[Review] “The Da Vinci Code” oleh Dan Brown

 

da-vinci-code Judul: The Da Vinci Code

Penulis: Dan Brown

Penerjemah: Isma B. Koesalamwardi

Penerbit: Serambi

Jumlah halaman: 629 halaman

Cetakan: III (September 2004)

Reviewer: Anne

***

Oke, ini sebenarnya buku [agak] lama. Jadi mungkin [agak] telat [sekali] kalau saya baru review sekarang. Tapi pandangan saya begini: Da Vinci Code pada waktu dirilis menimbulkan banyak kehebohan, baik yang positif maupun negatif. Sekarang, saat hype-nya sudah jauh mereda dan karena saya sekarang berada dalam posisi yang lebih memahami seluk-beluk Gereja, saya berharap review ini bisa lebih fresh dan tenang penulisannya. Lagipula, rasanya gak kaci kalau blog buku Katolik gak membahas buku kontroversial ini.

Kalau mau jujur, sejak pertama membuka sampulnya, kita sudah bisa merasa promosi dan publikasi DVC mirip dengan kampanye pilpres yang kelihatan sekali mengada-ada dan sok heboh sendiri. Di cetakan yang saya miliki, pada sampul depannya tertulis “Memukau nalar, mengguncang iman”, sedangkan di sampul dalamnya tertulis “Sebuah kebenaran menakjubkan yang disembunyikan rapat-rapat selama berabad-abad… akhirnya terkuak”.

Heboh banget ya? Padahal “fakta-fakta” tersembunyi yang konon mengejutkan ini gak segitu rapatnya juga disembunyikan oleh siapapun. Banyak orang yang tidak tahu, itu iya. Tapi siapapun yang pernah belajar sejarah Kekristenan, entah lewat kuliah formal di kampus atau Googling di warnet kampung sebelah, pasti familiar koq dengan “kebenaran yang disembunyikan rapat-rapat ini”.

Oke, sampai sini kita lewati dulu ya. I’ll get to that later.

Bagi yang belum pernah baca DVC, atau lupa-lupa ingat, DVC itu bercerita tentang apa sih? Singkatnya, cerita dibuka dengan pembunuhan seorang kurator Museum Louvre Paris oleh penyerang misterius. Sebelum dia meninggal, si kurator meninggalkan kode-kode di lantai menggunakan darahnya sendiri. Kemudian datanglah Robert Langdon, ahli simbologi. Dia dipanggil oleh polisi Perancis yang memintanya membantu memecahkan kode-kode kurator itu. Tak disangka tak dinyana, penyelidikan Langdon bersama seorang cewek cantik (harus cantik ya?) ahli kriptologi bernama Sophie, membuat mereka harus berkejar-kejaran dengan sebuah sekte gelap Gereja, dan berujung pada penemuan kembali sebuah rahasia gelap Kekristenan.

Nah, kita sampai pada bagian serunya. Rahasia gelap apa yang dikuak oleh buku ini??

WARNING! SEMANGKUK BESAR SOP ILER AHEAD!

Yak, jadi konon katanya:

  1. Yesus bukan Allah; Ia hanya manusia
  2. Yesus menikah dengan Maria Magdalena
  3. Maria Magdalena disembah sebagai dewi, sebagai kekuatan feminin yang menyandingi Allah (yang dianggap sebagai kekuatan maskulin)
  4. Yesus dan Maria Magdalena memiliki satu anak perempuan
  5. Anak perempuan tersebut akan menjadi ibu sebuah keturunan bangsawan di Eropa
  6. Kitab Suci dibuat oleh kaisar Romawi yang pagan, yaitu Konstantin
  7. Sebelumnya Yesus selalu dipandang sebagai manusia biasa, namun dituhankan oleh Kaisar Konstantin
  8. Injil-injil sudah diedit untuk mendukung keyakinan-keyakinan orang Kristen
  9. Dalam Injil yang asli, yang ditunjuk oleh Yesus sebagai fondasi Gereja adalah Maria Magdalena, bukan Petrus
  10. Ada sebuah perkumpulan rahasia bernama Priory of Sion yang masih memuja Maria Magdalena sebagai dewi, dan mereka ini adalah penjaga “kebenaran” yang asli
  11. Gereja Katolik mengetahui semua ini dan telah berusaha menutupinya selama ribuan tahun
  12. Gereja Katolik bersedia melakukan apa saja, termasuk memburu dan membunuh keturunan biologis Yesus, agar mencegah mereka bertambah

Anda terkejut? Tidak perlu. Klaim DVC yang benar hanya ada dua: yaitu bahwa Injil-injil yang dimaksud di atas itu ada, dan bahwa GK mengetahui perihal Injil-injil tersebut, seperti halnya semua peneliti Kitab Suci dan ahli teologi yang terpelajar, serta semua orang yang sedikit rajin untuk mengulik sumber-sumber terpercaya di internet. It’s really not a big secret.

Ya karena semua klaim di atas sungguh benar adalah ajaran Gnostik. Silahkan Google sendiri apa itu ajaran Gnostik, atau kalau terlalu malas, ini saya beri penjelasan singkatnya.

Gnostisisme adalah sebuah gerakan religius pseudo-Kristen yang muncul sekitar abad ke-1 Masehi. Disebut pseudo-Kristen karena ia merupakan campuran antara ajaran Kristen dengan ajaran agama-agama Timur pagan. Jadi ajarannya tidak murni Kristen, malah lebih banyak pagannya daripada Kristen-nya. Ajaran Gnostik pada dasarnya menolak dan merendahkan realita fisik, baik tubuh fisik manusia, maupun realita fisik dunia dan semesta. Ia mengajarkan adanya dualitas, yaitu Material versus Spiritual, atau Tubuh (jahat) versus Jiwa (baik). Realitas fisik/material/tubuh yang jahat ini harus dihancurkan total oleh Allah yang benar, supaya manusia dibebaskan dari jebakan Allah Abraham yang palsu.

Bagi kaum Gnostik, keselamatan hanya dapat diperoleh jika manusia memiliki pengetahuan [akan Allah yang benar]. Penganut Gnostik dikenal suka membanggakan diri karena mereka menganggap hanya merekalah yang memiliki “gnosis” (pengetahuan) ini.

Nah makanya mereka ke-GR-an bahwa institusi religius terbesar dan terkuat di muka bumi begitu panasnya mengejar-ngejar mereka. Makanya pula, mereka menganggap Yesus tidak mungkin sungguh Allah dan sungguh manusia, karena bagi mereka kedagingan manusia itu completely, totally jahat.

Varian ajaran Gnostik itu banyak sekali, ada ratusan, dan mereka suka iseng muncul di suatu periode waktu, sebelum akhirnya mati kembali. Salah satu sekte penganut Gnostik adalah Albigensianisme sekitar tahun 1200-an, yang dengan sukses ditumpas oleh usaha pewartaan Santo Dominikus de Guzman dan Ordo Pewarta-nya (promosi ordo saya dikit boleh yak).

Gnostisisme sudah dikutuk oleh sejumlah Bapa Gereja seperti Santo Yustinus, Santo Yohanes dari Damaskus, Santo Ireneus, dan lain-lain, bahkan oleh Kitab Suci sendiri, yaitu dalam 1 Timotius 6:20-21:

“Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman. Kasih karunia menyertai kamu!”

“Pengetahuan” yang disebut di ayat itu adalah ajaran Gnostik (ingat bahwa “gnosis” = pengetahuan). Tidak mungkin Rasul Paulus sedang membicarakan pengetahuan biasa (sains) dan menyebutnya “menyimpang dari iman”, karena Paulus adalah seorang Yahudi Hellenistik (Yahudi yang terpengaruh oleh budaya Yunani dan berbicara dalam bahasa Yunani); kita tahu baik bangsa Yahudi maupun Yunani sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, akal budi, dan filosofi.

Oke, sekarang sudah pada tahu ya Gnostik itu apa dan bagaimana? Nah, gimana dengan Dan Brown, apakah dia betul-betul meriset itu semua seperti seorang scholar sejati?

Not really. Di websitenya Dan Brown, ada sebagian daftar buku-buku yang dia sebut sebagai sumber inspirasinya, misalnya:

  • Holy Blood, Holy Grail karangan Michael Baigent, Richard Leigh, and Henry Lincoln
  • The Messianic Legacy karangan Michael Baigent, Richard Leigh, and Henry Lincoln
  • The Dead Sea Scrolls Deception karangan Michael Baigent and Richard Leigh
  • The Goddess in the Gospels: Reclaiming the Sacred Feminine karangan Margaret Starbird
  • The Woman with the Alabaster Jar: Mary Magdalene and the Holy Grail karangan Margaret Starbird
  • The Templar Revelation: Secret Guardians of the True Identity of Christ karangan Lynn Picknett and Clive Prince
  • Jesus and the Lost Goddess: The Secret Teachings of the Original Christians karangan Timothy Freke and Peter Gandy
  • When God Was a Woman karangan Merlin Stone
  • The Chalice and the Blade: Our History, Our Future karangan Riane Eisler

Judul-judul di atas merupakan tulisan-tulisan spekulatif ala New Age yang bertentangan dengan sejarah yang sudah ditetapkan, penuh teori konspirasi, dan mengandung agenda feminis radikal. Tidak ada ilmuwan atau sejarawan sungguhan yang menganggap serius buku-buku tersebut.

Jadi apa yang Dan Brown lakukan sesungguhnya hanya menggali ulang teori konspirasi lama, dicampur dengan Gnostisisme, dan jadilah Da Vinci Code. Kasihan ya tokoh Robert Langdon, jauh-jauh harus keliling Paris hanya untuk menemukan “kebenaran” yang bisa dicari di Google ini.

Fiuh. Next.

Sekarang, gimana dengan Opus Dei? DVC menggambarkan Opus Dei sebagai sebuah sekte Katolik yang beranggotakan biarawan-biarawan yang dilatih menjadi pembunuh. Mereka ini dianggap sebagai tentara pribadinya Paus. Salah satu pembunuh ini adalah seorang biarawan albino tinggi besar bernama Silas (SOP ILER: doi yang membunuh si kurator museum di awal cerita).

Pertama, Opus Dei bukan ordo, kongregasi, apalagi sekte. OD adalah sebuah prelatur personal (personal prelate). OD didirikan oleh Santo Josemaria Escriva dengan salah satu spiritualitasnya adalah mencapai kekudusan melalui pekerjaan sehari-hari (tidak termasuk membunuh orang lho ya).

Kedua, karena bukan ordo atau kongregasi, maka anggota-anggota OD adalah kaum non-religius, termasuk imam diosesan (projo). Yang disebut kaum “religius” dalam konteks ini adalah rahib dan biarawan/biarawati. Bila imam diosesan bergabung dengan sebuah ordo, maka ia bergabung dalam cabang awam dari ordo tersebut (kadang disebut “ordo ketiga” atau “ordo sekuler”).

Ketiga, prelatur personal maksudnya bukan prelatur pribadi kepunyaan Paus. Disebut personal karena yurisdiksi prelatur tersebut adalah perorangan, bukan per wilayah.

Gara-gara DVC, saya awalnya jadi punya pandangan sangat mengerikan terhadap OD. Waktu di toko buku dijual buku “Jalan” karya St. Josemaria Escriva, saya takut buku itu berisi nasehat untuk mengejar-ngejar kurator museum. Untungnya tidak. Silahkan lihat-lihat website Opus Dei di sini.

NEXT!!!

Terakhir ya: bagaimana dengan Priory of Sion yang konon masih memuja Dewi Maria Magdalena?

Priory of Sion adalah sebuah klub pertemanan yang didirikan pada tahun 1956 oleh empat orang muda Perancis. “Sion” di sini merujuk pada nama tempat di Perancis, Col du Mont Sion, bukan Gunung Sion di Yerusalem. Priory of Sion tidak ada hubungannya dengan Perang Salib, Templars, atau dengan mbahmu.

Organisasi ini bubar dalam jangka waktu pendek, namun kemudian dibangkitkan lagi oleh Pierre Plantard. Plantard ini adalah seseorang yang pernah dipenjara karena masalah pemalsuan. Setelah membangkitkan Priory of Sion, dia mulai memunculkan klaim-klaim bohong mengenai sejarah organisasi (berawal dari Templar), keanggotaan, dan visi-misinya (melindungi sebuah keturunan bangsawan tersembunyi yang suatu hari dapat menghancurkan dunia).

Kalau saya bilang, si Plantard ini kayaknya punya gangguan jiwa skizofrenia paranoid dengan waham kebesaran. Soalnya, Andre Bonhomme, ketua Priory of Sion yang terdahulu saat organisasi itu baru dibentuk, juga menentang klaim-klaim Plantard:

The Priory of Sion doesn’t exist anymore. We were never involved in any activities of a political nature. It was four friends who came together to have fun. We called ourselves the Priory of Sion because there was a mountain by the same name close-by. I haven’t seen Pierre Plantard in over twenty years and I don’t know what he’s up to but he always had a great imagination. I don’t know why people try to make such a big thing out of nothing.

Sumber: The Real Historical Origin of the Priory of Sion (klik)

Saya sudah kasihan sama tokoh Robert Langdon, sama Opus Dei, saya juga harus kasihan sama Priory of Sion. Gara-gara DVC, mereka harus membangun sebuah website yang diberi tagline “The Only Rational Priory of Sion Website”.

Sebenarnya masih banyak yang bisa diobrolin dari DVC ini. Tapi saya stop di sini dulu karena bisa-bisa ini jadi referat sejarah.

Oya, kenapa saya repot-repot menulis review sepanjang ini sehingga bentuknya sudah bukan seperti review lagi?

BECAUSE I CARE! Sudah terlalu banyak orang termakan klaim-klaim sampah Dan Brown ini, baik Katolik maupun non. Saya gak ingin orang-orang Katolik tersipu malu dan merasa bersalah dengan imannya setiap kali melihat DVC di rak toko buku.

Dan btw, praktek Silas mencambuki dirinya sendiri itu adalah salah satu bentuk silih yang dikerjakan banyak orang kudus kita, tidak eksklusif Opus Dei saja. Itu bukan semacam freak show; itu adalah sebuah bentuk kesalehan. Terdengar menyeramkan memang, tapi Santo Fransiskus Assisi yang [katanya] unyu-unyu dan selalu dikelilingi burung-burung kecil itu saja suka berguling-guling telanjang di salju sebagai bentuk silih. Perbuatan yang patut dikagumi memang, tapi gak perlu dianggap aneh atau horor.

Eeeeniwei, berapa rahib unyu nih yang musti saya kasih buat DVC?

Kalau dari segi pesan moral dan ajaran, kayaknya saya perlu kasih rating satu rahib saja ya. Tapi paling tidak, menurut saya adegan-adegan action-nya cukup oke, ya bolehlah untuk sekedar seru-seruan dibaca. Bangunan-bangunan gereja, museum, dan karya seni yang disebut juga bermacam-macam… ditambah dengan kepopuleran buku tersebut, jadi banyak turis yang penasaran mau belajar. Lumayan kan, supaya ke Paris tuh jangan belanja doang. Cetakan bukunya juga bagus, besar, enak dipegang. Jadi okelah saya tambahin satu rahib lagi—hitung-hitung upah nulis buat Pak Dan Brown—menjadi dua rahib unyu untuk DVC.

2rahib

 

Pengunjung bertanggung jawab atas tulisannya sendiri. Semua komentar harus dilandasi oleh cinta kasih Kristiani. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Kami berhak untuk tidak menampilkan atau mengubah seperlunya semua komentar yang masuk.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: