972, ia ditahbiskan sebagai uskup agung. Pada 15 Januari 1976 ia diangkat sebagai Apostolic Pro Nuncio di Iran. Ada rumor yang mengatakan bahwa Ia diasingkan ke Iran karena paus telah diberikan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa +Bugnini merupakan seorang freemason. Ia pun wafat pada tahun 1982.

Consilium

Consilium merupakan komite yang didirikan oleh Paus Paulus VI pada 25 Januari 1964. Mereka bertugas menjalankan pembaharuan liturgi yang telah dicanangkan dalam Konstitusi Suci Sacrosanctum Consilium. Paus Paulus VI menunjuk Rm. Annibale Bugnini menjadi sekretaris, bersama dengan Kardinal Lercaro (Bologna), Kardinal Giobbe (Curia) and Kardinal Larraona (Prefek Kongregasi Ritus).

Selain tokoh yang disebut diatas, masih ada beberapa pihak lain yang terlibat dalam Consilium, termasuk juga ada beberapa orang Protestan di dalamnya. Namun apakah mereka merupakan orang-orang yang cukup kompeten?Menurut Kardinal Antonelli, seorang peritus (ahli) dalam Konsili Vatikan II, juga seorang sekretaris Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen yang diangkat pada tahun 1965, banyak di antara orang-orang tersebut bukanlah pribadi yang kompeten, dan lainnya merupakan pendukung bagi novelty (hal-hal baru). Mereka memiliki sikap yang tidak mengasihi dan menghormati apa yang telah diwariskan kepada merek. Mentalitas mereka adalah menghancurkan dan bukan memulihkan.

Salah satu tugas Consilium adalah mereformasi misa, selain melakukan banyak perubahan terhadap leksionarium, kalender liturgi, dsb. Tidak dapat disangkal bahwa Fr. Bugnini merupakan tokoh utama dalam mengadakan perubahan terhadap Misa. Fr. Bugnini berkata bahwa salah satu intensinya dalam merancang Novus Ordo ialah

“ to strip from our Catholic prayers and from the Catholic liturgy everything which can be the shadow of a stumbling block for our separated brethren, that is, for the Protestants.”

“untuk melucuti doa dan liturgi katolik dari segala sesuatu yang dapat menjadi bayangan dari sebuah batu sandungan bagi saudara kita yang terpisah, yakni kaum Protestan.” (Sumber)

Dom Alcuin Reid, sejarawan liturgi, menyatakan bahwa mereka mengerjakan sebuah ordo missae yang sama sekali baru, yang sekarang disebut dengan Novus Ordo, dan perubahan yang digulirkan sangatlah radikal. Pernyataan Dom Alcuin Reid diperkuat oleh Kardinal Ratzinger, yang memberikan kritiknya terhadap liturgi pasca Konsili:

“What happened after the Council was something else entirely: in the place of liturgy as the fruit of development came fabricated liturgy. We abandoned the organic, living process of growth and development over centuries, and replaced it– as in a manufacturing process — with a fabrication, a banal on-the-spot product”.

“Apa yang terjadi setelah Konsili adalah sesuatu yang lain secara menyeluruh: yang menggantikan liturgi sebagai buah perkembangan adalah kemunculan liturgi yang dibuat-buat. Kita mengabaikan proses pertumbuhan dan perkembangan yang hidup dan organis selama berabad-abad, dan menggantikannya – seperti dalam proses manfuktur – dengan fabrikasi, produk seketika yang lumrah.” (Sumber)

Namun sayangnya hal tersebut mendapatkan persetujuan dari Paus Paulus VI pada tahun 1969. Sebelum Novus Ordo dipromulgasikan, Paus Paulus VI memberikan komentar yang bernada sedih dan kecewa terhadap perubahan yang dilakukan pada Misa:

“We may notice that pious persons will be the ones most disturbed [by the changes], because, having their respectable way of listening to Mass, they will feel distracted from their customary thoughts and forced to follow those of others. Not Latin, but the spoken [vernacular] language, will be the main language of the Mass. To those who know the beauty, the power, the expressive sacrality of Latin, its replacement by the vulgar language is a great sacrifice: we lose the discourse of the Christian centuries, we become almost intruders and desecrators in the literary space of sacred expression, and we will thus lose a great portion of that stupendous and incomparable artistic and spiritual fact that is the Gregorian Chant. We will thus have, indeed, reason for being sad, and almost for feeling lost: with what will we replace this angelic language? It is a sacrifice of inestimable price.”

“Kita dapat melihat bahwa orang yang saleh akan menjadi orang yang paling terganggu [oleh perubahan-perubahan] karena, dengan cara mereka mendengarkan Misa secara terhormat, mereka akan merasa teralihkan dari pemikirannya yang lazim dan dipaksa mengikuti pemikiran lain. Bukan Latin, melainkan bahasa vernakular, yang akan menjadi bahasa utama Misa. Bagi mereka yang mengetahui keindahan, kekuatan, kesucian yang terungkap dalam bahasa Latin, penggantiannya dengan bahasa yang vulgar merupakan pengorbanan besar: kita kehilangan percakapan umat Kristen berabad-abad, dan kita hampir menjadi pengacau dan orang yang menajiskan ruang kesusastraan ekspresi sakral, dan kita akan kehilangan sebagian besar kenyataan rohani dan artisik yang gemilang dan tiada tara, yakni Gregorian Chant. Karenanya kita memiliki alasan untuk bersedih, dan merasa kehilangan: dengan apa kita akan menggantikan bahasa malaikat ini? Hal ini merupakan pengorbanan yang tak ternilai harganya.” (Sumber)

Dampak Pembaruan yang Dicanangkan Consilium: Krisis Liturgi

Ada beberapa pihak yang melontarkan kritik terhadap Misa Novus Ordo, seperti Kardinal Ottaviani dengan Ottaviani Intervention, Msgr. Klaus Gember, dan juga Kardinal Ratzinger. Lebih lanjut, Kardinal Ratzinger mengatakan:

“I am convinced that the crisis in the Church that we are experiencing today is to a large extent due to the disintegration of the liturgy, which at times has even come to be conceived of etsi Deus non daretur[Lit., as if God is not given], in that it is a matter of indifference whether or not God exists and whether or not He speaks to us and hears us. But when the community of faith, the worldwide unity of the Church and her history, and the mystery of the living Christ are no longer visible in the liturgy, where else, then, is the Church to become visible in her spiritual essence? Then the community is celebrating only itself, an activity that is utterly fruitless …This is why we need a new Liturgical Movement, which will call to life the real heritage of the Second Vatican Council.

“Saya yakin bahwa krisis dalam Gereja yang kita alami kini sebagian besar dikarenakan disintegrasi liturgi, yang terkadang dipahami sebagai etsi Deus non daretur [seolah-olah Allah tidak diberikan], artinya ini merupakan persoalan apakah Allah ada atau tidak dan apakah Ia berbicara dan mendengarkan kita. Tetapi ketika komunitas iman, kesatuan Gereja dan sejarahnya serta misteri akan Kristus yang hidup tidak lagi tampak dalam liturgi, dimana lagi Gereja menjadi tampak dalam esensi rohaninya? Maka komunitas hanya merayakan dirinya semata, sebuah aktivitas yang sama sekali tidak berbuah… Karenanya kita memerlukan Gerakan Liturgis Baru, yang menghidupkanwarisan sejati Konsili Vatikan Kedua.” (Sumber)

Kardinal Ratzinger mengatakan dengan jelas bahwa setelah Konsili Vatikan II, terjadi disintegrasi dalam Liturgi. Pelaksanaan Misa Novus Ordo tidak berjalan sesuai dengan semangat Sacrosanctum Concilium. Uskup Agung Marcel Lefebre juga memberikan cataan kritisnya terhadap pelaksanaan Misa Novus Ordo dalam bukunya “An Open Letter to Confused Catholics”. Rm. Bugnini sendiri menyadari adanya pihak-pihak yang menentang pembaharuan yang ia jalankan. Rm. Anscar Chupungco, O.S.B, dalam bukunya “What, Then, Is Liturgy? Musings and Memoir” mengutip Rm. Bugnini:

“In his posthumous book The Reform of the Liturgy, 1948-1975 Annibale Bugnini keeps record of much opposition to the conciliar and postconciliar reform. Among the most antagonistic groups that he has identified the following clearly harbor a countercultural mentality. The first is Una Voce, an international group, for the defense of Latin, Gregorian chant, and sacred polyphony against the vernacular and modern music.”

“Dalam buku yang diterbitkan setelah kematiannya, The Reform of the Liturgy, 1948-1975 Annibale Bugnini mencatat banyak oposisi terhadap konsili dan reformasi pasca konsili. Diantara kelompok paling antagonis yang telah ia identifikasi, kelompok berikut dengan jelas memiliki mentalitas kontrabudaya. Pertama ialah Una Voce, kelompok internasional, karena membela Latin, Gregorian Chant, polifoni suci terhadap penggunaan music modern dan bahasa vernakular.” (Sumber)

Meskipun demikian, ia tetap dengan berani melangkah maju dalam menerapkan pembaharuannya dan mengabaikan suara-suara yang menentangnya. Akibat dari hal ini dapat kita lihat denganjelas. Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa penghormatan terhadap Liturgi telah berkurang, antara lain praktek menerima Komuni di tangan yang tidak jarang ditemukan Hosti yang tercecer di bangku Misa, sehingga hal tersebut kurang menunjukkan ajaran tentang Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi; masuknya lagu-lagu profan dalam Misa; tidak digunakannya anggur dan roti tak beragi dalam konsekrasi; masuknya tarian dalam Misa hingga liturgi tampak menjadi sebuah pertunjukan. Hal ini belum ditambah dengan menghilangnya penggunaan bahasa latin dalam Misa, orientasi liturgis ad orientem (menghadap ke timur, yang juga berarti menghadap Tuhan) yang digantikan dengan imam menghadap umat, dan sebagainya.

Pembaharuan Reformasi Liturgis: Tanggapan atas Krisis Liturgi

Krisis Liturgi yang terjadi ditanggapi dengan sebuah Gerakan Liturgis Baru, atau yang bisa disebut sebagai Pembaharuan Reformasi Liturgis (Reform of the Reform). Tujuannya adalah agar Misa Novus Ordo dirayakan sesuai dengan prinsip dan kaidah liturgis yang berlaku (lihat dokumen seperti Pedoman Umum Missale Romawi, Redemptionis Sacramentum, dan Sacramentum Caritatis untuk mengetahui prinsip dan norma liturgis), sehingga pelanggaran liturgis dapat ditiadakan. Hal ini berarti adanya unsur-unsur seperti orientasi liturgis ad orientem, penggunaan lagu Gregorian dan bahasa latin dalam liturgi, dsb.

Namun, belakangan ini, beberapa imam yang awalnya mendukung dan mengupayakan pembaharuan reformasi liturgis, mulai merasa bahwa percuma saja sekalipun Novus Ordo direformasi, tetap ada keterputusan dengan ritus Romawi [1]. Terlebih, dengan dikeluarkannya Motu Proprio Summorum Pontificum oleh Paus Benediktus XVI, imam tidak lagi memerlukan ijin Uskup untuk merayakan Misa Tridentine. Oleh karena itu, daripada menghabiskan waktu dan tenaga membuat Misa Novus Ordo menjadi lebih tradisional, sebenarnya jauh lebih tepat bila Misa Tridentine yang dipelajari secara mendalam dan kembali diperkenalkan kepada umat.

Sekarang, ritus Romawi memiliki dua bentuk Misa, yakni Ordinary Form (Misa Novus Ordo) dan Extraordinary Form (Misa Tridentine). Bila kita mencermati berbagai komentar atas pembaharuan liturgis yang telah saya paparkan, maka pertanyaan yang dapat menjadi refleksi dan mendorong studi lebih lanjut ialah: Apakah salah satu bentuk Misa ini dapat dikatakan lebih baik daripada yang lain? Apakah Novus Ordo merupakan buah perkembangan liturgi yang organik atau jangan-jangan malah terdapat keterputusan dengan tradisi? Aspek apa saja yang membedakan Ordinary Form dan Extraordinary Form? Apakah perbedaan diantara keduanya hanya bersifat aksidental, ataukah perbedaan tersebut sangat fundamental?

Penutup

Tulisan ini merupakan sketsa perkembangan pembaharuan liturgis setelah Konsili Vatikan II hingga sekarang. Tulisan ini tidak bermaksud menjelaskan secara komprehensif tentang pembaharuan liturgis ataupun perbedaan antara Ordinary Form dan Extraordinary Form, melainkan ia bertujuan untuk memancing diskusi dan studi yang lebih mendalam terhadap liturgi itu sendiri dan perkembangannya.

Catatan Kaki

[1] Beberapa imam yang saya maksud antara lain Fr. Thomas Kocik, Father Hugh Somerville-Knapman, Dom Mark Kirby. Silakan mengklik nama mereka untuk melihat artikel mereka tentang ini. Selain itu, juga ada beberapa orang yang ikut terlibat dalam diskusi ini, antara lain Joseph Shaw yang menulis artikel bersambung “The Death of the Reform of the Reform” Part 1, Part 2, Part 3, Part 4 dan Part 5, juga Fr, Christopher Smith dengan artikelnya “Is the Reform of the Reform Dead?

Referensi

Bugnini: “I am the liturgical Reform”. (2010). Diakses pada 23 Juli 2014 dari http://rorate-caeli.blogspot.com/2010/10/bugnini-i-am-liturgical-reform.html

Davies, M. (t.th). Annibale Bugnini: The Main Author of Novus Ordo. Diakses pada 22 Juli 2014 dari http://www.churchmilitant.tv/cia/03Massdest/14.pdf

EWTN Catholic Q & A: tridentine mass. (2003). Diakses pada 22 Juli 2014 dari http://www.eternalworldtelevision.net/vexperts/showmessage_print.asp?number=385703&language=en

Hitchock, H.H. (2011). Why the Liturgical Reform? or, “What if we just say no to any liturgical change?“, Diakses pada 22 Juli 2014 dari http://www.adoremus.org/0911LiturgicalReform.html

Kwasniewski, P. (2013). Pope Paul IV: A Pope of Contradiction. Diakses pada 22 Juli 2014 dari http://www.newliturgicalmovement.org/2013/12/paul-vi-pope-of-contradictions.html

Reid, A. (2014) The ‘Consilium ad Exsequendam’ at 50 – An Interview with Dom Alcuin Reid (Part 2). Diakses pada 22 Juli 2014 dari http://www.newliturgicalmovement.org/2014/02/the-consilium-ad-exsequendam-at-50_12.html

9 komentar

  1. Halo admin,
    Ada beberapa sumber dari luar yang bilang kalau Paus sejak St Yohanes XXIII itu memang menginginkan perubahan yang jelek untuk Gereja, bagaimana pendapat admin? Apa itu benar?

    1. Bila kita melihat perkembangan kepausan (saya ambil contoh kepausan Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI), rasanya itu tidak mungkin.

      Satu contoh saja, sejak jaman Yohanes Paulus II kita memiliki Katekismus Gereja Katolik dan Kompendium KGK, yang disusun di bawah pengawasan langsung Kardinal Ratzinger. Apakah ini perubahan yang jelek? Saya rasa tidak.

      Tapi, perlu kita akui pula bahwa tiap kepausan pun memiliki kelemahannya masing-masing. Namun harus dibuktikan kalau setiap paus setelah St. Paus Yohanes XXIII memang memiliki niat buruk atau perubahan yang jelek untuk gereja.

      1. Setuju admin, Paus juga manusia, kalau menurut saya, mereka mau berusaha yang terbaik tapi mungkin caranya ada yang salah, malah jadi hasilnya tidak seperti diharapkan.

        Admin sudah pernah baca salah satu blog dari orang yang menuduh Paus begitu? Saya sempat baca salah satunya, kayaknya mereka mau mendorong orang lain percaya dengan tuduhan mereka. Saya awalnya shock, sampai sekarang masih tidak habis pikir.

      2. Wah saya tidak punya wakt membaca blog yang seperti itu. Lebih baik waktunya digunakan untuk belajar tentang iman Katolik.

      3. adrianus · ·

        Benar, secara perilaku pribadi manusiawinya Paus bisa salah karena dia hanya manusia biasa yang bisa salah. Sering orang yg tidak mengerti menyamakan kesalahan pribadi Paus berarti ajaran Katolik nya spt itu. Padahal Paus dilindungi berkat Allah yang melindunginya dari kesalahan saat memberikan ajaran iman. Jadi ajaran iman dari Paus dilindungi Allah agar tdk bisa salah, tapi secara manusiawi tindakan Paus bisa salah (di luar pengajaran iman).

      4. Hehe benar admin, lebih baik baik memperdalam iman daripada ngikutin blog yang kayak gitu :) maju terus admin! Terima kasih untuk artikel-artikel nya, sangat berguna.

      5. Terima kasih!

  2. adrianus · · Balas

    Mudah2an Gereja perlahan tapi pasti kembali ke tradisi lama yang sudah berabad-abad usianya sejak masa para rasul. Saya rindu misa latin, rindu dg kekayaan tradisi Gereja yg apostolik sebelum adanya modernisasi liturgi..

    1. Shalom adrianus,

      Terima kasih atas tanggapannya. Mari kita berdoa dan berusaha membangun Gereja kita, berkontribusi sesuatu dengan apa yang kita bisa. Ada banyak yang merindukan tradisi dan kekayaan Gereja yang tidak lagi kita rasakan, namun justru apa yang hilang inilah yang sungguh berharga bagi kita.

      Salam,
      Cornelius

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: