[Review] “Yesus dari Nazareth” oleh Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI)

pausbenediktusxvi-yesusdarinazaretJudul: Yesus dari Nazareth, Vol I

Penulis: Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI)

Penerjemah: B.S. Mardiatmadja SJ.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I (2008)

Jumlah halaman: 432 halaman

Reviewer: Cornelius


“Buku ini adalah pencarian pribadi saya akan wajah Allah.” – Paus Benediktus XVI

Pertama kali saya membeli buku ini ialah saat saya masih SMA. Jujur, saat itu saya masih belum bisa memahami apa bagusnya buku ini. Bahasanya sulit saya mengerti. Namun, sekarang saya semakin mengerti bahwa buku ini merupakan buku yang sangat baik untuk mengenal sosok Yesus (ini satu-satunya buku tentang Yesus Kristus yang saya punya), dari sudut pandang Paus Emeritus Benediktus XVI.

Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa terdapat pemisahan antara “Yesus historis” dan “Kristus iman”. Pendekatan historis kritis (baca artikel ini untuk penjelasan lebih lengkap: Apa itu Metode Historis Kritis dan Mengapa itu Perlu Diwaspadai) dalam memahami teks kitab suci telah menghasilkan banyak penemuan baru, namun juga menimbulkan krisis, yaitu bahwa banyaknya gambaran tentang sosok Yesus yang meniadakan aspek iman atau hal-hal yang sifatnya adikodrati. Melalui buku ini, Paus menjelaskan bahwa metode historis kritis tetap memiliki keterbatasannya: ia hanya bisa memahami suatu fenomena berdasarkan konteks dan peristiwa historis jaman itu. Ia tidak bisa mengaktualkan pesan atau tindakan masa lalu ke masa sekarang. Tidak hanya itu, Paus Benediktus juga berusaha menunjukkan bahwa metode ini dapat digabungkan dengan penafsiran kitab suci secara kanonis, yaitu penafsiran yang tetap menjaga kesatuan utuh kitab suci. Tidak jarang juga Paus mendasarkan penafsirannya dari tafsiran Bapa Gereja.

Buku “Yesus dari Nazareth” ini merupakan trilogi, yang terdiri dari:

  • Jesus of Nazareth Volume I: From the Baptism in Jordan to the Transfiguration
  • Jesus of Nazareth Volume II: Holy Week: From the Entrance into Jerusalem to the Resurrection
  • Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives

Buku yang saya review ini merupakan Volume I, sampai sekarang entah kenapa belum diterbitkan volume selanjutnya.

Nah, sebenarnya agak sulit untuk melakukan review terhadap buku ini. Namun ini yang bisa saya katakan dari sudut pandang saya sebagai orang awam. Pada ketiga bukunya Paus Benediktus memberikan penafsiran terhadap beberapa perkataan, tindakan, dan peristiwa penting dalam kehidupan Yesus, pada Volume I ini Paus hanya membahas dari pembaptisan Yesus sampai peristiwa Transfigurasi. Titik tolak untuk memahami setiap kata dan tindakan Yesus berawal dari kesatuan yang intim antara Yesus dan Bapa. Saya kira ini yang menjadi dasar utama dalam memahami Yesus Kristus, karena Yesus sendiri menegaskan kalau Ia datang untuk melakukan kehendak Bapa-Nya di surga.

Berikut ini adalah daftar isi buku tersebut:

  • Pendahuluan: Pandangan Pertama atas Misteri Yesus
  • Pembaptisan Yesus
  • Pencobaan Yesus
  • Injil Kerajaan Allah
  • Khotbah di Bukit
  • Doa Tuhan
  • Para Murid
  • Pesan Perumpamaan
  • Gambaran-gambaran Besar dari Injil Yohanes
  • Dua Tonggak Penting dalam Jalan Yesus: Pengakuan Petrus dan Perubahan Rupa
  • Ucapan-ucapan Yesus tentang Diri-Nya Sendiri

Nah, tentunya tidak mungkin saya membahas semuanya. Namun, bab favorit saya adalah tentang Injil Kerajaan Allah, Khotbah di Bukit, Doa Tuhan dan Pesan Perumpamaan, secara khusus perumpamaan tentang Anak yang Hilang (The Prodigal Son) dan Orang Samaria yang Berbelas Kasih. Bagi saya, Paus Benediktus berhasil mengungkapkan kepada saya bahwa doa Bapa Kami adalah doa yang sangat indah dan dalam maknanya, sehingga mendorong saya untuk semakin tekun mendoakan Bapa Kami.

Bagian lain yang cukup menyentuh hati adalah penafsiran tentang kedua perumpamaan tadi. Bapa Suci menggambarkan dengan indah sosok Bapa yang baik, dan juga mampu mengungkapkan pergulatan batin yang dialami oleh sang Kakak yang tetap tinggal bersama Bapa, juga sang adik yang pergi mengembara, namun hanya menemukan kehampaan dan penderitaan.

Tidak hanya itu, Bapa Suci Benediktus juga menjelaskan tentang pengampunan. Kata-katanya sangat indah dan tanpa saya sadari saya pun pernah mengalami apa yang dikatakannya. Berikut ini kutipannya:

“What is forgiveness, really? What happens when forgiveness take place? Guilt is a reality, an objective force; it has caused destruction that must be repaired. For this reason, forgiveness must be more than a matter of ignoring, of merely trying to forget. Guilt must be worked through, healed, and thus overcome. Forgiveness exact a price – first of all from the person who forgives. He must overcome within himself the evil done to him; he must, as it were, burn it interiorly and in doing so renew himself.”

Paus menjelaskan bahwa pengampunan itu lebih dari semata melupakan. Tentu hal ini bagus sekali, karena seringkali orang memiliki persepsi bahwa mengampuni = melupakan. Saya selalu tidak sependapat dengan pernyataan ini. Mengampuni membutuhkan penerimaan terhadap kesalahan dan dosa yang dilakukan orang lain terhadap kita. Bagaimana kita bisa mengampuni, kalau kita melupakan hal yang perlu diampuni? Lagipula, kita tidak akan bisa sungguh melupakan pengalaman buruk yang kita terima. Oke, saya terima kalau mengampuni tidak sama dengan melupakan, lalu apa yang harus saya lakukan?

Melalui sakramen pengakuan dosa, Gereja Katolik mengajarkan kita untuk mengingat kembali dosa. Praktek pengakuan dosa (yang sebelumnya diawali dengan pemeriksaan batin) mengajarkan seseorang untuk berani melihat hal-hal buruk dan jahat, serta mengajar kita untuk jujur terhadap diri sendiri. Hal lain yang sangat penting yang diajarkan pada kita melalui pengakuan dosa ialah: sekalipun kita mengingat kesalahan kita dan kesalahan orang terhadap kita (yang karenanya dapat mendorong kita untuk berdosa), kita tidak membiarkan diri kita dipenuhi oleh amarah dan kebencian terhadap mereka, karena dengan mengakukan dosa, kita mencari pengampunan yang membebaskan kita. Ruang pengakuan, adalah tempat untuk membakar habis semuanya, dosa kita, dan juga kebencian kita. Melalui pengampunan yang Allah berikan, karenanya kita juga menjadi mampu mengampuni sesama. Ini salah satu contoh refleksi saya terhadap kutipan di atas (saya cukupkan sekian ya, nanti jadi kepanjangan, bukannya review malahan komentar terhadap tulisan Paus Benediktus :p ).

Lalu masih ada juga kutipan lain, yang sejauh pengamatan saya, beberapa kali dishare di page katolik berbahasa Inggris (ini menandakan kutipan ini cukup populer, dan bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi banyak orang), seperti yang satu ini:

“If you follow the will of God, you know that in spite of all the terrible things that happen to you, you will never lose a final refuge. You know that the foundation of the world is love, so that when no human being can or will help you, you may go on, trusting in the One that loves you”

Saya rasa buku ini akan memberikan buah yang positif bila dibaca secara perlahan. Jadikan buku ini sebagai bacaan rohani anda, bacalah dengan perlahan dan tidak tergesa-gesa, lalu renungkan bagian-bagian yang menurut anda bermakna. Dengan demikian, saya yakin gambaran anda tentang Yesus akan membantu anda dalam menjalin dan membina relasi anda dengan Yesus dan Gereja-Nya, khususnya melalui doa.

Saya beri lima rahib unyu untuk buku ini.

5rahib

2 komentar

  1. […] ingat review kami tentang buku pertama dari trilogi Jesus of Nazareth ini? Nah sekarang kami akan mereview buku ketiganya, yaitu The […]

  2. […] ingat review kami tentang buku pertama dari trilogi Jesus of Nazareth ini? Nah sekarang kami akan mereview buku ketiganya, yaitu The […]

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: